
Menjalani hari seperti biasa. Kehidupan rumah tangga yang normal pada umumnya. Didampingi dua anak yang selalu bertengkar membuat suasana tidak pernah sepi.
Bulan duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Dia tidak sendiri, kedua anaknya menemani. Ralat, sebenarnya Bulan yang menemani mereka berdua.
Layar yang mereka tonton menampilkan kotak kuning dan bintang berwarna pink. Siapa yang tidak kenal kartun berjudul SpongeBob SquarePants? Meski sebagian orang dewasa menganggap tokoh di dalamnya bodoh, tetapi tidak sedikit pula yang menganggap film itu sebagai penghibur. Juga pasti ada pelajaran yang dapat diambil.
"Kenapa tayang lagi? Kemarin lusa sudah tayang yang ini." Raka menggerutu di saat mulutnya masih dipenuhi kentang goreng.
"Tapi, ini episode favorit Areum." Tidak mau kalah ketika Raka sewot.
"Iya, ini juga favorit Bunda," sambung Bulan menyetujui ucapan Areum. "PR kalian sudah selesai apa belum?"
"PR yang mana, Bunda?" tanya Areum, seingatnya tidak ada pekerjaan rumah untuk besok.
"Yang disuruh gambar rumah masing-masing."
Dahi Areum berkerut, manik matanya membulat. "Bunda, kita belum buat yang itu."
"Raka, kita belum gambar, kan?!" Matanya melotot menatap Raka.
"Raka sudah, kok. Areum yang belum," jawabnya santai. Ia kembali memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Bunda, temani Areum, ya?" Matanya sendu menatap Bulan dari bawah.
"Oke, mau sekarang?"
Areum mengangguk dengan cepat. Ia segera berlari untuk mengambil keperluan menggambarnya.
"Bunda tunggu di luar, ya!" teriak Bulan. Tubuhnya ia tegakkan. Sejenak ia menatap Raka yang keasikan makan kentang hingga habis. "Aka, ikut tidak?"
"Akan ikut, Bunda ...." Dia berdiri, lalu menggandeng Bulan.
. . .
Hari masih pagi. Jadi, Bulan dan kedua anaknya tidak perlu kepanasan.
Tikar itu menjadi alas Areum dan Raka untuk duduk, sedangkan Bulan menyirami tanaman.
Bu Irma sudah mengurus semua pekerjaan rumah, meski hari minggu, dia tetap ngotot mau bekerja. Namun, Bulan juga masih membantu untuk memasak, menyapu, mengepel, mencuci baju, dan lain-lain.
Purnama? Dia sekarang tidak kenal libur. Bisnisnya berkembang pesat, bahkan sekarang ada klien dari Jepang. Sejak tiga hari yang lalu, Purnama pergi ke Surabaya untuk urusan pekerjaannya. Katanya, nanti malam diusahakan akan pulang.
Ares? Dia sudah berada di dalam jeruji besi. Ternyata, saat dia mengaku, sebenarnya Helen yang mengajaknya agar Purnama bangkrut dan Bulan akan meninggalkan Purnama. Namun, malah sebaliknya, Helen yang meninggalkan Purnama. Jangan bahas orang yang sudah meninggal, sekali pun itu fiksi.
Bintang dan Bila juga akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat ini. Hanya menunggu Bila wisuda.
Mobil putih berhenti di depan rumah yang sudah sejak sebulan lalu kosong. Sorot mata Bulan tertuju pada orang yang keluar dari mobil. Seorang wanita melihat Bulan, dan datang menghampiri.
Bulan yang melihat itu segera menghampiri. Keduanya berdiri di depan gerbang rumah.
"Hai, saya tetangga baru. Nama adik, siapa?" tanya wanita itu.
__ADS_1
Siapa yang dia panggil adik?!
"Nama saya Bulan, istri dari Pak Purnama," jawab Bulan. Hatinya digelitik tawa yang ia tahan.
"Oh, sudah menikah. Saya pikir masih perawan." Sudut bibir wanita itu tertarik lebar.
"Iya, itu anak saya," ujar Bulan menunjuk Raka dan Areum.
"Oh, sudah punya anak. Kembar, ya?"
Bulan adalah mama muda, wajahnya yang baby face membuatnya terlihat seperti masih anak kuliahan.
"Iya." Dari pada menimbulkan banyak pertanyaan, dan dirinya harus mengingat masa lalunya. Lebih baik diiyakan.
"Kalau mau, ayo mampir ke rumah saya," ucap wanita itu.
"Iya, boleh."
Bulan berjalan mendekati Raka dan Areum. "Raka, Areum, Bunda mau ke rumah tetangga sebentar."
"Iya, Bunda," jawab kedua anak itu bersama.
Segera Bulan mengikuti langkah kaki wanita itu menuju rumahnya.
Penghuni rumah yang sebelumnya pindah ke negara lain, Jerman untuk melanjutkan kuliah anaknya. Penghuni baru ternyata tidak kalah ramah dengan yang sebelumnya.
Seorang gadis duduk di kursi tepi jalan sambil menggendong kucing menarik perhatian Raka. Gadis cantik yang sepertinya lebih muda dari Raka.
"Iya, Bunda juga udah pergi lumayan lama," jawab Areum.
"Oke." Raka melangkah ke luar area rumah. Areum yang melihat tubuh Raka menghilang, segera melanjutkan aktivitasnya.
Raka langsung berdiri di depan gadis itu. "Hai," sapanya sambil melambaikan tangan.
"Hai," jawabnya dengan senyum yang lebar.
"Aku boleh duduk?"
"Boleh."
Raka duduk di samping gadis itu. "Nama kamu, siapa?"
"Nama aku Alena, kalau nama kamu?"
"Nama aku Raka." Pandangannya tidak lepas dari wajah gadis cantik itu. "Ini kucing kamu?" tanyanya sambil ikut mengelus tubuh kucing itu.
"Iya, namanya Cute." Wajahnya sangat mengemaskan. Pipinya seperti kelebihan baking soda. Bibir tipisnya berwarna pink kemerahan, kulit putihnya sangat memadu.
"Kamu sekolah di mana?" tanya Raka.
"Aku belum sekolah."
__ADS_1
"Oh, aku punya saudara perempuan cantik kayak kamu. Mau aku kenalin?" Raka berdiri. Tangannya ia ulurkan untuk menggandeng Alena.
"Boleh." Alena ikut berdiri, ia meraih tangan Raka.
Saat keduanya akan menyebrang, langkah Raka terhenti membuat Alena juga berhenti. "Areum!" teriak Raka melihat Areum berdiri di depan gerbang.
Tubuh Areum berbalik, wajahnya terlihat marah. Lalu ia melenggang masuk membuat Raka bingung.
Apa Areum marah karena melihat Raka bergandeng tangan dengan gadis lain? Cemburu?
. . .
"Areum cemburu, kenapa?!" Suaranya nyaring memenuhi kamar. Matanya berkaca-kaca, napasnya sesenggukan.
Raka mematung menatap Areum. "Aka minta maaf."
"Tadi, Aka cuma kenalan sama Alena, terus Aka mau kenalin Alena sama Ara, biar teman kita tambah banyak."
"Kalau Ara marah, nanti Aka main sama siapa?!"
"Maafin Aka ...! Aka cuma mau temenan sama Alena, gak lebih, kok." Wajahnya memelas, tangannya menggengam kedua tangan Areum.
Areum menyeka air matanya yang menetes. "Oke, Areum maafin Aka."
"Gitu, dong. Jangan nangis and jangan marah."
Areum mengangguk-angguk. Mata merahnya memudar, diganti senyum cerah pada bibirnya.
. . .
Hari sudah akan menjelang malam. Purnama sudah pulang sejak sore tadi. Sebuah kejutan bagi Raka dan Areum, karena Purnama pulang sambil membawa dua ekor kelinci untuk dipelihara.
Ketokan pintu saat semua sedang menonton televisi membuat Raka dan Areum semangat untuk membukanya. Kedua anak itu berlari menghampiri Purnama setelah menerima sebuah surat.
"Ayah, ada surat buat Ayah ...." Raka berteriak memenuhi ruangan.
"Surat apa?" tanya Purnama.
Raka dan Areum membaca surat itu bersama. "Dari kepolisian ...."
Purnama dengan cepat mengambil alih surat itu, tidak mau jika kedua anak itu tahu.
"Kepolisian?" gumam Purnama.
"Mas! Mas, kamu buat salah apa, Mas?!"
"Kamu nabrak orang? Atau kamu bunuh orang?! Jangan-jangan kamu narkoba."
"Gak, Sayang!"
Surat apa itu? Kenapa dengan Purnama? Atau itu adalah surat dari seseorang yang berada di kantor polisi. Jawabannya ada di next chapter ya ....
__ADS_1
Tinggal satu lagi, bonus episode nya. Abis ini mau lanjut bikin novel baru, jangan lupa mampir ke profil aku buat baca cerita aku yang lain ...! Aku maksa.