
"Bulan, kenapa?" tanya Mama Sinta melihat wajah Bulan yang pucat.
Bulan yang sedang memasak itu hanya menggeleng. Dia tidak mau siapapun khawatir meski tubuhnya perlahan semakin lemas.
"Yang benar Bulan gak apa-apa?" tanya Mama Sinta memastikan.
"Iya, Ma..."
Namun, penglihatannya mulai terlihat buram. Kunang-kunang seperti dikelilingi burung yang membuat pusing. "Ssshhh," desis Bulan.
Mama Sinta yang berada di samping menyadari. "Bulan?"
"Bu Irma, bantu saya!" teriak Mama Sinta memanggil Bu Irma yang berada di meja makan. Bu Irma datang menghampiri.
"Loh? Nak Bulan kenapa, Bu?" tanya Bu Irma dengan nada khawatir.
Bu Irma dan Mama Sinta menuntun Bulan menuju meja makan. Bulan mendesis pelan merasakan kepalanya yang nyut-nyutan.
Purnama yang menuruni tangga itu segera menghampiri Bulan. "Bulan kenapa, Ma?" tanyanya sembari mengelus kepala Bulan dengan lembut.
"Pusing sedikit kok, Mas," sahut Bulan.
"Ke dokter sekarang, ayo!" ajak Purnama tapi Bulan malah menghentikan Purnama yang hampir melangkah.
__ADS_1
"Gak usah, Mas," lirih Bulan.
"Ke dokter, titik," ucap Purnama dengan penuh penekanan.
Bulan pasrah membiarkan Purnama menggendongnya.
. . .
Mereka berdua pulang dengan senyum lebar yang terukir di wajah. Tidak, hanya Purnama dan Bulan lemas dalam gendongan hangat Purnama.
Mama Sinta dan Bu Irma menyambut kedatangan mereka berdua. "Bagaimana Bulan?" tanya Mama Sinta dengan raut wajah yang amat serius.
"Selamat, Mama akan jadi Nenek," ujar Purnama dengan riang.
Mama Sinta berbinar. Lalu menutup mulutnya karena terharu. "Akhirnya..." seru Mama Sinta.
"Bukannya Mas Purnama susah punya keturunan setelah kecelakaan itu? Kandungan Bulan berapa bulan, Mas?" tanya Helen sinis saat menuruni tangga.
Purnama menyoroti Helen. "Satu bulan."
"Oh, kemungkinan besar itu bukan anak kamu karena satu minggu yang lalu kamu sudah dinyatakan tidak..." Helen menggantungkan ucapannya.
Purnama sadar, ia segera menurunkan Bulan dari gendongannya membuat Bulan kini mematung.
__ADS_1
"Yang aku katakan masuk akal, ya..." seru Helen dengan yakin.
"Bulan, kamu?" tanya Purnama dengan lirih menatap Bulan.
Istri dari Purnama itu hanya menggeleng dengan lemah. "Kamu masuk pihak Helen? Dan kamu percaya kalau ini bukan anak kamu, sesuai dengan yang dia bilang?" Bulan menatap Purnama dan sesekali melihat Helen.
Purnama mengembuskan nafas panjang lalu melenggang pergi. Sepasang mata Bulan yang melebar menjadi panas. Bahkan tidak lama setelah Purnama pergi Mama Sinta ikut pergi.
Bu Irma melihat Bulan dengan iba. Langkahnya perlahan mendekati Bulan lalu dengan cepat Bulan memeluk Bu Irma. Isak tangis Bulan mulai terdengar di telinga Bu Irma.
"Bu, Bulan bersumpah ini anak Mas Purnama," ucap Bulan dengan suara bergetar.
"Bulan gak pernah melakukan itu dengan pria lain. Sumpah, Bulan gak bohong, Bu..."
"Iya, Bulan. Ibu percaya sama Bulan," ujar Bu Irma.
Tangan Bu Irma membelai pipi Bulan untuk menghapus air mata Bulan yang membasahi pipi.
"Sekarang, Bulan tidur, ya. Besok diselesaikan dengan baik, ya?" serunya.
Bulan mengangguk. "Bu Irma hati-hati, ya."
Kenyataan pahit membuat hatinya teriris-iris. Bulan menaiki tangga dengan langkah yang pelan, rasanya hidup ini sangat hambar. Hingga langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar Helen.
__ADS_1
Suara berisik menyelinap masuk ke dalam gendang telinga Bulan. Suara hentakan, entahlah. Panas, Bulan merasakan panas itu segera melangkah ke kamar dengan cepat.
Pintunya ia banting. Nafasnya tidak beraturan. Matanya mengerjap beberapa saat sebelum kakinya melemas hingga membuat tubuhnya terduduk di lantai.