Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Perselingkuhan istri kedua


__ADS_3

Hai...


Happy reading, guys.....


Raka berlari ke arah Bulan yang sedang menyisir rambut. Dia membawa buku gambar dan alat tulis, lalu benda itu ia sodorkan pada Bulan.


"Bunda, ayo gambar," ajaknya.


"Gambar apa?" tanya Bulan pada anak itu.


"Gambar ... em ... gajah?" ucapnya.


Bulan tersenyum simpul menatap anaknya itu. "Gambar Raka aja, gimana?"


"Emang Bunda bisa gambar Raka?" tanya balik anak itu. Bibirnya berkerut.


"Raka gambar sendiri, dong. Masa' Bunda yang gambar." Bulan berdiri seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tapi Raka maunya Bunda yang gambar," rengeknya mengikuti langkah kaki Bulan.


Bulan duduk di tepi ranjang. Kedua pundak Raka ia pegang. "Sekarang, Raka panggil Areum dulu, oke?"


Raka itu mengangguk. "Tapi janji, Bunda yang gambar!"


"Iya, Sayang ...." Raka itu pun berlari dengan riang.


Bulan melihatnya dengan bahagia.


Raka membuka pintu kamar Helen karena Areum tidur bersama Helen. Dia melihat Areum yang sedang melamun di depan jendela. Lantaran Areum tidak menyadari kedatangan Raka, anak lelaki itu berniat untuk mengejutkan.


Perlahan, Raka berjalan mengendap. Dengan hati-hati ia melangkah. Tubuhnya kini sudah berada di belakang Areum. Namun, hal lain terjadi. Areum berbalik membuat Raka terlonjak kaget.


Mata Raka membulat. "Areum!" tegurnya.


Areum juga kaget karena tiba-tiba melihat wajah Raka di belakangnya. Alis Areum bertautan. "Salah sendiri," ucapnya.


Raka mendengus kesal. Matanya menyipit. "Aka kan mau ngagetin Ara." Kedua bibir Raka berkerut.


"Areum, bukan Ara." Areum sepertinya tidak terlalu suka dengan panggilan itu.


"Kan bagus. Aka dan Ara?" Alisnya terangkat.


Areum hanya menghela nafas berat sambil membuang muka.


"Ayo gambar di kamar aku," ajak Raka.


"Nanti Bunda Bulan yang gambar," sambungnya.

__ADS_1


"Ayo," jawab Areum sambil mengangguk.


. . .


Bulan dengan telaten merawat kedua anaknya itu. Ia menggambar dan beralaskan meja. Raka juga menggambar bersama Areum, entah gambar apa yang mereka gambar.


"Ara, titipan Om yang tadi udah kamu kasih ke Mama Helen?" tanya Raka menatap gadis di hadapannya itu.


Areum tersentak kaget karena ia disuruh merahasiakan ini. Bulan yang mendengarnya itu hanya diam untuk pura-pura tidak mendengar pembicaraan kedua anak itu.


"Sstt!" Areum menutup mulut Raka dengan geram. "Ada Bunda Bulan."


Raka mengangguk. Areum pun kembali duduk ke tempatnya. "Mama bilang gak boleh kasih tahu siapa-siapa."


"Oh, oke," jawab Raka.


"Emang kenapa?" tanya Raka.


Bulan sedikit melirik keduanya. Areum menoleh ke arah Bulan, dan Bulan menyadarinya pura-pura tidak tahu.


"Tenang, Bunda Bulan agak budeg," pekik Raka. Bulan meneguk ludahnya dengan keras.


"Titipan Om Ares udah aku kasih ke Mama, dan Mama bilang ini rahasia," ujar Areum dengan bisik-bisik.


"Oke, aku jaga rahasia ini."


. . .


Hari sudah malam, kerena lembur jadi Purnama belum pulang. Masih ada pegawai lain di kantornya. Seperti Helen yang berada di sampingnya menata berkas.


Helen meraih handphonenya yang berada di atas meja. Ia melihat sebuah pesan masuk.


"Helen, sudah selesai. Ayo, pulang," ajak Purnama. Dia sudah berdiri dengan tangan yang membawa tas.


"Mas, kamu duluan, saja. Aku mau ambil dokumen di atas buat dikerjakan di rumah karena harus selesai besok," seru Helen dibalas anggukan oleh Purnama.


"Kamu hati-hati!" ucap Purnama seraya melenggang pergi.


Helen yang melihat Purnama sudah keluar dari kantor, ia segera menaiki lift untuk ke lantai atas. Di dalam lift, Helen memilin jarinya sembari menunggu sampai.


Pintu lift terbuka, ia bergegas menuju ruang meeting.


Tangan Helen bergerak membuka pintu. Punggung pria itu sudah menyambut. Helen masuk, dan menutup pintu itu.


Pria itu menoleh. Dia tersenyum miring. "Ada apa?" tanya pria itu dengan suara berat.


"Lebih cepat lebih baik. Kamu harus segera bawa Bulan pergi dari kehidupan Purnama," ucap Helen penuh tekanan.

__ADS_1


"Yang akan dapat untung besar itu cuma kamu," balas pria itu. "Kalo Bulan cerai sama Purnama, masih ada Bintang."


"Ya, kamu tinggal singkirkan Bintang." Helen menyakinkan pria itu.


Pria itu menghela nafas berat, lalu berjalan mendekati Helen. "Se-cinta itu kamu sama Purnama?" Pria itu menyeringai mendekatkan wajahnya dengan wajah Helen.


"Atau kamu cuma gak mau kalah dari Bulan?" lanjutnya.


Dahi Helen berkerut. "Dua-duanya benar," ucap Helen sambil mengangguk.


"Ares, kalo Bulan gak mau sama kamu. Masih ada adiknya itu, Si Bila."


"Kamu bisa ambil Dia dengan mudah," sambung Helen.


"Tapi aku maunya kamu, gimana dong?" Ares menyeringai. Senyumnya miring. Tangan kekarnya itu mendorong Helen ke dinding membuat Helen terpojok di sudut ruangan.


Pergerakan Helen terkunci. Ia mendongak menyoroti wajah tampan Ares. Rahang kokohnya ia lihat dengan jelas. Tangan Helen bergerak menyentuh jakun Ares yang terlihat sangat jantan.


Helen memicingkan matanya. "Ayo, lah!"


. . .


Purnama merogoh sakunya. Namun, ia tidak menemukan benda yang ia cari. Matanya membulat. "Loh? Kunci mobil ku dimana?" pekiknya kebingungan tidak menemukan benda itu di dalam sakunya.


Purnama mengeledah semua pakaiannya, tetapi tetap tidak menemukan benda itu. "Iya ...," desisnya sambil memukul kepalanya. "Ada di ruang meeting."


Purnama mengingat, ia pun melangkah memasuki kantornya lagi. Purnama memasuki lift.


Ares mencium bibir Helen membuat wanita itu terangsang. Helen juga tidak segan untuk membalas ciuman hingga ******* itu.


Helen memutar badannya, kini Ares yang ia pojokkan. Helen menyeringai.


Pintu lift terbuka, Purnama segera melangkah menuju ruang meeting. Langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat ruangan itu masih terang. "Mungkin ada Helen di dalam," katanya.


Purnama membuka pintu.


Deg


Dump?


Apa-apaan, tuh?


Kedua mata Purnama melebar melihat istri keduanya yang memimpin ciuman panas di pojok itu. Purnama menelan ludahnya dengan keras. Matanya tidak berkedip. Dua insan yang bercinta itu masih belum menyadarinya.


Purnama menggeleng. Ia segera mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja. Purnama akan keluar, langkahnya terhenti sejenak melihat hal itu.


Purnama kembali melangkah dengan cepat untuk keluar dari ruangan. Dengan frustasi Purnama mengacak-acak rambutnya. Purnama mendesis pelan. "Nanti deh sama Bulan."

__ADS_1


__ADS_2