Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Menghilangnya Bulan


__ADS_3

Malamnya dibuat hangat oleh Helen, tetapi paginya dibuat panas oleh istri pertamanya.


"Bulan kemana, sih?!" gerutunya menuruni tangga.


Sejak kemarin, Purnama dibuat mondar-mandir dengan menghilangnya Bulan. Namun, Helen tidak mau membuang waktu yang berharga baginya. Purnama sudah menyuruh para bawahannya untuk mencari Sang Istri, tetapi entah mengapa itu sangat susah.


Bukan hanya Purnama tapi Mama Sinta turut khawatir. Bila tidak bisa pulang karena dia sudah kembali ke Yogyakarta untuk kuliah, padahal baru saja pulang dan harus kembali lagi. Bila hanya bisa membantu dengan do'a.


"Ma, Mama yang benar gak lihat Bulan?" tanya Purnama sekali lagi untuk memastikan.


"Terakhir Mama lihat Bulan, waktu dia buat jus," jawab Mama Sinta jujur.


Purnama mengacak-acak rambutnya bersamaan dengan helaan nafas yang berat. "Bulan..." Purnama nampak frustasi, dia khawatir tapi tak kunjung peka terhadap Istrinya.


"Mas Purnama..." panggil Helen dengan suara manja.


Helen mendekat, dan memeluk tubuh Purnama dari samping padahal ada mertuanya.


Helen mendongak menatap Purnama. "Mau jalan-jalan," katanya.


Mama Sinta sontak membelalakkan matanya. "Kamu?! Kamu tahu masalah ini serius tapi kamu malah ajak Purnama jalan-jalan." Mama Sinta membuang muka malas, dan berlalu pergi melewati tubuh keduanya.


Helen melihat Mama Sinta dengan wajah ketusnya sambil bergumam, "Cih."


"Sayang, lain kali, saja, ya," ucap Purnama.


Helen mencari perhatian, dia melangkah pergi dengan menghentakkan kaki seraya berjalan.


Purnama menunduk sejenak lalu menyusul Helen yang naik ke tangga. "Sayang..." panggil Purnama.


Helen menghentikan langkahnya, tersenyum miring dahulu sebelum melipat kedua tangannya di depan dada. Sudah Helen duga bahwa Purnama akan menghampirinya.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Purnama.


Helen mendongak menatap Purnama dengan wajah memelas. "Mall?"


Purnama tersenyum seraya mengelus perut Helen. "Iya, Sayang. Baby, nanti kita jalan-jalan, nih," ucapnya.


Helen menang, dia menang.


Purnama tengah bergembira menikmati libur yang ia habiskan di Mall bersama wanitanya. Sedangkan, Bulan tersiksa menahan nyeri pada perutnya yang terbentur aspal kemarin.


Bulan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Bu Irma. Meskipun itu merepotkan Bu Irma tapi beliau tidak merasa kerepotan malah senang ada teman katanya.


"Bulan, lebih baik Bulan pulang, saja. Bayinya juga memerlukan kasih sayang dari ayahnya," ujar Bu Irma.

__ADS_1


Bulan menunduk. Sesak sekaligus nyeri bersatu bergejolak dalam dirinya. Setetes air mata berharga Bulan jatuh membuat Bu Irma merasa iba, bahkan sejak bertemu pun Bu Irma sudah kasihan melihat Bulan seperti air putih yang diabaikan karena ada es teh.


"Bulan belum siap, Bu," lirih Bulan.


Bulan terisak dengan perlahan, pipinya sudah dibanjiri air mata. Tanpa sadar Bu Irma juga ikut menangis. Tangan ibu seorang Bu Irma terulur untuk membawa Bulan ke dalam pelukannya.


Tangisan Bulan semakin berat, ditambah pelukan seperti seorang ibu yang sudah lama tidak Bulan rasakan bahwa hampir tidak pernah karena ibunya dulu yang tidak memberikan kasih sayang yang cukup untuk Bulan.


"Suami Bulan jahat, Bu..."


"Dia baik tapi dia juga sakiti Bulan."


"Dia menyayangi Istrinya."


"Istrinya bukan lain adalah maduku."


"Aku Istri pertamanya tapi aku hanya dijadikan cadangan..."


Rasanya sudah hancur lebur, sudah tidak bisa disatukan kembali. Jika boleh sediakan ruang yang sepi untuk Bulan teriak agar dirinya puas, meski hanya sesaat.


"Nak, kamu bukan cadangan. Hanya saja suami kamu yang belum membuka seluruh matanya, dia hanya melihat sebelah. Mungkin suatu saat nanti dia akan mencari kamu sebagai sandaran tempat dia bercerita tentang apa yang ia alami," ujar Bu Irma.


Bulan membuka matanya yang tertutup. Lalu bangkit dan kembali duduk tegap. Rasanya jiwa Bulan sudah bangkit.


"Dia hanya wanitanya bukan cintanya," ujar Bu Irma.


"Tunjukkan!" kata Bu Irma dengan lantang.


"Buktikan bahwa dia membutuhkan kamu!"


Bulan terkekeh pelan hingga kepalanya menunduk. Lukanya seakan sudah pergi. Mungkin ini juga karena hormon ibu hamil. Mungkin.


"Kok ketawa?" tanya Bu Irma menatap Bulan dengan heran.


"Ibu lucu, ih."


Bu Irma malah tersenyum malu-malu. "Kamu bisa, saja. Disemangati malah ketawa!"


"Oh, iya. Bu Irma keja?" tanya Bulan.


Bu Irma menggeleng. "Tapi anak saya kerja di toko bunga," katanya.


"Loh? Kok enggak cerita," gerutu Bulan.


Bu Irma terkekeh. "Rahasia, dong," pekiknya.

__ADS_1


Bulan membulatkan matanya, tidak disangka Bu Irma sangat ramah dan suka bercanda. Bulan menatap Bu Irma dengan takjub, benar-benar seorang ibu yang hebat. Begitu beruntung anaknya Bu Irma.


Bu Irma menepuk paha Bulan membuat lamunan Bulan buyar. "Kalau begitu, Ibu tunggal ke pasar, ya," katanya seraya berdiri.


"Bulan mau ikut," sarkas Bulan.


Bu Irma menggeleng, lalu kembali duduk. "Bulan, istirahat! Kasian dedenya kelelahan," ujar Bu Irma seraya mengelus perut Bulan yang masih rata.


Bulan membaringkan tubuhnya di kasur, mengelus perutnya dengan lembut, menyentuh janinnya secara tidak langsung. Hangat yang ia rasakan, untuk saat ini bayinya lebih penting.


"Kamu hebat, Nak. Gak kayak ayahmu, lemah. Dia tidak bisa hanya dengan satu wanita, dia butuh dua, kenapa? Karena dia lemah," ucap nya.


Tanpa Bulan sadari, sepasang mata mengintipnya dari jendela kamar. Orang itu bergumam "Kamu benar, Purnama itu lemah, dia tidak bisa hidup dengan satu wanita."


Orang itu terkekeh kecil lalu pergi. Begitu kecil tawanya hingga tidak dapat didengar.


"Ares, buat selembaran!" pinta Purnama.


Kedua pria itu tengah berada di ruangan Purnama. Menghubungi para kenalan tapi tak juga mendapatkan info tentang Bulan. Bahkan Purnama sudah mengerahkan beberapa bawahannya.


"Bulan..."


"Kamu kemana, sih," gumam Purnama.


Sepertinya tengah dilanda kerinduan.


Ares hendak keluar dari ruangan Purnama, Ares membuka pintu bersamaan dengan Helen dari luar. Saling menatap tapi hanya sebentar. Helen melewati Ares begitu saja. Helen langsung mendekati Purnama dan duduk di pangkuan Purnama membuat Ares geli.


Ares yang merasa geli pun memutuskan untuk pergi. Tak lupa untuk menutup pintu kembali. Kakinya baru melangkah satu kali tapi terhenti. Sesuatu berputar dalam pikirannya.


Helen seperti bahagia di atas penderitaan suaminya. Apa jangan-jangan Helen ada hubungannya dengan menghilangnya Bulan? -Ares.


Hal itu terus terlintas di benaknya. Kemungkinan besar itu benar karena Helen tidak menyukai Bulan, kan.


Menunggu pintu lift terbuka, Ares memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya tidak terfokus kemana pun. Kosong. "T-tunggu! Purnama bilang Bulan pamit untuk periksa, lantas Purnama sudah periksa atau belum? Sudah ada jalan, tempat yang harus aku letakkan selembaran menghilangnya Bulan," katanya dengan bangga.


Disini Ares yang lebih mengedepankan Bulan daripada Purnama suaminya sendiri. Bahkan Purnama hampir tidak punya waktu untuk mencari Bulan karena Helen yang mendesak Purnama agar bekerja. Katanya ada meeting lah, ini lah, dan katanya juga dia sedang mengidam.


Mobil hitam terparkir di depan halte bus yang sama seperti tempat kecelakaan Bulan kemarin. Ares dengan semangat menempelkan beberapa lembar kertas pada daerah itu. Tiang biru yang menjulang ke atas juga ia tempel, hingga pohon-pohon sekali pun.


Pekerjaannya sudah selesai. Ares tersenyum bahagia. Melenggang pergi lalu kembali menaiki mobilnya. Belum jauh mobil Ares melaju, Bu Irma melewati tempat itu. Pandangannya sejenak tertuju pada mobil Ares, matanya menyipit melihat kertas dengan foto wanita yang ia kenal.


"Bulan?" katanya mengamati kertas itu.


Bu Irma kembali melihat mobil Ares yang ternyata sudah tidak bisa ia jangkau.

__ADS_1


My lup, kamu jahat, deh😖Jangan kayak Bulan, dong. Kasih jejak gitu, loh, Aaa😩


Ada pesan? Buat Bulan? Buat Purnama? Atau si ular betina? Btw, siapa ya yang tadi ngintip Bulan🤔Jangan dipikir, mikirin aku aja gpp.


__ADS_2