Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Penghujung kisah


__ADS_3

"Helen?" Purnama kaget bukan main saat melihat wajah pencuri itu.


Tubuhnya terpental hingga terbentur batu. Polisi itu langsung menyergap yang satu. Rambut panjang pencuri itu terhempas membuat wajahnya terlihat.


Purnama dan Tegar ikut melompat dari jendela dan menghampiri pencuri berambut panjang yang tertabrak mobil itu. Dia adalah Helen, ibu dari Areum, dan istri kedua Purnama Bimangkara.


Napasnya tersengal-sengal. Darah dari kepalanya terus bercucuran. Bibirnya memucat. Tangan kanannya memegangi perutnya. Sang putri merasa sedih dan menghampirinya.


Areum langsung memeluk tubuh Helen. Helen batuk dan mengeluarkan darah. Areum menangis dengan keras. Purnama menghampiri keduanya. Semua orang menganga.


"Mama, gak apa-apa, kan?" Suara Areum bergetar.


Helen tersenyum dengan lukanya yang parah. "Mama gak apa-apa, kok. Areum jaga diri, ya!" Matanya menutup.


Areum menangis di tempat. Dia memeluk tubuh Helen yang bersimbah darah. Bulan datang dan memeluk Areum. Anak itu kehilangan ibunya.


Pengendara mobil itu ikut tercengang.


Raka dari jauh menangis, Mama Sinta itu memeluk Raka. Sedangkan pak polisi membawa pelaku yang satunya dan tidak lain itu adalah Ares.


"Mama," lirih Areum.


"Mama kenapa, Bunda?" Wajahnya melas, matanya sayu. "Mama pulang, ya?"


Bulan tersentak kaget, ia tidak tahu harus menjawab apa. Anak sekecil Areum kini kehilangan ibunya. "Areum, masih ada Bunda, oke?!" Gadis itu mengangguk pelan. "Mas," panggil Bulan.


Purnama mengangguk. Dia berjongkok dan menggenggam tangan Helen. Napasnya terhenti, detak jantungnya berhenti. Purnama menunduk, lalu mengangkat tubuh Helen.


. . .


Suasana pemakaman dipenuhi tangis. Tangisan Areum yang paling keras. Satu per satu orang pergi meninggalkan makam.


Helen sudah berada di sana.


Raka ikut duduk di samping Areum. "Ara, gak boleh nangis!" ucapnya. "Di sini ada Aka, jadi Ara gak boleh nangis, ya?!"


Areum mengangguk pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik. Tangannya bergerak menyeka air mata uang menetes di pipinya. "Mama, bahagia di sana, ya!"


Berakhir dengan Helen yang meninggal dunia akibat tertabrak mobil. Ares, dia dipenjara. Sedangkan pengendara mobil yang menabrak Helen dimaafkan oleh Purnama karena ini juga salah Helen.


Pernikahannya dengan Helen kini sudah selesai. Helen tutup usia dan kini hanya ada Bulan dan Purnama.


. . .


Dua bulan berlalu dengan cepat. Tanpa dirasa, pernikahan Tegar tiba. Bulan bersama keluarganya menghadiri pernikahan itu.


Gaun pink yang dikenakan Bulan membuat kecantikannya bertambah. Purnama seperti biasa, kemeja putih dan jas hitam. Kedua anaknya juga ikut.


Raka menjadi yang paling heboh. "Om, Istrinya Om cantik."


"Iya, dong," ucap Tegar.


Raka berlari dari altar, dia mendekati Purnama. "Ayah, besok liburan, yuk," ajaknya.


"Kemana?" tanya Purnama.


"Ke ... Eropa?"


Manik mata Purnama membulat. "Memangnya Raka tahu Eropa itu dimana?"


"Eropa ya di Eropa, Yah," sahut Areum.

__ADS_1


"Benar." Raka menyetujuinya.


"Oke, besok ke Jepang," ujar Purnama.


"Beneran, Yah?" Raka berbinar.


Purnama mengangguk.


"Baik, sekarang adalah acara lempar bunga," ucap MC itu berdiri di atas pelaminan.


Semua orang bersiaga merebut bunga yang akan dilempar itu. Bila dan Bulan berada di baris paling depan. Sedangkan Raka dan Areum berdiri di samping pengantin. Purnama bersama Rio hanya menonton dari kejauhan.


"Baik. Satu, dua, tiga ...."


Bunga itu dilempar. Semua orang menganga dan bersorak. Bila dan Bintang menangkap bunga itu bersamaan, keduanya saling menatap. Bintang langsung memberikan bunga itu pada Bila. Pipi Bila merona karena tersipu malu.


"Bintang, sekarang aja!" pekik Bulan.


"Banyak orang," ucap Bintang.


"Gak apa-apa. Dari pada nanti hilang."


Bintang terdiam sejenak menatap Bila dengan senyum berseri di wajahnya. "Bila," panggilnya.


Bila membeku, detak jantungnya seperti akan lepas. Bintang meraih kedua tangan Bila, lalu ia genggam dengan erat.


"Will you marry me?"


Bila menutup mulutnya yang sedikit terbuka dengan tangan kanan. Kepalanya mengangguk.


"Maaf, aku gak bisa kasih kamu apa-apa," ucap Bintang.


"Ini lebih dari cukup, Mas."


"Yey, Tante Bila sama Om Bintang menikah ...," sorak Raka memutari mereka berdua.


Areum menghampiri mereka berdua dan mendekat ke Bila. Dia menarik-narik gaun Bila. Bila berjongkok. "Iya, sayang?"


"Tante, bunganya boleh buat Areum?" bisiknya.


"Boleh," ucap Bila memberikan bunga berwarna-warni itu pada Areum.


"Makasih, Tante," ucap Areum.


Semua orang kembali melanjutkan acara. Bila dan Bintang berdiri di pojok ruangan. Keduanya berbicara sambil tersenyum manja.


"Kapan nikah?" pekik Bintang.


Bila menyembunyikan wajahnya. "Besok?"


"Siap." Bintang membawa Bila ke dalam pelukannya. Mengeratkan ikatan cinta yang baru ia jalin.


Kedua pengantin itu berbisik-bisik sambil melihat ke arah Bulan.


"Itu Bulan mantan kamu?" tanya istri Tegar.


"Iya, kenapa, Na?"


"Cantik, kenapa kamu putusin?"


"Dia yang putusin aku, Na."

__ADS_1


"Hahaha, pasti karena kamu jelek." Nana itu tergelak tawa melihat wajah suaminya.


"Jelek-jelek seperti ini kamu nikahin."


Seketika tawa pecah Nana terhenti. Ia menyorot wajah tampan Tegar. "Ganteng banget, sih!" rengek Nana memeluk Tegar.


"Na, jangan manja! Banyak orang, nanti aja."


"Gak peduli."


Nana semakin mengeratkan pelukannya membuat Tegar ikut memeluknya dengan erat. Tegar itu dingin, bahkan Nana menghabiskan waktu satu tahun untuk mengambil cinta Tegar, seperti Bulan. Bulan adalah pacar pertama Tegar, setelah putus dengan Bulan, Tegar tidak. berhubungan dengan siapapun. Hingga dia bertemu dengan Nana, tetangga saat dia berada di luar negeri.


"Mas," panggil Bulan. Purnama menoleh. "Nikah lagi, yuk."


Purnama menunduk menyembunyikan senyumnya. "Aku nikah lagi, boleh?"


"Kok jadi gitu!" Bulan mengerutkan bibirnya dan membuang muka dari suaminya itu.


"Enggak, Sayang. Mas janji akan setia sama Bulan. Kapan, sih? Kapan nikahnya?" Purnama membelai rambut Bulan.


"Gak usah."


Dua anak yang berdiri di pojok ruangan mencuri perhatian Bulan. "Mas, lihat!"


Purnama mengalihkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Bulan. "Eh? Areum sama Raka?"


Dua anak itu saling menatap dengan dalam. Raka sedari tadi cengengesan salah tingkah, berbeda dengan Areum yang menatap Raka tanpa ekspresi.


"Astaga, Areum mau lamar Raka?" ucap Anak itu sambil menutup mulutnya. Dia melompat-lompat kecil.


"Diam dulu, Raka!" tegur Areum mulai kesal.


"Oke, Raka diam," ucapnya menutup mulut.


Areum menghembuskan napas panjang. Lalu berjongkok di hadapan Raka. "Ara mau nanti Aka gak pergi ninggalin Ara."


Raka mengangguk. "Aka janji."


"Nanti Aka harus cari Istri yang lebih baik dari Ara, oke?!"


Raka mengangguk lagi. "Ara panggil Raka Aka?"


"Aka gak mau?"


"Mau, dong!"


"Cie ... sekarang sudah akur," celetuk Purnama menengahi drama kedua anaknya itu.


Bulan dan Purnama datang menggoda keduanya. Areum langsung berdiri dan diam membisu.


Raka cengengesan. "Selesai, Ara sudah panggil Raka pakai panggilan kesayangan." Raka bersorak dengan girangnya.


"Aku cuma ikut Bunda, Bunda panggilnya Aka."


"Iya, deh." Raka meledek Areum.


Areum yang sudah kesal itu pun memberikan bunga itu pada Raka dan melenggang pergi dengan langkah gemasnya.


Raka menarik tangan Purnama untuk mengejar Areum. Dua lelaki itu mengejar gadis kecil yang sedang malu. Bulan memandangi pemandangan indah itu dengan senyum yang terlukis di wajahnya.


Ini adalah mimpiku yang menjadi kenyataan. Benar, sebelum kebahagiaan harus ada perjuangan terlebih dahulu. Dan kebahagiaanku adalah mereka. Keluargaku. -Bulan Suci Lestari

__ADS_1


Sampai jumpa dikemudian hari. Semoga cobaan kalian tidak sama seperti milikku.


__ADS_2