
Bulan berjalan mendekat ke arah Bintang, karena langkah kaki Bulan yang terlalu cepat membuat tubuhnya terpeleset.
Brush
Bulan jatuh, jatuh dalam dekapan Bintang. Sepasang mata Bulan menatap manik mata Bintang yang melebar. Tangan Bulan melingkar pada leher Bintang, sedangkan tangan Bintang menahan punggung Bulan agar tidak terjatuh. Tanpa keduanya sadari, Purnama melihat dari kejauhan itu pun mendekat.
"Waw..." katanya membuat Bulan kembali berdiri.
"Mas," gugup Bulan.
"Enak,ya, selingkuh," pekik Purnama.
Bulan dan Bintang mengernyitkan dahinya.
"Mas, tadi aku ke-"
"Apa?! Kepeleset? Iya?!" sarkas Purnama memotong ucapan Bulan. Bulan hanya menggeleng lemah.
"Tadi mereka berdua dansa-dansa, Mas," pekik Helen yang baru datang.
Purnama menatap Bulan dengan tajam seperti ingin menerkam. "Kamu lupa kalau kamu lagi hamil?" ucap Purnama.
Sekali lagi Bulan menggeleng. "Tunggu!" pekik Bintang.
Purnama beralih menatap Bintang. Tatapan mematikan yang Bintang dapat dari Purnama. "Apa?! Ah... Jangan-jangan kamu memang suka sama Bulan." Purnama menyeringai, langkah kecil yang ia buat mendekat pada Bintang.
"Iya, kan?!"
Bintang menunduk. Matanya memanas. "Iya, kenapa? Saya memang suka sama Bulan, bahkan jauh sebelum menikah dengan Anda! Tapi saya tidak punya pemikiran yang buruk untuk merebutnya dari Anda." Ucapan Bintang dengan lantang membuat Purnama naik pitam, sedangkan Bulan yang baru tahu kenyataan itu meneteskan air matanya.
Tangan Purnama mengepal dengan kuat. Otot-otot tangannya timbul akibat genggaman yang sangat kuat.
"Mas, apa jangan-jangan anak yang dikandung Bulan juga anak dia," celetuk Helen membuat keadaan semakin buruk.
"GAK! Itu anak saya!" jawab Purnama dengan lantang membuat Helen terkejut.
"Mas, tadi aku kepeleset," seru Bulan, tetapi Purnama tidak menggubrisnya. Seakan tuli, Purnama mencengkram baju bagian leher Bintang dengan keras. Bintang hanya pasrah, kedua tangannya memang mengepal tapi itu untuk menahan emosinya.
"Kamu! Jangan dekati Istri saya!" ucap Purnama penuh penekanan. "Saya tidak akan pernah melepaskan Bulan untuk kamu."
Bau menyeruak hidung Bintang saat Purnama membuka mulut. Bau busuk alkohol yang ditangkap penciuman Bintang.
Bintang beralih melihat Bulan yang tubuhnya tengah bergetar. "Purnama minum alkohol," ujar Bintang dengan suara pelan namun Bulan bisa melihat pergerakan bibir Bintang.
"Jadi Mas Purnama mabuk," gumam Bulan.
Bulan mendekati Purnama, lalu memeluk lengan kanan Purnama.
"Bintang," panggil Bu Irma.
__ADS_1
Bintang melihat Ibunya yang tengah berjalan mendekat. "Ibu?"
"Ada apa?" tanya Bu Irma dengan suara lirih.
"Nanti Bintang jelaskan di rumah," jawab Bintang.
"Bulan, kamu bisa urus Suami kamu sendiri?" tanya Bintang pada Bulan.
Bulan mengangguk. "Iya, maaf, ya."
Bulan membantu Purnama yang berjalan pincang itu.
"Oh, jadi dia anak Bu Irma?!" pekik Purnama.
"Bu, bilang sama anaknya! Jangan dekati Istri saya." Purnama menegaskan dengan suaranya yang serak.
Bu Irma hanya mengangguk ketakutan. Bintang segera menarik tangan Bu Irma untuk pergi.
Bulan melangkah perlahan sambil menahan badan Purnama yang berat agar tidak terjatuh.
"Minggir!" sentak Helen mendorong tubuh Bulan. Lalu Helen menuntun Purnama dan meninggalkan Bulan.
Dua menit, tiga menit, Bulan merebahkan tubuhnya di kasur dan berusaha menutup matanya. Pikirannya tidak nyaman. Tidur terlentang, lalu memiringkan tubuhnya, kembali terlentang dan memiringkan tubuhnya lagi.
"Aarrgghh!" desisnya pelan sambil melemparkan selimutnya agar jauh dari tubuh.
Bulan berdecak kesal dan memutuskan untuk beranjak turun dari ranjang. Tangannya terulur mengambil handphone yang terletak di samping bantalnya. Tangan yang awalnya mengetik kini terhenti. Pendengaran Bulan menangkap sesuatu yang sangat menganggu.
Kedua matanya tak berhenti membesar. Hingga suara itu mulai menggema di telinganya. "Ck, pasti Helen senang," katanya dengan ketus.
Bulan kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Entah kenapa suara itu tidak berhenti menggema. Suara ******* dan suara dentuman keras ranjang yang timbul akibat pergerakan yang sepertinya sangat cepat. Sialan.
Kelopak matanya yang ia pejamkan dengan keras, suara yang terus menggema, entah mengapa tidak mau pergi. Menetes, air matanya terjatuh tapi dengan segera Bulan menyekanya.
Tatapannya kembali terfokus pada handphone yang ia pegang lalu mengetikkan nama Bintang di layar itu.
Bulan mendekatkan handphonenya ke telinga. Mendapati panggilan yang telah tersambung, Bulan membuka suara. "Hai..." sapa Bulan.
"Hai," sapa Bintang dari sebrang.
Bintang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang kosong menuju depan.
"Yang tadi, maaf, ya."
Bintang tersenyum simpul. "Enggak apa-apa, kok," balas Bintang.
Bulan menghela nafas panjang seraya mengelus dadanya dengan lega.
"Tapi kamu gak apa-apa, kan?" tanya Bintang balik.
__ADS_1
"Aku baik, kok. Mas Purnama cuma marah sedikit, besok pasti kembali lagi," seru Bulan.
Bintang mengernyitkan dahinya. "Kembali? Memangnya kemana?"
"Bukan gitu, Cuma lagi sama Helen, aja."
"Oh, sama Helen. Semangat, ya!"
"Iya, makasih."
Kedua bibir Bintang tertarik dengan lebar. Rasanya sangat bahagia bisa mendengar suara wanita yang ia cintai.
"Bu Irma sudah tidur?"
"Sejak pulang langsung tidur," pekik Bintang diiringi tawa kecil.
"Ah, pasti capek. Maaf, sudah buat Ibu kamu repot. Abisnya aku kesepian soalnya Mama mertua aku sekarang lagi jarang di rumah."
"Iya, aku senang, kok. Ibu jadi punya teman."
Keduanya hanya mengeluarkan suara tawa yang pelan.
"Disini gak nyaman banget," celetuk Bulan tanpa sadar, saat sadar kedua matanya membulat.
"Hem? Di sana kenapa?"
"E-enggak, kok." Bulan kesal, ia memukul bibirnya sendiri dengan geram.
"Kamu gak tidur?"
"Suara di sebelah ganggu banget."
Sialan! Keceplosan lagi! Batin Bulan.
"Suara apa, Bulan?" tanya Bintang dengan ekspresi kebingungan.
"Gak, itu Si Helen nyalain musik kenceng banget," gerutu Bulan.
"Oh."
"Iya, ya udah. Aku tutup, ya. selamat malam." Bulan segera memutuskan panggilannya secara sepihak.
Bintang di sana hanya mengedipkan matanya dengan tidak jelas. Lagi-lagi senyum lebar itu terukir di wajahnya.
"Mulut! Mulut!" Bulan memukul-mukul pelan bibirnya. Lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Keceplosan yang sudah amat parah.
Malam ini, Bulan akan tidur sendiri. Dikamar yang biasanya. Sendiri, tidak tapi dengan guling yang senantiasa ia peluk. Sudah terbiasa dengan luka yang Purnama beri, kini Bulan sudah bisa menghilangkannya dengan mudah. Mungkin jika Bulan setega Purnama, ia akan selingkuh dengan Bintang yang baiknya melebihi Purnama, tetapi Purnama masih tetap suami Bulan.
. . .
__ADS_1
"Sepertinya, besok saya harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya itu. Dengan jujur, sesuai dengan apa yang saya lihat dengan kepala mata saya sendiri!" tegas seorang Pria yang berdiri di ambang pintu sambil menikmati kopi di gelas yang ia bawa dengan tubuh yang menyandar di sisi pintu.