
Di Bandara, pada pukul 09.00 WIB. Bulan berjalan di samping Purnama yang menyeret koper. Pandangan Bulan tertuju pada pesawat yang terparkir di luar. Besar, ini pertama kalinya Bulan pergi ke Bandara. Selama berpergian ia hanya menaiki kereta.
Langkah Purnama terhenti membuat Bulan juga ikut berhenti. "Kamu tunggu di sini dulu, ya," ucap Purnama. Bulan hanya mengangguk, lalu Purnama melangkah ke sebuah tempat.
Melihat kursi yang kosong, Bulan mendudukinya. Orang-orang berlalu lalang melewati Bulan. Ada juga anak kecil yang curi pandang pada Bulan membuatnya teringat pada bayinya yang belum sempat terlahir.
Purnama menuntun Bulan menuju tempat duduk. Keduanya pun duduk untuk menunggu. Aba-aba dari para Pramugari mulai terdengar. Pesawat itu pun lepas landas.
Bangunan tinggi yang tidak kalah tinggi dari jakarta itu berjejer. Bulan berbinar melihat cahaya-cahaya itu. Jalan yang lumayan ramai, juga ada orang yang bersepeda.
"Bulan...kita cari taksi, yuk," ajak Purnama, pasalnya Bulan ingin berjalan menuju hotel yang akan dituju.
"Kan lebih enakkan jalan, Mas," pekik Bulan membuat Purnama kesal.
"Bulan, ini tuh panas. Kalau Bulan mau jalan kaki, Oke, kamu jalan kaki sendiri! Mas mau cari taksi." Purnama berjalan dengan cepat meninggalkan Bulan yang menganga.
"Mas..." panggil Bulan menyusul Purnama.
"Jangan tinggalin aku!"
"Mas!" Purnama berbalik dengan tatapan tajam.
"Maaf," ucap Bulan lirih.
"Iya, ayo!" Purnama menarik tangan Bulan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menarik koper.
Hotel luas dengan banyak lantai. Hotel terbaik di Los Angeles. Sepasang mata Purnama tidak bisa diam membuat Bulan beberapa kali mencubit tangan Purnama.
"Mas boleh bawa pulang satu, gak?" tanya Purnama membuat Bulan mencubit lengan Purnama. Purnama hanya meringis.
"Aku juga boleh bawa satu, gak? Yang itu," pekik Bulan menunjuk Pria bule yang sedang menelepon di sudut ruangan.
"Gak boleh!" sentak Purnama.
Hingga sampai di kamar pesanan Purnama. Purnama menempelkan kartu yang ia bawa. Pintu itu perlahan terbuka.
Sedangkan di satu sisi, seorang wanita keluar dengan menggendong anak kecil yang menangis. Bulan menoleh.
"Maaf," ucap wanita itu merasa menganggu.
Bulan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Loh? Bu Syela?" pekik Purnama.
"Pak Purnama, ya?" Purnama mengangguk.
Keduanya saling menyapa hingga berjabat tangan. "Ini, Istri saya Bulan," ucap Purnama.
__ADS_1
Wanita bernama Syela itu tersenyum ke arah Bulan. "Anaknya kenapa, Bu?" tanya Bulan.
"Tadi ditinggal Papanya," jawab Syela.
"Em...saya boleh gendong?"
"Boleh."
Syela memberikan alih mengendong kepada Bulan. Bayi berusia enam bulan itu berhenti menangis saat berada di gendongan Bulan. Ibunya terkejut, matanya membulat bahkan Purnama tersenyum.
"Loh? Kok bisa langsung diam, ya?" pekik Syela.
"Sudah siap ini jadi Ibu," ucap Syela diiringi tawa kecil.
Bulan melemparkan senyum. Tangan Purnama terulur mengelus pucuk kepala Bulan.
"Sebenarnya dua hari lalu, Bulan kehilangan bayinya," ujar Purnama membuat Syela merubah raut wajahnya.
"Oh, maaf, ya..." kata Syela.
Bulan tersenyum. Bayi cantik yang berada di gendongannya perlahan tertidur hanya dengan hentakan kecil Bulan. Hangat. Wajah yang hampir bisa ia lihat setiap hari. Air matanya perlahan menetes tapi dengan segera ia tahan.
"Besok saya boleh gak titip Sasa ke kalian?" seru Syela.
Bulan berbinar. "Boleh, Mas?" lirih Bulan.
Syela membawa masuk Sasa. Purnama juga mengajak Bulan untuk masuk ke kamar.
. . .
Langit sudah berubah warna. Matahari sudah terganti oleh Bulan. Suara gemericik air terdengar nyaman di telinga. Untung saja tidak ada petir yang menggelegar.
Bulan tengah membersihkan tempat tidur untuk malam ini. Tanpa permisi, Purnama memeluk Bulan dari belakang membuat jantung hampir terlepas.
"Bulan," bisik Purnama membuat Bulan merinding.
"Mas, jangan bisik-bisik! Geli tau," tegur Bulan membuat Purnama melepaskan pelukannya.
Purnama duduk di kasur, lalu menepuk-nepuk pahanya. Bulan mengangkat satu alisnya. "Duduk, sini!" pintar Purnama. Bulan menurut. Kini Bulan duduk di pangkuan Purnama. Wajahnya dengan Purnama hanya berjarak tiga jari. Nafas keduanya saling bertabrakan.
Tangan Purnama terulur mengelus punggung Bulan. Manik mata Bulan membulat, sontak kedua tangannya mengalung pada leher Purnama. Bagaimana tidak terkejut, Purnama menarik pinggul Bulan hingga dua hidung itu saling menempel.
Lima detik, Purnama menundukkan kepalanya membuat Bulan ikut menunduk dan mengintip wajah Purnama yang bersedih.
"Kenapa, Mas?" tanya Bulan lirih.
Purnama mendongak menatap Bulan dengan dalam. Pupil mata Bulan melebar mendapati tatapan tajam dari Suaminya itu. Bibir Purnama sedikit terbuka seperti akan mengatakan sesuatu. Namun, susah kata-kata itu untuk keluar. Mungkin karena prinsip Purnama yang tidak terlalu peduli terhadap beberapa hal.
__ADS_1
"Gak apa-apa," pekik Purnama seraya menurunkan Bulan dari pangkuannya. Bulan tidak bergeming menatap punggung Purnama yang berjalan ke kamar mandi.
Bulan menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal. Matanya bertanya-tanya, ada apa dengan Suaminya?
Bulan menatap langit-langit kamar dibarengi dengan helaan nafas yang panjang. Tubuhnya ia baringkan di kasur lalu merangkak untuk sampai atas. Selimut yang tebal ia tarik hingga menutupi tubuhnya. Tubuhnya ia miringkan dengan tatapan yang mengarah pada pintu kamar mandi menunggu Sang Suami keluar.
"Mas Purnama," ucap Bulan melihat Purnama keluar dengan rambut yang basah.
"Tadi kejatuhan tai cicak," pekik Purnama.
Bulan sedikit terkejut lalu mengangguk.
Purnama ikut membaringkan tubuhnya di samping Bulan. Tangan kirinya terulur memeluk Bulan tapi dengan cepat Bulan menepis. Purnama memicingkan matanya.
"Mas bau, ih!" gerutu Bulan.
"Bau apa?! Udah Mas kasih sampo, ih," balas Purnama.
Bulan tertawa keras. "Bercanda, hahahaha."
Tangan Purnama memegangi kepala Bulan. Jari telunjuk menyentil dahi Bulan. "Mas kasih pelajaran hari ini," sarkas Purnama dengan sinis.
Bulan segera menarik selimut hingga menutupi wajahnya. "Gak mau!"
"Bulan..." rengek Purnama menarik-narik selimut yang Bulan pegang.
Bulan menurunkan selimut itu dari wajahnya. "Apa?"
"Ayo!" rengek Purnama sambil mengedipkan matanya berulang kali.
"Tapi besok janji!"
"Janji apa?"
"Jalan-jalan."
Purnama mengangkat tangan kanannya. "Oke."
Purnama memeluk Bulan dengan erat. Menyalurkan kebahagiaan antar keduanya. Kebahagiaan yang sebenarnya diciptakan dengan kesederhanaan. Bukan kemewahan tapi kalau mewah ya bersyukur.
"Beneran, ya?!" ucap Bulan dengan semangat.
Pagi ini diawali di LA. Orang-orang sudah banyak yang beraktivitas. Seperti yang dikatakan Syela kemarin, bahwa dia akan menitipkan Sasa pada Bulan dan Purnama. Begitu bahagianya Bulan hari ini, rasanya bayi yang sudah pergi itu kembali lagi.
Hari ini keduanya akan berjalan-jalan dengan membawa bayi kecil yang baru bisa duduk itu. Purnama juga senang, kini dia seperti menjadi seorang Ayah. Kedua tangannya mendorong kereta dorong yang terdapat Sasa didalamnya. Anak kecil itu juga terlihat bahagia.
"Mas, makan di situ, yuk," ajak Bulan.
__ADS_1
Purnama mengangguk. Kini hidupnya hanya ada pada Bulan dan masa depan.