
Mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Akses jalan kebetulan sepi membuatnya bebas untuk memutar setirnya. Matanya sayu seperti sedang frustasi. Pandangan pria itu kosong seketika.
Matanya membulat ketika melihat mobil hitam yang melaju berlawanan arah dengannya itu, juga melaju dengan cepat. Panik, refleks tangannya membanting setir ke kanan membuat mobilnya menabrak tembok pembatas. Mobil yang hampir bertabrakan dengannya itu juga ikut membanting setir ke kiri.
Bisa dibilang ini adalah salahnya karena melawan arah. Kepalanya terbentur setir. Tubuhnya seakan mati rasa. Matanya sedikit terbuka, bibirnya terbuka perlahan. "Bu-lan," gumamnya.
Lalu, tidak lama setelah itu mobilnya meledak dan kemungkinan besar hidupnya sudah tidak bisa terselamatkan.
Jeritan tangis Bulan tidak didengar orang lain, dia hanya terisak namun tangisannya itu sangat dalam. Lukanya semakin dalam dengan kedatangan Purnama. Nafasnya sudah terengah-engah. Dadanya terasa sesak. Tubuhnya ia miringkan membelakangi pintu.
Sejak siang tadi hingga malam hari tiba, tetapi Bulan masih mengurung diri. Bu Irma beberapa kali memanggil Bulan untuk makan tapi Bulan tetap menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal sekarang ia tengah menahan lapar.
Malu, sangat malu dengan wajahnya yang dipenuhi air mata dan matanya yang sembab.
Handphone yang berada di samping bantalnya berbunyi. Bulan melirik sekilas benda yang berada di depannya itu. Tidak lama suara itu tidak didengarnya lagi. Namun, panggilan itu tidak berhenti. Itu membuat Bulan kesal.
Sekali lagi panggilan itu berbunyi membuat Bulan mendudukkan tubuhnya dengan ekspresi kesal. Bulan menerima panggilan itu seraya menyeka air matanya.
"Iya?"
"Dengan Bu Bulan?"
"Iya."
"Saya dari RSUD ***** ingin memberi kabar, Pak Purnama mengalami kecelakaan dan sedang ditangani di ruang UGD."
Bulan membelalakkan matanya. Penglihatannya semakin pudar. Bulan menutup panggilan itu. Tangan kanannya memenangi dadanya yang berasa semakin sesak.
Bulan mematung sebentar sebelum beranjak turun dari kasur. Lalu membuka pintu dan segera berlari untuk pergi.
Langkah kakinya terhenti saat akan memanggil Bintang dan Bu Irma yang menonton berita hangat di televisi. Bulan semakin lemas saat mendengar berita itu.
"Seorang pria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jembatan *****. Diduga, pria tersebut sedang mabuk berat hingga tidak menyadari bahwa ada mobil lain yang melaju berlawanan dengan mobilnya. Kedua korban dilarikan ke rumah sakit. Dinyatakan salah satu korban meninggal saat sedang ditangani dokter." Wanita tegap itu menjelaskan.
Bulan menganga begitu mendengar tempat yang pasti dilalui Purnama. Dan tadi dirinya telah dihubungi pihak rumah sakit bahwa Suaminya mengalami kecelakaan. Siapa salah satu korban yang meninggal itu? Bulan begitu frustasi.
"Bintang, bisa antar aku ke rumah sakit?" tanya Bulan tiba-tiba. Kedua orang yang baru menyadari keberadaan Bulan itu menoleh.
"Untuk apa?" tanya Bintang mengerutkan dahinya.
"Tadi, rumah sakit hubungi aku kalau Mas Purnama kecelakaan."
Bu Irma menganga, tangan kirinya menutup mulutnya. "Jangan-jangan..." Bu Irma langsung menghampiri Bulan dan memeluk wanita itu.
"Ayo!" Bintang langsung mengandeng Bulan pergi.
Bulan tidak berhenti meneteskan air matanya. Rasa sesal itu kemudian muncul, bahkan setelah ia disakiti berulang kali.
__ADS_1
Bu Irma sedari tadi memeluk Bulan dan mengelus kepala Bulan dengan lembut. Bintang hanya melihat Bulan melalui spion yang berada di hadapannya.
Bulan terisak menatap ke depan. Bibir bawahnya ia gigit untuk menahan suara tangisnya agar tidak keluar.
Andai saja tadi siang aku gak usir Mas Purnama. Mungkin, Mas gak aka kecelakaan.
Tunggu! Tadi berita itu bilang bahwa salah satu korban meninggal, bagaimana kalau itu Mas...
Manik mata Bulan yang berair sontak membulat. Bulan merogoh bajunya, tetapi tak menemukan benda yang ia cari.
Handphone aku di rumah.
Bulan menunduk. Ia meneguk ludahnya dengan susah. Kini ia tidak dapat melihat dengan jelas.
Bulan berjalan dengan dituntun oleh Bu Irma dan Bintang. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Melangkah menuju ruang UGD.
Begitu sampai, Dokter keluar dengan wajah sedih. Sontak Bulan mendekat.
"Dokter," panggil Bulan membuat Dokter itu menoleh.
"Saya Bulan, bagaimana keadaan Suami saya? Dia baik-baik saja, kan?"
Dokter itu menunduk membuat alis Bulan saling bertautan.
"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin," ujar Dokter.
"Pak Wisnu tidak bisa kami selamatkan," lanjut Dokter itu.
Bulan terbelalak kaget.
"Pak Wisnu?" sarkas Bintang.
"Suami saya namanya Purnama, Dokter!" ucap Bulan dengan nada tinggi.
Dokter itu terkejut. "Oh, maaf. Kedua korban memiliki Istri dengan nama yang sama." Dokter itu tertegun.
"Jadi, Mas Purnama baik-baik saja, Dokter?!"
"Syukurlah, Pak Purnama selamat. Hanya saja, sekarang beliau masih tidak sadarkan diri. Tadi, beliau sempat mengalami koma."
Bulan tidak jadi menghembuskan nafas lega. "Koma?"
Dokter itu mengangguk. "Beliau butuh support dari Istrinya." Dokter itu tersenyum lebar.
. . .
Sejak saat itu Purnama masih tidak sadarkan diri. Bulan kira Purnama akan sadar setelah satu jam kemudian, tetapi hingga satu minggu lamanya, Purnama masih terbaring dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
Bulan setia menunggu. Bahkan dia pulang satu kali selama seminggu penuh ini. Tangan Purnama yang berhiaskan selang medis itu senantiasa Bulan genggam.
Namun, Helen sampai saat ini tidak Bulan ketahui dimana keberadaannya. Mama Sinta ingin menemani Bulan, tetapi Bulan melarang karena mengingat darah tinggi Mama Sinta.
Bila, katanya ia akan pulang besok. Selama ini Bulan hanya ditemani dengan ruangan senyap dan aroma obat yang semerbak.
Bintang ikut menemani meski ia sering pulang karena perintah dari Bulan. Siapa yang tega membiarkan wanita hamil tinggal di rumah sakit untuk menemani Suami yang telah menyakitinya.
Namun, Bulan seakan tersentuh. Sepertinya ia akan berbaikan dengan Purnama jika Purnama menawarinya.
Tangan kekar yang ia genggam dengan erat tiba-tiba bergerak. Sontak matanya membulat.
"Mas?"
"Mas..." lirih Bulan.
"Mas!"
Senyum Bulan terukir lebar. Mata Purnama yang terpejam perlahan terbuka. Hati Bulan bergetar melihatnya.
Bulan beranjak ingin memanggil Dokter, tetapi tangan Bulan di tahan oleh tangan Purnama.
Bulan kembali, matanya menyorot wajah Purnama yang lesu tidak berekspresi.
"Bulan, kamu mau kan kembali sama Mas?" tanya Purnama lirih. Suaranya bergetar.
Bulan tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya berulang kali.
Purnama tersenyum membuat hati Bulan bergetar sekali lagi.
"Mas sayang sama kamu, Bulan..."
Tidak lama mata Purnama kembali terpejam membuat Bulan segera bergegas memanggil Dokter.
Baru saja Purnama sadar, tetapi ia kembali memutuskan untuk menutup mata. Dokter memeriksa keadaan Purnama dengan telaten.
Bulan menunggu di luar dengan tidak tenang. Nafasnya terengah-engah. Bulan memilin jari-jarinya. Bulan tidak sendiri, ada Bintang di sampingnya yang diam-diam memperhatikan.
"Bulan..." lirih Purnama.
Dua mobil hitam yang saling melaju dengan cepat adalah milik Purnama dan juga milik Wisnu. Mobil yang dikendarai Wisnu melawan arah dan ketika itu mobil Purnama yang berada di arah yang benar melaju dengan kecepatan tinggi. Wisnu yang terkejut langsung saja membanting setir ke kanan. Purnama yang juga terkejut ikut membanting setir ke kiri.
Kedua pria yang frustasi itu memiliki nama Istri yang sama. Bulan. Sehingga membuat Dokter tadi salah.
Hai👋
Spam komen dong😃
__ADS_1