
Burung-burung bernyanyi dengan merdu di atas langit cerah. Sinar matahari yang tidak begitu panas, embun pagi yang masih membasahi dedaunan. Udara sejuk masih terasa dingin.
Bu Irma meletakkan makanan yang ia bawa dari dapur ke meja makan. Bulan juga membantu. Mama Sinta sudah duduk dan siap untuk sarapan. Purnama berjalan menuruni tangga, jas hitam dan kemeja merah melekat pada tubuh. Purnama terlihat gagah dan menawan.
Senyum kecil terlukis pada wajah Bulan ketika melihat Suaminya menduduki kursi di meja makan. Senyum Purnama terukir lebar menyapa Mama tercintanya.
"Helen," panggil Purnama melihat Helen berjalan memasuki dapur.
"Mau ambil sesuatu," jawab Helen lalu kembali melangkah.
Bulan berjalan mendekati Purnama dengan wajahnya yang gugup. "Mas..."
Purnama menoleh ke kanan tepat Bulan berada. Bulan yang di tatap hanya mematung, jantungnya berdebar, apa Purnama masih marah?
"Aku mau roti, aja. Nanti jangan lupa antar makan siangnya!" ujar Purnama membuat Bulan berbinar. Bulan mengangguk dengan cepat.
Bulan segera meraih roti yang berada di depan Purnama. "Mau selai?" tawar Bulan, Purnama mengangguk. Dengan gembira, Bulan mengoleskan selain di atas roti Purnama.
Roti yang dihiasi selai segera Purnama lahap. "Kamu juga makan, dong!" pintar Purnama.
Bulan mengangguk lalu ikut duduk di kursi samping Purnama. Bu Irma dan Mama Sinta yang menyaksikan hanya tersenyum.
"Ini makanannya ketinggalan, gimana, sih Bu Irma," gerutu Helen keluar dari dapur dengan tangan kanan yang membawa mangkuk berisi sayur asam.
"Oh, iya, maaf," ucap Bu Irma seraya mengambil mangkuk itu.
Seperti biasa, Helen menatap orang-orang dengan wajah ketus. "Kamu gak sarapan?" tanya Purnama melihat Helen berjalan menjauh.
Helen menggeleng. "Nanti, saja," ucap Helen berlalu pergi.
Roti yang Bulan santap masih habis setengah, sedangkan Purnama sudah menghabiskan empat roti. Purnama meneguk air putih di hadapannya lalu berdiri. "Aku berangkat, ya," pamitnya seraya mengelus pucuk kepala Bulan, Bulan mengangguk.
"Ma, Purnama berangkat, ya."
"Iya, hati-hati," jawab Mama Sinta.
Purnama pun berjalan melangkah pergi.
. . .
"Hallo?" Purnama meletakkan handphone di telinga dengan tangan kanan yang memegangi.
"Iya?"
"Kamu sudah makan?"
"Ini, lagi makan nasi sama sayur asam."
"Oke, jangan lupa vitaminnya diminum!"
"Iya, Mas."
"Bye, Helen Sayang."
"Bye, Mas Suami ganteng, muach..."
Helen tengah menikmati sarapan paginya di meja makan. Akhirnya makanannya habis dan segera ia meneguk air.
"Ah..."
Helen menyalakan handphone dan melihat jam yang tertera pada layar itu. "Obatnya berkerja satu menit lagi," gumamnya disusul dengan senyum miring yang terlihat jahat. "Untung aku udah sisakan setengah."
__ADS_1
Langit biru kian memudar, digantikan senja sore. Matahari bersembunyi membuat cahaya berwarna jingga. Ruangan putih dengan aroma khas yang menyeruak. Wanita berbaju putih tengah duduk bersama pasiennya.
"Hasil pemeriksaan, Bu Sinta sakit perut karena keracunan makanan," ucap Dokter membuat Mama Sinta dan Bulan membelalakkan matanya.
Bu Dokter memberikan secarik kertas pada Mama Sinta. "Lektin?" gumam Mama Sinta.
"Iya, Lektin adalah racun yang bisa menimbulkan sakit perut, muntah, hingga diare," jelas Bu Dokter.
"Ini, resep obat untuk Bu Sinta."
"Terima kasih, Dok. Nanti saya tebus," kata Bulan.
Bulan, Mama Sinta, Helen, dan Purnama berkumpul di ruang tengah. Semua wanita itu berdiri, kecuali Purnama.
"Keracunan?! Kok bisa?!" ucap Purnama dengan suara tinggi.
"Mama abis makan apa, Ma?!"
"Mama enggak makan aneh-aneh, kok," ujar Mama Sinta.
"Mas, jangan-jangan ini gara-gara Bu Irma," sarkas Helen.
"Mungkin Bu Irma gak suka sama Mama."
Bulan tidak percaya itu. Mama Sinta menatap Bulan yang menundukkan kepalanya. "Gak boleh asal tuduh!" seru Mama Sinta.
Bulan mendongak. "Mas, Bu Irma gak mungkin lakukan itu," lirih Bulan.
Purnama frustasi, tangannya mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
"Aduh," lirih Helen tiba-tiba. Purnama sontak memegangi tubuh Helen.
"Akh," rintih Helen kala memegangi perutnya.
"P-perut aku sakit, Mas."
"Mau ke kamar mandi," ucap Helen lalu berlari ke kamarnya.
Bulan dan Mama Sinta hanya diam menatap kepergian Helen. Purnama berlari menyusul Helen.
Mama Sinta dan Bulan saling bertatapan. "Helen kenapa, ya?" tanya Mama Sinta membuat pundak Bulan terangkat.
Purnama berlalu lalang di depan pintu kamar mandi sambil sesekali mengintip ke pintu meski tidak dapat melihat. Satu menit kemudian, pintu itu terbuka dan menampakkan Helen yang mengelus perutnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Purnama menghampiri Helen. Tangan Purnama perlahan terulur ke perut Helen tapi Helen menepisnya.
"Mas, kayaknya memang benar. Bu Irma yang meracuni Mama Sinta," pekik Helen membuat Purnama mengernyitkan dahinya.
"Mungkin sayur asam tadi, soalnya aku juga makan tapi Bulan gak makan jadi dia gak ikut keracunan."
"Sebenarnya dari tadi siang aku bolak-balik kamar mandi dan tadi sore baru mendingan."
"Kamu yakin?" tanya Purnama.
Alis Helen terangkat satu. "Kamu gak percaya sama aku?!"
"Bukan begitu. Ya sudah, bagaimana kalau kita sekarang ke rumah Bu Irma dan pecat dia?"
Helen mengangguk dengan cepat. "Setuju!" Purnama berjalan mendahului Helen.
Berhasil. Batin Helen.
__ADS_1
"Loh? Kalian mau kemana?" tanya Mama Sinta melihat Purnama membuka pintu.
"Mau ke rumah Bu Irma," jawab Purnama dengan ketus. Lalu keduanya pergi menaiki mobil.
Bulan bertatapan dengan Mama Sinta. "Mereka mau apa, Ma?" Mama Sinta menggeleng.
"Aku takut," ucap Bulan dengan suara bergetar.
"Tenang, ya." Mama Sinta mengelus lembut punggung Bulan.
"Kamu ada nomornya Bu Irma?" tanya Mama Sinta.
"Aku ada nomor anaknya."
"Ya sudah, sekarang kamu hubungi mereka!"
Bulan mengangguk dengan cepat, lalu merogoh tasnya dan mengambil benda pipih itu.
"Hallo? Bintang?"
"Iya, ada apa?"
"Jadi tadi itu Mama Sinta keracunan terus yang di curiga di sini itu Bu Irma. Sekarang Mas Purnama perjalanan ke sana."
Bintang hanya membulat matanya di tempat. Tepatnya di tengah kamar.
"Jadi sekarang kamu di rumah, yang kesini Suami kamu sama Si Helen?"
"Iya."
"Mereka ke sana pasti mau pecat Bu Irma. Jagain Bu Irma, ya."
"Iya, kamu tenang, saja!"
"Maaf, aku sering buat kamu repot."
"Iya, gak apa-apa, kok."
Tok tok tok tok
Purnama mengetuk pintu dengan keras. Bintang yang membuka pintu.
"Iya?" ucap Bintang.
Purnama membuang muka. "Mana Ibu kamu?!"
"Ada di dalam."
"Loh? Pak Purnama?" ucap Bu Irma keluar dari dalam dan menyapa Purnama dengan senyum.
"Bu, jujur sama saya! Ibu masukin racun ke sayur asam, kan?!"
Bu Irma menggeleng cepat. Air matanya tanpa sadar telah menetes.
"Udah, ngaku aja, BU!" bentak Helen.
"Sshhtt! Kalian boleh menghakimi Ibu saya tapi tolong jangan dibentak! Jangan sampai lupa akhlak sama orang yang lebih tua!"
"Bintang, sudah!" lirih Bu Irma.
"Mulai besok, Ibu gak usah lagi ke rumah saya!" tegas Purnama lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Bu Irma menangis dalam dekapan Bintang. Nafasnya sudah sesak. Bintang hanya mengelus lembut kepala Bu Irma.
"Ibu gak lakukan itu," lirih Bu Irma. Suaranya bergetar, bukan hanya suara tapi tubuhnya ikut bergetar.