Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Sweet night


__ADS_3

Matanya masih tertutup, berat untuk membuka. Mulutnya menguap saat tangannya merentang. Berpindah posisi menjadi di kiri ranjang. Netranya ia edarkan. Tubuhnya ia dudukkan. Sorot matanya tertuju pada tubuh pria yang memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.


Matanya memicing. Bulan merotasikan bola matanya dengan malas. Helaan nafas panjang terdengar saat ia turun dari ranjang. Selimut yang tadi ia pakai, ditutupinya tubuh Purnama dengan lembut. Tangan Bulan bergerak maju tapi niat untuk mengelus pipi Purnama terurung karena mengingat kejadian semalam.


Hentakan kakinya menuju kamar mandi tidak begitu keras namun kerutan di bibirnya terlihat jelas.


Semenit di kamar mandi, bel terdengar sepertinya seseorang yang menekan. Bulan yang tengah menyisir rambut segera membuka pintu. Matanya mengerjap sesaat. Bulan menyoroti wanita itu dengan tajam.


"Mas Purnama masih tidur," pekik Bulan.


Wanita berpakaian minim berwarna merah, bibirnya merah darah itu menyoroti Bulan dengan tajam.


"Saya mau menjelaskan sesuatu," ucapnya. Itu adalah wanita yang semalam membuat Bulan kesal.


"Menjelaskan apa?" tanya Bulan dengan ketus.


"Yang semalam itu salah paham. Sebenarnya ini salah saya, saya kira dia adalah orang yang memesan saya. Salah saya kenapa tidak bertanya terlebih dahulu," ujarnya.


Bulan antara percaya dan tidak percaya.


"Ada apa?" sahut Purnama dari belakang Bulan membuatnya kaget.


Purnama mendapati wanita itu dan matanya kini melebar. "Kamu?"


Wanita itu tersenyum ramah. "Sudah saya jelaskan. Antara percaya atau tidak itu terserah anda. Yang terpenting saya sudah menjelaskan," katanya dengan senyuman yang terukir. Matanya menatap Bulan dengan dalam.


Lalu wanita itu melenggang pergi.


Bulan berbalik dan mendapati tubuh Purnama yang masih tertutupi selimut. "Aku percaya sama dia," kata Bulan dingin.


"Jadi, kamu sudah maafin aku?" Purnama berbinar tapi hanya sesaat setelah Bulan menggeleng.


Purnama menatapi punggung Bulan yang berdiri di hadapan kaca sambil menyisir rambut panjangnya. Purnama melangkah mendekati Bulan.


"Kok kamu gak maafin Mas, sih!" gerutu Purnama.


Bulan tidak menjawabnya bahkan melirik saja tidak. Bulan hanya mengetes seberapa besar perjuangan Purnama untuk mendapatkan maaf darinya.


"Bulan..."


"Bulan, kok cuekin Mas?"

__ADS_1


"Bulan, nanti Mas nikah lagi loh..."


"Siapa yang mau jadi yang ketiga?" sarkas Bulan membuat Purnama tersentak diam.


"Ketiga?" gumam Purnama.


"Kamu lupa kalau Helen masih Istri kamu? Mau nikah lagi? Terserah." Bulan meletakkan sisir dari tangannya ke meja lalu melangkah pergi melewati Purnama yang mematung.


"Boleh nih?" gumam Purnama.


. . .


"Oh, kalian mau pulang sekarang?"


Syela mengangguk.


"Kalau begitu hati-hati, ya."


"Iya, kamu juga hati-hati ya disini," seru Syela.


"Sasa juga, ya. Jangan nakal-nakal!" Tangan Bulan mencubit pipi gembul Sasa. Gadis itu hanya tersenyum girang seraya melambaikan tangannya.


"Kalau begitu, kita pamit."


"Sasa, coba bilang Mami!"


"Aaaa." Itu jawaban Sasa.


Syela sampai meneteskan air matanya. "Bulan, kamu kok bisa..."


"Enggak tahu." Bulan menjadi takut kala Syela yang sejak tadi menatap tajam dirinya.


. . .


"Loh? Hujan?" gumam Purnama merasakan air yang jatuh dari langit.


Tangan Purnama segera menarik tangan Bulan untuk mengajaknya berlari. Hingga keduanya meneduh di sebuah toko yang tutup. Gelap.


Bulan merasakan dingin memasuki bajunya. Tangannya ia gosok-gosok agar sedikit hangat.


"Maaf, ya Mas lupa bawa payung," seru Purnama menatap Bulan yang menahan dingin.

__ADS_1


"Hm." Jawaban singkat dari Bulan membuat Purnama menunduk.


Hujan yang tidak terduga. Padahal langit malam sebelumnya terlihat cerah. Purnama lupa bahwa sekarang dia berada di akhir tahun. Manik mata Purnama melirik Bulan diam-diam. Istrinya itu sedang memeluk tubuhnya sendiri dengan punggung yang tersender pada tembok. Jaraknya tidak terlalu dekat dengan Bulan.


Purnama melangkahkan kakinya satu langkah ke kanan. Satu langkah lagi. Lagi. Hingga satu langkah lagi dia sudah bertabrakan dengan Bulan.


"Apaan sih, Mas!" tegur Bulan yang mulai sadar. Bulan melirik Purnama dengan tajam. Lirikan Bulan yang mematikan membuat Purnama kembali menjauh.


Duar


Suara petir menyambar membuat Bulan melompat ke arah Purnama dan memeluknya dengan erat. Detak jantungnya berdegup kencang. Suara besar yang mengangetkan.


"Mas," lirih Bulan.


Tangan Purnama memegang pundak Bulan dan menjauhkan darinya. Bulan mendongak, matanya berbinar saat berkontak mata dengan Purnama.


"Mas...mau peluk aja," gumam Bulan dengan bibir yang berkerut-kerut.


Purnama tersenyum lebar dan kembali menarik tubuh Bulan ke dalam pelukannya. Hangat, kini Bulan tak lagi merasakan dingin.


"Artinya... Mas udah dimaafin dong," pekik Purnama.


Bulan tidak menjawab, ia lebih memilih menghirup harum parfum Purnama. Matanya terpejam merasakan panas di hatinya membara.


"Bulan," panggil Purnama lagi membuat Bulan berkedip dan sadar.


"Iya?"


"Kamu maafin Mas?"


"Siapa bilang?" ucap Bulan dengan suara ketus.


Purnama kesal, tangannya kembali menjauhkan tubuh Bulan darinya. Bulan mengerutkan dahinya, bibirnya terus berkerut.


"Dimaafin gak?!" ucap Purnama dengan penekanan.


Bulan menggeleng. "Peluk dulu," ujar Bulan dengan suara gemas merayu Purnama.


"Dimaafin gak?"


"Iya, dimaafin," jawab Bulan.

__ADS_1


Purnama kembali menarik Bulan kedalam pelukannya. Pelukan kali ini lebih erat dari sebelumnya. Tangan Purnama tidak berhenti menggosok punggung Bulan.


__ADS_2