
Masih pagi, tetapi Bintang sudah bertamu di depan rumah Purnama. Beberapa kali mengetuk pintu dengan keras akhirnya seseorang membukakan pintu itu. Harapannya seketika pupus, ternyata Helen yang membukakan pintu.
"Ada apa?" tanyanya ketus sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Mana Suami kamu?" tanya Bintang tanpa basa-basi.
"Mau apa?"
Bintang berdecak kesal. "Sialan, banyak omong," umpatnya.
"Mau ketemu Purnama." Bintang sudah naik pitam.
"Mas Purnama gak ada di rumah," ucap Helen. Lalu melangkah mundur dan menutup pintu dengan keras. Tidak punya sopan santun.
"Si Helen, sialan!" umpatnya lalu melenggang pergi.
Percuma saja berusaha dengan keras, sedangkan yang dibantu malah sibuk menyiapkan surat cerai. Iya, Bintang berusaha agar rumah tangga Bulan dan Purnama tidak hancur, tetapi Bulan sekarang sedang mengurus surat itu.
"Sampai gak, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Kepalanya ia sandarkan pada tepi jendela. Tatapan matanya kosong. Mata yang kurang tidur. Semalam Bulan habis menangis. Begitu susah untuk menutup mata.
Ia menarik nafas dengan dalam, lalu ia hembuskan dengan lega. "Pasti sampai," serunya dibarengi senyum.
Tangan kekar Purnama memegangi gelas dan menyeruput jus jeruk itu. Matanya tertuju pada televisi yang menyiarkan berita. Namun, ia hanya melihat tapi tidak terfokus akan hal itu.
__ADS_1
"Mas..." panggil Helen berlari mendekati Purnama. Pantatnya ia dudukkan di sofa, tangan kekar Purnama ia peluk.
"Ada surat cinta buat Mas," pekiknya membuat Purnama menaikkan satu alisnya.
"Surat? Surat apa?" tanya Purnama. Alisnya mengerut kala membuka isi surat berwarna putih itu.
Purnama mengamatinya sembari membacanya dengan serius. Dahinya mengerut saat tahu apa maksud di dalam surat yang ia baca itu. Ia menghela nafas seraya memberikan surat itu kembali pada Istrinya.
Helen ikut membaca surat itu. Matanya berbinar. Kedua sudut bibirnya tertarik. "Mas, Mas harus tanda tangan!" sarkasnya sambil berdiri namun urung karena Purnama dengan cepat menarik tangan Helen hingga tubuhnya kembali terduduk.
Helen menyoroti wajah Purnama yang tidak bersahabat itu. "Aku gak mau tanda tangan. Belum ada bukti kalau itu bukan anak aku." Purnama berucap dengan lantang membuat harapan Helen pupus.
"Aku usir Bulan, supaya kamu sama dia gak bertengkar terus."
"Itu bukan berarti aku mau selesaikan hubungan aku sama Bulan." Purnama melenggang pergi meninggalkan Helen yang termenung.
. . .
Dua hari berlalu, keadaan masih tetap sama. Malam ini sendiri di kamar Bu Irma, Bulan merenung menatap langit-langit kamar. Pikirannya tidak kosong, bahkan sudah penuh dengan kepahitan. Dia membayangkan jika saja dia tidak menikah dengan Purnama apa yang akan terjadi.
Tangan halus itu bergerak mengelus perutnya yang mulai membuncit meski samar. Matanya sayu menahan air cairan bening keluar dari matanya. Ketika air mata itu menetes dengan segera ia menepisnya. Bulan kuat, Bulan gak lemah.
"Kamu hebat!" pekiknya.
"Anak Bunda ulan hebat."
__ADS_1
"Harus kuat!"
"Gak boleh nangis!"
Bibirnya mengerut membuat pipinya menggembung. Lalu kedua sudut bibirnya tertarik. Perlahan matanya tertutup dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
Bayinya membuatnya kuat. Bulan harus bertahan. Ini yang paling sakit baginya. Tidak lagi merasakan usapan hangat dari Suaminya. Sentuhan yang membuat tubuh jadi merinding.
Di sisi lain seorang pria berdiri di ambang pintu dengan tangan yang menggenggam handphone. "Bulan, besok aku janji akan kasih tunjuk vidio ini ke Purnama," ujarnya dengan senyum yang mengambang.
"Ibu dukung kamu, Bintang," sahut Bu Irma dari belakang.
Keduanya saling melemparkan senyum. Mungkin bisa dibilang Bintang sudah jatuh cinta pada Bulan sejak dulu dan cinta Bintang pada Bulan lebih besar dibanding cinta Purnama pada Bintang. Atau Purnama tidak memiliki cinta pada Bulan sama sekali?
Janjinya ia tepati pada siang hari. Bintang yakin Purnama berada di rumah karena ini adalah hari minggu. Tangan kekar Bintang menggedor pintu dengan keras. Dai sedikit kesal, hampir satu menit tidak ada yang membukakan pintu itu.
Hanya ada satu asisten rumah tangga dan itu pun jika dia datang di hari libur seperti ini. Mama Sinta sendiri jarang di rumah, sekarang ia sedang menginap di rumah temannya. Mungkin lelah karena ada Helen.
Tok tok tok tok
Tanpa henti. Tidak peduli sepanas apa tangannya. Senyum Bintang mengembang kala pintu itu perlahan terbuka.
Ku gantung biar penasaran😗
Kira-kira siapa yang buka pintu, ya?🤔
__ADS_1
Kalau Helen sih yang pasti gagal lagi.