Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Purnama telanjang dada


__ADS_3

Hai....


Maaf, kalian kangen gak?


Saya abis dari tapa, jadi sekarang agak fresh😃


Gak lupa aku ingatin buat follow akun aku😚


HAPPY READING


Malam ini, langit gelap menemani. Hawa dingin yang terasa menusuk tulang, membuat Bulan terbangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Suara gemericik terdengar. Bulan keluar dari kamar mandi sembari mengelap wajahnya yang basah.


Baru saja kedua anaknya tidur di kamar Helen dan ditemani olehnya. Bulan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Langkah kecilnya sedikit sempoyongan karena matanya masih mengantuk.


"Dor!" Bulan melonjak kaget. Bulan berbalik menampakkan suaminya yang cengengesan.


Dahi Bulan berkerut merasa kesal. Pasalnya, dia masih mengantuk. "Mas ...," rengek Bulan.


"Raka sama Areum sudah tidur?" tanya Purnama merangkul pundak Bulan sambil berjalan.


"Sudah, baru tidur tadi. Mas, aku ada cerita buat kamu," ucap Bulan.


"Aku juga ada cerita buat kamu. Sebuah gosip panas," sahut Purnama.


"Gosip apa?"


"Nanti aku cerita." Purnama tertawa kecil. Tangan kekarnya terulur membuka pintu.


Purnama dan Bulan masuk, pintu itu tidak lupa Bulan tutup.


Purnama merebahkan tubuhnya di kasur begitu saja. Bulan duduk di samping Purnama, melihat suaminya dengan lekat.


"Gosip apa, Mas?!" tanya Bulan lagi, karena sudah penasaran.


"Aku mau mandi dulu," jawab Purnama sambil beranjak turun dari kasur.


Bulan mengerutkan bibirnya melihat punggung suaminya yang memasuki kamar mandi. Bulan mendengus kesal karena Purnama tidak langsung cerita. Bulan dipenuhi rasa penasaran sekarang. Otot-ototnya ia regangkan. Tubuhnya ia baringkan di atas kasur, selimut itu ia tarik hingga kepalanya saja yang terlihat.


Purnama yang hanya dililit handuk itu keluar. Ia telanjang dada. Rambut basahnya dikibaskan kemana-mana. Langkahnya menuju istrinya yang terlelap. Matanya menyoroti dengan tajam. Kejadian Helem dengan Ares itu kembali terlintas di benaknya.


Purnama jongkok di hadapan Bulan yang tidur miring itu. Wajah Bulan ia amati dengan dalam. Hidung Bulan ia colek dengan telunjuknya. Hanya sekali tidak membuat Bulan bangun. Sekali lagi ia mencoleknya. Tetap tidak bangun.


Tangan kekar Purnama turun ke pipi Bulan. Ia mencubitnya dengan sedikit keras. Bulan langsung saja membuka mata.


Alis Bulan saling bertautan. Manik mata Purnama membulat. Kedua sudut bibir Purnama tertarik. Bulan dengan kesal membalik tubuhnya membelakangi Purnama.


Bagian kasur di belakang Bulan masih longgar. Purnama naik ke kasur, lalu memeluk Bulan dari belakang. Bulan terbelalak kaget. "Mas," ucap Bulan dengan mata yang semakin melebar.


"Kamu gak pakai pakaian," lanjut Bulan.


Purnama menyeringai. Pelukannya semakin ia eratkan. Matanya terpejam singkat menikmati hangat pelukan itu.


"Mas ...!" tegur Bulan.


"Apa, Sayang?"


"Anu kamu itu, loh!"

__ADS_1


"Kan aku mau cerita sama kamu. Supaya lebih meresapi ceritanya, jadi gini aja, ya," pungkas Purnama.


"Cerita apa, sih!" cicit Bulan.


"Tadi kan kunci mobil aku ketinggalan di ruang meeting. Sebelumnya, Helen suruh aku pulang lebih dulu. Ya, aku oke. Waktu mau pulang, aku kembali masuk. Waktu masuk ke ruang meeting, kamu tau gak?"


"Gak tahu," sahut Bulan.


"Helen sama Ares ciuman." Mulut Bulan menganga.


"Terus, Mas gak tegur mereka?" tanya Bulan.


"Gak, takut ganggu kerena mengganggu itu gak baik, kan?" ujar Purnama.


"Mereka mojok gitu. Mungkin, gaji yang aku kasih kurang, jadi mereka gak bisa sewa hotel," lanjutnya diiringi tawa.


"Artinya, Mas harus naikin gaji mereka," ucap Bulan ikut tertawa.


"Gimana kalau sekarang kita yang mojok?" pekik Purnama membuat Bulan kembali melebarkan mata.


"Aku yakin, setelah ini pasti ada kelanjutannya." Bulan menghembuskan nafas berat. "Tapi aku ngantuk, Mas."


"Gak ada ngantuk-ngantuk," cicit Purnama membalik tubuh Bulan.


Keduanya saling berhadapan. Tangan kekar Purnama membelai lembut pipi Bulan. "Makasih, karena kamu masih mau sama aku." Purnama tersenyum lebar dan tulus.


"Aku cuma kasian sama kamu, Mas," balas Bulan.


Purnama memutar bola matanya, lalu tersenyum miring pada Bulan. "Makasih buat itu, Sayang." Keduanya saling melempar senyum.


Dengan lembut, Purnama mendaratkan bibirnya di bibir tipis Bulan.


Embun masih menyelimuti membuat hawa dingin masih terasa. Purnama sudah bersiap dengan kemeja merahnya. Ia memakai jasnya. Setelah merah-hitam itu dipilih oleh Istrinya.


"Mas, jadi Helen sama Ares masih menjalin hubungan?" tanya Bulan disela kegiatannya menyiapkan seragam untuk anaknya.


"Iya," jawab Purnama sembari mengancingkan jasnya.


"Kemarin, Areum sama Raka bicara tentang Ares. Katanya, Ares titipin sesuatu buat Helen," seru Bulan.


"Buat apa titip segala. Mereka bisa langsung ketemu."


"Apa jangan-jangan, Ares sengaja supaya ketemu Areum?" sambung Purnama.


Bulan menghampiri suaminya yang kesusahan memakai dasi itu. "Kamu kerja udah lama, kan? Kok masih gak bisa pakai dasi, sih!" gerutu Bulan sambil memakaikan dasi Purnama.


"Aku sengaja," ucap Purnama. "Biar bisa cium kamu." Ia mendaratkan satu kecupan lama pada kening Bulan.


"Kan bisa minta." Bulan mendongak.


Pinggang ramping Bulan ditarik Purnama kedalam pelukannya. "Kalau aku minta, pasti gak kamu kasih." Alis Purnama terangkat. "Aku minta sun bibir sama kamu."


Bulan bergeming. "Gak sampai," kata Bulan seraya berusaha mencium bibir Purnama. Jaraknya dengan Purnama sangat jauh, tubuhnya pendek. Sedangkan tubuh Purnama sangat tinggi.


Purnama terkekeh. "Alasan!"


Bulan tersentak kaget saat Purnama menggendong Bulan. Wajah keduanya kini sangat dekat, tidak ada jarak. Purnama menyeringai.

__ADS_1


Bulan menahan gejolak panas di pagi hari pada dirinya. Bibir bawahnya ia gigit untuk menahan tawa. Hidungnya dengan Purnama saling bersentuhan.


Brak


"Bunda ... hari ini sekolah, kan?"


Raka masuk tanpa mengetuk pintu membuat Bulan dan Purnama menoleh dengan wajah panik.


"Ups, maaf." Raka menutup mulut dengan tangannya, lalu melangkah mundur dan menutup pintu itu lagi.


Dengan cepat Purnama menurunkan Bulan. Bulan gugup dan kembali menata seragam yang berada di atas kasur. Purnama membenarkan dasinya yang sudah rapi.


"Ekhem," deham Purnama. "Raka, masuk!"


Anak lelaki itu masuk dengan gugup. Ia menunduk. "Maaf, Raka ganggu," gumamnya.


Purnama menghela nafas panjang. "Raka, sini!" Suara berat Purnama membuat anak itu melangkah mendekat dengan pelan.


Raka menunduk di hadapan Purnama. Purnama berjongkok menyamakan tingginya dengan Sang anak.


"Ayah, jangan marah sama Raka," ucap Raka memelas.


"Raka janji, lain kali ketuk pintu dulu." Raka mencoba meyakinkan Purnama dengan wajah tegasnya.


Tangan Purnama mengelus kepala Raka dengan lembut. "Ayah gak marah," kata Purnama.


"Beneran?" Raka berbinar. Purnama mengangguk.


"Sekarang, Raka mandi! Sekolah yang pintar, oke?"


"Siap." Anak itu dengan semangat melangkah ke kamar mandi.


Purnama kembali berdiri. "Bulan, Mas berangkat, ya."


"Loh? Gak sarapan, Mas?" tanya Bulan dengan alis yang terangkat.


Purnama mendekati Bulan dibarengi helaan nafas. "Kan tadi saya sudah sarapan, Bunda ...."


Bulan mengerutkan dahinya, kedua sudut bibirnya tertarik. "Oh, saya lupa," cicit Bulan.


Purnama tertawa kecil. Ia mengecup singkat dahi Bulan. "Sampai bertemu kembali, Bunda Bulan."


Bulan tersenyum pada suaminya yang perlahan menghilang itu.


Purnama hendak menaiki mobil, tetapi terhenti karena melihat Helen datang. Helen menghentikan langkahnya di hadapan Purnama.


"Mas, hari ini aku izin gak masuk, ya?" ucap Helen dengan suara bergetar.


"Semalaman aku terkunci di ruang meeting," lanjutnya.


"Itu, sih memang niat kamu, kan?" pekik Purnama.


"Lain kali, kalau mau bercinta itu di hotel, Sayang," sambung Purnama.


Helen membulatkan matanya. Lalu dahinya berkerut.


"Pakai apartemen aku juga gak apa-apa, kok." Purnama tersenyum miring pada Helen, lalu memasuki mobilnya.

__ADS_1


Helen menatap kepergian mobil Purnama dengan bingung. "Mas Purnama kok tahu?" gumamnya.


SPOILER: Next part, Purnama akan melakukan tes DNA Areum dan hasilnya positif kalau Areum anak Purnama. Kok bisa?


__ADS_2