
Malam ini Bulan berjalan sendiri dengan sekantung plastik di tangan kanannya. Langkah kecilnya melewati toko-toko yang mulai tutup karena hari semakin malam. Wanita yang tengah hamil enam bulan itu terpaksa untuk belanja sendiri, sebab Suaminya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dalam mengurusi Istri keduanya.
Perut yang menonjol membuat Bulan kesusahan untuk melihat alas jalan dengan baik. Bebatuan kecil yang berserakan membuat Bulan beberapa kali hampir tersandung.
Rumah besar Purnama yang berada di seberang membuat Bulan harus menyebrang dahulu untuk sampai. Tidak lupa untuk melihat kanan-kiri. Dirasa sudah sepi, Bulan pun melangkah untuk menyebrang.
Brush
Tubuhnya terpental ke tepi jalan yang tadi ia lewati. Perutnya bertabrakan dengan batu besar membuat penglihatannya kabur. Darah yang kian keluar dari dalam pakaian wanita itu. Miris, dalam keadaannya yang hamil besar, ia ditabrak mobil. Rasanya sangat mustahil bila janinnya selamat.
Pelaku kabur, ia tidak menolong Bulan melainkan satpam Purnama yang menolong tubuh Bulan yang tidak sadarkan diri.
Mata yang terpejam perlahan membuka. Ruangan putih yang buram. Bau obat yang menyeruak. Bulan, dengan tubuhnya yang lemas mengedarkan pandangannya. Mama Sinta, Mama Mertuanya berada di samping ranjang yang ia tiduri. Menatap Bulan dengan mata yang sembab.
"Ma..." lirihnya.
Mama Sinta mengangkat kepalanya dan menatap Bulan sambil tersenyum. "Bulan, bagaimana keadaan tubuh kamu?"
Bulan hanya merintih dengan suara lemas menahan rasa perih yang ada pada perutnya. Tangan kanannya perlahan meraba perutnya yang rata. Manik matanya membulat menatap tonjolan di perutnya yang tidak ada. "Ma?!"
"Mama, bayi aku mana, Ma?!"
"Mama?!" ucap Bulan dengan suara bergetar.
"Ma..."
"Anak aku mana, Ma?!" rengek Bulan yang mulai terisak.
Mama Sinta ikut menangis dengan tangan yang mengelus punggung Bulan. Tangisan Bulan mulai terdengar keras. "Ma, anak Bulan mana, Ma?!"
"Dia pasti di ruang bayi, ya?" Bulan mulai berbinar, kakinya turun, selimut yang menutupi tubuhnya ia lempar sembarangan. Mama Sinta menjadi panik. Bulan melangkah ingin keluar dari ruangan.
Saat Bulan memegang gagang pintu, Purnama terlebih dahulu membukanya. "Bulan?" gumam Purnama.
"Mas, anak kita dimana? Kok kamu gak bawa dia ke sini?" tanya Bulan dengan suara serak akibat tangisan tadi.
Purnama menunduk. "Mas? Mas, kamu kenapa?"
Purnama menarik tubuh Bulan ke dalam pelukannya. Menangis di balik wajah Bulan. Bulan kembali sedih sembari mengelus punggung Purnama.
__ADS_1
"Anak kita sudah pergi," ujar Purnama.
Deg
Rasanya dunia sudah berhenti. Detak jantung Bulan hampir terhenti. Bayinya, bayi yang sudah lama ia nantikan, bayi yang belum sempat melihat isi dunia, bayi tanpa dosa, bayi yang Bulan punya, benarkah Dia sudah pulang?
Purnama melepaskan pelukannya, lalu mengelus kedua pipi Bulan dengan lembut. Tangan besar Purnama menepis air mata Bulan yang membasahi pipi.
"Ikhlaskan! Kita gak boleh menangis, kita harus kuat dan selalu berdoa buat Dia, ya."
"Kita bisa buat lagi, kan," ujar Purnama.
Bulan membelalakkan matanya. Menundukkan kepalanya, lalu kembali mendongak dan menatap Purnama dengan dalam. "Mas gak akan tinggalin Bulan, kan?" ucap Bulan dengan suara yang masih sesenggukan.
Purnama tersenyum lalu menggeleng membuat Bulan tersenyum. "Mas janji gak akan tinggalin Bulan. Bulan percaya, kan?" ucap Purnama dengan gembira.
Bulan mengangguk. "Bulan percaya, kok."
Purnama kembali memeluk Bulan dengan erat. Hangat yang Bulan rasakan ini adalah rasanya akhir-akhir ini tidak bisa ia dapatkan.
Purnama keluar dari ruangan dan disambut oleh Pak satpam yang tadi membawa Bulan ke rumah sakit. Bulan sudah tidur dengan nyenyak meski nafasnya masih sesenggukan.
"Pak, saya ada perlu penting sama Bapak," kata Pak satpam.
Pak satpam merogoh sakunya dan mengambil sebuah benda pipih. Pak satpam itu menyodorkan handphonenya pada Purnama membuat Purnama mengerutkan dahinya.
Kedua matanya membulat ketika melihat vidio yang terputar itu. "Jadi, Helen yang memasukkan racun itu?" tanya Purnama.
"Iya, Pak. Waktu itu Saya sedang mengecek ke belakang rumah dan saat Saya melewati dapur, Saya melihat dari jendela bahwa Bu Helen sedang memasukkan sesuatu," jelas Pak satpam.
"Kurang ajar Si Helen," pekik Purnama. Tangannya mengeras dan tanpa sadar meremas handphone yang berada di genggamannya.
"Tapi, waktu itu Helen ikut makan," ucap Purnama.
"Mungkin sudah di sisihkan, Pak," sahut Pak satpam.
"Benar juga. Iya, waktu malam juga Helen sakit perut sama seperti Mama. Kalau Helen yang memasukkan racun itu, tidak mungkin Helen ikut memakannya."
"Ah, waktu siang Saya lihat Bu Helen juga makan mangga, Pak," sarkas Pak satpam.
__ADS_1
Purnama kembali mengernyitkan dahinya. Yang dikatakan Pak satpam cukup masuk akal tapi memang itu kenyataannya. Hanya saja kegilaan Purnama yang membuatnya susah untuk percaya akan hal ini.
"Satu lagi, Pak. Waktu di kolam renang, Bu Bulan sebenarnya terpeleset dan di tolong sama anaknya Bu Irma itu," ucap Pak satpam.
Sekali lagi membuat manik mata Purnama membulat. "Yang benar?! Artinya mereka tidak selingkuh."
Pak satpam mengangguk.
"Helen, saya tidak menyangka," ujar Purnama.
"Gaji Bapak, saya naikkan dua kali lipat kalau Bapak bisa menemukan bukti siapa yang pelaku yang menabrak Istri saya tadi," kata Purnama dengan tegas seraya menepuk pundak pak Satpam.
Siapa yang tidak bahagia ketika mendapatkan berita bahwa gaji akan naik. Pak satpam itu berbinar menatap Purnama yang kembali memasuki ruangan.
"Ma, Mama bisa pulang. Bulan biar sama aku," seru Purnama.
"Ya sudah, kalau begitu Mama pulang, ya," kata Mama Sinta seraya mengelus pucuk kepala Bulan.
Mama Sinta pun melangkah pergi. Kini tinggal Purnama dan Bulan yang tengah tidur sendiri.
"Maaf, Mas sering buat kamu menangis," lirih Purnama menatap Bulan. Jemarinya mengelus pipi Bulan.
"Hem, kamu tidur sendiri! Aku sama siapa?" gerutu Purnama lalu duduk di sofa. Tubuhnya ia baringkan di atas sofa yang tidak terlalu besar. Menatap Bulan dari jauh, berharap mendapatkan mimpi indah.
. . .
Helen berdiri di area belakang rumah dengan tangan kanan yang menggenggam handphone. Wanita dengan perut menonjol ke depan itu celingukan seperti mencari seseorang. Benar saja, tidak lama seorang pria berbaju hitam datang menghampiri. Helen langsung memberikan benda berwarna coklat yang cukup tebal.
"Jangan sampai ada yang tahu! Ingat! Bukti harus lenyap! Kalau kamu ketahuan, pasti aku juga ketahuan," ucap Helen dengan penuh penekan.
"Tapi keadaan Bulan sekarang baik-baik saja, kan?" tanya Pria itu.
"Sialnya dia baik-baik saja," umpat Helen membuat Pria itu geram.
"Ck, jangan apa-apakan Bulan kalau kamu tidak mau ini terbongkar!" ancamannya balik.
"Oh, Ares ini suka dengan Bulan, ya?" Helen menyeringai.
"Kenapa? Seharusnya kamu malu padaku. Kamu merebut Purnama darinya dan kamu malah berbangga diri, tidak seperti aku yang memikirkan perasaan orang lain." Ares menatap Helen dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Helen lagi sembari menatap punggung Ares yang memudar.
"Aku gak butuh dia pergi, aku cuma mau dia menderita."