Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Lima tahun


__ADS_3

Sekali lagi, aku minta tolong sama kalian yang sudah baca cerita aku ini buat follow akun aku. Meski gak follow, minimal tinggalkan jejak atau gak like. Minta tolong banget, Pembaca lebih dari 300, yah mungkin itu memang masih dikit. Tau gak? Yang like cuma 50an. Aku juga pengen dihargai meski karyaku memang gak sebagus cerita lain yang kalian baca. Aku berat banget buat cerita ini sama kalian, pokoknya yang udah baca makasih banyak buanget.


Mungkin ini karena masih puber, karena aku sendiri masih SMP, seenggak kalian hargai dikit. Aku relain jam belajar aku demi nulis cerita berbagi cinta, bodoh banget kan.


Lima tahun berlalu. Helen baru mengungkapkan sebuah kebenarannya. Bahwa anak perempuannya bukan darah daging Purnama, tetapi ia juga menolak tuduhan bahwa itu anak Ares.


"Areum memang bukan anak kamu. Saat kamu usir aku, aku diperkosa preman. Ares yang tolong aku," katanya dengan sendu.


"Kamu bisa talak aku ...."


"Tapi kamu harus tetap anggap dia sebagai anak kamu, Mas!"


"Aku akan pergi dari sini, meski Bulan gak kasih izin. Karena aku sudah janji bahwa aku akan pergi setelah melahirkan anak aku." Helen menatap Bulan dan Purnama bergantian. Lalu kakinya melenggang pergi tanpa ada yang menghentikan.


Bulan menatap tajam Purnama yang menunduk. "Mas! Mas, kamu jangan jadi pria yang gak bertanggung jawab!" tegurnya.


Purnama sontak mengerutkan dahinya. "Kamu masih mah baik sama dia? Dia, dia yang udah rusak-" kata Purnama namun terhenti karena Bulan melebarkan matanya.


"Rusak apa, Mas? Rusak apa?!" tanya Bulan dengan nada tinggi.


"Dari awal ini terjadi karena pernikahan kita. Aku yang rusak, Mas ... bukan Helen!"


"Seharusnya aku yang ngalah karena wanita yang sebelumnya sama kamu itu dia, Helen."


"Aku pernah diposisi kayak gitu, Mas. Mungkin kamu gak pernah. Itu rasanya sakit banget, sakit."


Bulan memejamkan matanya sebentar untuk merendam panasnya agar tidak semakin bergejolak. "Sekarang, aku minta sama kamu buat ajak dia balik! Bukan karena kasihan sama Helen tapi anaknya." Bulan berucap seolah tidak merasa tersakiti, dia pergi melewati Purnama begitu saja menuju lantai atas.


Purnama mengepalkan tangannya. Rambutnya ia remas dengan kasar. Bibirnya ia gigit untuk menahan suara jeritannya agar tidak keluar.


Helen membuka pintu mobil taksi. Anak gadisnya sudah menunggu sedari tadi. Areum, gadis lima tahun berambut ikal panjangnya sepunggung melemparkan senyum pada ibunya.


"Mama, ayo! Katanya mau ke luar kota," ucapnya dengan riang.


Helen tersenyum simpul, matanya terlihat sembab. "Iya, Sayang...," katanya sambil mencubit pipi gembul putrinya.


Areum nampak kesenangan karena akan berangkat liburan. Namun, kenyataannya dia akan pergi untuk pindah rumah.


Saat Helen hendak masuk ke dalam mobil, pergerakannya terhenti.


"Helen, tunggu!" teriak Purnama membuat Helen cepat menoleh.


Helen menatap Purnama dengan tanya. Bulan mengamati dari jendela kamarnya, melihat pemandangan yang membuat hatinya goyah.


"Gak usah pergi. Kamu bisa tinggal di sini, aku di suruh Bulan."


Helen berbinar sebelum mendengarkan ucapan Purnama atas perintah Bulan. Dirinya kembali menunduk. "Aku tetap pergi," ujarnya kembali menaiki mobil.


"Jangan nolak!" ucap Purnama dengan datar.

__ADS_1


"Aku akan tetap pergi, Mas."


Purnama membuang wajahnya dibarengi helaan nafas. "Ck, jangan egois, pikirin anak kamu!"


"Em ... Papa gak ikut?" celetuk Areum.


"Papa gak bisa ikut, jadi Areum gak usah pergi, ya," balas Purnama. Itu adalah sebuah bujukan yang mungkin akan efektif.


Areum mengerutkan bibirnya. "Gak jadi pergi, nih?" Areum memelas menatap Purnama.


Purnama menggeleng. "Ya udah," ucap anak itu lalu turun dari mobil.


Areum menghela nafas panjang. "Papa gak seru," pekiknya lalu berlari kembali memasuki rumah.


Helen terdiam. Jadi, dia harus kembali?


"Bulan yang minta," tekan Purnama sekali lagi. Langkah kakinya bergerak maju meninggalkan Helen yang mematung.


"Bulan, ya?" gumam Helen sambil berdecih. "Sok baik."


Di jendela kaca besar kamar Bulan, ia menyaksikan itu. Suatu hal yang membuatnya merasakan pedih kembali terasa. Ia seperti menaburi garam pada lukanya sendiri.


"Bunda!" teriak seorang anak kecil dari belakangnya membuat tubuhnya melonjak kaget.


Bulan mengelus dadanya dengan sabar. Lalu membalikkan tubuhnya dan berjongkok menyamakan tinggi dengan anak itu.


"Aka tadi cari Areum di kamar tapi gak ada," rengeknya.


"Coba lihat di lagi!" pinta Bulan.


Anak lelaki itu berlari pergi ke luar kamar. Raka Putra Bimangkara kerap dipanggil Aka oleh bundanya. Umurnya sama dengan Areum, hanya beda dua dua hari. Raka dan Areum Adinda Winata sudah seperti kembar. Kemanapun selalu bersama.


. . .


"Bunda, Aka sekolah dulu, ya," ucap Raka yang berdiri dengan seragamnya. Wajahnya terlihat sangat dingin seperti Purnama, tetapi tingkahnya sudah seperti ulat. Berbeda dengan Areum yang berwajah ceria, tetapi berkepribadian cuek.


"Bunda Bulan, Areum pamit."


Kedua anak TK itu mencium punggung tangan Bulan. Kedua melenggang pergi meninggalkan Bulan sambil melambaikan tangan.


Bulan yang selalu mengantar kedua anaknya itu. Areum sudah seperti anaknya sendiri. Helen mengantar Areum hanya ketika ada acara penting di sekolah. Bisa dibilang peran Bulan adalah ibu pengganti.


Bulan kembali menaiki mobil yang disetir oleh pak supir. Matanya tidak sengaja mendapati seorang pria dari kejauhan yang berdiri di bawah pohon yang berada di sebrang jalan saat hendak masuk. Itu membuat dahi Bulan berkerut. Semakin memfokuskan, semakin jelas penglihatannya.


Kerutan dahi Bulan semakin dalam. "Ares bukan?" gumamnya pelan. Namun, pria yang ia lihat itu sepertinya menyadari karena bergegas memasuki mobil.


Bulan memejamkan matanya kasar. "Bukan!"


Semua anak berhamburan keluar meninggalkan sekolah. Ada yang dijemput orang tuanya, ada yang duduk di aula sekolah ditemani guru untuk menunggu jemputan. Sama halnya dengan Areum dan Raka yang duduk kursi taman.

__ADS_1


"Hai," sapa seorang pria membuat keduanya mendongak.


"Lagi nunggu dijemput, ya?" tanyanya dengan ramah.


"Iya, Om," jawab Raka.


"Areum, Om ada titipan untuk Mama kamu." Pria itu menyodorkan sebuah kotak pada Areum. "Nanti ini di kasih ke Mama kamu, ya! Ingat, jangan ada orang lain yang tahu."


Areum menerima kotak itu sambil menatap pria itu dengan sinis. "Om, siapa?"


"Nama Om, Om Ares. Om temannya Mama kalian," serunya dengan senyum yang mengembang. "Ayo, kotaknya dimasukkan ke dalam tas! Ini rahasia kita bertiga, oke?"


"Oke, Om," sahut Raka. Areum hanya mengangguk.


"Ar, itu Bunda," pekik Raka menunjuk Bulan yang keluar dari mobil.


"Om, kita pulang, ya," pamit Raka.


"Iya."


Raka menarik tangan Areum untuk pergi. Areum tetap memperhatikan Ares meski sudah jauh. Banyak pertanyaan yang mulai terlintas di pikirannya.


"Bunda, nanti kita mampir di cafe, yuk."


"Hari ini gak ada mampir."


"Yah, Bunda," rengek Raka.


"Raka cengeng," ledek Areum yang masuk mobil setelah mengejek.


Raka mendengus kesal. Langkah kakinya ia hentakkan keras ke tanah.


. . .


"Ma, tadi Areum ada titipan."


"Apa?" tanya Helen yang sibuk bermain handphone.


Areum menyodorkan kotak berwarna putih itu. Helen mengambilnya, alisnya terangkat. "Dari siapa?" tanya Helen.


"Om Ares."


Helen membelalakkan matanya. "Areum, jangan kasih tahu siapapun, oke?!"


"Hem." Areum berdeham singkat untuk mengakhiri pembicaraan dengan Mamanya.


Areum hanya memiliki sedikit waktu bersama Mamanya itu. Kadang, hanya saat sebelum tidur dia berbincang. Helen sekarang bekerja kembali di perusahaan Purnama meski beberapa orang di sana berbisik tentang keburukannya, tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk Helen agar tetap eksis.


Di part selanjutnya kayaknya akan lebih banyak drama bocil☺Makasih banyak yang sudah baca ....

__ADS_1


__ADS_2