Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Bahagia 4 (Ending)


__ADS_3

Purnama membaca isi surat itu setelah membuat Bulan tenang. Tidak lupa, mengamankan kedua anak di dalam kamar. Bulan dan Purnama berada di dalam kamar mereka sendiri.


"Cepat, Mas!" tegur Bulan sudah sangat penasaran dengan isi surat itu.


Purnama duduk di tempat tidur. Bulan mengintip isi surat itu saat Purnama membukanya.


[Hai, Pak Purnama. Sudah lama tidak bertemu. Terima kasih karena sudah memasukkan saya ke dalam sini, karena jika tidak, mungkin saya tidak akan pernah menyadari bahwa perbuatan saya salah. Tujuan saya mengirimkan surat ini, tentang Areum. Karena saya, hidup bapak jadi banyak masalah, saya sangat meminta maaf, apalagi pada Bulan. Tentang hubungan saya dengan Helen, memang ada. Areum adalah darah daging saya. Meski begitu, saya mohon jaga Areum sebagai anak kandung bapak, kerena setelah saya keluar dari sini, saya tidak mungkin untuk kembali, saya akan pergi jauh. Saya meminta maaf sebesar-besarnya, dan mewakili almarhum Helen. Terima kasih.]


Tertulis nama Ares di sudut kertas.


"Mas?" Bulan menatap sendu Purnama yang menunduk.


"Ini semua karena kesalahan aku," ucapnya. Kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya. "Semua salah aku, Bulan!"


"Mas, ini bukan salah kamu. Ini takdir."


"Takdir?" Purnama kembali mendongak. "Kamu terlalu baik, Bulan." Tatapannya dalam pada Bulan. Tangannya menangkup pipi Bulan. "Kamu benar-benar maafin Mas, kan?"


Bulan mengangguk. "Aku gak akan pernah berhenti kasih Mas maaf."


"Tapi, bukan berarti Mas boleh melakukan kesalahan yang sama," sambungnya.


Kedua sudut Purnama tertarik. "Kamu wanita yang paling baik, Bulan." Tangan kekarnya membawa tubuh Bulan ke dalam pelukannya yang hangat.


'Tuhan maha adil. Jika ada masa di mana kita kesulitan, pasti ada masa di mana kita bahagia. Begitu juga dengan aku, pada akhirnya aku bahagia dengan keluarga impianku, meski masa lalu kelam pernah ada dan biar itu menjadi pelajaran. Maaf yang aku berikan sangat berarti, oleh karena itu aku memaafkan kesalahan suamiku. Bukankah memberi maaf itu sangat penting? Biarkan aku dan suamiku memperbaiki yang pernah rusak.' Bulan dalam pelukan Purnama.


"Mas, kepala aku kok pusing, ya?" Purnama sontak melepaskan pelukannya, dan memegang pundak Bulan.


"Pusing? Kita ke rumah sakit, ya?"


Bulan menggeleng. "Gak usah, nanti juga hilang."


"Oke, kalau begitu, Mas mau ke kamar anak-anak dulu," ucap Purnama.


"Iya, Mas. Nanti aku nyusul."


Purnama mengelus pucuk kepala Bulan sebelum melenggang pergi.


Seuntai senyum kembali terukir di bibir Bulan. Matanya mengerjap pelan merasakan pusing yang semakin terasa di kepalanya. "Kenapa lagi?" gumamnya. Tak tahan menahan sakitnya, tangan Bulan memegang kepalanya.


Kelopak matanya terpejam, bibirnya mendesis sesekali. "Apa aku kena kanker?"


. . .


Trining trining trining


Dering ponsel Purnama berdering. Tangan kekarnya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah benda pipih. "Sebentar, ya," pamitnya pada Areum. Areum mengangguk, Purnama melenggang pergi ke luar kamar.


Mereka berada di kamar yang dulunya adalah kamar Helen. Kamar ini sekarang sudah berubah total, dari temanya, warna dinding, dan isi.


Hubungan Areum dan Raka tidak akan bisa berjalan tanpa adanya keributan. Seperti saat ini, keduanya berdebat tentang warna.


"Biru dulu, Raka!"


"Nila!"


"Biru!"


"Nila, Areum!"


"Biru, Raka!"


"Nila. Bunda, nila dulu, kan?"

__ADS_1


"Coba dieja!" pinta Bulan.


"Me, ji, ku, hi, bi, ni, u." Mereka berdua mengeja bersamaan.


"Kan, biru dulu!" sarkas Areum.


"Iya, Areum benar." Raka pasrah, dia kalah telak. Tangan mungilnya mengambil pensil warna berwarna biru. Tangan anak-anak itu menari-nari di atas kertas. Bulan hanya memandangi dengan senyum cerah di bibirnya.


Pusing itu datang lagi, kini perutnya juga seperti diaduk. Mulutnya dia tutup dengan tangan, menahan gejolak mual yang memaksa untuk keluar. Hingga tak kuat menahan diri. Bulan berlari ke kamar mandi.


Menghadap wastafel, kepalanya menunduk. Keluar cairan bening dari mulutnya. Suara nyaring terdengar jelas bahwa Bulan sedang muntah.


Air keran itu dinyalakan, bibirnya dibasuh agar bersih dari sisa. Lega, akhirnya keluar juga.


Saat keluar, dua anak dan suaminya itu terlihat tegang.


"Bulan, kamu gak apa-apa?" tanya Purnama menghampiri.


"Gak apa-apa kok, Mas," jawab Bulan.


"Bunda bohong. Tadi Bunda muntah-muntah di dalam!" sahut Raka.


"Iya, tadi Bunda muntah-muntah. Ayah, Bunda di periksa di rumah sakit, saja," sambung Areum.


"Iya, kita ke rumah sakit, ya?!" Raut wajah Purnama wajar, panik sebagai seorang suami.


"Gak usah, Mas. Aku baik, kok." Baik, meski wajahnya sudah terlihat pucat, dan seperti sedang tidak berselera. "Aku gak apa-apa kok, Mas. Cuma kecapekan." Dia bohong. Tidak lama, kunang-kunang datang, tubuhnya melemas, pingsan.


Purnama langsung membawa Bulan ke rumah sakit. Sedangkan Raka dan Areum menangis keras.


Purnama duduk di kursi tunggu, khawatir pastinya. Di sampingnya ada Bintang dan Bila yang menemani.


Purnama menenggelamkan wajahnya di sela telapak tangannya. Matanya terpejam. Detak jantungnya tidak stabil, seakan sedang dikejar anjing.


Bila tak kalah khawatirnya dengan Purnama. Dia bahkan sudah menangis, saat ini memang sedang menangis di dalam pelukan calon suami.


"Bagaimana, dokter?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Purnama menghela napas lega. Wajahnya ia usap dengan keras.


"Tapi, ada yang harus saya sampaikan," seru dokter Amira.


"Apa, dokter?"


"Selamat, Bu Bulan sedang hamil. Usia kandungannya sudah satu bulan."


Purnama menganga, manik matanya melebar. "Dokter, kok bisa?"


"Bisa, ini adalah mukjizat. Pak Purnama pernah divonia susah memiliki keturunan, kan? Dan itu tidak permanen."


Senyum bahagia terlukis di wajahnya. Bukan hanya Purnama, Bila dan Bintang terlihat ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Saya boleh bertemu dengan istri saya?"


"Silakan."


Dengan semangat, Purnama masuk ke dalam dan menghampiri Bulan.


Bulan ternyata sudah sadar, dia hanya diam melihat kanan-kiri sebelum Purnama masuk. Saat sadar, Purnama mendekatinya, Bulan beranjak duduk dari tidurnya.


"Eh, gak usah bangun," ucap Purnama seraya kembali membaringkan tubuh Bulan.

__ADS_1


Bulan bergeming, jantungnya berdebar saat melihat air mata menetes dari pelupuk mata Purnama. "Mas? Mas, kamu nangis? Mas, aku gak apa-apa, kan? Aku sakit apa, Mas?"


"Kamu gak sakit apa-apa, sayang." Tangan berotot Purnama mengelus kepala Bulan dengan lembut.


"Kalau aku gak sakit apa-apa, kenapa aku masuk IGD?!" Matanya melotot menatap Purnama.


"Aku khawatir sama kamu. Jadi, aku bawa ke IGD."


"Mas, beneran?! Aku sakit apa?!"


"Kamu gak sakit, Bulan. Kamu hamil."


Bulan tersentak kaget. Hamil? "Aku?"


Purnama membuang muka sejenak, lalu kembali menatap Bulan. "Bukan, aku yang hamil."


"Mas?!" sentak Bulan.


"Sayangku, cintaku, kamu hamil, usianya sudah satu bulan."


Bulan berbinar. Matanya memanas sampai mengeluarkan cairan bening. "Mas, aku hamil?!"


Purnama mengangguk pelan. "Iya, sayang, kamu hamil."


Begitu bahagia, Bulan memeluk Purnama dengan sangat erat. Purnama mengelus punggung Bulan dengan lembut sambil berbisik, "Aku hebat kan, buatnya."


Aku percaya, tidak ada kata maaf yang sia-sia. Semua cobaan, pasti ada imbalannya.


. . .


Dengan bahagia, sejuta bahagia. Purnama menggandeng tangan Bulan sejak tadi, bahkan saat menyetir.


"Bunda!" Kedua anak itu berlari dan langsung memeluk Bulan.


"Bunda gak apa-apa, kan?" tanya Raka.


"Bunda gak apa-apa kok, sayang."


"Bunda, tadi Raka nangis," lanjut Areum.


"Raka nangis?" Areum mengangguk. Bulan beralih menatap Rak yang sedang menyeka air matanya. Bulan jongkok.


"Bunda ada hadiah buat kalian," ucap Bunda.


"Hadiah?" pekik Raka.


"Iya, tapi buat semua orang," sahut Purnama.


"Di perut Bunda ada dedeknya," ucap Bulan disertai senyum bahagia.


"Dedek?" pekik Areum.


"Raka mau punya adek?"


"Bulan, kamu beneran, sayang?!" Mama Sinta terkejut, dia berlari mendekati Bulan. "Cucu baru," ucap Mama Sinta sambil mengelus perut Bulan.


"Yang harus Bu Irma jaga bertambah, nih," seru Purnama.


Bu Irma tersenyum senang. "Ibu juga pingin."


Manik mata Bila dan Bintang melebar bersamaan. Keduanya saling menatap sekilas.


"Ayo, kalian kapan?" goda Mama Sinta menoel-noel lengan Bila.

__ADS_1


"Mama!" Bila tersipu malu. Dia melenggang dengan langkah cepat ke luar rumah. Bintang menyusulnya.


Semua tertawa bahagia. Gelak tawa memenuhi ruang tamu. Terlihat sangat gemas, Raka dan Areum mengelus perut Bulan dengan lembut. Sesekali Raka dan Areum menciumnya.


__ADS_2