
...๐๐๐...
..."Jika hati mulai terbuka untuknya, maka melihat sendalnya saja sudah membuat hatimu bergetar"...
...#Bersamamu, Imamku...
...๐๐๐...
Di tempat lain...
Jinan sedang sibuk dengan pekerjaan nya di kantor. Sedangkan semua anggota keluarga nya dan keluarga Hanan sedang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Bukannya Hanan dan Jinan tidak peduli dengan pernikahan mereka, hanya saja Hanan dan Jinan masih memiliki tanggung jawab yg besar di kantor mereka. Jadi mereka tidak bisa melalaikan hal itu.
Dengan teliti Jinan kembali meneliti beberapa berkas yg diserahkan kepadanya sebelum diserahkan kepada CEO. Jinan adalah karyawan yg paling teladan, disiplin dan juga cerdas di kantor nya. Jadi ya wajar saja kalau dia mendapat kepercayaan untuk merevisi semua hasil kerja karyawan sebelum diserahkan kepada atasan mereka.
"Wahh wahh calon penganten masih sibuk aja nih." Tiba tiba Rere datang dengan menyindir Jinan.
"Apaan sih, Re."
"Heheh. Kan emang iya Ji, eh tapi emang beneran? Kamu kenapa masih sibuk ngantor sih. Bukannya pernikahan kamu itu dua Minggu lagi ya." Rere terus nyerocos dengan suaranya yg super cempreng itu.
"Ya ampun Rere, kamu itu cerewet banget sih." Keluh Jinan mendengar suara cempreng Rere.
"Aku sama calon ku itu kan masih punya tanggung jawab di kantor, jadi ya setidaknya kami menyelesaikan semua pekerjaan dulu sebelum kami menikah." Timpal Jinan.
"Oooo." Sedangkan Rere hanya menjawab singkat perkataan Jinan dengan mulut membentuk huruf O.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Karna jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, maka sudah waktunya istirahat. Semua karyawan diberi kesempatan untuk beristirahat seperti makan siang, mengobrol dan juga sholat Zuhur.
Karna Jinan juga merasa sangat lapar, Jinan memutuskan untuk membeli makanan dulu di kantin sebelum waktu Zuhur tiba.
"Aurel, Rere, kita ke kantin yuk. Aku laper banget ini pengen makan bakso di kantin." Jinan sudah sampai di depan meja Aurel dan Rere untuk mengajak kedua sahabatnya itu makan siang bersama.
"Wah boleh juga tuh. Yaudah ntar aku save dokumen nya dulu ya." Jawab Aurel antusias.
"Aku juga deh.. Ayuk cuss kita ke kantin sekarang, cacing ku udah demo ini." Lagi lagi Rere selalu berbicara dengan suara yg cempreng bak kaleng rombeng.
"Oke siiipp... Ayo jalan sekarang keburu masuk sholat Zuhur." Aurel sudah menyelesaikan pekerjaan nya dan sudah berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka yg sudah sangat lapar. Sampai disana, mereka sudah memesan tiga mangkuk bakso dan tiga gelas jus alpukat.
.
.
.
.
.
"Alhamdulillah." Jinan sudah menyelesaikan makan nya dan disusul juga oleh Aurel.
"Alhamdulillah, aku juga udah selesai Ji." Sahut Aurel.
"Kalian kok cepet banget sih, tungguin aku dong." Jawab Rere dengan mulut yg penuh dengan makanan.
"Ih Rere, abisin dulu kali makannya ntar baru ngomong." Tegas Jinan.
Allahu Akbar Allahu Akbar..
Suara azan sudah mulai terdengar dari musholla kantor yg letaknya berdekatan dengan kantin.
"Kalian aja, aku lagi dateng bulan nih." Jawab Rere yg baru selesai menghabiskan makanan nya.
"Yaudah deh, kalau gitu aku sama Aurel ke musholla dulu ya."
Jinan dan Aurel pun langsung bergegas menuju musholla kantor. Saat diperjalanan menuju musholla, Jinan terus menikmati suara lantunan azan yg terdengar sangat merdu dan baru kali ini Jinan mendengar suara ini. Karna sangat menikmati nya, Jinan sampai menutup matanya untuk menikmati suara azan yg merdu itu.
"Jinan, kamu kenapa merem merem gitu?" Aurel pun melihat ke arah Jinan dengan tatapan aneh.
"Eh.. Ini loh aku lagi nikmatin suara azan nya, bagus banget Masya Allah." Ucap Jinan kagum memuji sang pemilik suara.
Aurel pun mengangguk, sampai di depan musholla, Jinan melihat sebuah mobil yg tidak asing baginya. Tapi segera ia tepis jauh jauh pikiran nya. Jinan pun menuju ke tempat wudhu, tetapi saat ia hendak ke tempat wudhu, matanya justru tertuju kepada pemilik suara indah yg sedang mengumandangkan azan. Betapa terkejutnya Jinan saat melihat sang pemilik suara.
"Dia..." Lirih Jinan.
"Mas Hanan.... Kenapa dia ada disini?" Jinan sangat terkejut mendapati Hanan ada di tempat itu juga bahkan Hanan adalah sang pemilik suara yg sedari tadi di puji oleh Jinan.
__ADS_1
Tanpa sadar, senyuman indah mengukir di ujung bibir Jinan. Lagi lagi perasaan kagum menyelusup ke dalam relung hati Jinan. Ntah mengapa ia merasa sangat tenang dan damai saat mendengar kan suara azan itu.
"Jinan.." Aurel datang dari arah belakang Jinan seraya menepuk bahu Jinan.
"Allah Kareem.. Kamu ngagetin aku Aurel." Jinan mengelus dada nya karna terkejut dengan kedatangan Aurel.
"Hihihi maaf ya Jinan, abisnya kamu ngapain malah disini bukannya langsung ngambil wudhu." Aurel menaikkan alis nya sebelah.
"Eh ehm ini aku juga mau ngambil wudhu kok." Jinan menjadi salah tingkah karna Aurel seolah olah menaruh curiga padanya. Ya jelas lah Aurel curiga, abisnya Jinan dari tadi itu antusias banget sama sang pemilik suara indah yg sedari tadi mengumandangkan azan.
Saat di akhir sholat, Jinan tak lupa menyempatkan waktu untuk sedikit curhat dengan sang illahi Rabbi. Ia menceritakan suasana hatinya saat ini. Betapa kagum nya Jinan saat ini saat mendengar lantunan azan dari seorang pria yg hendak menikah dengannya. Jinan merasa bersyukur karna allah memberinya calon pendamping yg dekat dengan Allah seperti Hanan.
Di sepertiga malam, di istikharah nya juga Jinan selalu menyelipkan nama Hanan disana. Berharap ada jawaban dan pilihan terbaik dari Allah. Tetapi memang benar saja, Jinan selalu dapat meyakinkan dirinya dengan Hanan. Lagi lagi Jinan merasa kagum dengan Hanan dan Jinan semakin yakin untuk menikah dengan Hanan.
โ\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=โ
Hari ini Jinan bisa pulang lebih awal, karena tidak ada banyak pekerjaan di kantor nya. Jinan membersihkan seluruh tubuhnya dan mengganti pakaian syar'i kantor nya dengan pakaian syar'i rumahan.
Terlihat orang kasak kusuk sedang mengatur semua isi rumah supaya bisa terlihat indah saat akad nikah Jinan berlangsung. Padahal pernikahan masih sekitar 10 hari lagi, tetapi semua orang sudah menyiapkan semuanya dari sekarang.
Jinan duduk di sofa yg terletak di pojokan kamar, ia memandangi setiap sudut kamarnya dengan intens. Pikiran nya melayang layang ntah kemana.
"Sebentar lagi kamar ini akan diisi juga dengan seorang lelaki yg akan mendampingi hidupku dan mungkin aku juga akan segera meninggalkan kamar, keluarga dan rumahku." Ucapan Jinan dengan nada sayu sambil menatap nanar setiap sudut kamarnya.
Mengingat pernikahan nya yg sudah di depan mata, hanya tinggal menghitung hari saja. Sungguh, seperti mimpi bagi Jinan karna sebentar lagi ia akan menyandang status baru. Ia merasa baru kemarin ia menangis di kamar ini saat menolak untuk ditidurkan oleh bunda. Dan di kamar ini pula, semua kasih sayang ayah dan bunda selalu tercurahkan untuk Jinan.
.
.
Yg sabar ya Jinan๐คง Perempuan mahh memang gitu, kalau udah nikah memang harus siap meninggalkan rumah dan keluarga. Tapi tenang aja, semua kenangan itu bisa tetap tinggal kok bersama kita.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Eits eits... Jangan lupa dilemesin ya jarinya buat dukung author...
...Mumpung author lagi semangat nih buat up, jadi ayo jangan dianggurin dong author nya... Kasi semangat gitu, like, komen supaya author nya makin semangat dan merasa gak dianggurin ๐ฅบ๐...