
...💛💛💛...
..."Terkadang diri pun butuh ketenangan untuk memutuskan sesuatu, terutama dalam memutuskan pilihan hidup"...
...#Bersamamu, Imamku...
...💛💛💛...
Hari sudah berganti, malam berganti pagi dan bulan berganti mentari.
Jinan sudah bangun sejak subuh tadi dan saat ini ia sedang bersiap untuk ke kantor, tetapi hari ini Jinan masuk sedikit siang karna tidak ada rapat pagi.
Saat Jinan sudah selesai bersiap siap, Jinan langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Ayah mau pakai apa lauknya?" Ucap bunda menawari sarapan pada Ayah.
"Pakai tempe orek sama ayam aja bunda." jawab ayah pada bunda, bunda pun langsung menyiapkan nya untuk ayah.
"Wahh wahh wah... Romantis banget ayah sama bunda ini, makan diambilin, belanja dianterin. Haduhh pokoknya the best." Sindir Jinan yg baru gabung di meja makan, tetapi Jinan juga mengacungkan jempol nya di akhir kalimat.
"Ya namanya seorang istri nak, sudah sepatutnya seperti itu." Jawab bunda tersenyum.
Jinan hanya tersenyum melihat ke arah bundanya. Semua orang pun sarapan terlebih dahulu dan akan melanjutkan perbincangan setelah sarapan.
Saat selesai sarapan, Jinan ingin langsung membereskan bekas makan. Tetapi ayah menghentikan langkah Jinan.
"Jinan..." Panggil ayah, membuat Jinan menunda niatnya untuk membereskan meja.
"Duduk dulu sayang, ayah mau ngomong sesuatu.' Sambung Ayah. Jinan pun duduk kembali dan mendengar kan ayah berbicara.
"Iya ayah, mau ngomongin soal apa?"
"Begini nak, umur mu sudah 22 tahun saat ini. Dan sudah pantas menikah, apakah kamu sudah siap menikah?" Pertanyaan ayah membuat ekspresi Jinan menjadi datar kemudian tersenyum pada ayah.
"Ayah... Jinan akan siap menikah saat jodoh nya sudah ada. Dan Jinan akan menikah dengan ridho ayah bunda, makanya Jinan pernah bilang kalau masalah pasangan untuk Jinan, Jinan serahkan kepada ayah dan bunda untuk memilihnya. Jika menurut ayah dan bunda baik, maka Jinan pun begitu. karna ridho Allah adalah ridho orang tua." Ucap Jinan tersenyum dan ayah pun ikut tersenyum.
"Alhamdulillah... Nak, ayah dan bunda juga sudah mendapatkan jodoh yg baik untuk mu." Sam bung ayah.
Jinan tampak menunjukkan wajah datarnya kembali, Jinan seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Wah jadi mbak Jinan bakalan nikah ya, ayah?" sambung Tifah yg baru keluar dari arah dapur bersama bunda.
Tifah dan Bunda langsung duduk di meja makan.
"Siapa laki laki itu, ayah?" Tanya Jinan membuka suara.
"Dia dari keluarga baik baik kok, sayang." Sambung bunda.
"Dia anak dari Tante Ais dan om Abbas nak. Anaknya baik dan taat agama." Jelas ayah.
Seketika Jinan diam tak bergeming saat mendengar perkataan ayah.
"Bagiamana sayang? Apakah Jinan setuju?" Tanya bunda dengan meraih tangan Jinan .
"Baik bunda, Jinan akan menikah dengan anak Tante Ais dan om Abbas." Jawab Jinan yg akhir nya pun ikut tersenyum ke arah ayah dan bunda nya.
"Alhamdulillah" Ucap ayah dan bunda bersamaan.
"Besok keluarga om Abbas akan datang untuk membicarakan pernikahan kalian." Sambung ayah.
Jinan kembali terdiam mendengar perkataan ayah.
"Tapi ayah, apa mereka tidak mengirimkan CV ta'aruf terlebih dahulu? Kenapa malah langsung membicarakan pernikahan?" Tanya Jinan.
"Tidak sayang... Om Abbas dan istri nya akan kembali ke Turki bulan depan. Maka dari itu mereka ingin pernikahan nya dilaksanakan bulan ini juga. Karna setelah kembali ke Turki, akan sulit untuk kembali ke Indo lagi nak." Jelas ayah.
__ADS_1
Jinan hanya diam tak bergeming. Ia langsung pamit ke kantor karna takut terlambat.
"Ya sudah, ayah. Nanti kita lanjut lagi pembicaraan nya. Jinan mau ke kantor takut telat."
Jinan mencium tangan kedua orang tuanya dan berpamitan ke kantor.
...----------------...
Setelah berpamitan pada ayah dan bunda, Jinan langsung mengendarai mobil nya menuju kantor. Jinan tampak sedang berpikir, ntah apa yg dipikirkan oleh nya.
Sampai di kantor, Jinan juga masih memikirkan sesuatu.
"Assalamu'alaikum, Jinan." Ucap Rere dan Aurel.
"Jinan." Aurel sudah menepuk bahu Jinan cukup kuat sembari memanggil nama Jinan.
"Eh... I iya kenapa? Astaghfirullah." Jinan terkejut sampai menjawab nya pun gelagapan.
"Hahaahahaha." Rere dan Aurel malah tertawa melihat ekspresi wajah Jinan yg lucu saat terkejut.
"Ihh Rere, Aurel... Apaan sih kalian ini." Jinan tampak kesel dengan kedua sahabatnya itu.
"Ya abisnya kamu ngapain melamun, Ji?" Tanya Rere.
"Enggak kok gak apa apa." Jawab Jinan menunduk.
"Jangan bohong deh JI, kami ini sahabat kamu. Kita udah bertahun tahun bersahabat, jadi sudah mengerti satu sama lain." Sambung Aurel mencoba membuat Jinan bercerita.
"Ehmm jadi begini... Ayah dan bunda menjodohkan aku dengan anak sahabat nya." Balas Jinan.
"Benarkah?" Tanya Rere dan Aurel kompak.
"Siapa nama pria itu dan bagaimana orang nya?" Sambung Rere yg penasaran.
"Dia itu..." Saat Jinan ingin menjawab pertanyaan Rere, tiba tiba Arka datang.
"Pagi pak." Jawab Jinan dan kedua sahabatnya dengan kompak.
"Jinan, saya membutuhkan berkas berkas dari perusahaan Pak Akmal yg kemarin. Kamu antar ke ruangan saya ya." Ujar Arka melihat ke arah Jinan.
"Ee baik pak." Jawab Jinan singkat.
Rere, Aurel dan Jinan pun masuk ke dalam kantor dan langsung menyelesaikan semua pekerjaan yg sudah menjadi tanggung jawab mereka. Sedangkan Jinan harus mengantar berkas yg diminta oleh Arka tadi.
Tokkk tokkk tokk (Suara pintu diketuk)
"Iya masuklah." Ucap pria yg ada di dalam ruangan.
Jinan membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalam. Tampak seorang pria gagah duduk di kursi kebanggaan nya.
"Ini pak berkas yg bapak minta tadi pagi." Ucap Jinan memberi kan sebuah map berwarna merah.
"Oh iya terima kasih ya, Jinan."
"Kalau begitu saya permisi dulu, pak." Pamit Jinan.
"Iya silahkan."
Sampai di luar ruangan Arka, Jinan kembali memikirkan masalah perjodohannya dengan anak sahabat ayah. Jinan tidak tau harus apa saat ini, bahkan dia juga belum sempat bercerita dengan sahabat nya. Karna mereka semua juga sedang sibuk.
Hari ini Jinan pulang sedikit terlambat karna ada beberapa urusan yg harus ia selesaikan di kantor, sementara Rere dan Aurel pulang seperti biasa. Mereka pun tidak jadi mendengar cerita Jinan.
Setelah Jinan menyelesaikan pekerjaan nya di kantor, Jinan pulang ke rumah. Tetapi saat di rumah, Jinan tidak bertemu ayah dan bunda. Ntah kemana kedua orang tuanya, seketika Jinan memilki ide untuk pergi dari rumah.
Jinan mengambil sesuatu untuk kebutuhan nya beberapa hari. Setelah itu Jinan pergi dengan mobil nya ntah kemana.
__ADS_1
"Apa keputusanku ini udah bener, ya?" Gumam Jinan saat menjalankan mobilnya ke suatu tempat.
"Tapi aku memang harus pergi kayak gini dulu, hanya untuk beberapa hari aja. Aku juga mau mikirin ini baik baik, aku juga mau nenangin pikiran ku sejenak."
Akhirnya Jinan pun sampai ke sebuah tempat yg sangat asri dan sejuk dengan pemandangan danau yg sangat indah. Itu adalah tempat yg selalu Jinan kunjungi saat ada masalah.
Sedangkan malam ini, ayah dan bunda pulang sangat larut karna hari ini Ayah dan bunda pergi mengunjungi kerabat yg ada di luar kota, itulah yg dikatakan salah seorang pelayan di rumah Jinan tadi.
Sampai di rumah, ayah dan bunda tidak menemui Jinan atau pun Tifah. Karna ayah dan bunda kelelahan.
...________________...
Hari ini Jinan tidak ada mengabari siapa pun, bahkan Jinan tidak masuk ke kantor. Hal itu membuat sahabat sahabat Jinan heran.
Sedangkan di rumah Jinan, bunda sedang sibuk mengatur masakan di dapur untuk menyambut calon besan dan calon mantu nya.
...----------------...
Pukul 09.00
Keluarga Abbas dan Ais sudah sampai di rumah ayah Aiman dan bunda Ulya, orang tua Jinan. Bunda pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka semua duduk di kursi sofa bersama. Terlihat seorang pria tampan, tinggi, berkulit putih dan hidung yg mancung. Pria itu juga ikut duduk di samping Abbas. Ya, pria itu adalah Hanan, putra Abbas dan Ais.
"Nak, panggil mbak Jinan di kamar ya." perintah bunda pada Tifah.
"Baik bunda." Jawab Tifah berdiri dari tempat duduknya.
Tifah berjalan menuju kamar Jinan untuk memanggil Jinan. Tetapi saat Tifah mengetuk pintu kamarnya, tidak ada siapa pun yg menjawab.
Tok tokk
"Mbak Jinan, bunda bilang suruh keluar, mbak. Soal nya calon mertua dan calon suami mbak udah sampai. Oh iya mbak, calon suami mbak itu ganteng banget loh mbak tapi kaku." Ucap Tifah yg terus berbicara dari luar kamar. Tetapi Tifah tetap tidak mendengar jawaban dari dalam kamar. Tifah pun membuka pintu kamar Jinan untuk melihat ke dalam. Tetapi Jinan tidak ada di kamar.
Tifah kembali ke ruang tamu untuk memberitahu kepada semua orang kalau Jinan tidak ada di kamar.
"Bunda ayah... " Teriak Tifah setelah kembali dari kamar Jinan.
"Ada apa sayang?" Tanya bunda heran
"Mbak Jinan gak ada di kamar nya, bunda. Kayaknya mbak Jinan kabur deh bunda." Balas Tifah.
"Kabur? Gak mungkin Jinan kabur, Tifah.'" Sahut ayah mulai cemas.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita cari aja Jinan." Ujar Abbas memberi usul.
" Iya benar itu, kita gak tau Jinan kemana. Saya khawatir Jinan kenapa napa." Sambung Ais.
"Baik kita cari Jinan sekarang." Balas Ayah.
"Nak Hanan, kamu ikut juga cari Jinan ya." Tutur Ais pada Hanan, calon suami Jinan.
"Tapi ma... Bagaimana Hanan bisa menemukan Jinan?" Tanya Hanan dengan wajah nya yg datar.
"Ini nak.. Ini foto Jinan." Sahut bunda menyodorkan salah satu foto Jinan.
Hanan pun mengangguk dan ikut mencari Jinan. Ayah, Abbas dan Hanan mencari Jinan ke semua tempat termasuk kantor nya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalin jejak ya dengan cara like komen dan vote ya supaya author nya makin semangat buat up 🥰🤗