
...๐งก๐งก๐งก...
..."Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, ada yang suka menyimpan masalahnya sendiri dan mencari solusinya juga sendiri, tetapi ada juga yang membutuhkan orang lain untuk mendengar kan masalahnya serta mencari solusi bersama"...
...#Bersamamu, Imamku...
...๐งก๐งก๐งก...
Hanan pun mengangguk dan ikut mencari Jinan. Ayah, Abbas dan Hanan mencari Jinan ke semua tempat termasuk kantor nya.
Hanan tidak tau harus mencari Jinan dimana, bahkan Hanan pun tidak tau Jinan bekerja dimana. Alhasil, Hanan hanya melajukan mobil nya tanpa tujuan. Ia melihat taman taman dan juga beberapa cafe, tetapi ia tidak menemukan Jinan.
Di tempat lain...
Terlihat gadis berjilbab labuh sedang duduk di taman dekat danau dengan wajah nya yg muram. Gadis itu adalah Jinan. Jinan yg dikenal dengan wanita yg selalu ceria dan juga humble, saat ini menjadi gadis pendiam dan murung.
Jinan sangat bingung dengan keputusan ayah nya itu. Ayah menikahkan Jinan dengan anak sahabat nya. Tetapi tidak melalui proses ta'aruf terlebih dahulu. Padahal Jinan belum mengenal laki laki yg dijodohkan dengannya sama sekali.
Jinan mengambil hp dari tas sandang milik nya. Dan ingin mengabari sahabatnya, karna Jinan tidak ke kantor dan belum mengabari siapa pun. Sekaligus Jinan ingin bercerita dengan sahabat nya tentang perjodohan itu.
Jinan langsung menghubungi salah satu kontak yaitu Kontak Rere.
Tuttt tuttt....
Telpon masih tersambung dan belum ada jawaban dari sebrang sana.
"Halo assalamu'alaikum..." Ucap seseorang di sebrang sana.
"Wa'alaikumussalam.. Re." Jawab Jinan dengan lawan bicara nya di telpon.
"Jinan." Rere menaikkan suaranya dan berdiri dari tempat duduknya saat tau siapa yg menelpon nya. Dan suara Rere yg cempreng itu membuat karyawan kantor yg lain melihat ke arah nya.
Rere yg merasa sedang menjadi pusat perhatian, langsung duduk kembali ke kursi nya seraya menunjukkan deretan gigi nya.
"Ji, kamu kemana aja sih? Kok gak masuk kantor? Terus gak bilang bilang lagi." Cerocos Rere pada Jinan.
"Duhh kamu ini ya, gak jumpa langsung, gak lewat telpon pasti selalu banyak tanya." Ledek Jinan.
"Hmm ya biarin aja. Oh iya Ji, kamu tau gak..."
"Enggak" Jinan langsung memotong perkataan Rere.
"Ihhh namanya aku belum kasi tau apa apa. Dengerin dulu deh, Jinan." Dengus Rere kesal.
"Tadi ayah kamu datang ke kantor Ji, ayah kamu kayaknya lagi nyari kamu, deh. Emang kamu dimana sih Ji, kok bisa ayah kamu malah nyari kamu di kantor." Sambung Rere.
"Ayah ke kantor??" Lirih Jinan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Rere.
"Iya, Raihana Jinan Tsaqib..." Sambung Rere dengan penuh penekanan.
"Re, udah dulu ya kamu pasti lagi kerja kan. Ntar pulang kerja aku mau ketemu ya sama kamu dan Aurel. Aku tunggu di taman pinggir Danau. Assalamu'alaikum." Jinan langsung menutup telponnya begitu saja.
__ADS_1
"Ehhh iya iya. Wa'alaikumussalam.." Jawab Rere.
"Kebiasaan banget sih main matiin gitu aja." Dengus Rere mengerucut kan bibir nya.
"Woyyy.... Kenapa tu bibir di monyong monyongin gitu." Sambar Aurel yg sudah berada di depan meja Rere.
"Ini si Jinan. Telpon main mati matiin gitu aja." Jawab Rere
"Jinan nelpon kamu? Apa katanya?" Tanya Aurel lagi.
"Tadi Jinan bilang mau ketemu sama kita. Di tunggu di taman pinggir danau katanya." Balas Rere.
"Mungkin ada sesuatu yg mau diceritain, atau mungkin Jinan lagi ada masalah ya." Aurel tampak berpikir tentang Sahabat nya, Jinan. Sedangkan Rere hanya menaikkan bahunya sebagai isyarat tidak tau.
Disisi lain, Hanan sedang kebingungan mencari Jinan ke semua tempat. Begitu juga dengan ayah dan Abbas. Mereka tidak menemukan Jinan dimana mana.
...----------------...
Pukul 16.00
Setelah sholat ashar di masjid dekat taman, Jinan kembali ke bangku tempat nya duduk tadi. Jinan masih menunggu Rere dan Aurel datang. Dan tak lama kemudian, Rere dan Aurel sampai di taman itu. Mereka menghampiri Jinan yg sedang duduk sendiri di bangku pinggir Danau.
Rere melirik ke arah Aurel seolah memberi kode pada Aurel.
"1...2...." Ucap Rere pelan.
"3... Dorrrr." Hitungan ke tiga Rere dan Aurel mengagetkan Jinan bersamaan.
"Hahahaha..." Tawa Rere dan Aurel pecah saat itu juga apalagi melihat ekspresi wajah Jinan yg kaget sangatlah lucu.
"Kalian ini. Bukannya salam malah ngagetin gak jelas." Jinan terlihat sangat kesal dengan sahabat sahabat nya itu.
"Ulu ulu iya maafin kita ya, Jinan." Ucap Aurel merasa bersalah.
"Yaudah deh Assalamu'alaikum Raihana Jinan Tsaqib." Rere dan Aurel mengucap salam dengan kompak.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Jinan singkat.
"Oh iya Ji, kamu kenapa gak ngantor tadi? Terus sekarang ngajak ketemuan disini." Lanjut Aurel yg sudah ikut duduk di samping Jinan.
"Mmmm sebenarnya aku mau cerita sesuatu sama kalian semua." Jinan menatap sahabatnya.
"Cerita....Cerita apa Ji, ayo cerita aja sama kita." Sambung Rere serius.
"Aku dijodohin sama anak sahabat nya ayah." Jinan tertunduk lesu saat mengingat perjodohan itu.
"Hahh dijodohin?" Mulut Rere dan Aurel ternganga saat Jinan mengatakan hal seperti itu.
"Iya." Jawab Jinan singkat.
"Ji, kalau ayah kamu jodohin kamu sama anak sahabat nya, pasti itu yg terbaik. Karna pilihan orang tua itu selalu benar." Aurel mencoba meyakinkan Jinan sambil menggenggam tangan Jinan.
__ADS_1
"Tapi aku gak siap Aurel." Rengek Jinan pada sahabat sahabat nya itu.
"Aku belum mengenal nya bahkan aku belum bertemu dengan dia." Sambung Jinan.
"Kenapa kamu bingung, Ji? Kan kamu bisa ajuin CV ta'aruf ke dia. Dengan begitu kalian bisa saling mengenal satu sama lain." Sahut Rere dengan suara cempreng nya.
"Ini dia yg jadi masalah nya Re. Ayah bilang, kami gak akan ta'aruf. Tetapi kami bakalan langsung menikah, karna orang tua nya akan kembali ke Turki bulan depan. Makanya pernikahan kami akan dipercepat." Jelas Jinan dengan nada lesu.
"Huffftt... Kenapa jadi gini ya?" Sahut Aurel yg juga merasa bingung.
Ketiga sahabat itu pun diam sejenak tak bergeming sedikitpun. Tiba tiba Aurel kembali membuka suaranya.
"Jinan." Panggil Aurel dan Jinan pun melihat ke arah Aurel.
"Lebih baik kamu terima saja Perjodohan itu, aku yakin pasti pilihan ayah kamu itu yg terbaik buat kamu." Ucap Aurel mencoba meyakinkan Jinan kembali.
"Tapi Aurel..."
"Jinan.. Dengerin aku ya." Aurel memotong perkataan Jinan.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (Q.S Luqman:14)."
"Nah jadi, dalam ayat tersebut sudah jelas kan, kalau kita diminta berbakti pada orang tua. Kita harus menuruti perkataan nya selagi perkataan dan perintah nya itu baik." Jelas Aurel dengan memeluk dan mengelus punggung Jinan.
"Iya ya, Aurel. Selama ini ayah dan bunda selalu kasi yg terbaik untuk ku. Pasti kali ini juga begitu." Jawab Jinan mulai tenang dan tersenyum meskipun hanya senyuman kecil.
"Nah iya gitu dong. Lagian selama ini kan kamu yg sering nasehati kami, tapi kenapa sekarang malah gini. Semangat dong." Sahut Rere yg ikut memeluk Jinan.
"Iya ya. Tapi memang aku kan juga butuh nasehat dari kalian. Karna kalian adalah sahabat sahabat terbaik ku." Jinan membalas pelukan kedua sahabatnya itu.
Mereka bertiga tenggelam dalam kasih sayang nya dengan satu sama lain.
"Sudah mulai sore. Kita pulang aja yuk." Ujar Aurel.
"Iya udah sore. Ntar kemaleman lagi." Jawab Rere.
"Dan kamu Ji, kamu pulang kemana?" Tatapan Aurel kembali ke Jinan.
"Aku tidak tau, mau pulang ke rumah atau balik ke villa lagi." Jawab Jinan.
"Ya sudah. Intinya denger ya kata aku tadi dan segera kabari orang tuamu." Balas Aurel.
Mereka bertiga berpelukan sekali lagi dan pamit untuk pulang karna hari sudah mulai sore.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Ayo dong lemesin tangannya buat tekan tombol like, gak berat kok๐ Biar author nya semangat nih๐