
...💚💚💚...
..."Meskipun bintang tak selamanya menerangi setiap malam, setidaknya biarkan mas menerangi setiap langkah hidup kamu"...
...#Bersamamu, Imamku...
...💚💚💚...
Siang ini, ntah ada angin apa sehingga membuat Hanan lebih cepat pulang. Semenjak kebakaran gudang, Hanan memang lebih sering pulang awal. Karena tidak ada pekerjaan lagi yang harus di urus di kantor. Hanya saja Hanan saat ini sedang pusing memikirkan gaji untuk karyawan.
"Ya Allah... Ini apa apaan, sayang?" Tanya Hanan terkejut saat masuk ke kamar. Karena di atas tempat tidur sudah berserak tumpukan buku buku dengan posisi Jinan duduk sambil memangku laptopnya.
"Eh, mas udah pulang!" Jinan pun merangkak ke tepi ranjang dan mencium tangan sang suami.
"Ini kamu lagi ngapain, sayang?" Tanya Hanan yang masih belum mengerti.
"Owh, ini loh, mas. Jinan lagi mempelajari beberapa tehnik dalam berbisnis dari semua buku buku ini. Jinan sengaja minjem buku ini di perpustakaan kota tadi. Pesennya juga secara online kok, jadi Jinan gak perlu keluar rumah." Jelas Jinan.
"Sayang!"
"Kamu beneran mau bisnis?" Tanya Hanan masih tak percaya.
"Iya lah, mas. Jinan beneran mau bisnis, kan udah Jinan jelasin tadi malem. Nah, mas Hanan juga harus bantu Jinan bisnis. Karena bisnis ini kan bukan cuma punya Jinan, tapi bisnis mas Hanan juga." Jawab Jinan.
"Kamu udah pikirin mateng mateng, sayang?" Ucap Hanan lembut seraya mengelus kepala Jinan.
Jinan mengangguk, "Jinan ini kan istri mas. Jinan juga punya hak untuk membantu mas Hanan, kan? Jinan juga ikut terpuruk ngeliat keadaan mas Hanan sekarang."
"Masya Allah, soleha nya istri mas. Tapi, sayang! Mas kan masih sanggup memenuhi kebutuhan sehari hari kamu. Jadi mas rasa, kamu gak perlu bisnis." Sambung Hanan.
"Mas, Jinan tau itu. Mungkin saat ini memang kebutuhan kita masih terpenuhi. Tapi kedepannya kita kan gak tau, mas. Makanya, setidaknya dengan bisnis ini, kita bisa mempersiapkan untuk apa yang akan terjadi di masa depan nanti." Ujar Jinan.
"Hemm." Hanan menghela nafasnya.
"Yaudah, kalau keputusan kamu udah bulat dan kamu udah yakin. Mas akan seratus persen dukung kamu. Tapi, Jinan udah tau belum, mau bisnis apa?"
"Udah, dong. Jinan udah pikiran hal ini dari semalem sebenarnya. Tapi hari ini baru bener bener yakin."
"Jinan pengen bisnis kuliner, mas." Sambung Jinan.
"Bisnis kuliner?" Seketika ekspresi wajah Hanan seperti orang yang terkejut.
"Iya."
"Ya, Jinan sadar kalau Jinan ini gak jago banget masak. Tapi ada satu menu andalan Jinan, yang selalu dapet pujian dan bintang lima dari orang orang." Sambung Jinan.
"Menu apa, sayang?"
"Sate Madura." Jawab Jinan lugas.
"Hah? Sate Madura?"
"Iya, mas. Dulu Jinan waktu kecil, sering diajak sama kakek ke kedai sate nya. Nah, dulu kakek punya usaha kedai sate Madura. Karena berhubung kakek orang Madura, mas." Jelas Jinan.
"Owhhhh... Iya iya." Jawab Hanan sambil mengangguk ngangguk mengerti.
"Ide yang bagus, sayang." Sambung Hanan.
"Beneran, mas?" Hanan mengangguk.
"Tapi kamu gak pernah tuh masakin mas Sate Madura."
__ADS_1
"Mas Hanan mau?"
"Ya mau banget, dong." Jawab Hanan girang.
"Boleh! Tapi bantu Jinan dulu ngurus bisnis kita ini." Titah Jinan.
"Hmm... Yaudah, deh. Tapi beneran, ya. Ntar masakin sate Madura buat mas." Tuntut Hanan.
"Iya, suamiku." Jawab Jinan menangkup kedua pipi Hanan.
Siang itu, Hanan pun membantu Jinan untuk mempelajari semua hal hal yang harus dilakukan saat memulai bisnis baru. Sebelumnya Hanan juga pernah mempelajari hal itu, tetapi kali ini sedikit berbeda. Karena bidang bisnis yang akan dijalankan Hanan kali ini pun berbeda.
Begitu selesai semua, kini masanya menentukan nama untuk kedai sate mereka. Jinan dan Hanan juga sudah selesai mencari beberapa tempat yang cocok dijadikan untuk membuka bisnis baru mereka.
"Alhamdulillah... Udah selesai semua nih, mas." Ucap Jinan seraya merenggang kan otot otot tubuhnya.
"Iya, sayang. Alhamdulillah."
"Oh iya, mas. Sekarang kita tinggal nyari nama yang cocok untuk kedai sate nya." Ujar Jinan.
"Hmmm iya, ya. Kira kira apa yang cocok, ya?" Berbeda dari sebelumnya, kini Hanan juga sudah sangat antusias untuk membangun bisnis barunya ini.
"Sate Madura Jinan." Ujar Hanan.
"Ya gak bisa dong, mas. Kan ini usaha kita berdua." Bantah Jinan.
"Terus apa, dong."
"Sate Madura Ala Hanan dan Jinan. Gimana, mas?" Ujar Jinan.
"Itu kepanjangan, sayang." Jawab Hanan.
"Hanan dan Jinan... Jinan dan Hanan. Nama nya disatuin." Lirih Hanan seraya menyatu nya tukan nama nya dengan nama Jinan.
"Hah... " Ucap Hanan dan Jinan kompak,
lalu saling melihat satu sama lain, sebagai pertanda bahwa mereka sudah mendapatkan ide.
"Sate Madura JiHan." Sambung Hanan dan Jinan lagi.
"Yeaaayy... Alhamdulillah, akhirnya dapet nama yang cocok, mas."
"Eh iya ya, sayang. Sate Madura JiHan, Jinan dan Hanan." Sahut Hanan.
"Iya, mas. Tetep pake nama kita berdua, tapi hemat kata."
"Uwhhh suami aku memang paling best, deh." Sambung Jinan sambil mengunyel unyel wajah tampan suaminya.
"Iya, dong. Siapa dulu? Hanan!" Jawab Hanan dengan nada sok sombong.
"Halah, sombong!" Dengus Jinan.
"Biarin! Weekkk." Ejek Hanan.
"Yeaayy.. Berarti malam ini makan malam pakai sate Madura, kan? Tadi kan kamu udah janji, sayang." Sambung Hanan.
"Hah? Malam ini? Kan Jinan gak bilang malam ini, mas." Jawab Jinan.
"Tapi tadi kan kamu bilang mau buatin, sayang."
"Iya, oke. Memang Jinan bilang mau buatin sate Madura buat mas Hanan. Tapi kan Jinan gak bilang malam ini."
__ADS_1
"Yahhh... Terus kapan, dong? Ihh php, kamu!" Ucap Hanan memelas seperti anak kecil yang menginginkan mainan.
"Hehehee... Iya iya, deh! Ntar Jinan masakin. Biar suami manja yang satu ini seneng." Jawab Jinan tak tega.
"Alhamdulillah.... Beneran ya, sayang?" Jinan mengangguk.
...* * *...
Seperti janji Jinan pada Hanan tadi, malam ini ia akan memasakkan sate Madura untuk Hanan. Dengan sisa saung ayam seadanya dan bumbu seadanya, Jinan memanfaatkan nya untuk membuat sate Madura yang selalu menjadi favorit keluarganya.
"Hai, sayang." Sapa Hanan yang menemui Jinan di dapur.
"Hai juga. Mas ngapain disini?" Tanya Jinan.
"Mau ngeliat istri mas masak, dong."
"Ada yang bisa mas bantu, gak?" Sambung Hanan.
"Emmm... Hah! Itu, mas. Minta tolong, daging ayam yang udah Jinan potong potong, ditusuk tusukin ya." Titah Jinan.
"Gitu, aja? Oke, siap!" Jawab Hanan siaga.
Hanan dan Jinan pun sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, sesekali Hanan juga menggoda Jinan.
"Ihhh, mas Hanan!" Teriak Jinan, saat Hanan memberikan bubuk kunyit di wajah Jinan.
"Hahahahahah. Kamu jadi kayak orang yang sakit kulit, sayang!" Kekeh Hanan.
"Mas Hanan! Jail banget, sih."
"Nih rasain! Mas Hanan juga harus kena." Sambung Jinan yang membalas dengan mencolek kan bubuk kunyit penuh ke wajah Hanan.
Bukannya malah menyiapkan sate, Hanan dan Jinan malah saling mencoleki bubuk kunyit ke wajah pasangan mereka.
"Udah ah, mas. Ntar gak siap sate nya!" Ujar Jinan.
"Hahahah... Iya ya!" Kekeh Hanan.
"Mas! Makasih, ya. Kamu udah selalu jadi penerang dikala gelapku." Ucap Jinan menatap manik hazel sang suami.
"Sayang! Kamu gak perlu berterima kasih. Karena bagi mas, apa yang menjadi kesulitan kamu, maka akan menjadi kesulitan mas juga."
"Meskipun bintang tak selamanya menerangi setiap malam, setidaknya biarkan mas menerangi setiap langkah hidup kamu." Sambung Hanan.
"Makasih, mas. Sekali lagi Jinan akui, Jinan adalah wanita yang sangat beruntung." Balas Jinan sendu.
"Kok malah bilang makasih. Gak perlu, sayang."
.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
S a l a m H a n g a t,
Za
__ADS_1