Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Pindah Rumah


__ADS_3

...🖤🖤🖤...


..."Pilihan terberat seorang anak perempuan adalah saat ia harus pergi meninggalkan rumah masa kecilnya bersama keluarga nya, demi pergi ke rumah laki laki yang ditakdirkan menjadi imam dunia akhirat nya"...


...#Bersamamu, Imamku...


...🖤🖤🖤...


Hari ini Jinan merasa sangat lelah, mulai dari persiapan pernikahan, akad sampai resepsi. Semua dilakukan dengan menguras banyak tenaga. Ditambah lagi mood Jinan terganggu saat di minta untuk foto bersama pria dingin, Hanan.


Bunda dan mama Ais memaksa Jinan untuk tersenyum dan berpose mesra dengan Hanan.


"Huftt... Benar benar hari yg melelahkan." Jinan menghela nafasku dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Oh ya Allah, tak diduga kalau saat ini aku sudah menjadi istri orang. Betapa tak menyangka nya diriku." Ucap Jinan sambil rebahan di atas kasur yg sangat dia sukai itu.


Tetapi saat Jinan baru saja ingin memejamkan mata nya dan pergi ke alam mimpi, tiba tiba Jinan mendengar suara pintu terbuka.


Ceklekk...


Knop pintu sudah terbuka, dengan bergegas Jinan bangun dan melihat seseorang yg berada diambang pintu.


"Kau..." Teriak Jinan saat sepasang matanya menangkap sosok pria dingin itu.


"Kenapa kau disini?" Tanya Jinan padanya.


"Apa sekarang kamar ini hanya milik mu saja? Kamar ini sekarang juga menjadi kamar ku." Jawabnya dengan nada datar dan wajah yg dingin.


"Hahhh." Mulut Jinan ternganga saat mendengar perkataan nya.


"Apa maksudnya bicara kalau ini juga kamarnya. Apa berarti aku harus satu kamar dengannya? Benar benar hari yg buruk." Batin Jinan.


Jinan menyingkirkan tubuhnya dari kasur, dan pergi menuju lemari untuk mengambil handuk dan pakaian ganti.


...----------------...


Jinan membuka pintu lemari nya dan mulai mencari pakaian dan juga handuk untuk dipakai nya. Saat Jinan sudah mendapatkan semua yg dicari, Jinan bergegas menutup lemarinya kembali.


Tetapi saat Jinan hendak melangkah dan menutup pintu lemari, kepala Jinan seperti menabrak sesuatu yg tegap.

__ADS_1


"Awsss...." Jinan meringis saat kepala nya menabrak sesuatu.


"Apa tubuh ku kurang besar? Sampai sampai kau menabrak ku?" Oh ya ampun, ternyata Jinan menabrak dada bidang Hanan.


Terlihat Hanan hanya memakai handuk selutut tanpa menutup tubuh bagian atasnya, sehingga dada bidang Hanan terpampang sempurna di depan mata Jinan.


"Astaghfirullah...." Jinan teriak histeris saat matanya sudah melihat ke arah Hanan.


"Apa apaan kau ini, kenapa bertelanjang dada seperti itu?" Lanjut Jinan menutupi matanya dengan tangan.


Hanan hanya menggeleng melihat Jinan bersikap seperti itu. Tanpa disadari, Hanan pun tersenyum saat melihat Jinan seperti itu.


"Ada apa dengan wanita ini? Dasar aneh, apa haram jika dia melihat ku bertelanjang dada. Padahal aku ini kan suaminya." Batin Hanan sambil senyum senyum melihat tingkah Jinan.


"Minggir lah!! Aku ingin mengambil baju ganti ku." Ucap Hanan meminta Jinan supaya minggir dari depan pintu lemari.


"Heiii heii.... Kenapa kau melakukan sesuatu sesuka hati mu di kamar ku ini?" Kesal Jinan.


"Kamar Siapa?" Balas Hanan.


"Kamar ini juga sudah menjadi kamar ku." Sambung Hanan dengan nada tegas.


Karna tidak mau memperpanjang masalah, Jinan akhirnya mengalah. Jinan langsung jalan perlahan ke arah kamar mandi sambil menutup mata nya.


Sedangkan Hanan juga langsung membuka pintu lemari untuk mengambil pakaian ganti.


...----------------...


Berbeda dengan hari hari biasanya, hari ini Hanan bangun lebih cepat sebelum azan subuh. Sama seperti Hanan, Jinan juga biasa bangun sebelum azan subuh.


"Tumben udah bangun? " Saat Jinan membuka pintu kamar, Jinan cukup terkejut melihat Hanan yg sudah duduk di sofa dekat tempat tidur.


"Hari ini kita akan pindah rumah". Hanan tidak merespon pertanyaan Jinan.


" Hah? pindah? Kenapa? " Mendengar perkataan Hanan, Jinan terkejut. Jinan langsung duduk di samping Hanan.


Lagi dan lagi, jantung Hanan berdegup sangat kencang saat Jinan duduk di samping nya hanya berjarak beberapa senti saja.


"Ehh emm, kamu kan sudah jadi istri saya. Jadi apa kita harus tinggal di rumah orang tua kamu terus?" Hanan menenangkan dirinya agar detak jantung nya tidak terdengar oleh Jinan.

__ADS_1


"Ya enggak lah".


" Yaudah, saya sudah menyiapkan rumah. Lebih tepat nya itu rumah dinas saya, karna jarak rumah orang tua saya jauh dari kantor". Jelas Hanan, Jinan hanya mengangguk sebagai pertanda dia setuju.


Hanan berniat mengajak Jinan pindah malam ini, sementara menunggu waktu malam, Hanan pergi ke kantor terlebih dulu dan memastikan rumah yg akan ditempatinya dengan Jinan sudah siap pakai.


Di kamar Jinan, Jinan sibuk memilih gamis, hijab, tas dan barang barang lain yg ingin dibawanya. Semua berantakan di atas kasur.


Karna bunda ingin berkebun, bunda sengaja mampir ke kamar Jinan terlebih dahulu untuk mengajak Jinan berkebun juga. Tetapi bunda malah dibuat terkejut dengan kondisi kamar Jinan yg sudah berserak dengan barang barang Jinan.


"Astaghfirullah.... " Bunda ternganga melihat semua berantakan di atas kasur Jinan.


"Apa apaan ini sayang? Kok berantakan semua gini?" Bunda memasuki kamar Jinan sambil memperhatikan sekeliling nya yg sudah dipenuhi dengan barang barang Jinan dan juga terdapat beberapa koper di sana.


"Eh bunda". Karna sadar akan kedatangan bunda, Jinan menghentikan pekerjaan nya sejenak.


" Owh iya Jinan belum ngomong yg sama bunda". Sambung Jinan.


"Ngomong apa Ji? " Bunda terlihat penasaran dengan apa yg ingin dikatakan Jinan.


"Gini loh bun.... " Jinan mengajak bunda duduk di tepi kasur untuk mengobrol sebentar.


"Jadi, mas Hanan itu sebenarnya udah siapin rumah untuk Jinan dan Mas Hanan. Dan mas Hanan bilang, kalau mau pindah malam ini. Karna gak enak katanya kalau lama lama tinggal di rumah mertua. Ya bunda tau sendiri lah mas Hanan gimana orang nya". Dengan sangat detail Jinan menjelaskan semua nya pada bunda agar bunda tidak sedih dan salah paham.


" Hmmm gitu ya... " Terlihat ada sedikit ekspresi sedih tersirat di wajah bunda.


"Yaudah gak apa apa sayang, bunda juga ngerti kok. Namanya kamu juga kan udah berumah tangga, jadi ya wajar kalau kamu mau pindah ke rumah yg udah disiapin suami. Bunda dulu juga gitu kok, bunda gak lama tinggal di rumah orang tua bunda, karna ayah kamu udah siapin rumah pribadi untuk bunda dan ayah". Karna bunda sudah mengerti status dan keadaan Jinan saat ini, bunda pun berusaha mengikhlaskan keputusan itu.


"Emmmm... Bunda jangan sedih ya, in sya Allah ntar Jinan akan sering sering main ke rumah bunda kok". Agar bunda lebih tenang lagi, Jinan memeluk bunda penuh kasih sayang.


" Iya iya, lagi pula di sini kan masih ada Tifah, jadi bunda gak sendirian ". Wajah bunda sudah ceria kembali, karna bagaimana pun juga bunda memang harus melepaskan Jinan.


" Yaudah, kamu buruan kemas kemas nya, setelah itu ikut bunda metik sayuran ya. Biar bisa untuk stok di rumah baru kamu nanti". Jinan mengangguk dan langsung melanjutkan pekerjaan nya.


Sore Hari...


Ayah dan Tifah sudah mengetahui bahwa Jinan akan pindah rumah dengan Hanan. Karna saat makan siang tadi, Jinan sudah menceritakan nya. Hanya tinggal menunggu Hanan pulang dari kantor, setelah itu Jinan akan meninggalkan rumah orang tua nya dan tinggal di rumah baru dengan suaminya.


Orang tua Jinan kemungkinan akan ikut mengantarkan Jinan ke rumah baru, tetapi tidak dengan orang tua Hanan. Karena kedua orang tua Hanan sudah kembali ke Turki untuk melanjutkan pekerjaan nya disana. Tetapi walaupun begitu, orang tua Hanan juga sudah diberi tau oleh Hanan.

__ADS_1


__ADS_2