Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
TAMAT


__ADS_3

..."Kehilangan memang bukanlah hal yang menyenangkan, Tetapi kita diharuskan untuk belajar merelakan tanpa terus menyalahkan keadaan."...


...• • • •...


Begitu lah kisah Hanan dan Jinan yang berawal dari orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain dan akhirnya harus menerima perjodohan dan menikah tanpa cinta.


Tetapi siapa sangka, waktu mengubah segalanya. Hati yang dulu keras, jiwa yang dulu dingin dan kepribadian yang dulu kelam. Kini perlahan menjadi sosok lemah lembut, hangat dan ceria. Itulah perbedaan sosok Hanan yang dulu dengan yang sekarang.


Cinta Jinan sudah merubah seluruh hidup nya. Mulai dari keseharian, kepribadian sampai pekerjaan.


Meskipun kantor Hanan saat ini sudah bangkrut, Jinan tidak masalah sama sekali. Justru Jinan tetap stay di samping Hanan untuk memberikan suport pada Hanan.


Bahkan, Hanan dan Jinan juga membangun bisnis baru. Seperti yang pernah mereka rencanakan. Yaitu bisnis kuliner yang mereka rintis bersama.


Pengembangan bisnis baru Hanan dan Jinan juga sempat terkendala karena peristiwa salah paham yang diciptakan Rani. Tetapi setelah semua selesai, bisnis mereka kembali dibangun.


Dan sampai sekarang, bisnis baru Hanan itu semakin maju dan berkembang sukses. Meskipun hanya sebuah restoran sate, tetapi restoran sate mereka tidak pernah sepi pelanggan.


"Mas, apa tanggapan kamu mengenai senja?" Tanya Jinan yang kini sedang duduk di tepi danau dengan Hanan sambil menikmati indahnya senja di sore hari.


"Banyak, sayang. Karena senja itu sangat sangat istimewa."


"Meskipun kehadirannya hanya sejenak, namun kehadirannya itu juga selalu dinanti. Kesederhanaan warnanya memberikan kesan keceriaan dan kebahagiaan bagi siapa pun yang menikmati nya." Jawab Hanan.


"Sebegitu istimewa nya senja, sampai sampai banyak yang mengaguminya ya, mas."


"Iya, sayang."


Drtttt


Saat sedang mengobrol dengan Jinan, tiba tiba handphone Hanan bergetar. Tertera nama Andri di layar handphone Hanan. Hanan pun langsung mengangkatnya.


"Halo, assalamu'alaikum."


"... "


"Benarkah?"


"... "


"Baik, saya dan Istri saya akan segera kesana."


"... "


"Wa'alaikumussalam."


Setelah selesai berbicara lewat telpon dengan Andri, wajah Hanan menjadi kelihatan bahagia dan riang. Jinan saja bingung dengan wajah Hanan yang tiba tiba kegirangan seperti itu.


"Kenapa, mas? Kok kayaknya kamu senang banget!"


"Tadi Andri nelpon, dia bilang. Kalau bisnis baru kita udah bisa launching hari ini." Jawab Hanan girang.


"Masya Allah. Beneran, mas?"


"Iya, Sayang."


"Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya apa yang kita usahakan selama ini gak sia sia, mas." Balas Jinan yang juga ikut gembira dan terharu sampai tak kuasa menahan air mata.


"Air mata ini gak pantas membasahi wajah indah kamu, Sayang. Mulai hari ini dan detik ini, berjanji lah sama mas. Kalau air mata ini gak akan jatuh lagi." Ujar Hanan mengusap air mata Jinan.


Jinan mengangguk, "Terima kasih, mas. Makasih buat semua yang kamu lakukan buat aku selama ini. Kamu juga harus janji ya, mas. Apapun yang akan terjadi, kamu harus tetap kuat dan tegar. Meskipun itu tanpa aku."

__ADS_1


"Enggak. Setiap cerita hidup mas pasti akan mas lalui bersama kamu, Jinan." Balas Hanan.


"Allah Maha baik sudah mempertemukan bahkan menyatukan kita, mas. Bersamamu, aku benar benar belajar kekuatan cinta sesungguhnya. Harapanku, kelak aku bisa melangkah ke surga. Bersamamu, Imamku." Ucap Jinan penuh haru.


"Insya Allah, Sayang. Mas akan selalu membimbing kamu ke jalan yang Allah ridhoi sampai Allah memanggil kita ke hadapannya." Balas Hanan seraya merangkul tubuh Jinan.


"Yaudah, kita siap siap sekarang. Soalnya, acara akan dimulai ba'da zuhur." Ajak Hanan.


Jinan pun mengangguk. Jinan dan Hanan bersiap siap sebelum pergi ke restoran baru mereka. Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati Jinan.


Ntah kenapa, Jinan merasa akan sangat merindukan wajah dan senyuman Hanan saat Jinan melihat wajah Hanan. Air mata Jinan juga berasa selalu ingin keluar, padahal ia sudah meluapkan air matanya tadi.


"Kenapa, sayang? Kok malah bengong?" Ujar Hanan menghampiri Jinan yang masih bengong sambil menatap foto pernikahannya dengan Hanan.


"Eh... Ehmm gak apa apa, mas. Yaudah, ayo!"


Hanan dan Jinan pun berangkat ke restoran baru mereka dengan hati yang sangat senang. Tetapi hati Jinan justru juga merasa gelisah bahkan sangat gelisah. Ntah apa yang akan terjadi, sehingga membuat Jinan gelisah seperti itu.


Sampai di restoran baru mereka, suasana sudah sangat ramai. Para karyawan juga sudah menyiapkan semuanya. Hanan memang sengaja menyerahkan semua persiapan launching Restoran baru mereka pada karyawan terutama Andri. Karena Hanan masih ingin fokus dan menghabiskan waktu dengan Jinan.


Di depan Restoran itu, terlihatlah papan bertuliskan RESTORAN SATE MADURA JIHAN. Resep yang disediakan di Restoran itu adalah resep turun menurun dari keluarga Jinan. Karena resto itu adalah hasil usaha Hanan dan Jinan, Hanan pun menyatukan nama Hanan dan Jinan menjadi satu sebagai nama Restoran tersebut.


"Masya Allah. Luar biasa. Alhamdulillah ya, sayang." Ucap Hanan yang masih tidak percaya karena akhirnya bisa mendirikan restoran itu.


Padahal, restoran itu hanya rencana singkat Hanan. Tetapi sangat tidak bisa diduga, kalau restoran itu berhasil dilaunching kan.


Sebelum acara launching dibuka, Hanan dan Jinan melaksanakan sholat zuhur terlebih dahulu. Setelah selesai sholat zuhur, barulah Hanan mengajak Jinan kembali ke restoran untuk memulai acara peresmian Restoran baru mereka.


"Sayang. Kamu udah selesai, kan? Ayo, kita mulai peresmiannya!" Ajak Hanan.


"Kamu duluan aja deh, mas. Ntar Jinan nyusul! Soalnya Jinan mau ke toilet dulu." Ujar Jinan.


"Beneran, nih. Mas duluan?" Jinan mengangguk.


Hanan pun meninggalkan Jinan dan kembali ke acara peresmian lebih dulu. Karena Jinan ingin ke toilet lebih dulu.


Setelah Jinan selesai dari toilet, barulah Jinan mau menyusul Hanan ke acara peresmian.


"Alhamdulillah. Lega banget." Ucap Jinan setelah keluar dari kamar mandi.


Saat Jinan berjalan ke arah acara peresmian, tiba tiba Jinan melihat seorang anak kecil perempuan sedang berdiru di tengah tengah jalan raya. Sementara, di ujung jalan sudah ada sebuah mobil berwarna merah yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Melihat hal itu, naluri keibuan Jinan pun muncul. Jinan langsung berlari mendekati anak kecil itu.


"Dekk... Awassss!" Ucap Jinan dari kejauhan sambil berlari.


"Awasss! Minggirrrr!" Jinan terus berteriak tetapi anak kecil itu tidak ngeh sama sekali.


Akhirnya Jinan pun mendorong anak kecil itu tadi ke tepi Jalan. Sementara tubuh Jinan...


Ciiiiiiittttttt


Brukkk Derrr


"Aaaaaa.... "


"Jinannnnnnnn..... "


Suara rem mobil dan teriakan itu beradu di waktu yang bersamaan. Setelah mobil berwarna merah itu berhenti di tepi jalan, tubuh Jinan juga terkulai lemas di tengah jalan raya.


Cairan darah sudah berserak di tengah jalan raya. Dan wajah Hanan yang tadinya berseri seri, kini pun berubah menjadi sangat menyedihkan.

__ADS_1


Dengan langkah yang tergopoh gopoh, Hanan langsung berlari ke arah Jinan yang sudah terkapar di tengah jalan. Baju Jinan yang berwarna biru kini sudah berubah menjadi ungu karena tercampur dengan darahnya.


"Jinannn." Ucap Hanan yang langsung merengkuh tubuh Jinan yang penuh dengan darah.


"M mas H ha han Hanan... " Suara Jinan terdengar berat saat kepalanya diletakkan di paha Hanan.


"Jinan, sayang... Kamu kuat, ya. Kamu harus kuat. Kita ke rumah sakit ya, sayang." Ucap Hanan yang sudah tak kuasa menahan air mata. Bahkan dada Hanan sesak rasanya saat melihat tubuh Jinan lemas tak berdaya dengan darah yang melumuri tubuh istrinya.


"Panggil ambulans, cepat!" Teriak Hanan pada orang yang berkumpul di sana.


"Ma Mas Han Hanan... Jinan gak ku...ku...kuat, mas. Dada Jinan sakit, mas." Lanjut Jinan tertatih tatih seraya memegangi dada sebelah kanannya.


"Kamu harus kuat, sayang. Kamu harus kuat! Mas yakin kamu pasti kuat, sayang." Balas Hanan yang terus menciumi pipi istrinya.


Bagian tubuh Jinan kini sudah penuh darah. Darah itu berasal dari kepala dan juga bagian dada Jinan yang dihantam oleh mobil berwarna merah tadi.


"Enggak, mas. Jinan ga.. gak kuat.".


"Kamu gak boleh ninggalin mas, sayang. Kalau kamu ninggalin mas, mas harus berbuat apa di dunia ini. Mas gak tau harus apa, Ji. Hiksss."


"Mas Ha Hanan harus ja...janji ya sama Jinan. Kalau mas Hanan harus tetap semangat men...jalani hidup mas Hanan. Meskipun Jinan udah gak ada. Mas Hanan ingat sama janji mas Hanan, kan. K... ka... kalau mas Hanan akan tetap semangat menghadapi se... semuanya meskipun tanpa Jinan."


"Ti... tidak ada yang kekal di dunia ini, mas. Meskipun ada, i... i.. itu hanyalah kebaikan kita, mas. Segala se... se... sesuatu yang bernya... wa pasti akan mati."


"Jinan udah gak.. ku... kuat, mas... Jinan ga..gak... ku...at... Jinan pamit, mas!"


"Enggak, sayang. Enggak, kamu gak boleh ngomong kayak gitu."


"Selamat tinggal, su... suamiku. Ana u..u..uhibbuka fillah... Sam... sampai jum... pa di sur... ga-Nya Allah, mas. Izin...kan a...ku tertidur di pangkuan kamu untuk yang... terakhir ka..kalinya, mas. Ma...s... Ka...mu memang bu...kan cin...ta pertama a...ku, ta..pi aku bahagia, mas. Ka...Karena kamu, adalah cin...ta terakhir...a..ku."


"Assalamu'alaikum ya, zauji. Asyhadu...an laa ilaaha...illa...llaahu wa Asyhadu...an...na muhammadar...rasuulullah." Jinan membaca kalimat syahadat dengan tertatih tatih dan perlahan mata Jinan mulai tertutup dengan sangat lemah. Perlahan demi perlahan nafas di dadanya pun mulai menghilang seiring dengan mata Jinan yang semakin tertutup menyembunyikan mata indahnya dan senyum pun terukir di wajah manis Jinan.


"Enggak... Enggak... Kamu harus bertahan, Ji. Kamu harus kuat, sayang. Kita akan ke rumah sakit." Hanan terus memeluk tubuh Jinan erat erat dan menciumi seluruh wajah sang istri yang sudah tidak bernyawa.


"Jinannnnn!!?" Teriak Hanan menggelegar dengan hati yang sangat hancur. Awan berubah mendung, langit pun terlihat gelap. Seolah olah langit pun ikut berduka dengan apa yang terjadi.


Hanan terus menangis melihat tubuh istrinya yang sudah terkapar lemah. Air hujan juga perlahan jatuh ke bumi dan membasahi tanah. Seperti nya alam juga ikut berduka hari ini.


Orang tua Jinan baru sampai ke tempat kejadian. Tetapi begitu sampai, bunda langsung pingsan dan tubuhnya lemah tak berdaya. Sementara ayah pun demikian, tubuhnya melemah melihat tubuh Jinan yang tergeletak di atas kaki menantunya.


"Aaaaaaa..... Kenapa ya Allah.... Kenapa harus aku?" Teriak Hanan menatap langit dengan tatapan marah dan kecewa.


"Aku mencintainya, ya rabb... Aku mencintai nya... Hikss... " Hanan memeluk tubuh Jinan lebih erat lagi.


Hari ini takdir benar benar tidak adil pada Hanan. Disaat dirinya mampu mencintai istrinya dengan sepenuh hati, justru takdir malah mengambil istrinya. Kebahagiaan nya direnggut begitu saja. Tawa dan senyum yang hari ini mengawali hari Hanan dan Jinan. Ternyata menjadi tawa dan senyuman terakhir di wajah Jinan.


Ntah apa dosa dan salah Hanan, sehingga Tuhan setega itu pada nya. Tetapi, ini semua bukanlah salah takdir atau Tuhan. Ini hanyalah sebuah takdir dan skenario terbaik yang sudah ditetapkan oleh sutradara kehidupan terbaik.


Kata penulis:


"Hidup ini adalah film, takdir adalah alurnya dan manusia adalah tokoh nya. Sementara Tuhan adalah sutradaranya. Jadi, tugas manusia hanya sebagai pemeran yang harus mengikuti skenario yang sudah dibuat oleh sutradara."


.


.


.


...TERIMA KASIH BANYAK UNTUK SEMUA PEMBACA YANG UDAH BACA KISAH HANAN DAN JINAN DARI AWAL SAMPAI AKHIR, DARI BAHAGIA SAMPAI SEDIH. KALIAN SEMUA YANG TERBAIK 🤧🥺 I LOVE YOU ALL🖤 JUJUR, SEBENARNYA AKU GAK KUAT KALAU BUAT KISAH INI SAD ENDING😫 POTEK HATIKU RASANYA, TAPI YAUDAHLAH YA TERIMA AJA💔...


-

__ADS_1


T A M A T


__ADS_2