
...💛💛💛...
..."Seberat apapun masalah mu, hamparkan sajadah mu dan berdoalah kepada Allah, karena Allah adalah sebaik baik tempat mengadu"...
...#Bersamamu, Imamku...
...💛💛💛...
"Kamu ada masalah ya sama Hanan, Ji?" Tanya bunda setelah menyiapkan segelas teh untuk Jinan.
Tidak menjawab, Jinan hanya menoleh ke arah bunda dengan tatapan kesedihan dan kekecewaan.
"Nak! Bunda gak tau masalah apa yang menimpa rumah tangga kalian, tapi bunda kasi tau sama kamu. Sebesar apapun masalah rumah tangga kamu, kembali ke rumah orang tua bukanlah pilihan yang tepat."
"Kamu boleh pergi keluar saat ada masalah rumah tangga, untuk menenangkan pikiran kamu. Tapi jangan ke rumah orang tua, sayang. Dan ingat! Tetap pamit sama suami. Karena bagaimanapun juga, Hanan adalah suami kamu dan dia adalah pintu surga kamu." Sambung bunda menasehati Jinan.
"Tapi Jinan gak tau harus kemana lagi, bunda. Jinan lebih tenang rasanya kalau ada di rumah ini." Jawab bunda.
"Bunda ngerti, sayang. Tapi ini gak baik."
"Yaudah, besok Jinan akan pulang ke rumah. Tapi izinin bunda untuk nginep disini, malam ini ya, bun." Sahut Jinan dengan wajah memelas.
"Hmmm. Yaudah iya, nak." Bunda pun membawa Jinan ke pelukan nya.
......................
Setelah bunda menenangkan Jinan, kini saatnya ayah menginterogasi Jinan. Karena bagaimana pun, orang tua pasti khawatir dengan anaknya. Meskipun orang tua Jinan sebenarnya tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga anaknya, tapi kali ini orang tua Jinan harus ikut turun tangan. Setidaknya hanya memberikan arahan dan nasehat untuk Jinan. Karena Jinan juga masih baru menjalani pernikahan, pastinya belum mengerti lika liku dalam rumah tangga.
"Seberat apapun masalah kamu, hamparkan sajadah kamu dan berdoa sama Allah, karena Allah adalah sebaik baik tempat mengadu, Ji." Ucap ayah yang kini duduk di samping putrinya.
"Ayah!" Jawab Jinan terkejut.
"Nak! Kamu sudah bertahun tahun tinggal sama ayah. Dari kecil sampai kamu dewasa, ayah selalu ada di samping kamu. Jadi, ayah tau semua yang kamu rasakan. Ayah bukan orang asing, nak. Kalau kamu memang butuh seseorang untuk berbagi cerita setelah bercerita sama Allah, maka ayah dan bunda siap menampung cerita kamu." Ujar Ayah.
Jinan menatap pekat manik mata sang ayah, ada kesedihan juga di mata ayah Jinan. Karena melihat Jinan dalam masalah. Mata Jinan pun berkaca kaca, rasanya air mata yang terkumpul hanya tinggal tumpahnya saja, tetapi masih ditahan oleh Jinan.
"Ayah... " Air mata itu pun tak tertahan lagi, dengan lega bulir air mata itu mengalir saat Jinan memeluk sang ayah.
"Cerita lah, nak!" Titah ayah.
"Ayah, sebelumnya Jinan minta sama ayah. Tolong jangan benci mas Hanan setelah ini, ya!" Ujar Jinan.
"Kenapa emang nya? Apa masalah ini, adalah ulahnya Hanan?" Tanya ayah.
"Iya, ayah." Ayah masih sabar mendengar nya, karena ayah bukanlah tipe pria yang pemarah.
"Baik, ceritalah!"
"Mas Hanan... (tokk tokk tokk)" Belum lagi sempat Jinan bercerita, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Siapa itu? Ayah buka pintunya dulu, ya." Ujar ayah.
Ayah pun berjalan mendekat pintu untuk melihat siapa yang datang. Jinan juga mengikuti langkah ayah dari belakang untuk ikut melihat tamu yang datang.
Saat pintu terbuka, ternyata...
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, ayah." Ucap pria itu seraya mencium tangan ayah.
"Wa'alaikumussalam."
"Ayah, Hanan kesini mau jemput Jinan!" Lugas Hanan.
Jinan yang tadinya ingin mendekat ke pintu, kini pun menghentikan langkah kakinya setelah mendengar suara Hanan dari luar sana.
"Ohh... Masuk lah, nak!" Ujar Ayah.
Ayah pun mengajak Hanan masuk untuk menemui Jinan. Ayah merasa itu juga waktu yang tepat untuk membicarakan masalah mereka dan menyelesaikan nya.
"Jinan!" Tegur ayah pada Jinan.
"Suamimu ingin menjemput mu!" Sambung ayah.
Jinan pun bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan sang suami. Bunda mengajarkan, se marah apapun pada suami, jangan pernah durhaka padanya. Tetap mematuhinya, karena suami adalah pintu surga seorang istri.
"Duduklah, nak. Ceritalah masalah apa yang menimpa rumah tangga kalian." Ujar ayah dengan hangat.
Jinan dan Hanan pun saling melihat satu sama lain. Seperti memberi isyarat, siapa yang akan bercerita.
"Ini, yah." Tidak menjawab apapun, Jinan malah menunjukkan sebuah foto yang diterima Jinan.
"Astaghfirullah... Apa ini? Kamu selingkuh, Hanan?" Teriak ayah mulai emosi tetapi masih terkendali.
Mendengar suara teriakan ayah, bunda dan Tifah pun mendekati ruang tamu. Untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.
"Wallahi... Hanan gak selingkuh, Yah!" Jawab Jinan memberi pembelaan.
"Kamu jangan ngelak lagi, mas." Ujar Jinan.
"Itu semua bohong, sayang." Jelas Hanan membuat Jinan mengerti.
"Bohong gimana, mas? Semua udah jelas, bahkan ada bukti fotonya, mas." Timpal Jinan.
"Kamu liat lagi fotonya, di foto itu gak keliatan wajah laki laki itu. Dan bisa jadi itu laki laki lain, kan? Karena mas yakin, mas gak ada pergi ke hotel malam itu. Mas nginep di rumah Bayu karena udah kemaleman dan kondisi lagi hujan lebat. Kamu bisa tanya Bayu kalau kamu gak percaya."
"Terus laki laki di foto itu siapa, mas? Hikss hikss." Teriak Jinan sambil terisak.
"Postur tubuh laki laki itu sama persis kayak kamu, mulai dari gaya rambut dan bajunya juga sama, mas." Sambung Jinan yang kini sudah terkulai lemah di lantai.
Hanan pun ikut terduduk sambil merangkul tubuh Jinan yang masih terisak.
"Aku benci sama kamu, mas. Aku benci. " Ucapan itu adalah ucapan yang paling mengiris hati Jinan, meskipun dia sendiri yang mengatakan nya.
Sejujurnya Jinan tak kuasa melontarkan perkataan itu pada Hanan, tetapi Jinan benar benar tak kuasa menahan rasa sakit hatinya.
"Kamu tenangin diri kamu dulu ya! Jangan zolimi diri kamu sendiri, Ji. Semua ini cuma fitnah, kamu seharusnya percaya sama mas, karena mas ini adalah suami kamu."
Jinan tak merespon apa apa, hanya diam terduduk sambil menangis tak berdaya. Betapa hancurnya hati Jinan saat ini, karena laki laki yang kini menjadi suaminya, mengkhianati dirinya.
Duarrrrr
Suara meja dipukul terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan. Karena sudah sangat emosi, apalagi saat melihat sang putri terisak, ayah pun meluapkan emosinya pada meja yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Hanan! Saya sudah memberikan kepercayaan sama kamu, dengan harapan bisa memberikan kebahagiaan untuk anak saya. Tapi kamu malah seperti ini." Ujar ayah dengan emosi sudah di ubun ubun.
"Tapi, ayah. Hanan gak ngelakuin hal bejat itu." Elak Hanan.
"Buktikan kalau kamu benar!" Ujar ayah.
Hanan mengangguk, "Baik, Hanan akan membuktikan semuanya."
"Sekarang kita ke rumah Bayu. Karena semua akan terbongkar disana." Sambung Hanan.
"Baik. Jinan, ikutlah dengan suami mu, pastikan kalau yang dia katakan benar." Tutur ayah.
Jinan menatap Hanan dengan tatapan sendu, hati Jinan pun rasanya sedikit terobati setelah mendengar Hanan akan menunjukkan bukti.
......................
Hanan pun mengajak Jinan ke rumah Bayu untuk membuktikan kalau dia tidak selingkuh. Tetapi Hanan tidak sendirian, Hanan meminta Andri datang dengan membawa Rani. Saat Rani dan Andri tiba mereka pun langsung mengetuk rumah Bayu.
"Assalamu'alaikum, Bay. Bay.... " Hanan memanggil nama Bayu terus, tetapi tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Mas, nyari mas Bayu ya?" Tanya seorang ibu ibu paruh baya yang sedang kebetulan lewat.
"Eh iya, buk. Bayu nya kemana, ya?"
"Waduhhhh, mas bayu nya udah berangkat dari pagi tadi, mas. Katanya mau balik kampung, karena ibunya mas Bayu lagi sakit!" Ujar ibu itu.
"Owh gitu. Yaudah, makasih ya, bu." Ucap Hanan.
"Kamu liat, kan?" Balas Jinan.
"Udah lah, mas. Jangan cari pembelaan terus, semua udah terbukti kalau kamu memang ngelakuin itu sama Rani." Sambung Jinan emosi.
"Oke, ada satu cara lagi buat ngebuktiin ke kamu."
"CCTV!" Sambung Hanan setelah itu.
"CCTV?" Tanya Jinan yang masih mengira Hanan terus mencari pembelaan.
"Iya, sekarang udah canggih, kan? Kita bisa ngeliat semua kejadian sebelumnya dengan CCTV." Balas Hanan percaya diri.
"Liat itu!" Ujar Jinan menunjuk sebuah benda yang terdapat di teras rumah tetangga Bayu.
"Lewat CCTV tetangga Bayu, itu. Kita bisa ngeliat, apakah semalam mas disini atau enggak." Sambung Hanan.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
S a l a m H a n g a t
Za
__ADS_1