Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Rumah Baru


__ADS_3

...💙💙💙...


..."Semoga saja, kelak hatiku ini benar benar bisa menerimamu, khumairah ku"...


...#Bersamamu, Imamku...


...💙💙💙...


Orang tua Jinan kemungkinan akan ikut mengantarkan Jinan ke rumah baru, tetapi tidak dengan orang tua Hanan. Karena kedua orang tua Hanan sudah kembali ke Turki untuk melanjutkan pekerjaan nya disana. Tetapi walaupun begitu, orang tua Hanan juga sudah diberi tau oleh Hanan.


...----------------...


Jinan membereskan beberapa pakaian dan barang barang yg akan di bawa ke rumah baru nya dengan Hanan.


"Alhamdulillah ya, sayang. Akhirnya kamu sekarang sudah bisa membangun kehidupan rumah tangga sendiri. Bunda sekarang juga udah tenang, karena kamu mendapatkan laki laki yg tepat. " Meskipun bunda berbicara seolah olah bahagia, Jinan masih bisa merasa bahwa ada rasa sedih di hati bunda.


"Iya, bunda. Bunda jangan sedih ya, in sya Allah, ntar Jinan akan sering main ke rumah ini kok. " Jinan menangkup wajah bunda dengan kedua tangan nya, sambil memandangi wajah bunda.


"Enggak kok. Bunda justru seneng banget, setelah kamu yg sold out, sebentar lagi Tifah yg sold out. Gak kerasa, anak anak bunda udah gede sekarang." Bunda memeluk Jinan penuh cinta.


Jinan mengemasi barang nya dan Hanan dibantu oleh bunda. Jinan dan bunda juga mengobrol ringan sebelum Jinan pindah dari rumah ayah dan bunda.


.


.


Begitu Hanan pulang dari kantor, Hanan langsung mengajak Jinan untuk pindah ke rumah baru mereka. Ayah, bunda dan Tifah juga ikut mengantarkan Jinan sampai rumah baru Jinan dan Hanan.


Semua sangat kagum dan takjub melihat rumah yg sudah disiapkan Hanan untuk mereka tinggalin. Rumah yg berukuran tidak terlalu besar, sederhana tetapi terlihat mewah.


Di depan juga ada taman yg menambah kesan indah pada rumah tersebut. Warna rumahnya juga sangat Jinan suka, warna moca.



Saat semua orang masuk ke dalam nya, mereka dibuat takjub lagi dengan bentuk dalamnya. Jinan sangat senang dan puas dengan rumah ini.


"Masya Allah, rumah nya sederhana tapi terlihat mewah ya. " Bunda juga seperti nya jatuh cinta dengan rumah ini.


"Alhamdulillah, bunda. Rumah ini memang Hanan persembahkan dan Hanan siapkan untuk Jinan, makanya Hanan buat rumah ini senyaman mungkin untuk ditinggalin Jinan. " Hari ini Jinan melihat sisi lain Hanan. Selama satu minggu Jinan menikah dengan Hanan, baru kali ini Jinan mengetahui bahwa Hanan juga sosok suami yg sangat perhatian.


Meskipun Hanan memiliki sifat yg cenderung dingin, cuek dan kaku, tetapi hari ini Hanan menunjukkan sisi lain dirinya. Hati Jinan merasa nyaman saat Jinan ada di samping Hanan, tetapi terkadang Jinan juga dibuat kesel dengan sikap Hanan.


Malam harinya, setelah semua sudah selesai disusun, bunda dan ayah pulang ke rumah. Sekarang hanya tinggal Jinan dan mas Hanan saja lah yg ada di rumah baru ini.


"Emm, mas. " Jinan mendekati Hanan yg sedang menyelesaikan beberapa kerjaan kantor nya di ruang tengah.


"Ehh ehmm, iya. A.. Ada yg bisa saya bantu. " Awalnya Hanan merasa bingung saat Jinan memanggilnya. Karena memang inilah kali pertama Jinan memanggilnya dengan sebutan "Mas".


" Eh, boleh kan aku memanggilmu dengan sebutan itu? " Jinan mencoba untuk memastikan terlebih dahulu, supaya Hanan terbiasa.


"Iya, boleh boleh saja." Saat Hanan mengalihkan perhatian nya dari laptop ke arah Jinan, mata mereka seketika bertemu. Jleb, hati Jinan merasa disiram oleh bunga bunga yg membawa kenyamanan, lebayy.


"Owh iya, apakah kau sudah mengemasi barang barang mu?" Tidak berlangsung lama, Hanan langsung mengalihkan pandangan matanya ke laptop kembali.


"Iya sudah kok mas." Jinan duduk di samping Hanan, berniat untuk bisa mengenal nya lebih dekat lagi.


"Mas, makasih ya. " Aku memang sudah duduk di samping mas Hanan, tetapi pandangan ku masih menunduk ke bawah.


"Buat apa? " Hanan meletakkan laptop nya di atas meja dan langsung mengubah posisi duduknya menghadap Jinan.


"Eh ehm, buat rumah ini."


"Apa maksud mu? Kenapa berterima kasih? Aku adalah suami mu, sudah menjadi kewajiban ku untuk memberi kan tempat tinggal yg layak untuk mu. " Memang, semenjak memutuskan pindah rumah, Hanan jadi lebih hangat pada Jinan. Tetapi tetap saja, sifat kaku nya masih belum hilang.

__ADS_1


"Iya sih, tapi aku bener bener berterima kasih banget. Karena kamu juga bersedia menerima ku dalam hidup kamu, mas. " Rasanya, hati Jinan mulai terpikat pada suami es batu nya ini.


"Seharusnya aku yg berterima kasih, karena kamu mau menerima ku apa adanya. " Perdana, Hanan tersenyum kepada Jinan. Semenjak menikah, Hanan hanya menunjukkan wajah kaku nya itu.


Jinan pun membalas senyuman nya, hati Jinan juga mulai merasa terbuka untuk nya.


"Memang, awalnya pernikahan kami didasari dengan perjodohan. Tetapi sekarang, aku merasa sangat bersyukur dengan pernikahan ini." Batin Jinan.


Seiring berjalannya waktu, Jinan ingin membuat suami dingin nya itu menjadi sosok yg ceria dan ramah. Jinan juga ingin mengenal suami nya lebih jauh lagi.


...----------------...


"Hoaammm.... " Rasanya Jinan masih mengantuk sekali pagi ini.


Kebiasaan Jinan, Jinan selalu tidur lagi saat matahari mulai terbit, karena dalam islam dilarang tidur setelah sholat subuh.


Jinan melihat sekeliling kamar, tetapi Jinan tidak menemui sosok Hanan disana, "Kemana mas Hanan pagi pagi begini?"


Jinan turun dari tempat tidur nya dan keluar untuk mencari keberadaan suami dingin nya.


satu persatu anak tangga Jinan turuni, "Mas... " Tapi tidak ada jawaban.


Glonteng....


Sebuah suara terdengar nyaring dari arah dapur, seperti suara wajan jatuh ke lantai. Jinan bergegas menuju dapur untuk mengeceknya.


Jinan terkejut saat melihat dapur sudah berantakan, "astaghfirullah... "


"Mas, kamu ngapain di dapur? "


"Ehmm ini, saya lapar, jadi tadi niatnya mau buat telur ceplok, eh wajan nya malah jatuh terus berantakan deh telur nya. " Dengan wajah datar, Hanan menjawab dengan wajah seperti orang yg tak bersalah.


Jinan menepuk jidat nya, "Ya Illahi..."


"Tadi kamu tidurnya pules banget, jadi gak enak mau bangunin. "


Jinan menghela nafas nya berat, "Yaudah yaudah, sini biar Jinan buatin telur ceplok ya untuk mas Hanan sarapan, abis itu biar Jinan beresin nih dapurnya. "


"Gak usah, biar aku aja deh yg beresin ini. Kan aku yg berantakin. "


Ujung bibir Jinan tertarik sedikit, "Nyadar kesalahan sendiri ternyata, hehehe. " Batinku.


"Yaudah deh, biar Jinan buat sarapan dulu ya. "


Akhirnya, Jinan menyiapkan sarapan sementara Hanan membersihkan dapur yg berantakan karena ulahnya.


Drttt drttt (Suara telpon berdering)


Saat mendengar suara telpon, Jinan menoleh ke arah meja makan, "Mas.. HP kamu bunyi tuh, ada yg nelpon."


"Iya, sebentar. " Teriak Hanan dari kamar mandi, karena Hanan masih membersihkan tangannya.


"Assalamu'alaikum."


"..... "


"Benarkah, bun? "


"... "


"Baik, bun."


".... "

__ADS_1


"Iya, wa'alaikumussalam, bunda. "


Hanan sudah selesai bicara di telpon, Jinan mendengar samar samar Hanan menyebutkan nama bunda, itu berarti orang yg menelpon mas Hanan adalah bunda.


"Bunda ya, mas? "


"Iya, bunda bilang, bunda lagi di jalan menuju ke rumah kita?"


Spontan Jinan melemparkan Sutil ditangannya ke wajan, "Apa? Terus kok bisa bisanya kamu malah nyantai sih, mas. "


Jinan panik tak karuan, "Haduhh gimana ini, malah rumah masih berantakan lagi. "


Hanan juga kebingungan saat Jinan mulai mondar mandir mencari alat kebersihan rumahnya. Seluruh rumah masih berantakan, seharusnya Jinan membersihkan pagi pagi tadi. Tetapi karena ulah Hanan, Jinan harus sibuk di dapur dulu.


"Mas, ini kamu sarapan dulu ya. " Jinan langsung menghidangkan sarapan yg tadi sudah Jinan siap kan untuk Hanan.


"Kamu gak sarapan juga? "


Jinan hentikan langkahku menuju ruang tamu, "Bunda udah dijalan kan? Jinan mau beresin rumah dulu, sarapan nya ntar aja. "


Jinan meninggalkan dapur dan langsung menuju ruang tamu.


"Perlu saya bantu? " Setelah Hanan selesai sarapan, Hanan mendatangi Jinan di ruang tamu.


"Emang mas Hanan gak ke kantor? "


Hanan diam sejenak, "Udah gak apa apa, ntar ke kantor siangan aja. "


Hanan mengambil sapu dari tangan Jinan dan langsung menyapu bawa bawa meja dan juga kursi. Jinan berpikir Hanan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti ini, tapi ternyata Hanan sangat ulet melakukan pekerjaan rumah, hanya saja Hanan tidak bisa kalau di suruh ke dapur.


Kalau Hanan ke dapur, bisa bisa roboh dapur mereka, hanya mau menggoreng telur saja udah berantakan semua apalagi kalau masak di dapur. Hadehhh...


Karena Hanan menyapu, kini Jinan yg membersihkan barang barang yg berdebu. Karna Jinan terlalu fokus dengan barang yg dibersihkan, sampai sampai Jinan tidak melihat ada meja di depan nya.


Sehingga membuat kaki Jinan tersandung dengan kaki meja.


Grebukk...


Jinan pikir tubuhnya sudah di tampung oleh lantai berdebu, ternyata tidak. Sebuah dada bidang nan kekar menyambut tubuh Jinan yang hampir terkulai ke lantai.


Hanan, Jinan tidak sadar bahwa Hanan berada di depan nya saat Jinan tersandung kaki meja. Tubuh Jinan jatuh dalam pelukan nya, mata mereka pun bertemu.


Jlebb...


Ada getaran getaran yg berbeda di hati Jinan.... Eakkk🤭


Walaupun Jinan sudah sadar, tapi ntah kenapa rasanya Jinan tidak ingin bangkit dari pelukan nya Hanan. Ini lah kali pertama Jinan memeluk suami nya sendiri setelah satu bulan menikah.


Mata elang Hanan menatap mata Jinan dalam dalam, begitu pun Jinan, "Kalau di lihat lihat, kamu ternyata cantik juga ya." Ntah sadar atau tidak, Hanan mengatakan sesuatu yg membuat Jinan salah tingkah.


Blussss


Pipi Jinan rasanya merosana mendengar kan perkataan Hanan. Jinan menjadi salah tingkah, dialihkan pandangan nya ke sembarang arah lalu Jinan bangkit dari pelukan itu.


"Astaghfirullah... Apa kata ku tadi? " Batin Hanan.


"Ehhh ehmm... Yaudah, mas. Ini udah mau selesai kok. Mas Hanan mandi aja, biar ntar bisa ke kantor. " Pipi Jinan rasanya masih bersemu karena perkataan mas Hanan tadi.


"Owhh ehmm iya, ya sudah, aku naik dulu ya." Bisa dilihat, mas Hanan juga terlihat salah tingkah.


Dengan senyuman yg merekah di wajah Jinan, Jinan melanjutkan pekerjaan nya. Rasanya pagi Jinan saat ini sangat indah, karna ini baru pertama kalinya Hanan memuji kecantikan nya. Tetapi yg paling penting, tadi Jinan jatuh ke pelukan Hanan, walaupun tak di sengaja, tapi Jinan merasa sangat senang.


"Semoga saja, kelak hatiku ini benar benar bisa menerimamu, khumairah ku." Lirih Hanan yang memandangi Jinan dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2