Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Siapa Dia?


__ADS_3

...๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก...


..."Telinga diciptakan agar tidak berprasangka pada seseorang dari apa yang kita lihat saja, melainkan dari apa yang kita dengar langsung dari orang nya"...


...#Bersamamu, Imamku...


...๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก...


Hari ini, Jinan berniat ingin membeli beberapa barang untuk pernikahan nya. Sebenarnya Jinan tidak ingin, tetapi ini perintah dari bunda jadi Jinan tidak bisa menolak nya.


"Jangan lupa ya sayang, ini dibeli di toko yg sering bunda kunjungi." Bunda Ulya memberikan sebuah catatan kecil kepada Jinan.


"Oke bunda ku sayang, kalau gitu Jinan jalan sekarang ya." Jinan menyambar catatan itu dari tangan bunda dan meraih tangan bunda untuk dicium.


Jinan pergi menggunakan mobilnya, ia menelusuri jalanan kota dengan kecepatan stabil. Menikmati suasana kota yg terbilang cukup macet, tetapi itu sudah biasa untuk Jinan.


.


.


.


Di sebuah taman, Hanan sedang duduk sendiri menikmati suasana taman yg asri dan sejuk. Tetapi tiba tiba hp nya berdering, tertulis nomor tidak terkenal menelpon nya. Hanan mengangkat nya saja karna bisa jadi itu telpon penting.


"Halo, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Hanan memulai pembicaraan.


"Wa'alaikumussalam." Jawab seorang wanita di sebrang sana.


Seketika Hanan terkejut mendengar jawaban dari seorang wanita yg menelpon nya itu.


"Rani.." Batin Hanan menatap ke sembarang arah.


"Hanan... Kamu masih disana kan?" Sambung wanita itu lagi.


"Eh iya, ada apa kamu menelpon ku?" Hanan tidak mau basa basi dengan pembicaraan itu.


"Santai dong Hanan, kita ketemuan sekarang ya, aku mau ngobrol sama kamu." Rani berbicara seolah tak punya malu karna saat ini ia itu sedang berbicara dengan calon suami orang.


"Tapi aku sibuk." Tolak Hanan tegas.


"Eitt sudah sudah tidak ada penolakan, aku akan menghampiri mu sekarang." Rani tidak mendengar kan perkataan Hanan sedikit pun, Rani langsung menutup telponnya dan melaju ke kantor Hanan.


Sedangkan Hanan hanya bisa diam tak bergeming sedikitpun. Hanan bingung harus bagaimana saat harus bertemu dengan Rani lagi.

__ADS_1


Begitu Rani sampai di kantor Hanan, Rani langsung melihat ke arah taman dan di taman terlihat Hanan sedang duduk sendiri.


"Heii." Sapa Rani dari arah belakang Hanan.


"Rani..." Sontak Hanan terkejut melihat Rani benar benar datang ke kantor nya.


"Kenapa? Kan sudah ku bilang kalau aku akan menghampiri mu." Rani tanpa basa basi langsung duduk di samping Hanan.


Sedangkan di sebrang sana terdapat seorang gadis sedang membeli beberapa barang. Hanya saja gadis itu tidak melihat Hanan.


"Ada perlu apa kau menghampiri ku?" Hanan bersikap dingin kepada Rani, karna Hanan pun sudah tau sekarang bahwa ia sudah tidak ada rasa pada Rani.


"Kenapa kau dingin seperti ini dengan ku?" Rani pun mulai bertanya tanya atas perbedaan sikap Hanan tersebut.


"Aku tidak bisa berlama lama, kalau ada yg ingin kau katakan maka katakanlah sekarang." Tegas Hanan lagi.


"Baiklah, aku ingin bertanya pada mu tentang perasaan mu pada ku." Tanpa basa basi Rani pun langsung blak blakan menanyakan perasaan Hanan.


"Apa maksud mu? Aku akan menikah, jadi jangan bertanya hal hal aneh pada ku." Timpal Hanan.


"Aku tau kau akan menikah, jadi apa jawaban mu." Desak Rani yg merasa belum puas dengan jawaban singkat dari Hanan.


"Sebelumnya aku minta maaf Rani, saat ini aku merasa sudah tidak memiliki rasa apa apa lagi dengan mu." Rani merasa tertohok mendengar jawaban dari mulut Hanan.


"Itu dulu Rani, sekarang aku sudah tidak ada rasa apapun dengan mu. Bahkan aku sudah ingin melupakan semua perasaan ku dimasa lalu itu." Hanan berbicara dengan tegas agar Rani mengerti.


"Tidak mungkin Hanan, kau tidak mungkin secepat itu melupakan perasaan mu padaku." Balas Rani tersenyum getir.


"Terserah kau percaya atau tidak, tapi memang ini lah nyatanya. Aku permisi, Assalamu'alaikum." Hanan pergi meninggalkan Rani sendirian di taman.


"Pembohong kau!! Kau itu pembohong Hanan. Kau sangat mencintai ku, kau tidak mungkin meninggal kan ku begitu saja." Rani merasa tidak terima dengan perkataan Hanan, Rani berteriak teriak menuduh Hanan seorang pembohong dan teriakan itu mengalihkan perhatian setiap orang yg ada di sekitar taman termasuk gadis yg tadi ada di toko.


Gadis yg ada di toko tadi sudah selesai membeli barang, ia beranjak ingin masuk ke dalam mobil. Tetapi tiba tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara wanita berteriak, apalagi wanita itu berteriak sambil menyebut nyebut nama calon suaminya, yaitu Hanan.


Ya, gadis yg ada di toko itu adalah Jinan. Jinan membeli semua barang yg diperintahkan bunda di toko yg berdekatan dengan kantor Hanan. Setelah melihat ke arah Rani yg sedang berteriak menyebutkan nama Hanan, pandangan Jinan teralihkan kepada sosok Hanan yg sedang berjalan menuju kantor.


"Jadi ini kantor pria dingin itu. Lantas, siapa wanita yg berteriak teriak memanggil nama nya itu? Apakah dia pacarnya?" Jinan terus menebak nebak tanpa mencari tau lebih dahulu.


Jinan mencoba untuk mengabaikan nya saja, karna Jinan merasa tidak perlu ikut campur dengan masalah pribadi Hanan.


Jinan tidak memperdulikan nya lagi, Jinan langsung masuk ke dalam mobil nya dan meluncur kembali ke rumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Jinan meletakkan semua barang barang yang di belinya tadi di atas meja. Karna merasa lelah, Jinan masuk ke dalam kamar nya untuk mengganti pakaian dengan pakaian syar'i rumahan.


"Kira kira, siapa wanita tadi ya? Apakah benar kalau wanita itu adalah pacarnya Hanan?" Ternyata Jinan masih memikirkan kejadian siang tadi.


"Seperti nya aku harus mencari tau, sebelum semua nya menjadi berantakan. Jika memang dia adalah pacar nya pria dingin itu, maka aku akan ikhlas melepaskan nya dan membatalkan pernikahan kami. Karna aku tidak ingin gara gara aku, hubungan mereka jadi hancur berantakan." Jinan hanya berdialog dengan dirinya sendiri, ada kecemasan tersendiri dalam hati Jinan.


.


.


.


.


Jinan sudah keluar dari kamarnya dengan gamis longgar nya dan langsung menghampiri bunda di dapur. Di dapur cukup banyak bahan makanan untuk memasak.


"Eh Jinan, besok calon mertua kamu mau kemari katanya nak." Ucap bunda setelah aku sampai di dapur.


"Maksudnya Tante Ais bunda?"


"Kok Tante sih, kamu harus membiasakan memanggil nya dengan sebutan mama." Timpal bunda mencolek hidung Jinan.


"Katanya sih mau nunjukin gaun pernikahan sayang, ntah lah bunda juga gak tau pasti tujuannya kemari itu apa." Jelas bunda tersenyum tipis.


"Ya sudah kalau gitu, besok Jinan ambil cuti lagi ya bunda."


"Loh jadi kamu belum ambil cuti? Kan pernikahan kamu dengan Hanan tinggal satu minggu lagi sayang." Bunda protes dengan Jinan karna Jinan belum mengambil cuti menjelang pernikahan nya.


"Yah Jinan kan gak bisa lama lama bunda cutinya, karna di kantor juga masih banyak pekerjaan." Jinan menjelaskan baik baik pada bunda.


"Oh ya sudah kalau gitu. Tapi ingat ya, kamu harus secepatnya mengambil cuti. Karna pernikahan kamu dan Hanan sudah di depan mata." Balas bunda tersenyum tulus.


.


.


.


...**BERSAMBUNG...


...HAI HAI HAI GAESSS...


...INI CERITANYA UDAH AKU REVISI YA, TAPI KALAU MASIH ADA TYPO MOHON DIMAAFKAN, NGGEH๐Ÿ™๐Ÿ˜Š**...

__ADS_1


__ADS_2