
...❤❤❤...
..."Sebaik baik dan sesabar sabarnya seorang wanita, pasti gak akan ada yang rela di dua kan. Sekalipun wanita itu gak sempurna"...
...#Bersamamu, Imamku...
...❤❤❤...
Setelah selesai mengobrol dengan Tante Mira, Jinan langsung pamit pulang ke rumah. Karena hari juga sudah sore, Jinan juga harus menyiapkan makan malam untuk Hanan.
Saat Jinan sampai di rumah, Jinan belum mendapati mobil Hanan di garasi. Itu berarti Hanan belum pulang ke rumah.
"Ternyata belum pulang." Lirih Jinan saat melihat garasi masih kosong.
Jinan pun masuk ke dalam rumah untuk membereskan rumah sekaligus menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Saat Jinan sedang membersihkan rumah, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sebagai pertanda ada tamu yang datang berkunjung. Dengan sigap Jinan pun menghentikan pekerjaan nya, meletakkan alat bersih bersihnya dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.
Tokkk tokk tokk
"Iya. Sebentar!" Tutur Jinan saat masih berjalan menuju pintu.
"Iya, ada ap.. " Jinan terkejut tanpa meneruskan kalimatnya, saat melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu rumahnya saat ini.
"Rani?"
"Ada perlu apa kamu kesini?" Sambung Jinan.
Tanpa menjawab pertanyaan Jinan, Rani langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Jinan. "Owh jadi ini rumahnya Hanan. Ternyata dugaan aku bener, kalau rumah ini dihadiahkan Hanan untuk istrinya."
"Maaf, ada keperluan apa ya kamu kesini?" Tanya Jinan sekali lagi.
Rani pun mengarahkan tubuhnya ke arah Jinan, "Aku? Aku kesini cuma mau bersilaturahmi aja, kok."
"Dan sebenarnya mau nawarin sesuatu hal yang menarik, sekaligus info buat kamu." Sambung Rani meletakkan jari telunjuknya ke arah wajah Jinan.
"Info? Info apa?" Tanya Jinan penasaran.
"Hemm... Penampilan nya aja hijabers, apa kayak gini cara kamu menyambut seorang tamu? Setidaknya persilahkan lah tamu kamu ini duduk, Jinan!" Sindir Rani.
Mendengar celotehan Rani, sebenarnya Jinan eneg, tapi ia tetap sabar karena Jinan tidak ingin setan tertawa saat melihat dirinya terbawa emosi.
"Silahkan duduk!" Titah Jinan kemudian.
"Gitu, dong!"
"Nah, aku kesini mau kasi info menarik buat kamu. Dan semua ana ada hubungannya sama suami kamu, Hanan." Balas Rani.
"Gak usah bertele tele! Langsung kamu bilang aja info apa yang mau kamu kasi tau!" Tutur Jinan mulai naik pitam.
"Ouww... Kayaknya nyonya Abbasyi ini udah gak sabar, ya. Sabar, dong!"
"Jadi gini, aku tuh udah tau permasalahan yang lagi di hadapi Hanan di kantornya. Dan aku juga tau, kalau Hanan butuh banyak uang untuk ganti rugi semua uang klien. Apalagi sebentar lagi waktu nya pembagian gaji karyawan, pastinya Hanan butuh banyak biaya, dong."
"Nah, aku berinisiatif buat jadi investor di perusahaan Hanan. Dengan penawaran yang sangat menarik dan bagus. Kamu pasti tau, kalau aku ini adalah anak seorang konglomerat yang sangat terkenal di Surabaya. Jadi, mudah aja buat aku ngebantu Hanan dalam masalah keuangannya." Jelas Rani panjang lebar dengan nada penuh kesombongan.
"Nih orang maksudnya apa, coba? Dia mau pamer kekayaan? Huff, dasar!" Dengus Jinan dalam hati.
"Tapi, semua itu gak ada yang gratis pastinya. Aku bakalan bantu keuangan Hanan, dengan syarat Hanan harus menikah sama aku. Ya, Hanan gak perlu ceraikan kamu, Jinan. Hanan cukup jadiin aku istri keduanya aja. Gimana? Kamu setuju kan sama aku. Semua ini kan juga demi nama baik suami kamu dan perusahaan nya!" Ujar Rani. Kali ini Jinan benar benar dibuat naik pitam oleh kata kata Rani, karena perkataan Rani sudah sangat kelewatan.
"Jaga bicara kamu, Rani? Kamu tau, kan. Mas Hanan udah nikah sama aku, masa kamu mau jadi yang kedua? Wanita mana yang rela di duain, Ran?" Balas Jinan tak Terima.
__ADS_1
"Sebaik baik dan sesabar sabarnya seorang wanita, pasti gak akan ada yang rela di dua kan. Sekalipun wanita itu gak sempurna." Sambung Jinan tegas.
"Sekarang! Kamu keluar dari rumah aku!" Titah Jinan sambil berteriak.
Rani hanya diam mematung dan menatap Jinan dengan tatapan sinis dan tidak senang.
"Apa kamu gak denger? Keluar dari rumah aku sekarang, Rani!" Teriak Jinan sekali lagi.
"Oke! Aku akan keluar. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, tawaran aku akan menjadi pertimbangan untuk Hanan. Karena aku paham betul, Hanan adalah sosok pria yang ambisius. Apalagi soal bisnisnya, ia rela ngelakuin apa pun demi mempertahankan bisnis yang dia bangun dari nol." Ujar Rani sewot.
Dengan perasaan kesal dan puas, Rani pun keluar dari rumah Jinan, tak lupa tatapan sinis khas Rani yang diberikan pada Jinan.
...----------------...
Begitu emosinya sudah membaik, Jinan pun melanjutkan pekerjaannya dan menyiapkan makan malam untuk Hanan.
"Silahkan dimakan, mas. Makan malamnya!" Tutur Jinan menghidangkan makan malam untuk Hanan.
"Terima kasih, sayang." Jawab Hanan tersenyum, dan hanya dibalas senyuman tipis oleh Jinan.
"Kayaknya masih kesel." Batin Hanan saat melihat ekspresi wajah Jinan.
Di sepanjang makan malam, hanya ada suara piring dan sendok yang beradu di atas meja. Sementara dua makhluk yang sedang makan di meja tersebut, hanya diam tak bersuara. Antara sangat menikmati makanan atau memang masih terdapat kekesalan disitu.
Begitu Hanan selesai menghabiskan makan malamnya, Jinan pun membereskan bekas makan mereka dan mencucinya. Sementara Hanan duduk di ruang tengah sambil menonton acara tv.
"Mas mau ngopi?" Tanya Jinan yang ikut duduk di samping Hanan.
Hanan pun menoleh dan tersenyum, "Boleh! Kalau gak ngerepotin kamu."
"Yaudah! Tunggu sebentar, biar Jinan buatin, ya!" Jawab Jinan bangkit dari tempat duduknya.
"Ini, mas!"
"Makasih, sayang."
Hanan pun menikmati kopi buatan Jinan itu seraya menonton acara TV. Tidak ada pembicaraan apa pun diantara mereka. Karena Hanan pun masih takut ingin bicara pada Jinan. Hanan takut kalau Jinan masih kesal soal masalah tadi siang.
Tetapi, tanpa basa basi apapun, Jinan memulai pembicaraan terlebih dahulu. Dan membuat Hanan menghentikan aktivitas menonton nya.
"Mas! Jinan mau ngomong, boleh?" Tanya Jinan.
Hanan memutar tubuhnya ke arah Jinan, "Boleh, dong. Mau ngomong apa, sayang?"
"Ehmm... Jadi gini, sebenarnya ini juga sekaligus minta izin mas Hanan." Hanan menatap Jinan dengan tatapan penasaran.
"Jinan pengen banget ngerintis usaha mas. Apalagi sekarang kan ekonomi kita lagi menurun. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang semakin naik." Jelas Jinan.
"Usaha? Mau usaha apa, sayang?" Tanya Hanan bingung.
"Ya apa aja, mas. Yang penting menghasilkan, bukan hanya sekedar menghasilkan, tapi Jinan mau usaha kita nanti, dapat menjadi jembatan mendapatkan rezeki untuk orang orang yang kesusahan di luar sana." Balas Jinan antusias.
"Ngerintis usaha itu gak mudah, sayang. Kamu tau sendiri kan, ada banyak hal hal yang harus kita pikirkan matang matang mengenai hal ini."
"Banyak resikonya, belum lagi ntar kalau gagal!" Sambung Hanan pesimis.
"Ihh kan belum kita coba, mas." Jawab Jinan.
"Iya, memang belum kita coba! Tapi kan kita juga gak bisa menjamin keberhasilan usaha itu, sayang." Jawab Hanan, sementara wajah Jinan sudah terlihat kesal lagi.
"Yaudah, gini aja. Sok atuh kalau kamu mau merintis usaha, mas izinin kamu merintis usaha." Sambung Hanan membuat Jinan terperangah mendengar sambungan ucapan Hanan.
__ADS_1
"Beneran, mas?" Tanya Jinan memastikan.
"Iya, sayang. Tapi mas gak ikut ikutan, karena mas kan juga harus ngurusin perusahaan mas yang lagi bermasalah." Balas Hanan.
"Yahh, tapi kan Jinan pengennya punya usaha bareng sama suami, mas. Kalau Jinan sendirian yang merintis usaha ini, Jinan mana ngerti, mas." Ujar Jinan lesu.
"Nah, ini! Kamu gak ngerti soal bisnis, tapi pengen punya bisnis. Akan susah, sayang." Jawab Hanan yang sudah mulai lelah berdebat dengan Jinan.
"Gak susah, mas. Kan ada Allah! Bismillah, kita usaha sama sama. Jangan lupa ikhtiar disertai sama doa, insya Allah
hasilnya pasti gak mengecewakan."
Apalah daya Hanan saat ini, jika wanita sudah keras kepala dengan keinginan nya, tidak bisa diganggu gugat.
"Yaudah, iya! Oke, mas turutin mau kamu." Jawab Hanan pasrah.
"Makasih ya, mas. Kamu baik banget, deh. Makasih ya udah mau dukung aku." Tutur Jinan memeluk Hanan karena senang.
"Iya, sayang. Berarti udah gak marah, kan?" Jinan menautkan alisnya, mencoba mencerna perkataan Hanan.
"Marah? Siapa yang marah?" Tanya Jinan bingung.
"Kamu lah! Kan kamu tadi siang ngambek sama mas."
"Marah kenapa?" Tanya Jinan masih belum mengerti.
"Karena Rani, kan?" Balas Hanan.
"Ooo itu. Ya abisnya kamu, sih. Ngapain coba berhubungan sama cewek genit kayak dia." Ujar Jinan kesal.
"Loh, kok mas yang disalahin. Kan Rani nya yang cari masalah duluan." Elak Hanan membela diri.
"Ya tetep aja, mas Hanan yang salah. Udah tau Rani kayak gitu, kenapa mas Hanan gak jauhin dia aja." Titah Jinan.
"Mas udah jauhin dia, Sayang. Tapi dianya tu yang masih ngejar ngejar mas."
"Terus mas Hanan baper lagi. Iya, kan."
"Ya Allah, sayang. Enggak!"
"Bohong banget!" Celetuk Jinan.
"Astaghfirullah.Yaudah, deh. Terserah kamu aja. Cewek memang selalu benar." Jawab Hanan pasrah.
"Ihhh kok gitu, mas." Protes Jinan.
"Terserah kamu, sayang. Mas mau tidur, ngantuk!" Balas Hanan yang sudah berjalan ke kamar meninggalkan Jinan.
"Huffttt... Sebel banget, deh!" Dengus Jinan kesal.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
S a l a m H a n g a t,
Za
__ADS_1