
...๐งก๐งก๐งก...
..."Kepercayaan yang dihancurkan dalam sekejap adalah ibarat kertas yang dibakar menjadi abu yang gak bisa dikembalikan seperti bentuk sebelumnya"...
...#Bersamamu, Imamku...
...๐งก๐งก๐งก...
Saking fokusnya dengan dokumen itu, Hanan sampai tidak sadar waktu sudah malam. Hanan pun berniat untuk pulang, karena Hanan takut Jinan mencemaskan nya di rumah. Apalagi Hanan belum ada memberi kabar pada Jinan.
"Kayaknya aku pulang dulu, deh, Bay. Takut istriku khawatir." Ujar Hanan.
"Haduhh! Iya iya yang udah punya istri. Kita ini mahh apa atuh, masih jomblo." Jawab Bayu memelas.
"Hahaha... Makanya buruan nikah, Bay."
"Iya, besok! Kalau udah ketemu jodohnya." Jawab Bayu.
"Yaudah! Aku pulang dulu, ya. Makasih buat bantuannya." Ujar Hanan.
"Santai lah, Hanan."
Bayu pun mengantarkan Hanan pulang sampai ke depan rumah. Tetapi saat sampai di depan, Hanan terkejut karena ternyata hujan lebat mengguyur tanah.
"Ya Allah... Hujan!" Ucap Hanan meratapi air yang jatuh dengan deras itu.
"Wahh iya, Han. Jadi gimana dong? Bahaya loh kalau mengendarai mobil hujan hujan gini. Apalagi angin nya lebat kayak gini." Tutur Bayu.
"Iya, Bay. Terus aku gimana, ni?"
"Yaudah kamu telpon aja Jinan. Bilang kalau kamu ada di rumah aku dan gak bisa pulang karena hujan lebat." Balas Bayu.
"Oh iya, gitu aja kali ya!" Hanan pun mengeluarkan handphone nya dari saku dan menelpon nomor Jinan untuk memberi kabar.
...* * *...
"Gimana? Udah dikabarin?" Tanya Bayu.
"Udah, kok."
"Yaudah, ayo kita masuk." Ajak Bayu.
Sampai di dalam, Bayu pun menyiapkan dua gelas kopi dan cemilan untuk mengganjal perut.
"Oh iya, Han. Gimana kabar si Rani?" Tanya Bayu.
"Ngapain malah nanyain Rani? Gak penting banget, Bay." Jawab Hanan sinis.
"Yaelah, Han. Kan aku cuma nanya."
"Dia tadi dateng lagi ke kantor. Dan kamu tau Bay, apa yang dilakuin Rani?" Bayu menggeleng.
"Dia ngajuin tawaran sebagai investor si kantor aku." Sambung Hanan.
"Wahh.... Bagus dong, Han. Kayak yang kita tau sendiri, papa Rani kan tajir, udah gitu Rani anak satu satunya lagi. Udah pasti kalau Rani jadi investor, perusahaan kamu bakalan untung besar." Jawab Bayu sangat antusias.
"Hah? Gila kamu, Bay. Gak akan, lah. Sampai kapan pun aku gak akan mau berhubungan lagi sama Rani. Mau itu urusan pekerjaan ataupun apa itu. Meskipun tawaran Rani itu menarik." Sahut Hanan kesal.
"Ya ampun, Han."
"Tapi apa yang kamu lakuin bener juga sih, Han. Gimana pun juga, kamu kan udah nikah sama Jinan. Setidaknya jaga perasaan Jinan, kalau Jinan tau Rani adalah investor kamu, pasti Jinan bakalan cemburu." Sambung Bayu.
__ADS_1
"Nah itu kamu pinter." Jawab Hanan, Bayu hanya menatap Hanan malas.
......................
Di rumah, Jinan tidak bisa tidur karena terus memikirkan Hanan. Hanan memang sudah memberinya kabar, tapi hati Jinan masih belum tenang rasanya.
"Haduh... Aku kenapa, sih? Kok perasaan aku gak enak gini, ya? Semoga aja gak terjadi apa apa sama mas Hanan, ya allah." Ucap Jinan mencoba berpositif thinking.
Karena hati Jinan terus gelisah memikirkan Hanan, akhirnya Jinan pun memutuskan untuk mengambil wudhu dan sholat isya', karena kebetulan Jinan belum sholat isya'.
Di rakaat terakhir, Jinan terus berdoa agar Hanan baik baik saja dan tidak ada masalah baru lagi. Jinan terus berdoa untuk rumah tangga nya dengan Hanan.
Begitu Jinan selesai sholat, belum lagi melepaskan mukenah dari wajahnya, handphone Jinan berbunyi. Dan tertera nomor tanpa nama disitu, yang isinya mengirim foto.
Jinan berusaha cuek, tetapi spam chat dari nomor tak dikenal itu sangat mengganggu Jinan. Akhirnya dengan terpaksa, Jinan pun membuka spam chat tersebut. Karena Jinan pun penasaran dengan isi pesannya.
Saat Jinan membuka pesan itu, Jinan dikejutkan oleh foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu.
"Mas Hanan!" Lirih Jinan memandangi foto itu.
"Enggak! Gak mungkin!"
"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah... Enggak! Aku pasti lagi gak fokus, karena kepikiran mas Hanan."
Jinan berusaha menepis semua pikiran buruk yang memenuhi otaknya setelah melihat foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu.
"Tapi... Ini kenapa mirip banget sama mas Hanan? Apa mungkin mas Hanan...." Lagi lagi Jinan dibuat gelisah karena foto itu.
"Tapi, siapa wanita ini? Siapa wanita yang tidur sama mas Hanan ini, ya allah?" Teriak Jinan sambil terisak, karena sudah tidak bisa menahan sakit hatinya.
"Siapa wanita ini? Dan ini, apa ini memang mas Hanan? Bajunya, gaya rambutnya, dan postur tubuhnya, kenapa sangat mirip sama mas Hanan?" Jinan terus dibuat bingung dengan foto itu.
"ENGGAK... INI GAK MUNGKIN! INI BUKAN MAS HANAN." Teriak Jinan frustasi seraya menggeleng geleng kan kepalanya tak percaya.
๐ง +62 813 **** ***6
*Malam ini suami kamu lagi bersenang senang sama aku, Jinan
Gimana? pasti kamu kecewa ya? Suami yang kamu bangga banggakan, ternyata tidur sama wanita lain
Eits ralat, aku ini bukan wanita lain. Aku adalah wanita pertama yang dicintai Hanan*.
Kurang lebih begitulah isi pesan whatsapp yang masuk ke handphone Jinan.
"Rani!" Lirih Jinan menangkap sebuah nama setelah membaca isi pesan itu.
"Ini... Ini berarti Rani sama mas Hanan? Mereka... Mereka tidur bareng?" Seketika tubuh Jinan luruh ke lantai. Rasanya tubuh mungil itu sudah tidak berdaya saat melihat foto yang dikirim Rani dan juga pesan itu.
"Kenapa, mas? Kenapa kamu tega sama aku, mas. Hikksss... " Isak Jinan.
Hati Jinan rasanya saat ini sakit dan hancur berkeping-keping. Jinan tak menyangka kalau Hanan tega melakukan hal itu pada dirinya. Jinan juga tidak menyangka kalau Hanan bisa melakukan perbuatan se kotor itu.
Sepanjang malam Jinan hanya menangis tak berdaya di sebuah kamar yang menjadi istana rumahnya dan Hanan. Dada Jinan sampai sesak rasanya saat mengingat kalimat demi kalimat yang dikirim Rani.
......................
Pagi ini, setelah malam yang panjang dan dipenuhi air mata, Jinan kembali beraktivitas. Hanya saja, semangat Jinan tidak seperti biasanya. Bahkan tubuh Jinan saat ini rasanya lemas karena menangis semalaman.
"Assalamu'alaikum, sayang." Ucap Hanan yang sudah sampai di rumah.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Jinan datar dan terlihat sinis pada Hanan.
__ADS_1
"Wahh kamu buat sarapan apa, sayang?" Tanya Hanan merangkul perut Jinan dari belakang.
"Lepasin, mas!" Ucap Jinan seraya menghempaskan tangan Hanan dari perutnya.
Seketika Hanan terkejut dengan sikap Jinan, "Kenapa, sayang?"
"Hah? Sayang? Apakah masih layak kamu manggil aku dengan sebutan itu, mas?" Ujar Jinan murka.
"Maksud kamu? Maksudnya apa, sayang?" Tanya Hanan bingung.
"Coba kamu pikir baik baik, mas. Apa kesalahan kamu sama aku. Tadi malam! Kamu kemana tadi malam, mas?" Balas Jinan.
"Kan mas udah ngasi kabar ke kamu, sayang. Mas nginep di rumah Bayu karena kejebak hujan lebat tadi malam." Jawab Hanan yang tak mengerti apa apa.
"Hah? Ke rumah Bayu? Ke rumah Bayu atau tidur sama Rani?" Sambung Jinan.
Degg, Hanan terkejut mendengar penuturan Jinan, "Astaghfirullah... Maksud kamu apa, sayang? Tidur sama Rani? Maksudnya apa?"
"Ini apa, mas." Jawab Jinan seraya menyodorkan sebuah foto yang dikirim Rani tadi malam.
"Kamu bohong sama aku kan, mas? Ini memang kali pertama kamu bohongin aku, tapi ini adalah kebohongan terbesar yang bener bener ngancurin hati aku, mas." Tutur Jinan.
"Kepercayaan yang dihancurkan dalam sekejap adalah ibarat kertas yang dibakar menjadi abu yang gak bisa dikembalikan seperti bentuk sebelumnya"
"Sayang! Kamu harus dengerin penjelasan dari mas dulu. Mas gak bohong sama kamu, mas beneran nginep di rumah Bayu." Ujar Hanan mencari pembelaan.
"Buktinya udah jelas, mas. Kamu liat ini! Bener bener mirip sama kamu, mas!"
"Masa kamu lebih percaya sama foto gak jelas kayak gitu daripada sama suami kamu sendiri, Ji!" ujar Hanan tak terima.
"Tapi bukti nya udah nyata, mas."
"Aku benci sama kamu, mas. Aku benci sama kamu, SYAUQI HANAN ABBASYI." Teriak Jinan frustasi.
Jinan pun meninggalkan Hanan. Jinan masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Sampai di dalam kamar, Jinan mengemasi semua barangnya ke koper. Ntah kemana Jinan mau pergi, tetapi Jinan sudah mengemasi semua barangnya. Sementara itu, Hanan masih terus berusaha menjelaskan pada Jinan di luar sana.
"Jinan! Sayang, dengerin mas dulu. Mas bisa jelasin semua nya." Teriak Hanan dari luar kamar.
Hanan masih diam tak menjawab apapun. Sampai Jinan selesai mengemasi barang barangnya dan keluar kamar dengan membawa koper milik nya juga.
"Sayang dengerin mas dulu, ya!" Tutur Hanan meraih tangan Jinan.
"Kamu mau kemana bawa koper?" Tanya Hanan yang mulai menyadari koper Jinan.
"Aku mau ke rumah bunda."
"Aku gak akan balik ke rumah ini sampai kamu bisa nunjukkin bukti kalau semua yang kamu omongin bener, mas. Selama bukti itu gak ada, maka aku gak akan balik ke rumah ini. Bahkan aku gak akan balik ke dalam kehidupan kamu, mas." Ujar Jinan.
Selesai mengatakan hal itu, Jinan pun meninggalkan Hanan tanpa sepatah kata lagi. Tindakan Jinan itu memang salah, Jinan sadar itu. Tetapi Jinan tidak bisa membohongi hatinya yang hancur. Saat ini Jinan butuh seseorang yang bisa memberikan semangat untuk nya.
"Maafin aku, mas. Maafin aku. Aku gak tahan kalau terus tinggal bareng sama kamu. Setiap kali aku ngeliat wajah kamu, aku selalu ngeliat pengkhianatan, mas. Sama kayak yang terjadi di foto itu." Batin Jinan disertai isakan tangis yang menyesakkan dada.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
__ADS_1
S a l a m H a n g a t,
Za