Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Salah Paham


__ADS_3

Sesuai permintaan bunda, hari ini Jinan akan mengambil cuti beberapa hari sebelum pernikahan nya. Apalagi hari ini bunda bilang kalau mamanya Hanan akan datang berkunjung.


"Hufftt... Kenapa aku capek banget ya." Lenguh Jinan yg baru saja selesai mencuci baju kotor nya.


Jinan mengambil beberapa berkas di atas nakas dan juga mengambil laptop. Jinan awalnya berniat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nya, tetapi ia tunda dulu karna ia ingin menyegarkan tubuhnya dulu dengan mandi.


.


.


.


Tokk tokk tokk...


Terdengar suara pintu kamar Jinan diketuk berkali kali tetapi Jinan tidak membuka nya.


"Jinan..." Ucap bunda dari balik pintu.


"Ji... Itu mama Ais udah datang sayang, cepetan keluar ya." Lagi lagi tidak ada jawaban. Tetapi bunda bisa mendengar suara gemercik air dari dalam kamar Jinan, itu berarti Jinan sedang mandi.


Karna bunda sudah mengetahui kalau Jinan sedang mandi, bunda kembali ke ruang tamu untuk menjamu mama Ais.


"Masya Allah kayaknya hijab syar'i yg ini cocok deh untuk pasangan gamis ku ini." Jinan sudah selesai mandi dan sudah memakai gamis syar'i berwarna maron. Dan saat ini Jinan sedang bingung memilih hijab yg sesuai.


Setelah sibuk memilih hijab yg sesuai, akhir nya pilihan Jinan jatuh kepada hijab syar'i berwarna moca. Dengan bergegas Jinan memakai hijab tersebut dan langsung menghampiri bunda di luar.


.


.


.


"Iya ya bunda, kayaknya yg ini bagus banget." Di ruang tamu terdapat dua wanita paruh baya sedang memilih baju baju pernikahan yg bernuansa syar'i elegan.


"Tapi Jinan lebih suka warna biru gitu, mbak." Jawab bunda yg kurang setuju dengan pilihan mama Ais.


"Benarkah? Kalau begitu warna kesukaan Jinan dan Hanan sama dong."


"Masya Allah, jadi nak Hanan juga suka warna biru ya mbak." Suara bincang bincang kedua ibu tersebut pun terlihat sangat seru dan nyambung dengan topik pembicaraan.

__ADS_1


Jinan yg baru keluar dari kamar nya melihat mama Ais yg sudah sampai di rumahnya, Jinan langsung menghampiri nya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Jinan sopan dari arah kamar menuju ruang tamu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab bunda Ulya dan mama Ais kompak.


"Eh sayang, sini sini duduk di samping mama." Mama Ais mempersilahkan Jinan untuk duduk di samping nya.


Jinan menurut saja, di raih nya tangan mama Ais setelah itu dicium tangan mama Ais oleh Jinan. Mama Ais pun membalas nya dengan memeluk Jinan dan mengecup kening Jinan.


"Huumm mama kangen sama mantu mama ini." Mama Ais sudah tidak canggung lagi menyebut Jinan dengan gelar mantu, dan Jinan juga diminta untuk memanggil Ais dengan sebutan mama.


"Iya ma, Jinan juga kangen sama suara nyaring mama." Jinan pun tak kalah blak blakan nya dengan mama Ais, tanpa ragu Jinan membalas perkataan mama Ais dengan senyum merekah.


"Wahh memang mantu ku ini idaman ya bunda." Timpal mama Ais melirik ke arah bunda ulya, bunda hanya tersenyum manis.


"Oh iya sayang, ini bunda udah bawa beberapa pakaian pengantin syar'i buat kamu, Jinan pilih sendiri ya mau pakai yg mana. Tadi bunda kamu bilang, kamu suka warna biru." Mama Ais menunjukkan beberapa baju yg harus dipilih oleh Jinan.


Jinan tampak bingung memilih baju baju tersebut, tetapi setelah melihat lihat nya, pilihan Jinan jatuh kepada gaun pengantin syar'i yg berwarna biru dengan kombinasi putih. Mama Ais dan bunda pun setuju dengan pilihan Jinan itu, karna Hanan juga menyukai warna itu kata mama Ais.


.


.


.


Jinan pergi ke supermarket dengan berjalan kaki karna jarak supermarket dengan rumah terbilang dekat. Jinan menelusuri jalanan kompleks sambil menikmati suasana sekeliling nya.


"Hufftt.. Alhamdulillah akhirnya selesai juga ni membeli barang barang kebutuhan ku untuk satu bulan." Jinan tersenyum melihat barang belanjaan nya yg sudah cukup untuk satu bulan itu.


Jinan keluar dari supermarket dengan segera untuk kembali ke rumahnya. Tetapi saat Jinan sedang berjalan menelusuri jalanan kompleks, perhatian Jinan teralihkan oleh seseorang.


"Dia... Kenapa ada disini?" Jinan bertanya tanya saat melihat Hanan sedang berdiri dipinggir danau dekat jalanan kompleks.


"Apakah ini waktu yang tepat ya untuk mengatakannya?" Jinan kembali bingung dengan perasaannya.


Tanpa membuang waktu lagi, Jinan mendekati Hanan di pinggir danau. Berharap semoga saja Hanan tidak bersikap dingin dengannya.


"Ehm... Assalamu'alaikum." Ucap Jinan saat sudah berada tepat di belakang Hanan.

__ADS_1


"Kenapa kau ada disini?" Lanjut Jinan lagi, tetapi Hanan mengacuhkan nya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Hanan singkat.


"Ishhh dasar, pria dingin." Decak Jinan kesal dengan suara yg pelan tetapi ternyata masih bisa di dengar oleh Hanan.


"Apa kau bilang." Seketika Hanan berbalik badan dan langsung menatap Jinan dengan tatapan tajam.


"Eh ehm eh enggak kok." Jinan malah jadi kikuk karna ternyata Hanan mendengar perkataan nya tadi.


"Oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu yg serius dan ini menyangkut tentang pernikahan kita." Jinan mulai berbicara dengan nada serius.


"Duduk lah." Balas Hanan menyuruh Jinan untuk duduk di sebuah kursi panjang yg ada di pinggir danau.


Jinan pun duduk di kursi tersebut sedangkan Hanan tetap pada posisi nya berdiri di depan Jinan. Dengan keyakinan penuh, Jinan berusaha untuk mengungkapkan sesuatu yg sudah membuat nya penasaran dua hari terakhir ini.


"Jadi begini, aku tidak memaksa mu untuk menikah dengan ku. Jadi jika kau merasa terpaksa, maka aku ikhlas kalau kau ingin membatalkan pernikahan kita." Tanpa ragu Jinan langsung mengungkapkan unek unek yg mengganjal hati dan pikiran nya itu.


"Lagi pula, mungkin kau sudah mencintai wanita lain. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan mu dengan wanita itu dan aku juga tidak ingin menghancurkan perasaan wanita itu. Jadi, sebelum terlambat ada baiknya kita batalkan pernikahan ini." Degggg, seketika hati Hanan merasa sakit dan dada nya mulai sesak saat mendengar perkataan Jinan itu. Ntah apa alasannya, tetapi perkataan Jinan barusan membuat Hanan yg seperti es batu sekarang seolah olah meleleh.


"Apa maksud mu? Kau membicarakan apa? wanita? Wanita apa maksud mu?" Hanan mulai terpancing dan merasa risih dengan perkataan Jinan yg menurut nya tak sedap di dengar.


"Maksudku adalah, batalkan saja pernikahan kita kalau kau terpaksa. Dan kembali lah kepada wanita yg kau cintai itu."


"Kau ini benar benar bawel sekali dan kau juga berbicara ngelantur. Apa maksud mu mengatakan hal itu?" Emosi Hanan mulai memuncak karna Jinan terus mengatakan hal yg sama.


Lagi lagi Hanan merasa risih bahkan hatinya terasa hancur saat Jinan ingin membatalkan pernikahan mereka. Apalagi pernikahan mereka sudah di depan mata dan persiapan nya juga sudah 80%.


.


.


.


...BERSAMBUNG... ...


...MAKIN TEGANG GAESS...


...AYO AYO DI LIKE AND KOMEN YA 😉...

__ADS_1


__ADS_2