Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Investor Gagal


__ADS_3

Hari ini Hanan lebih bersemangat ke kantor. Bukan hanya karena sudah mendapatkan pemenuhan janji Jinan saja, tapi hari ini adalah pertemuan Hanan dengan investor yang dibicarakan Andri semalam.


"Pak!" Panggil Andri menghentikan langkah Hanan saat di koridor kantor.


"Iya. Ada apa?" Jawab Hanan.


"Hari ini pertemuan kita dengan investor yang saya bicarakan kemarin. Dan investor itu udah nunggu bapak dari tadi." Tutur Andri.


"Benarkah? Dia udah nunggu! Terus kenapa kamu gak nelpon saya dari tadi!" Jawab Hanan panik.


"Maaf, pak! Soalnya investor itu juga gak ada ngasi kabar. Tiba tiba dia datang ke kantor tanpa konfirmasi sama saya sebelumnya." Balas Andri.


"Yaudah! Sekarang dia ada dimana?"


"Ada di ruang rapat, pak!"


"Kalau gitu, kamu sekarang ikut saya!" Titah Hanan.


Andri pun mengangguk dan mengikuti langkah Hanan menuju ruang rapat untuk menemui investor itu. Saat sampai di ruang rapat, Hanan dikejutkan oleh sosok investor itu.


"Rani!" Tegur Hanan.


Wanita yang dipanggil Hanan dengan sebutan Rani itu pun memutar posisi tubuhnya menghadap Hanan.


"Heii, Hanan! Kamu udah sampe ternyata. Aku udah nunggu kamu dari tadi, loh." Jawab Rani seraya melangkah mendekati Hanan.


"Jadi kamu investor yang menawarkan tawaran menarik ke perusahaan saya." Balas Hanan.


"Iya! Aku yang akan menjadi investor di perusaan kamu ini. Gimana? Kamu pasti seneng, kan?"


"Hem, dasar! Ternyata kamu ini benar benar wanita ambisius, ya. Kamu selalu memaksakan untuk mengejar sesuatu yang kamu inginkan. Padahal sudah jelas, sesuatu yang kamu inginkan itu udah jadi milik orang lain dan gak akan mungkin jadi milik kamu." Sambung Hanan.


"Ya! Aku memang ambisius, Hanan. Dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik aku. Aku gak akan biarin orang lain menikmati sesuatu yang seharusnya jadi milik aku. Aku gak segan segan merebutnya kembali, termasuk dari istri kamu." Jawab Rani penuh ambisius.


"Terserah kamu! Intinya mulai hari ini, bahkan detik ini, aku gak akan pernah mau punya hubungan apapun sama kamu. Termasuk urusan pekerjaan, Rani" Jelas Hanan sejelas jelasnya.


"Pikirkan baik baik, Hanan. Saat ini kamu lagi mengalami masalah dengan perekonomian kamu. Dan kamu sangat membutuhkan uluran tangan untuk membantu masalah itu."


"Dan sekarang, aku datang dengan tawaran menarik, loh. Dengan kamu menerima aku jadi investor kamu, maka perusahaan kamu akan tertolong." Sambung Rani.


"Apapun kondisinya, aku gak akan sudi jadiin kamu sebagai rekan bisnis aku. Dan ingat! Aku masih punya Allah, aku masih bisa bangkit. Karena mulai dari awal aku membangun perusahaan ini, aku juga membangunnya sendiri." Lugas Hanan.


Hanan pun meninggalkan Rani di ruang rapat itu. Betapa kesalnya Hanan dibuat perlakuan Rani yang terus membuntuti nya dan menghantui hidupnya.


"Pikirkan baik baik, Hanan! Kesempatan gak datang dua kali!" Teriak Rani pada Hanan yang sudah berjalan meninggalkannya.


...****************...


Saat Hanan kembali ke ruangan nya, tiba tiba handphone Hanan berdering. Di layar Handphone tertera nama Bayu.


"Assalamu'alaikum, Bay. Apa kabar?" Sapa Hanan hangat saat mengangkat telpon dari Bayu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah baik, bro."


"Ada perlu apa kamu nelpon, Bay?" Tanya Hanan.


"Ini loh, Han. Mau bahas soal perusahaan kamu, aku baru tau kabarnya dari karyawan aku tadi."


"Kok kamu gak ngasi tau aku sih, Han? Kamu udah gak nganggep aku sebagai sahabat kamu, ya." Sambung Bayu.


"Bukan gitu, Bay. Tapi aku gak mau nyusahin kamu, apalagi kamu kan lagi banyak kerjaan."


"Haduh, Hanan. Dalam persahabatan, gak ada yang namanya nyusahin. Semua nya santai, Han." Balas Bayu sumringah.


"Iya, Bay. Tapi aku sekarang lagi pusing, Bay. Uang kantor udah habis untuk ganti rugi, malah sebentar lagi waktunya anak anak kantor gajian, aku gak tau harus gimana, Bay." Keluh Hanan.


"Hmm sabar, ya, bro! Ini semua tuh ujian dari Allah. Saat kita sudah di atas, bukan berarti Allah gak akan menguji kita. Justru saat kita sudah di atas, Allah akan memberikan ujian yang lebih berat, untuk melihat apakah kita bisa menjaga apa yang Allah berikan dengan baik atau tidak." Jawab Bayu.


"Huffttt.. Iya, Bay."


"Udah sekarang gini aja, deh. Kamu ke kantor aku sekarang? Ntar aku bantu kamu nyari jalan keluar nya. Gimana?" Ujar Bayu.


"Mau ngapain?" tanya Hanan.


"Udah dateng, aja. Gak usah banyak protes."


"Oke, Oke. Ntar aku kesana!"


"Aku tunggu, Han! Assalamu'alaikum."


Selepas telponan dengan Bayu, Hanan pun menutup kembali laptopnya dan keluar dari ruangan nya.


Saat di luar, Hanan langsung disambut dengan Andri di depan pintu. Ntah apa yang terjadi, tetapi wajah Andri terlihat kusam dan murung.


"Ada apa, Ndri?" Tanya Hanan.


"Ini, pak. Karyawan pada ngajuin surat pengunduran diri. Mereka bilang, mereka udah gak sanggup kerja di kantor ini lagi. Karena mereka takut, capek capek kerja tapi gak digaji." Jawab Andri seraya menyodorkan beberapa amplop coklat yang berisi surat resign.


"Astaghfirullah. Cobaan apa lagi ini, ya allah." Lirih Hanan mengusap wajahnya frustasi.


"Yang tersisa hanya saya, dan beberapa karyawan lagi, pak. Sementara yang lainnya, mereka memiliki pemikiran yang sama." Sambung Andri.


"Hufftt... " Hanan menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya.


"Yaudah, gini aja! Sekarang kamu ajak temen temen yang lain pulang aja dulu. Untuk kedepannya, saya akan cari jalan keluarnya. Saya janji sama kalian, saya gak akan nyusahin kalian. In sya Allah, akan ada jalan keluar untuk masalah kita ini." Sambung Hanan.


"Baik, pak. Kalau begitu, saya permisi dulu, pak!" Hanan mengangguk.


Belum lagi mendapatkan jalan keluar dari masalahnya yang satu, kini Hanan kembali dihadapkan dengan masalah lain. Tetapi Hanan masih berusaha kuat dan sabar menghadapi semua ini. Karena Hanan mengingat perkataan Bayu di telpon tadi.


sementara di balik tembok terdapat sepasang telinga yang menguping pembicaraan Hanan dan Andri barusan.


"Kamu bakal nyesel karena udah nolak aku, Hanan." Ucap wanita itu dengan otak liciknya.

__ADS_1


......................


Setelah pembicara Hanan dan Andri di kantor tadi, kini Hanan pun meluncurkan mobilnya ke kantor Bayu. Hanan tidak tau hal penting apa yang ingin Bayu bicarakan.


"Bay!" Tegur Hanan saat sampai di dalam ruangan Bayu.


"Eh, Hanan. Lama banget kamu nyampe nya." Balas Bayu.


"Iya! Soalnya tadi lagi ada sedikit masalah lagi di kantor." Jawab Hanan.


"Masalah apa lagi, Han."


"Oh iya. Duduk duduk!" Sambung Bayu mengajak Hanan duduk di sofa.


"Hari ini, para karyawan pada ngajuin surat resign. Karena mereka mikir, kerjaan mereka bakal sia sia. Mereka takut gak di gaji bulan ini, karena masalah kantor ini.


Dan hanya tersisa beberapa karyawan lagi yang tetap bertahan, salah satunya sekretaris aku." Jelas Hanan.


"Ya Illahi. Ujian kamu besar banget ya, Han."


"Iya, Bay. Tapi aku yakin, sebesar besarnya masalah aku, masih ada Allah yang maha besar." Balas Hanan penuh keyakinan.


"Wahh... Gitu, dong! Punya semangat lagi, kan jadi seneng aku liatnya." Ujar Bayu merangkul pundak Hanan.


"Oh, iya. Kamu mau ngobrolin soal apa sama aku?" Tanya Hanan.


"Owh, soal bisnis kamu itu. Jadi ada salah satu investor aku yang lagi mau nanam modal lagi, tapi kali ini dia mau nanam modal di perusahaan yang lain. Nah, kalau kamu berkenan, ntar aku ajuin ke investor aku ini. Gimana?" Ucap Bayu.


"Wahhh... Kayaknya menarik, Bay. Tapi kan belum ada perbincangan antara kami."


"Kamu tenang aja, Han! Dia udah ngasi pertinggal dokumen kerja samanya. Kamu bisa pelajarin itu dulu sebelum kamu ketemu sama orang nya." Balas Bayu.


"Oke, deh. Kita coba." Jawab Hanan semangat.


"Siipp... Kalau gitu aku ambil berkasnya dulu, ya."


Bayu pun mengambil berkas kerja sama yang dimaksud nya tadi. Dengan seksama dan teliti, Hanan membaca dan mempelajari sistem kerja sama yang ditawarkan oleh investor Bayu itu.


Tetapi karena sudah sore, Bayu pun mengajak Hanan berkunjung ke rumahnya. Supaya lebih enak memeriksa dan memahami dokumen investor itu.


.


.


.


[B e r s a m b u n g]


S a l a m H a n g a t,


Za

__ADS_1


__ADS_2