
...๐ค๐ค๐ค...
...Dengan menikahi kamu, mas menyadari bahwa senja tak kalah indah dari pelangi. Karena meskipun sederhana, senja tetap bisa memberikan kesan sempurna dengan kesederhanaan nya...
...#Bersamamu, Imamku...
...๐ค๐ค๐ค...
Semenjak kejadian salah paham yang diciptakan oleh Rani, rumah tangga Hanan dan Jinan menjadi jauh lebih baik lagi. Kepercayaan mereka jaga satu sama lain, agar kedepannya tidak terjadi hal yang sama lagi.
Bahkan semua permasalahan pun sudah terpecahkan. Termasuk kasus pembakaran gudang perusahaan Hanan. Dalang di balik kebakaran itu sudah di eksekusi oleh pihak polisi. Tidak lain dan tidak bukan, dalang dibalik kebakaran itu adalah Rani.
Rani sengaja membakar gudang penyimpanan Hanan untuk memanfaatkan kondisi Hanan. Agar Hanan mau menerima Rani dalam hidupnya lagi. Tetapi sayang, hasilnya nihil. Hanan sama sekali tidak tertarik, bahkan Hanan malah semakin yakin untuk menolak Rani. Karena semua sifat busuk Rani sudah terungkap.
...----------------...
Pagi ini, seperti biasanya Jinan selalu mengawali hari dengan menyiapkan sarapan untuk suami tercinta nya. Meskipun saat ini Hanan dan Jinan hanya bisa menikmati hidup yang sederhana, setidaknya mereka bersama. Jika bersama, pasti setiap masalah akan terasa lebih ringan.
"Mas... Ayo bangun, mas! Sarapan udah siap, nih!" Teriak Jinan dari dapur memanggil Hanan.
Sementara di dalam kamar, Hanan sebenarnya sudah membuka matanya dan sudah bangun. Tetapi Hanan merasa ingin mengerjai istrinya terlebih dahulu. Hanan sengaja tidak keluar kamar bahkan tidak turun dari tempat tidur sampai Jinan masuk ke dalam kamar.
Hanan pun kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata. Hanan berpura pura tidur sampai Jinan menyusulnya di dalam kamar.
"Mas Hanan mana, sih? Kok tumben lama banget bangunnya." Dengus Jinan.
Karena Hanan tak kunjung keluar kamar, Jinan pun menghampiri ke dalam kamar. Dibuka pintu kamar oleh Jinan dan terlihat lah suami nya yang sedang tertidur pulas dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Ya ampun, mas! Kok masih tidur? Matahari nya udah melambai, tuh!" Ujar Jinan seraya membuka tirai jendela kamar.
"Mas.... Ayo bangun, dong!" Panggil Jinan seraya menggoyang goyangkan tubuh Hanan.
Ujung bibir Hanan tertarik saat melihat Jinan masuk ke kamar untuk membangunkan nya.
"Sayang... Ayo bangun..." Bujuk Jinan, kali ini sambil bergelayut di punggung Hanan.
"Mas... Bangun!" Panggil Jinan.
Karena merasa kesal, Jinan pun beralih ke depan Hanan. Diambilnya guling yang sedang di peluk Hanan. Dan kini, Jinan lah yang menjadi guling Hanan.
"Hei... Bangun!" Ujar Jinan sekali lagi di depan wajah Hanan.
Hanan mengedepankan pipi nya seraya jari telunjuk nya menunjuk pipi.
"Cium dulu, dong. Baru, mas mau bangun!" Ujar Hanan menyodorkan pipinya.
"Ehmm kamu jailin aku ya, mas." Jawab Jinan tersipu.
"Eh ya gak apa apa, dong. Jailin istri sendiri!" Jawab Hanan.
__ADS_1
"Ihhh, mas Hanan."
"Buruan, dong. Biar bangun, nih!" Titah Hanan.
Akhirnya, dengan malu malu Jinan pun mencium pipi Hanan. Setelah bibir itu menyentuh pipi Hanan, hati Jinan langsung berpacu. Rasanya jantung nya seperti ingin lari dari tempat nya.
"Duhhh... Kok aku malah deg deg-an, sih. Kan yang aku cium suami aku sendiri!" Batin Jinan senyum senyum.
"Kenapa senyum senyum gitu? Mau dicium juga ya?" Ujar Hanan menggoda Jinan.
"Eh.... Enggak, kok. Siapa juga yang minta cium." Elak Jinan, padahal wajahnya saat ini sudah merah padam menahan malu.
"Iya juga gak apa apa, kok. Mau gak, nih?" Wajah Hanan terlihat merayu Jinan dengan tatapan buayanya.
Jinan pun tampak malu malu saat Hanan menatap nya dengan tatapan seperti itu.
Cupppp
Tanpa aba aba, Hanan pun langsung mendaratkan sekilas kecupan di pipi Jinan yang bersemu merah. Deggg, jantung Jinan terasa berhenti sejenak saat mendapatkan kecupan tersebut.
Mungkin ini bukan yang pertama buat Jinan, tetapi rasanya masih sangat canggung dan malu. Apalagi pernikahan mereka yang didasari keterpaksaan.
"Hmmm... Tadi sok nolak, tapi ujung ujungnya malah kesenangan, tuh!" Ledek Hanan.
"Mas Hanan... " Jinan langsung mencubit perut Hanan.
"Awwwsss... Sakit, sayang!" Rintih Hanan sambil memegangi perutnya yang dicubit Jinan tadi.
Hanan memandangi wajah wanitanya dengan tatapan yang sangat intens. Pikiran Hanan berpacu dengan hatinya. Hati Hanan juga ikut berpacu saat senyum Jinan terukir indah di wajah Jinan.
"Kamu istimewa, sayang." Ucap Hanan yang masih memandangi wajah ayu Jinan.
"Ana Uhibbuka Fillah, ya Zaujati!" Sambung Hanan membuat pipi Jinan semakin bersemu merah jambu.
Dalam lubuk hati Jinan, Jinan ingin sekali membalas ucapan Hanan. Tetapi tiba tiba Jinan teringat kembali pada peristiwa tempo hari. Dimana dirinya mengatakan sangat membenci Hanan.
Wajah Jinan yang tadi bersemu karena malu, kini berubah muram karena gelisah.
"Mas... Maafin Jinan, ya! Maaf, kalau Jinan belum bisa jadi istri yang baik untuk mas Hanan. Jinan juga selalu pentingin ego Jinan sendiri. Seandainya aja, saat itu Jinanโ"
"Sssttt." Hanan menghentikan perkataan Jinan dengan meletakkan tangannya menutupi mulut Jinan.
"Itu semua udah berlalu, sayang. Sekarang, kita buat lembaran baru. Jadikan kejadian dan peristiwa yang lalu itu sebagai pelajaran untuk kita ke depannya." Sambung Hanan.
Jinan mengangguk, "Ternyata aku adalah wanita yang sangat beruntung, mas. Karena aku mendapatkan sosok suami sempurna kayak kamu."
"Sayang, pernikahan bukan untuk mendapatkan pasangan yang sempurna. Mas juga gak akan pernah menuntut kamu untuk jadi sempurna." Hanan memeluk erat tubuh Jinan seraya mengelus kepala Jinan dengan penuh kasih sayang.
"Dengan menikahi kamu, mas menyadari bahwa senja tak kalah indah dari pelangi. Karena meskipun sederhana, senja tetap bisa memberikan kesan sempurna dengan kesederhanaan nya." Sambung Hanan.
__ADS_1
Perkataan Hanan benar benar membuat Jinan jatuh, terus jatuh dan semakin jatuh hati pada Hanan. Bahkan Jinan kini tidak menyesali pernikahannya dengan Hanan. Pernikahan yang awalnya hanya berdasarkan perjodohan semata.
Dada bidang Hanan membuat Jinan sangat nyaman. Sehingga Jinan tidak ingin lepas dari pelukan Hanan.
"Sarapan, yuk!" Ajak Hanan.
"Ayo!" Jawab Jinan, tetapi tubuhnya masih enak bersandar di dada bidang Hanan.
"Yaudah, ayo!" Ajak Hanan sekali lagi.
"Iya. Ayo, mas!" Balas Jinan yang masih tetap dalam pelukan Hanan.
"Sayang, katanya mau sarapan?"
"Iya." Jawab Jinan.
"Ya terus, kalau kamu terus nyender di dada mas kayak gini, gimana mas bisa bangun?" Sambung Hanan menyadarkan Jinan.
Jinan pun membulatkan matanya, dan melihat ke arah bantalan yang dari tadi ia jadikan sandaran kepalanya. Dan setelah menyadari bahwa kepala nya masih menyender di dada Hanan, Jinan pun langsung bangun dan duduk. Dirinya merasa salah tingkah karena cukup lama berada di pelukan Hanan.
"Nyaman ya?" Tanya Hanan dengan nada menggoda Jinan.
"Hah?" Jinan membulatkan matanya.
"Gak apa apa, gak usah malu. Lagian kan suami sendiri, bukan suami orang lain. Kamu boleh kok, meluk mas seharian sampe kamu puas. Tapi, sekarang kita sarapan dulu ya. Soalnya mas juga udah laper banget." Ujar Hanan.
"Ya salah mas Hanan sendiri, kenapa gak mau bangun dari tadi. Kan Jinan udah ngajak mas Hanan sarapan dari tadi!" Cetus Jinan seraya memonyongkan bibirnya.
"Uluh uluuhhh... Kan mas kangen sama istri mas yang galak ini. Makanya mas maunya dibangunin langsung ke kamar." Balas Hanan disertai ledekan.
"Apa? Galak? Enak aja!"
"Orang Jinan kalem kayak gini, masa dibilang galak, sih!" Dengus Jinan.
"Idihhh kalem dari mananya? Orang tadi kamu nyubit mas, udah kayak singa betina." Ledek Hanan.
"Itu kan karena ulah mas Hanan juga."
"Iya deh, iya. Cowok mahh selalu salah kalau udah debat sama cewek!" Ujar Hanan mengalah.
"Ya memang harus gitu!" Jawab Jinan merasa puas.
Hanan pun turun dari tempat tidurnya dah langsung menggendong Jinan ke dapur untuk sarapan bersama. Jinan dibuat terkejut dengan tingkah Hanan itu.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...