
...💚💚💚...
..."Jadilah sosok pendengar yang baik, untuk mencegah hatimu dari salah paham"...
...#Bersamamu, Imamku...
...💚💚💚...
"Apa kamu bisa mendengar kan penjelasan saya terlebih dahulu sebelum kau mengambil keputusan." Ucapan Hanan membuat Jinan berhenti bicara, Jinan pun sudah melihat Hanan menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Ya sudah jelas kan saja yg mau kau jelaskan, aku akan mendengar kan nya."
"Pertama saya ingin bertanya dulu padamu, apa maksud kamu membicarakan seorang wanita? Wanita mana maksud mu?" Hanan masih saja berbicara dengan nada yg dingin dan tatapan tajam.
"E ehm ya aku kemarin melihat mu disebuah taman, aku melihat seorang wanita sedang memanggil manggil nama mu tetapi kau, kau malah pergi tak menghiraukan nya." Berbeda dengan Hanan, Jinan berbicara dengan nada jutek.
"Apa kamu memata matai saya?" Selidik Hanan.
"Heyy tuan SYAUQI HANAN ABBASYI, untuk apa aku memata mataimu? Seperti orang kurang kerjaan aja." Dengus Jinan kesal.
"Kemarin aku pergi ke sebuah toko dan saat aku keluar dari toko, aku melihat seorang wanita sedang berteriak memanggil manggil nama mu di sebuah taman. Makanya, aku ingin menyelesaikan semuanya. Kalau kau memang terpaksa, maka batalkan saja dan jangan sakiti wanita itu." Sambung Jinan kembali mengatakan soal pembatalan pernikahan.
Hanan benar benar terbakar dan es batu nya sudah mulai meleleh karna ucapan Jinan yg tak sedap di dengar. Lagi lagi pun Hanan menatap Jinan dengan tatapan tajam.
"Apa kamu pernah bertanya pada saya, siapa wanita itu?" Hanan mulai menaikkan nada suara nya.
"Dengar baik baik, wanita itu adalah teman lama saya. Dan kami tidak ada hubungan apa pun. Ya, memang Sebenarnya saya pernah menyimpan rasa padanya, tetapi sekarang tidak lagi. Sudah jelas kan?" Mata elang milik Hanan itu menatap ke arah Jinan dengan tatapan meyakinkan.
"Oh begitu." Jinan hanya menjawab nya singkat.
"Dasar!! Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Hanan meninggal kan Jinan begitu saja.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Humm dasar pria kulkas, apakah dia tidak bisa bersikap hangat kepada orang lain?" Decak Jinan kesal dengan sikap dingin Hanan.
Jinan pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, sepanjang perjalanan Jinan masih merasa dongkol dengan Hanan. Ia merasa, kenapa harus begini takdir nya? Menikah dengan lelaki yg tak dikenal nya, dicintai apalagi. Bahkan Jinan juga tak habis pikir, ternyata Hanan sangat dingin.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Jinan sudah sampai ke rumah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jinan tidak melihat bunda Ulya, melainkan mama Ais yg datang menghampiri Jinan.
"Mama masih disini?" Tanya Jinan sambil mencium tangan mama Ais.
__ADS_1
"Iya sayang, mama nunggu Hanan jemput. Soalnya mama gak bawa mobil." Jawab mama Ais tersenyum.
"Hmm, pria dingin itu kemana? Bukannya tadi dia sudah ada di pinggir danau dekat komplek ya? Ahh ya sudah lah biarkan saja." Batin Jinan sambil melamun.
"Jinan, tadi bunda kamu pamit katanya mau ke musholla nemuin pak ustadz." Ucap mama Ais menyadarkan Jinan dari lamunannya.
"Eh iya ma, tadi bunda juga udah bilang sama Jinan." Jinan menjawab perkataan mama Ais dengan senyuman tulus.
"Oh iya ma, Jinan mau letakin barang belanjaan Jinan ke kamar dulu ya." Ucap Jinan pamit dengan sopan pada mama Ais.
"Iya sayang."
Jinan pun masuk ke kamar nya untuk meletakkan barang belanjaan yang tadi dibelinya. Setelah itu Jinan juga mengganti hijab nya dengan hijab oblong rumahannya.
...----------------...
POV Jinan
Hari ini Jinan merasa sangat lelah, ditambah lagi tadi ia bertemu dengan pria dingin itu. Jinan menyandarkan tubuh nya sejenak di sofa yg ada di kamarnya sambil memejamkan mata nya.
"Hufffttt, kenapa aku malah terus memikirkan pria itu?" Pikiran Jinan terganggu dengan wajah dingin Hanan.
"Ya Allah tak bisa ku bayangkan kalau aku menikah dengannya. Apakah dia bisa menerima sifat ku yg bawel ini?" Hah ntahlah, pikiran Jinan memang selalu melayang kemana mana.
"Hmmm ternyata hanya salah paham saja, tetapi kenapa aku merasa tidak rela jika pernikahan kami batal ya? Ah ya sudahlah."
Jinan mendengar ada suara mobil masuk ke pekarangan rumah. Jinan berpikir itu bunda, tetapi saat di intip dari jendela yg keluar malah orang lain. Ternyata pria dingin itu yg datang. Jinan pun langsung keluar kamar, karna Jinan merasa harus menemui mama Ais terlebih dahulu sebelum ia pulang.
"Mama mau pulang sekarang?" Tanya Jinan yang melihat Ais sudah mengemasi barang barang nya hendak pulang.
"Iya, sayang. Kan mama juga udah dari tadi di sini. Oh, iya, nanti titip salam aja ya sama bunda kamu." Ujar Ais.
Jinan mengangguk, "Iya, ma. Ntar Jinan sampein ke bunda."
"Yaudah, mama pamit, ya."
"Hati hati ya, ma." Sambung Jinan seraya mencium tangan Ais.
"Iya, sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
__ADS_1
...----------------...
Setelah Ais dan Hanan pulang, Jinan pun masuk ke kamarnya lagi. Jinan merebahkan tubuh nya pada badan sofa yang menghadap ke arah jendela kamar.
Sambil sedikit terpejam, Jinan membayangkan pernikahan nya dengan Hanan nanti. Dan satu hal yang membuat Jinan merasa senang hari ini, hal itu adalah saat Hanan menentang perkataan Jinan untuk membatalkan pernikahan.
Pada saat itu, Jinan merasa bahwa Hanan memiliki tekad untuk mempertahankan hubungan mereka. Dan Jinan melihat, bahwa Hanan benar benar memiliki niat tulus menikah dengan Jinan.
"Masya Allah... Alhamdulillah ya Allah. Semoga kelak aku dan mas Hanan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai karenamu. Dan aku berdoa, semoga aku tidak hanya berjodoh di dunia saja dengan mas Hanan, melainkan berjodoh di surgaMu kelak. Aamiin."
Itu lah segelintir dia Jinan saat ini, karena baginya, Hanan memang laki laki yang sangat baik dan memang pantas dijadikan sebagai seorang suami. Ya meskipun Hanan memiliki kepribadian yang dingin. Tetapi ada sisi baik Hanan yang lain.
"Cie yang lagi seneng..." Ledek Tifah yang tiba tiba sudah duduk di hadapan Jinan. Ntah kapan bocah itu masuk, Jinan pun tak tau.
"Ihh, adek... Kamu ngapain, sih! Mbak kaget, Tau." Dengus Jinan kesal.
"Hehehe... Maaf, mbak."
"Oh, iya. Ntar di hari pernikahan, mbak mau pakai gaun warna apa?" Tanya Tifah kepo.
"Ihhhh.... Kepo banget ni, bocah!"
"Mbak Jinan gitu, deh. Ayo dong mbak kasi tau, kan Tifah juga penasaran, mbak." Rengek Tifah.
"Yang pastinya pakai warna putih, dong buat akad." Jawab Jinan.
"Terus, untuk resepsinya pakai warna apa, mbak?"
"Warna.."
Jinan pun mendekatkan kepala Tifah ke arahnya, sambil membisikkan sesuatu ke telinga Tifah.
"Wahhhh masya Allah, bagus itu, mbak warnanya." Jawab Tifah setelah Jinan membisikkan sesuatu.
.
.
.
...**BERSAMBUNG......
__ADS_1
...AYO JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA**...