Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
Khitbah


__ADS_3

Saat Jinan dan Hanan sampai di kediaman ayah Aiman, Hanan membuka kan pintu mobil untuk Jinan. Ntah mengapa, Hanan merasa ada perasaan yg aneh dalam dirinya semenjak ia bertemu Jinan.


Jinan pun tersenyum dan berterima kasih karna Hanan sudah membukakan pintu nya.


"Assalamu'alaikum." Jinan dan Hanan memasuki rumah dan ternyata di dalam rumah sudah berkumpul kedua orang tua Jinan dan Hanan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka semua dengan kompak.


"Ya Allah nak Kamu dari mana saja sayang." Bunda langsung menghampiri Jinan dan memeluk Jinan erat erat.


"Bunda.. Biarkan Jinan berganti pakaian dulu dan istirahat. Setelah itu baru kita bertanya dengannya." Balas ayah dari arah belakang bunda.


Bunda pun mengangguk dan membawa Jinan menuju kamar. Semua orang pun ikut menunggu Jinan di ruang tamu termasuk Hanan juga masih ikut menunggu.


Saat dikamar, bunda menyuruh Jinan untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu supaya tubuhnya lebih segar.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Jinan mendekat ke arah bunda dan duduk di samping bunda.


"Bunda.." Jinan menatap mata bundanya dengan penuh makna seraya menggenggam tangan bunda.


"Kenapa sayang? Apa kamu tidak menginginkan pernikahan ini?" Jawab bunda menangkup wajah Jinan dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Bukan begitu bunda." Jinan tampak memikirkan sesuatu dan menggantung perkataan nya.


"Bunda.. Jinan yakin kalau pilihan ayah dan bunda adalah pilihan yg terbaik. Jadi Jinan pasti menerima nya bunda." Ucap Jinan tersenyum menghilangkan kecemasan bundanya.


"Jinan sayang, mereka kemari untuk mengkhitbah mu nak. Kalau Jinan gak setuju dengan pernikahan ini, maka Jinan gak perlu menerima nya nak." Tutur bunda yg terlihat murung.


Satu sisi bunda menginginkan Jinan mendapatkan lelaki yg baik dan dari keluarga baik baik juga seperti Hanan. Tetapi disisi lain, bunda juga ingin melihat Jinan bahagia.


"Bunda jangan sedih, Jinan mau kok menerima khitbah nya. Jinan mau menikah dengan Hanan bunda, karna Jinan juga bisa melihat kalau Hanan adalah laki laki yg baik." Jawab Jinan yg seolah mengerti kegundahan hati bundanya. Jinan tersenyum menunjukkan kebahagiaan nya dan memeluk bunda.


"Ya sudah ayo kita keluar, pasti ayah sama yg lainnya lagi nungguin kita." Ucap Jinan mengajak bunda berdiri dan menghampiri semua orang yg sudah menunggunya di ruang tamu.


Jinan yg tak sengaja melihat Hanan, Jinan merasa sedikit terkesima karna mengetahui bahwa Hanan ternyata bisa menjaga pandangan nya dari yg bukan mahram.


"Walaupun dia itu dingin, tetapi dia masih bisa menjaga pandangan nya." Batin Jinan yg tidak sengaja melihat Hanan menundukkan pandangan saat melihat dirinya.


"Wahh anak nya bunda Ulya ini memang cantik sekali ya." Pujian itu terlontar dari mulut calon mertua Jinan, yaitu mama Ais.


"Sini nak duduk di samping mama." Lanjut Mama Ais sambil menepuk tempat kosong di sebelah kanan nya.


"Hah mama? Bahkan aku belum menerima khitbah ini lantas kenapa aku sudah memanggil nya mama?" Sontak Jinan merasa terkejut saat mama Ais mempersilahkan Jinan duduk dengan embel embel mama.

__ADS_1


Jinan menoleh ke arah bunda nya lalu bunda mengangguk. Jinan pun menghampiri mama Ais dan duduk di samping sebelah kanan mama Ais. Saat ini mama Ais diapit oleh Jinan dan Hanan, Hanan duduk di sebelah kiri mama Ais sedangkan Jinan duduk di sebelah kanan mama Ais.


Suasana kembali canggung saat Abbas, a


papa Hanan mulai berbicara.


"Baik, karna nak Jinan juga sudah ada disini maka saya akan langsung mengutarakan tujuan dan maksud kedatangan kami kesini." papa Hanan berbicara dengan nada santai dan keadaan sekeliling juga tampak senyap.


"Jadi kedatangan kami sekeluarga berniat ingin mengkhitbah nak Jinan untuk anak kami yg bernama Syauqi Hanan Abbasyi. Apakah nak Jinan bersedia menerima nya?" Lanjut papa Hanan. Jinan terlihat bingung saat ingin menjawab pertanyaan papa nya Hanan.


Suasana jadi hening sejenak karna semua orang diam karna menunggu jawaban Jinan.


"Bismillahirrahmanirrahim, Jinan bersedia menerima khitbah ini dan in sya allah Jinan akan menjadi istri dan menantu yg baik untuk keluarga Abbasyi." Perkataan itu terlontar begitu saja dari mulut Jinan.


Semua orang mengucap syukur Alhamdulillah saat mendengar jawaban Jinan. Orang tua Jinan juga merasa lega begitu juga dengan Jinan.


"Alhamdulillah, karna nak Jinan menerima nya. Kalau begitu kita bisa langsung bicarakan masalah tanggal pernikahan. Karna saya dan istri akan kembali ke Turki Minggu depan." Sahut Papa nya Hanan. Perkataan papa Hanan kembali membuat Jinan cemas karna pernikahan nya akan dilangsungkan secepatnya.


Kedua orang tua Jinan dan orang Hanan sedang sibuk membicarakan tanggal pernikahan. Sementara Jinan hanya diam duduk mendengarkan semua usulan dari orang tua itu.


Sementara Hanan yang duduk di depan Jinan, hanya diam tak berkutik. Tetapi saat Jinan lengah, diam diam Hanan mencuri pandang untuk melihat Jinan. Mungkin itu adalah cara Hanan meyakinkan hatinya untuk menerima Jinan. Hanan pun mengakui dalam hatinya bahwa Jinan memanglah gadis yang manis.

__ADS_1


__ADS_2