Bersamamu, Imamku

Bersamamu, Imamku
EXTRA PART


__ADS_3

...Sesungguhnya nama dan diri akan selalu bersama di dunia, tetapi jika telah tiada, nama akan menetap, sedangkan diri akan pergi. Sama seperti senja, cahaya nya sudah pergi tapi namanya akan tetap tinggal...


...Quote by: Sifani Andini...


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Hanan terus merangkul dan menciumi wajah istrinya yang sudah sangat lemas dan sudah menjadi mayat. Hujan menjadi saksi cinta terakhir Hanan dan Jinan di dunia. Air yang kini membasahi tubuh Hanan dan jasad Jinan tidak membuat Hanan kedinginan sedikit pun.


"Hanan.... Udah, nak. sekarang kita bawa Jinan ke rumah sakit untuk di tindak lanjuti ya, sayang." Ujar mama Ais yang baru sampai.


Mama Hanan dan papanya Hanan memang berniat datang hari ini untuk ikut serta dalam acara peresmian Restoran baru Hanan dan Jinan. Tetapi saat baru sampai, mama dan papa nya Hanan dikejutkan dengan berita tak sedap itu.


Mama Ais, mamanya Hanan langsung menemui bunda dan ayah Jinan yang sudah terduduk lemas di teras masjid. Mereka sama sekali tidak kuasa mendekati tubuh putrinya yang terkapar di tengah jalan. Terlihat hanya Hanan lah yang saat ini di samping jasad Jinan.


"Pak Hanan! Mari kita bawa mbak Jinan ke rumah sakit." Ujar Andri.


Akhirnya dengan hati yang masih hancur, Hanan sendiri lah yang memasukkan jasad Jinan ke dalam mobil ambulance untuk ditindak lanjuti.


Sampai rumah sakit, pihak rumah sakit langsung mengambil tindakan. Mulai dari mengurus tubuh Jinan sampai proses kremasi dan mengkafani. Hanya saja, pihak rumah sakit meminta pihak keluarga untuk ambil alih dalam proses kremasi dan mengkafani.


Begitu proses kremasi dan mengkafani sudah selesai. Jasad Jinan pun dibawa ke masjid terdekat untuk disholatkan. Setelah disholatkan, barulah jasad Jinan dibawa ke pemakaman.


Air mata dan kehancuran hati mengiringi proses perjalanan ke tempat peristirahatan terakhir Jinan. Hanan sedari tadi juga tidak bisa berhenti menangis. Apalagi dengan bunda nya Jinan. Ayah terus memeluk bunda untuk menenangkan bunda.


Sementara Tifa. Kini wajah gadis yang jarak umur nya dengan Jinan tidak jauh beda itu, sudah terlihat sangat muram dan kusam. Tifa juga terlihat seperti orang linglung. Wajar saja, karena sosok Jinan sangat berarti dalam hidup Tifa. Bukan hanya sekedar sebagai kakak, tetapi juga sahabat.


Tifa berjalan dengan wajah linglung sambil dituntun oleh mamanya Hanan. Sementara Hanan berjalan di samping papa nya.


Setelah proses pemakaman selesai, Hanan menolak ikut pulang bersama yang lain. Hanan masih duduk di dekat pemakaman istrinya yang baru saja ditutup itu. Air mata lagi lagi membasahi wajah tampannya.


"Kenapa, Ji? Kenapa harus secepat ini? Kenapa, sayang? Hikss.. "


"Mas akan sangat kehilangan kamu, sayang. Mas benar benar gak kuat tanpa kamu." Rintih Hanan terus menerus.


Lama kelamaan, air hujan pun kembali turun membasahi bumi, mengiringi rintihan Hanan.


Hari demi hari Hanan menjalani kehidupan dengan tidak bersemangat dan hati hancur. Ini, sudah genap satu minggu kepergian Jinan. Biasanya, Hanan selalu ke makam Jinan setiap pagi dan sore.


Begitu juga hari ini, Hanan membawa bunga mawar kuning favorit Jinan. Air mata Hanan lagi lagi menetes saat menginjakkan kaki nya disana. Hanan pun mengirimkan doa terlebih dahulu untuk Jinan. Selesai berdoa, barulah Hanan menceritakan semua yang terjadi hari ini. Ntah Jinan mendengar nya atau tidak, Hanan tetap selalu bercerita di makam Jinan.


"Assalamu'alaikum." Ucap seorang wanita dengan gamis abaya serba hitam serta kain penutup diwajahnya.


Tangis Hanan seketika terhenti, suara lembut itu lah yang menghentikan nya. Hanan tanda betul, itu bukanlah suara yang pernah ia dengarkan. Tetapi hati Hanan tertarik untuk melihat ke arah sumber suara itu.


Hanan pun menoleh ke belakang, "Wa'alaikumussalam."


"Maaf kalau saya mengganggu! Mas ini, suami dari wanita korban kecelakaan tadi siang, kan?"

__ADS_1


Hanan menyipitkan matanya dan dalam hati Hanan bertanya tanya.


"Ehmm maaf. Saya bukan berniat buruk."


"Saya adalah Zeya, ibu dari anak kecil yang diselamatkan oleh istri anda."


Mendengar ungkapan wanita itu, mata Hanan berubah menjadi emosi. Tatapan Hanan seketika berubah pada wanita itu.


Jujur, Hanan sebenarnya bukanlah pria pendendam. Tetapi pikiran Hanan saat ini sedang dikuasai oleh emosi yang tak terkendali. Maka dari itu, saat wanita yang bernama Zeya itu bicara seperti itu. Emosi Hanan langsung naik, Hanan berpikir, bahwa penyebab kematian Jinan adalah anak wanita itu.


Tapi Hanan bisa mengontrol diri dan emosinya. Hanan kembali tenang, dan beristighfar. Hanan tidak ingin menyalahkan siapapun, karena semua ini sudah menjadi takdir dan ketentuan sang Maha Kuasa.


"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan bela sungkawa untuk mas dan sekeluarga. Saya tau, bagaimana rasanya di tinggal kan oleh sosok yang sangat berarti dalam hidup kita untuk selama lamanya."


"Jika saja, saya bisa menjaga anak saya dengan baik, pasti hal ini tidakโ€”"


"Sudahlah!" Ucap Hanan memotong ucapan wanita itu.


"Ini semua bukan salah siapa siapa. Ini adalah takdir dari sang Pencipta. Istri saya sudah dirindukan di surga, maka dari itu, dia dipanggil lebih dulu." Sambung Hanan menahan pilu di hati.


"Terkadang, kita memang harus mengikhlaskan apa yang pernah menjadi milik kita, karena suatu saat ia akan kembali pada pemilik sesungguhnya." Ucap Zeya dengan wajah yang juga terlihat menahan pilu.


"Sesungguhnya nama dan diri akan selalu bersama di dunia, tetapi jika telah tiada, nama akan menetap, sedangkan diri akan pergi. Sama seperti senja, cahaya nya sudah pergi tapi namanya akan tetap tinggal." Sambung Zeya penuh haru.


Kini Hanan mulai menyadari, bahwa Zeya pasti juga pernah merasakan apa yang ia rasakan, atau mungkin baru merasakan itu. Melihat Zeya, semangat Hanan kembali bangkit.


"Ehmm masโ€”?" Kalimat Zeya terpotong, karena tidak tau nama Hanan.


"Hanan. Panggil saya Hanan." Lanjut Hanan.


"Oh iya, mas Hanan. Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih. Mungkin, saya sudah sangat terlambat mengucapkan terima kasih. Tetapi, izinkan lah saya untuk ikut mendoakan almarhumah istri mas Hanan."


"Karena dia lah, saya masih bisa melihat anak saya. Karena saat ini, hanya anak saya lah harta saya satu satunya." Ucap Zeya.


"Tidak perlu berterima kasih, Zeya."


"Justru saya yang sangat berterima kasih karena kamu mau mendoakan almarhumah istri saya." Lanjut Hanan.


Hanan pun sedikit menyingkir dan memberi jalan untuk Zeya lewat. Zeya pun berjalan mendekati makam Jinan dan bersimpuh di samping nya. Zeya mengangkat kedua tangannya lalu mengutarakan doanya pada sang Khaliq untuk Jinan.


Setelah selesai, Zeya kembali berterima kasih pada Hanan.


"Sekali lagi saya ingin berterima kasih."


"Oh iya, saya juga siap jika mas Hanan atau keluarga mas Hanan butuh bantuan saya. Kebetulan, saya tinggal tidak terlalu jauh dari sini. Saya sangat senang, kalau mas Hanan atau keluarga mas Hanan mau merepotkan saya."


"Itung itung, saya ingin membalas budi almarhumah Jinan." Tutur Zeya.

__ADS_1


"Terima kasih, Zeya. Untuk tawarannya."


"Oh iya, kalau boleh saya tau, apa pekerjaan kamu?"


"Emm saya hanya seorang guru PAUD dan saya juga membuka bisnis catering sendiri di rumah. Membangun bisnis catering sebenarnya hanya tambahan saja, karena saya harus menghidupi anak saya dan memenuhi kebutuhan nya." Jelas Zeya.


"Maaf, bukannya saya lancang. Apakah kamu seorang janda?" Tanya Hanan ragu.


Zeya menunduk lesu, wajahnya pun terlihat berubah menjadi muram.


"Astaghfirullah, maaf. Maaf kalau pertanyaan saya menyakiti kamu." Ujar Hanan tidak enak.


"Eh gak apa apa. Saya ini memang seorang janda. Suami saya meninggal satu tahun yang lalu. Suami saya adalah seorang TNI AU, beliau meninggal saat sedang bertugas di perbatasan. Pernikahan kami dikaruniai satu orang anak laki laki. Semenjak kepergian suami saya, saya dan anak saya pindah ke kota ini."


"Innalillahi."


"Tapi kenapa kamu malah ke kota ini? Apakah keluarga kamu di sini?"


Zeya menggeleng, "Saya adalah yatim piatu dan dari semenjak remaja, saya sudah hidup sebatang kara. Setelah itu hadirlah mas Ridwan, suami saya. Dia menikahi saya, mas Ridwan sangat menyayangi saya. Tetapi keluarga nya, sangat tidak suka dengan saya."


"Maka dari itu, semenjak suami saya meninggal, keluarga suami saya mengusir saya dan anak saya." Jelas Zeya dengan menahan kepiluan di hati.


"Astaghfirullah. Maaf! Saya benar benar minta maaf. Saya sama sekali tidak bermaksud mengorek kembali kehancuran kamu. Sekali lagi saya minta maaf." Ujar Hanan yang benar benar merasa tidak enak.


"Gak apa apa. Lagi pula, saya sudah ikhlas dengan itu semua." Jawab Zeya tegar.


"Sungguh luar biasa kuasa mu, ya Allah. Ujian wanita ini lebih besar dari apa yang aku rasakan, tetapi dia tetap tegar dan semangat. Bantulah aku supaya bisa seperti dia, ya rabb." Batin Hanan.


"Zeya benar, suatu saat akan ada masa dimana diri akan tiada, sementara itu hanya nama yang tertinggal. Bismillah, ya allah. Aku yakin, kalau aku juga bisa sekuat dan setegar Zeya."


"Jinan, mungkin raga kamu udah gak ada di dunia. Tapi nama kamu tetap tinggal sama mas, Sayang. Cinta mas juga gak akan pernah hilang untuk kamu. Kita bersatu karena Allah. Jadi, meskipun kamu tiada, cinta kita tetap ada."


"Yasudah mas Hanan. Saya mau pamit dulu, ya. Insya Allah, jika ada waktu, saya akan sering sering kesini untuk mengirim doa dan mengunjungi makam almarhumah Jinan." Tutur Zeya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Hanan.


Zeya pun meninggalkan Hanan di makam. Perasaan Hanan kini menjadi lebih terbuka. Hati yang hampir mati dan semangat yang hampir pudar, kini bangkit kembali. Setelah mendengar cerita Zeya. Hanan berharap, dirinya bisa seperti Zeya.


.


.


.


S E L E S A I

__ADS_1


>>LANJUT SEASON DUA YA GAESS, TAPI MUNGKIN AGAK LAMA, GAK APA APA YA๐Ÿค—


__ADS_2