
...💛💛💛...
..."Pandanglah dunia dengan kerendahan hati, karena jika kita memandangnya dengan ketinggian hati, maka akan menimbulkan sikap sombong pada diri kita, yang pada akhirnya, diri kita akan dihancurkan oleh kesombongan itu sendiri"...
...#Bersamamu, Imamku...
...💛💛💛...
Akhirnya dengan terpaksa, Jinan pun nurut dengan perkataan Hanan. Jinan pulang bersama Hanan. Tetapi sepanjang perjalanan, terjadi perang dingin antara mereka berdua.
Jinan hanya diam saja sambil melihat pemandangan sepanjang jalan. Sementara Hanan pun hanya diam, fokus pada kemudi nya.
"Ekhemmm hemm... " Hanan sengaja pura pura batuk untuk menghilangkan keheningan diantara mereka.
Tetapi ternyata tetap saja, Jinan tetap diam tak bersuara.
"Mas! Jinan turun di butik nya tante Mira aja, ya!" Ujar Jinan setelah lama diam mematung.
"Loh, kok di butik tante Mira?" Tanya Hanan heran.
"Iya, Jinan mau nyari baju. Lagian udah lama juga Jinan gak main ke butik tante Mira." Jawab Jinan.
Hanan pun hanya tersenyum dan mengangguk. Hanan bisa melihat dari raut wajah Jinan, kalau mood Jinan sedang tidak enak. Sehingga Hanan takut untuk banyak bertanya. Hanan takut Jinan malah kesal padanya.
Begitu sampai di depan butik tante Mira, Jinan langsung pamit pada Hanan dan membuka pintu mobil. Tidak seperti biasanya yang selalu memberikan kata kata romantis, kali ini Jinan hanya pamit biasa saja dan masuk ke butik tante Mira.
"Hufftttt.... Sungguh sempurna ciptaan mu, ya allah." Ucap Hanan menghela nafas, saat melihat sikap Jinan yang suka berubah ubah itu.
Hanan pun kembali mengendarai mobilnya dan meninggalkan butik tante Mira, lalu kembali ke kantor.
"Assalamu'alaikum." Ucap Jinan saat spai di dalam butik.
"Wa'alaikumussalam. Loh, Jinan! Kamu sama siapa?" Jawab seorang wanita berhijab pasmina dengan tunik Malaysia berwarna pink itu.
"Jinan sendiri, Tan!" Balas Jinan mencium tangan wanita itu, yang di panggil Jinan Tante Mira.
"Owh, tante pikir sama suami kamu."
"Mas Hanan lagi sibuk, Tan!" Tante Mira pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Eh ayo duduk!" Ujar tante Mira mempersilahkan Jinan duduk.
"Kemarin bunda kamu sama Tifah juga kemari!" Lanjut tante Mira saat berjalan menuju sofa.
"Oh ya? Ngapain, Tan?"
"Katanya sih mau nyari kebaya buat wisudanya Tifah. Emang kamu belum tau kalau Tifah mau wisuda?"
"Jinan, tau. Tapi Jinan pikir masih lama." Jawab Jinan.
"Tante gak tau juga, sih, kapan wisudanya. Tapi Tifah mintanya, rabu depan udah selesai kebaya nya."
"Oh iya, kamu mau minum apa, nih?" Sambung tante Mira bertanya.
"Gak usah repot, tan." Tolak Jinan secara halus.
"Enggak repot, kok." Tante Mira pun berdiri untuk meminta karyawan nya menyiapkan minuman dan cemilan untuk menjamu Jinan.
Karena tujuan Jinan ke butik tante Mira memang ingin bersilaturahmi dan berkunjung saja, Jinan dan Tante Mira pun menghabiskan waktu untuk mengobrol dan curhat. Karena memang sudah lama juga mereka tidak mengobrol semenjak Jinan menikah. Dan kebetulan, hari ini tante Mira lagi senggang, jadi Jinan tidak menganggu nya sama sekali.
...----------------...
Para karyawan sedang sibuk berlalu lalang kesana kemari, keluar masuk ruang direktur dan juga keluar masuk ke dalam ruangan Hanan. Itu semua karena mereka sedang sibuk dengan pekerjaan yang terkendala akibat kebakaran gudang tempo lalu. Ditambah lagi, banyak para klien yang meminta uang mereka kembali dan lebih parahnya memutuskan kontrak kerja serta mencabut dana investasi mereka dari perusahaan Hanan.
Saat di ruangan, Hanan tidak berhenti fokus dari layar komputer nya untuk mencari jalan keluar dari setiap masalah kantor yang saat ini ia hadapi. Belum lagi urusan gaji karyawan yang sebentar lagi akhir bulan. Sementara uang perusahaan semakin menipis karena sudah terpakai untuk ganti rugi dengan klien.
"Pak! Kemarin ada seorang wanita yang menawarkan investasi menarik untuk kantor kita!" Ujar Andri, Sekretaris Hanan yang kebetulan sedang membantu Hanan bekerja di dalam ruangannya.
"Oh ya? Siapa dia?" Jawab Hanan antusias dan meninggal kan kegiatannya dengan layar komputer yang masih menyala.
"Dia belum menyebutkan namanya, pak. Katanya, bapak sudah mengenal dia, dan dia juga berkenan membantu kita untuk melunasi semua ganti rugi yang diminta klien." Sambung Andri menjelaskan.
"Cukup menarik! Apalagi saat ini perusahaan kita benar benar membutuhkan dana, ditambah lagi ini sudah mendekati akhir bulan dan para karyawan pastinya butuh gaji untuk keluarga mereka." Balas Hanan.
"Saya mengerti, pak!"
"Pak! Saya ini kan masih single, jadi saya pribadi tidak begitu memerlukan gaji saya bulan ini. Jadi, saya gak masalah pak, kalau bukan ini bapak gak ngeluarin gaji saya." Sambung Andri dengan tatapan tulus.
"Maksud kamu? Kamu gak masalah kalau gak di gaji bulan ini?" Andri mengangguk.
__ADS_1
"Gak bisa gitu lah, Ndri. Kamu kan udah kerja satu bulan dengan baik, kamu pantas mendapatkan gaji kamu. Lagu pula, gaji itu kan hak kamu. Masa iya saya gak menyerahkan hak kamu, sama aja saya zolim, Ndri." Jawab Hanan.
"Tapi, pak, saya ikhlas. Wallahi saya ikhlas, pak. Saya juga paham dengan kondisi ekonomi perusahaan kita. Saya gak mau memaksakan nya pak, biar lah saya gak dapat gaji bulan ini, asalkan temen temen yang lain dapat gaji mereka, pak. Karena sebagian besar karyawan disini kan sudah berkeluarga dan udah punya anak, kasian mereka, pak." Jelas Andri tulus.
"Masya Allah, luar biasa hati kamu, Ndri. Saya beruntung memiliki sekretaris sebaik dan setulus kamu. Tetap pertahankan, ya." Jawab Hanan seraya menepuk bahu Andri pelan dan tersenyum.
"In sya Allah, pak. Saya sadar, semua ini kan hanya titipan Allah, dan saya yakin rezeki saya gak akan ketuker, pak. Walaupun bulan ini gaji saya gak keluar, saya yakin Allah akan mencukupi kebutuhan saya."
"Luar biasa, Ndri. Siapapun wanita yang kelak menjadi istri kamu, dia adalah wanita yang sangat beruntung, Ndri." Puji Hanan membuat Andri mesam mesem.
"Ahh bapak paling bisa,nih kalau suruh buat kuping saya ngembang." Seloroh Andri.
"Owh jadi kuping kamu ngembang itu karena sering saya puji ya, Ndri. Hahahhahahha."
"Wahhh bisa jadi tuh, pak. Hahahha."
Meskipun hanya candaan ringan, tapi setidaknya mampu membuat Hanan dan Andri tertawa. Sehingga dapat menghilangkan kepusingan mereka sejenak.
"Tapi saya beneran salut sama kamu, Ndri. Gak cuma pekerja keras dan amanah aja, tapi kamu punya nilai plus. Kayak sikap rendah hati kamu, ini." Tutur Hanan salut.
"Memandang dunia kita memang harus dengan kerendahan hati, pak. Kalau dengan ketinggian hati, itu akan menimbulkan sikap sombong. Dan akhirnya, diri kita yang akan hancur dengan kesombongan itu sendiri." Jawab Andri bijak.
"Hari ini kamu mengajarkan saya hal baru tentang kehidupan, Ndri. Terima kasih, ya!" Jawab Hanan.
"Seharusnya saya yang harus berterima kasih, pak. Justru semenjak bapak mau menampung saya di perusahaan ini, hidup saya jauh lebih baik. Diri saya yang dulunya seorang pemuda jalanan, kini saya menjadi seorang pemuda kantoran."
"Saya hanya perantara! Allah lah yang menakdirkan kamu bertemu dengan saya sampai pada akhirnya kamu bisa memperbaiki hidup kamu." Andri tersenyum hari dengan sikap atasannya itu.
Andri ingat betul, dulu dirinya adalah seorang pemuda jalanan yang tidak memiliki masa depan yang jelas dan hidup dengan sangat berantakan. Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan Hanan, sehingga ia bisa memperbaiki masa depannya yang hampir hancur. Setiap kali mengingat hal itu, Andri selalu bersyukur pada Allah. Dan lewat hal itu, Andri jadi semakin yakin, bahwa Allah tidak tidur. Allah memang benar benar adil pada hambanya, dan rezeki tidak akan pernah tertukar, kalau kita memang mau bersungguh sungguh mencarinya.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...HUAAAA ALHAMDULILLAH SETELAH SEKIAN LAMA BISA UP LAGI🤩 DAN ALHAMDULILLAH UJIAN UDAH SELESAI, NIH, JADI BISA UP LAGI😊 SEBELUMNYA MAKASIH BANYAK BUAT SEMUA YANG UDAH SETIA NUNGGU KELANJUTAN CERITA HANAN DAN JINAN YA🥰 IN SYA ALLAH BAKALAN RAJIN UP KOK, DO'AIN AJA YA🤩...