
...🖤🖤🖤...
..."Memiliki suami yang mampu menerima apa adanya diri kita, adalah impian setiap wanita, jadi hargailah saat kamu sudah mendapatkan suami yang memenuhi kriteria tersebut"...
...#Bersamamu, Imamku...
...🖤🖤🖤...
Jinan hanya pasrah saja dengan Hanan, karena walaupun Jinan percaya bahwa yang dikatakan Rani itu benar, tetapi dalam hati kecil Jinan berharap, bahwa ini semua keliru.
Sampai di rumah tetangga Bayu, Hanan pun meminta izin untuk melihat rekaman CCTV mereka. Dan setelah mendapatkan izin, Andri langsung melihat rekaman CCTV itu.
Rani sudah keringat dingin saat itu. Bagaimana kalau kebohongan nya terungkap? Apa yang harus ia lakukan?
"Ehmm, aku mau izin ke toilet dulu, ya!" Saat Rani mengatakan hal itu, Andri langsung melihat Rani dengan tatapan tajam.
"Enggak! Kamu pasti mau kabur, kan!" Jawab Andri sinis.
Rani pun tidak bisa beranjak kemana mana, akhirnya hanya melihat dan menunggu Andri yang sedang mengublek ublek rekaman CCTV itu.
Beberapa menit kemudian, Andri pun menemukan rekaman CCTV yang mereka cari.
"Ini, pak. Rekaman CCTV nya." Ujar Andri.
Hanan dan Jinan pun melihat rekaman itu dengan seksama. Tampak jelas disitu terlihat, Mulai dari Hanan yang datang ke rumah Bayu sampai semua kegiatan Hanan. Disitu juga terlihat saat Hanan ingin pulang, tetapi tidak jadi karena hujan lebat.
"Mas... " Lirih Jinan.
"Iya, sayang." Jawab Hanan.
" Mas.... Hiksss hiksss.. " Jinan terisak dalam pelukan Hanan.
"Ji.." Hanan membalas pelukan yang sangat merindukan itu.
Sementara Rani diam mematung, rasanya ingin kabur tetapi Andri sudah memegangi tangannya dengan sangat kuat.
"Maafin aku, mas!" Lirih Jinan yang masih tenggelam dalam dekapan Hanan.
__ADS_1
"Enggak... Ini pasti bohong! Malam itu Hanan beneran sama aku." Timpal Rani tak terima.
"Bohong? Sekarang kamu sudah bisa melihat kan? Siapa yang berbohong?" Sahut Hanan.
"Jinan... Jangan percaya sama rekaman CCTV itu, itu gak bener!" Sambung Rani terus meyakinkan Jinan.
"Malam itu suami ka...(Plakkkkkk)"
Rani belum menyelesaikan ucapannya, namun sebuah tamparan sudah mendarat dengan apik di pipi kanannya.
"Kamu bener bener gak punya malu, Ran!" Ucap seorang pria yang tadi menampar Rani.
"Mas Danu." Lirih Rani tak percaya.
"Iya! Ini aku, Rani." Sahut pria itu.
"Ternyata kamu disini Rani! Kamu tau, aku udah cari kamu kemana mana, mulai dari rumah orang tua kamu sampe rumah temen temen kamu. Tapi ternyata kamu malah ada disini dan ternyata kamu masih aja ganggu rumah tangga orang!" Ucap pria itu dengan nada marah.
Dari wajah pria itu, sepertinya pria itu benar benar marah besar pada Rani.
"Saya Danu, mbak. Suami sahnya Rani." Lugas pria tersebut.
"Suami?" Tanya Hanan dan Jinan bersamaan.
"Iya. Saya dan Rani sudah menikah sejak beberapa bulan lalu, tapi semenjak tiga bulan ini usaha saya bangkrut. Dan hal itu menyebabkan Rani kembali ke kebiasaan lamanya. Yaitu memanfaatkan pria hanya untuk keegoisan nya semata." Jelas pria tersebut. Penjelasan itu cukup membuat Hanan dan Jinan ternganga tak percaya.
"IYA. SEMUA ITU BENER! Aku ngelakuin ini semua demi keegoisan aku aja. Karena aku gak tahan hidup miskin sama kamu, Danu." Jawab Rani menanggapi.
"Tapi yang kamu lakuin ini udah mempermalukan aku, Ran. Aku ini suami kamu, setidaknya hargai aku, Rani!"
"Terserah kamu, Danu. Kalau kamu malu punya istri kayak aku, lebih baik kamu ceraikan aku! Setelah kamu ceraikan aku, pasti aku bisa lebih leluasa untuk dapetin hati Hanan lagi." Jawab Rani dengan percaya diri, seolah olah tak punya malu saat mengatakan hal itu.
Plaaakkkkk
Sebuah tamparan lagi yang kini mendarat apik di pipi kiri Rani. Tamparan itu kini berasal dari tangan lembut Jinan. Dengan tatapan tajam, Jinan mendaratkan tamparan itu di pipi Rani. Karena sudah tak tahan dengan ucapan Rani.
"Kamu bener bener wanita gak tau bersyukur ya, Ran. Seharusnya kamu bersyukur memiliki suami yang mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus. Dan kamu seharusnya juga bersyukur mendapatkan laki laki sebaik Danu, yang mau menerima baik buruk kamu termasuk masa lalu kamu." Ujar Jinan dengan emosi yang sudah memuncak dibuat Rani.
__ADS_1
"Memiliki suami yang mampu menerima apa adanya diri kita, adalah impian setiap wanita, jadi hargailah saat kamu udah mendapatkan suami yang kayak gitu, Rani." Lanjut Jinan.
"Mbak, sekali lagi saya mewakili istri saya, saya mohon maaf ya mbak, mas. Saya merasa gagal menjadi seorang suami." Sahut Danu, suami Rani.
"Tapi setidaknya saya sekarang bersyukur karena bisa menemukan keberadaan istri saya. Selama ini saya nyari Rani, karena Rani kabur dari rumah. Saya nyari Rani kemana mana, untung aja saya bertemu sama Bayu. Karena lewat Bayu juga lah saya bisa menemukan keberadaan istri saya sekarang."
"Kamu kenal dengan Bayu?" Tanya Hanan.
"Iya, mas. Saya dan Bayu adalah rekan kerja dulunya, jadi selama saya nyari Rani di kota ini, saya juga sempat tinggal di rumah Bayu. Dan pada saat saya menyebut nyebut nama Rani, Bayu juga penasaran. Saya pun mengenalkan istri saya pada Bayu. Setelah itu, Bayu membantu saya dengan menceritakan semua masa lalu mas Hanan dan istri saya. Bayu juga memberi tahu semua masalah yang diciptakan oleh Rani. Sampai hari ini, saya sempat datang ke kantor mas Hanan." Jelas Danu.
"Kamu ke kantor saya?" Tanya Hanan.
"Iya, mas. Tapi karyawan mas bilang, kalau mas Hanan gak masuk Kantor, saya juga sempat hubungin mas Hanan tapi gak ada jawaban. Niat saya, besok saya akan kembali ke kantor mas lagi dan tadi saya kebetulan kesini buat ngambil beberapa barang saya yang tertinggal, pas saya sampai, saya mendengar suara Rani, makanya saya masuk, mas." Sambung Danu.
Setelah Danu menjelaskan semua, Jinan sekarang merasa lebih lega. Karena ternyata semua yang dikatakan Rani hanyalah sebuah kelicikan semata.
"Rani! Sekarang kamu ikut aku!" Titah Danu menarik tangan Rani.
"Lepasin! Aku gak akan mau balik ke suami miskin kayak kamu!" Ucap Rani memberontak.
Saat Danu sedang memaksa Rani untuk diajak pulang, tiba tiba segerombolan polisi datang ke tempat itu.
"Saudari Rani!" Ucap salah satu polisi yang berhasil masuk.
Semua orang pun tercengang melihat dua orang polisi yang datang kesitu. Ntah darimana datangnya dua polisi tersebut, tetapi yang pasti polisi itu sudah sampai disitu.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
S a l a m H a n g a t,
Za
__ADS_1