
...๐งก๐งก๐งก...
..."Segala takdir kita, jika dijalani dengan ikhlas, maka takdir itu akan terasa manis, meskipun takdir tersebut bukan yang kita harapkan"...
...#Bersamamu, Imamku...
...๐งก๐งก๐งก...
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hanan.
"Pak Hanan, kami adalah pihak polisi yang menyelidiki kasus kebakaran gudang yang terjadi tempo hari di kantor bapak. Dan kami kesini, untuk menangkap dalang di balik peristiwa tersebut." Jelas polisi tersebut.
Hanan masih bingung dengan ucapan polisi tersebut, Hanan pun melihat ke arah Andri seolah meminta penjelasan dari Andri.
"Benar, pak. Polisi ini lah yang menyelidiki kasus kebakaran gudang kita. Tadi saya dihubungi oleh mereka, dan mereka menanyakan posisi bapak saat ini." Ujar Andri yang mengerti kode dari Hanan.
"Kami kesini bukan hanya untuk memberikan laporan penyelidikan kami, tetapi kami kesini juga ingin menangkap orang yang dalang peristiwa tersebut." Sambung polisi satu lagi.
"Dalang dari peristiwa itu? Siapa orang nya?" Tanya Hanan penasaran.
"Ini!" Polisi tersebut menunjukkan sebuah foto seorang wanita dengan jaket hitam. Meskipun wajah wanita itu sedikit tertutup jaket, wajahnya masih dapat terlihat samar samar.
Hanan pun melihat foto yang ditunjukkan oleh polisi tersebut. Sementara Rami sudah gemetar saat itu. Melihat foto itu, Hanan langsung bisa mengenali wanita yang ada di foto itu.
"Rani?" Ujar Hanan menoleh ke arah Rani
"Iya, pak. Dalang dibalik kebakaran gudang kita adalah mbak Rani." Jawab Andri.
"Saudari Rani! Kami kesini untuk membawa anda!" Ujar polisi itu.
"Hah? Saya gak salah, pak! Kenapa malah saya yang mau dibawa." Protes Rani.
"Anda bisa menjelaskan nya setelah sampai di kantor polisi nanti. Sekarang, anda harus ikut kami." Titah sang polisi.
"Tapi saya gak bersalah, pak. Hanan, bukan aku yang ngelakuin itu." Rani meraih tangan Hanan untuk mendapatkan pembelaan dari Hanan. Tetapi Hanan menepis tangan Rani begitu saja.
"Yang namanya penjahat, tetap penjahat! Dan tempat untuk seorang penjahat kayak kamu, adalah di dalam jeruji besi, Rani." Sambung Hanan.
"Enggak? Aku gak mau mendekam di dalam penjara!"
__ADS_1
"Mas... Mas Danu, tolong bantuin aku, mas!" Sambung Rani memohon pada Danu, suaminya.
"Maaf, Rani. Kali ini aku gak bisa berbuat apa apa. Udah berapa kali aku ingetin ke kamu, tapi kamu selalu mengabaikannya. Dan sekarang, kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu. Ini semua juga demi kebaikan kamu, Rani." Jawab Danu.
"Aku ini istri kamu, Danu. Masa kamu gak mau bantuin aku!" Teriak Rani membentak Danu
"Saudari Rani! Sekarang anda harus ikut kami!" Karena kehabisan kesabaran, polisi itu pun membawa Rani dengan paksa seraya memborgol kedua tangan Rani.
Akhirnya secara paksa, Rani pun dibawa ke kantor polisi. Sementara Danu hanya bisa diam membiarkan istri liciknya itu dibawa oleh para polisi. Danu mungkin ingin membantu Rani, tetapi Danu tidak tau harus membantu apa.
"Sekali lagi, saya minta maaf atas nama istri saya, mas. Saya minta maaf karena ulah istri saya, rumah tangga kalian jadi bermasalah." Ujar Danu.
Hanan menepuk punggung Danu pelan, "Santai aja mas Danu. Kami sudah memaafkan Rani. Lagi pula, Rani sekarang sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatan nya. Semoga saja, dengan hal ini, Rani dapat merubah dirinya."
"Aamiin.Terima kasih, mas, mbak."
......***......
Pulang dari rumah tetangga Bayu, Hanan mengajak Jinan ke sebuah tempat. Tempat itu bukanlah tempat yang asing buat Jinan dan Hanan.
"Kita mau ngapain kesini, mas?" Tanya Jinan heran.
"Ehmm.. Tunggu! Tunggu! Tempat ini kayak gak asing buat aku. Tapi tempat apa, ya?" Ujar Jinan mencoba mengingat ngingat.
"Awal pertemuan dua insan yang tidak mengenal satu sama lain, tetapi suatu saat takdir justru mempersatukan mereka. Meskipun lewat sebuah hubungan yang terpaksa." Sambung Hanan.
Mendengar ucapan Hanan, Jinan pun mencoba mengingat ngingat nya. Dan terlintas lah dipikiran Jinan saat ia pertama kali melihat Hanan di tempat itu.
"Ya! Sekarang Jinan ingat. Waktu itu, mas Hanan adalah laki laki yang nolongin sepasang suami istri yang lagi ada masalah sama preman, kan?" Hanan mengangguk.
"Tapi, kok mas Hanan bisa tau, kalau Jinan ada disini? Terus mas Hanan kok masih ingat?"
"Saat itu, mas gak sengaja ngeliat kamu. Meskipun cuma sekilas, tapi mas bisa ngeliat wajah kamu dengan jelas."
"Mas belum punya perasaan apapun sama kamu saat itu."
"Tapi sekarang... " Hanan menahan kalimatnya.
"Sekarang?" Balas Jinan, agar Hanan segera menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Sekarang, mas adalah laki laki yang sangat sangat mencintai kamu. Dan mas adalah laki laki yang sangat sangat beruntung memiliki kamu." Sambung Hanan menangkup wajah Jinan dengan kedua tangannya.
"Mas... Hiksss... hiksss." Tiba tiba saja, Jinan menangis. Membuat Hanan bingung dan cemas, karena Jinan tiba tiba saja menangis.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa nangis?"
"Mas, Jinan minta maaf, ya?"
"Jinan minta maaf karena Jinan udah sempat meragukan cinta mas Hanan, sampe sampe Jinan mengucapkan kata yang seharusnya gak Jinan ucapkan. Jinan minta maaf, mas. Hiksss hiksss."
Dengan sigap Hanan langsung menarik Jinan ke dalam pelukannya. Didekapnya erat erat tubuh istri mungilnya itu. Di dalam pelukan Hanan, Jinan semakin terisak.
"Maafin Jinan, mas." Lirih Jinan yang masih terisak.
"Sssttt.... Udah, ya. Kamu gak perlu minta maaf, sayang." Sambung Hanan seraya mendarat kan kecupan di kening Jinan.
"Udah, jangan nangis! Mulai detik ini, mas gak akan biarin air mata jatuh dari mata indah kamu." Hanan pun menyeka air mata yang membasahi pipi putih Jinan.
Hanan membawa Jinan kesebuah bangku berwarna putih. Untuk membuat Jinan sedikit lebih lega dan menghilangkan kesedihan dan rasa penyesalan Jinan.
"Sayang. Satu hal yang dapat mas pelajari dari kisah kita. Mas bisa memahami bahwa segala takdir kita, jika dijalani dengan ikhlas, maka takdir itu akan terasa manis, meskipun takdir tersebut bukan yang kita harapkan." Ujar Hanan menggenggam tangan Jinan.
"Mas.... Ana uhibbuka Fillah. Jangan pernah tinggalin Jinan, mas. Tetap lah menjadi Hanan yang selama ini Jinan kenal. Hanan yang cuek sama wanita, Hanan yang gak pernah nunjukin perbuatan baiknya ke semua orang dan Hanan yang selalu menerima Jinan apa adanya."
"Itu pasti, sayang."
Mungkin kisah cinta Hanan dan Jinan tidak seindah kisah Sayyidah Fatimah dengan sayyidina Ali. Bukan pula seromantis Sayyidah Aisyah dengan Nabi Muhammad. Tetapi kisah cinta Hanan dan Jinan, cukup memberikan banyak pelajaran di dalam hidup mereka.
Mulai dari takdir yang tidak bisa dihindari, sampai hati yang harus ikhlas menerima kenyataan. Hanan dan Jinan juga belajar satu hal dari kisah cinta mereka, hal tersebut adalah cinta tidak harus melalui sebuah perkenalan yang cukup panjang. Jika Allah sudah berkehendak, cinta bisa datang kapan saja. Meskipun hanya baru sekali bertemu.
.
.
.
[B e r s a m b u n g]
S a l a m H a n g a t,
__ADS_1
N i s a U l Z a k i y a h