Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Tersakiti Lagi


__ADS_3

Telepon berdering di atas nakas Nisa.


Nisa yang sedang menyetrika baju kerja Reyfan segera menghampiri nakas.


"Assalamualaikum," sapa seorang wanita di sambungan teleponnya.


"Waalaikumsalam Ibu."


"Nisa apa kabar kamu Nak?"


"Alhamdulillah Baik Bu. Ibu dan ayah apa kabar?"


"Baik juga."


"Nisa bagaimana dengan kehidupan kamu setelah berumah tangga? Kamu bahagia Nak?" Dari pertanyaannya Bu Halimah terdengar kekhawatiran. 


"Alhamdulillah baik-baik saja Bu. Hanya saja kami masih perlu penyesuaian diri."


"Alhamdulillah kalau begitu ibu sedikit merasa tenang Nak."


"Iya, ibu tak perlu khawatir."


"Iya Nisa, tapi kapan kamu akan mengunjungi ibu dan ayah?"


"Insya Allah bulan depan mungkin Bu. 


"Iya Nak, kalau suami kamu sibuk gak bisa mengantar gak apa-apa kok, yang penting kamu baik-baik saja."


"Oh iya Bu, bagaimana dengan kabar Najwa?"


"Najwa? Najwa masih di pesantren sepertinya."


"Oh syukurlah."


"Memang kenapa Nisa?"


"Enggak kok, ada seseorang yang meminta Nisa untuk mencarikannya  jodoh, dia ingin seorang gadis pesantren yang polos, Sholeha dan baik. Nisa rasa cocok sekali dengan kriteria Najwa Bu."


"Ehm, Memangnya siapa dia Nisa?"


Nisa terdiam sejenak.


"Nanti suatu saat Nisa beritahu ke ibu ."


"Eh Nisa, kalau mau mencarikan jodoh untuk Najwa harus laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Jangan sembarangan."

__ADS_1


"Iya Bu, Nisa hanya jadi perantara saja,itu tergantung Abah Usman lagi Bu."


"Sudah dulu ya Bu. Sebentar lagi mau magrib."


"Oh iya Nak."


Bu Halimah menutup telepon tersebut dengan perasaan tak enak hati.


Entah kenapa dia mendengar ada getaran kesedihan ketika Nisa mengatakan ingin menjodoh kan Najwa dengan seseorang.


"Ya Allah, padahal Nisa selalu bilang keadaannya baik-baik saja, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan."


Sebenarnya Bu Halimah kurang menyetujui pernikahan antara Anisa dan Reyfan. Namun sang suami selalu meyakinkan dirinya agar dia menerima Reyfan sebagai menantu. 


Selain karena ayah Reyfan adalah sahabat baiknya, pak Imam pun mengenal Reyfan saat masa remajanya. Dan diketahui jika Reyfan anak yang baik.


Sebentar lagi waktu magrib tiba, setelah berbicara dengan ibundanya, Anisa berniat untuk mengingatkan Reyfan tentang kewajibannya untuk menunaikan shalat magrib.


Untuk sementara Anisa memang menghindari terlalu lama bicara pada ibundanya. Jika sudah bicara, rasanya Nisa ingin mengadu tentang masalah yang terjadi di rumah tangganya saat ini. Tapi rasanya tak bijak membicarakan keburukan suami kepada orang tuanya, apalagi Nisa masih berharap suatu saat Reyfan berubah.


Nisa melangkah menghampiri kamar Reyfan, tiba-tiba dia berhenti karena teringat akan kata-kata Reyfan yang pernah menyakiti hatinya.


Nisa pun mengelus dada ketika mengingat kembali perkataan Reyfan yang menyamakan dirinya dengan barang bekas. Kata-kata Reyfan kembali terngiang-ngiang di telinganya hingga membuatnya menghentikan langkahnya.


Jika mengingat hal itu, rasanya Anisa tak akan sudi untuk bicara apalagi mencarikan jodoh untuknya. Namun Nisa mencoba untuk sabar, sebisa mungkin belajar untuk ikhlas membantu Reyfan karena mengharap ridho Allah , apalagi sepertinya Reyfan butuh seseorang untuk menuntunnya ke jalan yang benar. 


Anisa menggedor pintu kamar Reyfan.


Tok tok 


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Reyfan keluar dengan menggunakan outfit nya.


"Ada apa?" tanya Reyfan.


"Ehm, sebentar lagi magrib, kita sholat magrib berjamaah yuk."


"Sholat magrib? Tapi aku mau pergi."


"Sholat Maghrib dulu, setelah itu kita mengaji sampai sholat isya."


"Hah? Kok kamu jadi ngatur-ngatur aku sih?"tanya Reyfan bernada protes.


"Bukannya anda sudah bertekad ingin menjadi pria yang lebih baik untuk bisa mendapatkan jodoh idaman yang anda harapkan?"


"Iya tapi aku mau pergi, ada urusan."

__ADS_1


"Pergi bisa ditunda, tapi sholat gak bisa ditunda."


"Atau saya  tak akan membantu anda mencari jodoh seperti yang telah kita sepakati ?"ancam Nisa.


Reyfan memutar bola matanya ke segala arah.


"Apa wanita yang ingin kau jodohkan dengan ku itu begitu cantik hingga aku harus berusaha sekeras itu?"


"Cantik itu relatif, tapi ada standar kecantikan yang diakui oleh semua orang, yakni kecantikan lahiriah dan  batiniah dan aku punya calon yang akan ku pilihkan untuk mu, dia adalah wanita yang memiliki kecantikan lahiriah dan batiniah sekaligus."


Reyfan mengernyit dahinya.


 "Tapi itu semua tergantung pada anda lagi, jika anda  ingin memiliki istri yang sholehah, Anda harus lebih Sholeh dari wanita itu, karena untuk mendapatkan semua itu butuh pengorbanan dan perjuangan. Seperti ujian yang ditempuh ketika sekolah dulu , jika anda ingin mendapatkan yang terbaik, anda juga harus bekerja keras untuk mendapatkannya bukan?"


Reyfan masih bergeming menatap Anisa.


"Atau anda  mundur saja dan menerima saya  sebagai istri anda selamanya?" tanya Anisa mempertegas.


"Ehm, kalau menerima kau , berarti sama saja aku menerima pacar-pacar ku yang lain kan? Sudah jadi bekas orang," sahut Reyfan tanpa belas kasihan.


"Atas  dasar apa anda    menyamakan mereka dengan saya? Apa anda pernah menyentuh saya ? Apa anda pernah melihat tubuh saya ?"


"Tidak pernah, dan tidak ingin," sahut Reyfan santai.


Anisa mengulas senyum pahitnya.


"Karena itulah anda  tidak bisa menilai saya, apalagi membandingkan saya dengan mantan pacar anda."


"Satu lagi saya ingatkan. Jangan memandang rendah seseorang hanya karena status sosialnya. Kadang yang terlihat tak seperti keadaan sebenarnya. Sudah cukup menghina saya. Saya tidak pernah minta anda nikahi. Anda dan ayah anda lah yang datang melamar saya. Jika tidak suka silahkan pulangkan saya ke rumah orang tua saya. Dan satu lagi saya tidak meminta upah atau imbalan apapun untuk mengajak anda sholat. Saya lakukan itu hanya karena kewajiban seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah saling mengingatkan dalam kebaikan. Apalagi anda adalah suami saya."


Lagi-lagi Nisa merasa sakit hati dengan kata-kata suaminya itu.


Namun, dia berusaha untuk tetap sabar. Nisa mengatur napasnya. Agar tak terbawa emosi.


Reyfan menatap Annisa yang selalu menundukkan pandangannya.


Allahu  Akbar! Allahu Akbar!


Suara Adzan berkumandang di aplikasi Annisa, membuat keduanya tersentak  dari lamunannya.


"Ayo bersiaplah, anda mau kita sholat dimana di kamar saya , atau kamar Anda?"


Karena komplek perumahan mereka memang sedikit jauh dari masjid, Anisa mengajak suaminya untuk sholat di rumah mereka sendiri.


"Di kamarmu saja," sahut Reyfan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya tunggu."


Bersambung duku gengs.Jangan lupa di like komen dan vote. seiklasnya saja .


__ADS_2