
Annisa masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan sajadah yang akan mereka gunakan untuk shalat magrib bersama.
Setelah itu dia pergi berwudhu dan langsung memasang mukenanya dan masih bercadar.
Reyfan masuk kedalam kamar tersebut dengan menggunakan baju Koko putih membuatnya semakin tampan.
Hingga membuat Anisa terharu. Sebenarnya sudah lama dia ingin sholat berjamaah bersama suami. Namun keadaan kedua suaminya yang terdahulu tak mengizinkan. Meski pun sadar jika Reyfan tak menginginkan. Namun, jauh di lubuk hati Annisa di berharap suatu saat Reyfan bisa menerimanya sebagai istri.
Mereka pun mulai dengan sholat Magrib nya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Reyfan sambil menoleh ke arah kanan dan kiri bertanda sholat sudah berakhir.
Anisa tersenyum dalam hati dia mengagumi suara Reyfan yang merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci.
"Suaranya bagus juga," gumam Nisa.
Setelah sholat Reyfan langsung beranjak hendak pergi.
"Eh, kamu gak berdoa dulu? Main langsung pergi saja?" tanya Annisa.
Reyfan mendengus kesal.
"Yang penting kan sudah sholat."
"Saat sholat, inilah waktu yang tepat bagi kamu untuk meminta pada Tuhan yang maha esa. Belajar lah untuk selalu dekat dengannya dan yakinlah, jika Allah pasti mengabulkan semua doa kamu."
Reyfan kembali duduk sambil merentangkan tangannya ke atas.
"Eh, berdzikir dulu baru kita berdoa."
"Kenapa harus berdzikir sih? Emang gak boleh langsung berdoa?"
"Bukannya gak boleh, tapi Zikir itu anjuran Allah dan rasulnya. Dzikir membuat hati kita damai dan tentram."
"Ehm, aku sudah lupa bagaimana cara Dzikir habis sholat."
"Ikuti saja saya."
Anisa melafalkan cara berdzikir setelah habis sholat.
__ADS_1
Setelah berzikir masing-masing mereka berdoa di dalam hati.
"Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati hambanya, berilah hidayah pada suami hamba untuk kembali ke jalan yang lurus. Semoga engkau membuka hatinya untuk bisa menerima hamba sebagai istrinya. Ampunilah dosa beliau dan jauhkanlah dia dari perbuatan maksiat."
"Ya Allah Tuhan hamba, berilah hamba istri yang baik, Sholeha dan masih menjaga kesuciannya."
Keduanya pun mengucapkan kata Aamiin.
Setelah berdoa Reyfan kembali hendak beranjak meninggalkan kamar itu.
"Hey, mau kemana! Bukanya habis ini kita harus mengaji?" seru Annisa.
"Apalagi sih?" dengus Reyfan.
"Kamu harus mengaji dan menghafalkan minimal satu surah panjang biasanya sebelum meminang gadis Sholeha, kamu akan diuji dengan hafalan surah-surah tertentu."
"Hah? Sebegitu sulitnya untuk mendapatkan gadis Sholeha?"
Anisa tersenyum di balik cadarnya.
"Tentu saja, kamu pikir gampang apa menikahi gadis lulusan pesantren?"
"Apakah dua calon suami kamu juga melamar kamu dengan hafalan Qur'an?"
"Karena suami saya terdahulu memang lulusan pesantren. Tapi tak hanya itu saja, keadaannya memang tak memungkinkan waktu itu."
"Kenapa?"tanya Reyfan dengan sedikit penasaran.
'Karena saat menikah, suami pertama saya sedang berada di rumah sakit akibat penyakit kanker stadium akhir yang dideritanya."
"Kenapa kamu mau menikahi pria yang sakit?" tanya Reyfan yang menilai itu suatu kebodohan.
"Karena sejak kecil kami dijodohkan dan rencananya kami akan dinikahkan setelah saya selesai menjalani pendidikan di pesantren. Namun sayangnya setahun sebelum saya tamat sekolah, calon suami saya didiagnosa menderita kanker ganas. Saat itu keinginan terakhirnya adalah ingin bersama saya di akhir hayatnya. Kami pun menikah di rumah sakit dengan seadanya, setelah tiga hari pernikahan itu, dia pun dipanggil oleh yang maha kuasa."
"Hah jadi kalian berdua belum sempat berbulan madu dan tidur bersama?"
Anisa menggeleng kepalanya.
"Lalu kenapa kamu mau dinikahi jika hanya untuk memberikan kamu status janda?"
__ADS_1
"Karena status janda tidak buruk bagi saya. Itu hanya status yang di sematkan di masyarakat."
"Lalu pernikahan kedua kamu?"
Anisa menghembuskan nafas panjang.
"Kejadiannya hampir sama, saat itu saya dilamar oleh seorang perwira TNI. Dia meminta pernikahan kami dipercepat karena rencananya selama setahun dia akan ditugaskan di suatu daerah terpencil. Tujuh hari setelah kami menikah, saya kembali mendapatkan kabar jika pesawat yang membawa suami saya dan rekannya mengalami kecelakaan."
Suara Anisa terdengar lirih.
"Jika kedua suami mu terdahulu orang baik, lalu kenapa menerima perjodohan dengan ku, apa ayah ku tak memberitahu bagaimana watak ku?" tanya Reyfan.
"Karena ayah anda yang memohon kepada Abi Abdullah untuk membujuk kedua orang tua saya agar keluarga saya menerima perjodohan ini."
"Apa?! ayah sampai memohon? Apa ayah pikir aku tak laku."
"Bukan begitu, saat itu Abi Abdullah memberikan beberapa kandidat calon istri untuk kamu dari beberapa Santriwati dari murid hingga keponakannya. Padahal waktu itu saya tidak termasuk dalam kandidat calon istri kamu, entah kenapa di saat ayahmu melihat saya, dia justru menjatuhkan pilihan pada saya."
"Tapi kenapa harus kamu yang ayah pilih? kenapa tak santriwati yang masih terjaga kesuciannya?" tanya Reyfan bernada protes.
Annisa kembali tersenyum di balik cadarnya.
"Saya tidak tahu pasti kenapa ayah anda memilih saya. Saat itu ayah dan ibu saya sudah sudah berkata yang sejujurnya jika saya sudah menjanda dua kali. Bahkan kami pernah menyarankan agar beliau menikahi gadis yang telah dipilihkan oleh Abi Abdullah. Tapi beliau tetap ngotot untuk meminang saya dengan harapan jika suatu saat saya bisa merubah anda jadi orang yang lebih baik lagi. Beliau begitu mempercayai dan berharap penuh terhadap saya."
Reyfan tersenyum.
"Nyatanya ayah saya salah kan? bukan kamu yang merubah saya, tapi saya berubah karena saya ingin kamu pergi dari hidup saya."
Anisa kembali tersenyum getir di balik cadarnya.
"Tuhan maha membolak-balikkan hati seseorang Tuan, jangan terlalu yakin dengan apa yang ada di hati dan pikiran anda saat ini.Harusnya apa yang dikatakan oleh ayah anda ada benarnya juga. Jika anda tidak bertemu dengan saya, mungkin anda tak akan merubah diri anda jadi lebih baik lagi, justru karena anda merasa tidak beruntung menikahi saya,anda akan datang sendiri dan memohon pada Tuhan untuk memberikan jodoh yang sesuai dengan keinginan anda."
Reyfan bergeming mendapatkan jawaban menohok seperti itu.
"Kau yakin sekali," dengus Reyfan.
"Segala sesuatu di dunia ini adalah pemberian dari Allah,tapi akan ada tangan manusia sebagai perantaranya."
"Jika seseorang sakit, maka seseorang akan pergi berobat ke dokter,lantas apa karena dokter yang menyembuhkan? Tidak, semua karena pertolongan Allah melalui dokter. Begitupun saya, meski saya tak pernah anda harapkan dalam hidup anda, tapi karena ingin menyingkirkan saya dari kehidupan anda, anda bisa merubah hidup anda menjadi lebih baik lagi . Dan saya bersedia membantu anda untuk membuka lembar baru di hidup anda untuk menjadi yang lebih baik lagi, sampai anda menemukan kebahagiaan yang anda dambakan selama ini, insyaallah."
__ADS_1
Reyfan seperti terhipnotis dengan tutur kata Anisa hingga memandang tanpa berkedip
Sebegitu tuluskah dia? Hingga rela disakiti demi kebahagiaan seseorang yang selalu memandang rendah dirinya?