Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Bertemu Adam


__ADS_3

Nisa dan Najwa masih sibuk, sementara Reyfan kembali ke ruang tamu dia masih memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Najwa.


Reyfan berada dalam dilema, hendak bercerai dia ragu,  dipertahankan, dia sendiri tak tahu bagaimana wanita yang kini menjadi istrinya.


Bahkan Reyfan sendiri tak pernah melihat wajah Anisa.


Reyfan duduk di atas sofa sambil melamun.


"Assalamualaikum," ucap sepasang suami istri.


Reyfan menoleh ke arah pintu. Walaupun dia hanya sekali melihat mertuanya, namun ia dia ingat sepasang suami istri itu adalah ayah dan ibunya Anisa.


"Eh ada menantu," ucap Pak Imam Husein.


Reyfan berdiri kemudian menghampiri mertuanya dan bersalaman.


"Dari mana ayah dan ibu?" tanya Reyfan dengan sopan.


"Dari sebelah, acara lamaran? Kamu sendirian saja?"tanya pak Imam Husein.


"Anisa ada di dapur sedang memasak makan siang."


"Ayah kamu nggak ikut Rey?" Tanya Pak Imam lagi.


"Beliau lagi ikut tour pengajian di beberapa kota."


"Oh begitu."


Pak Imam Husein dan Reyfan berbincang-bincang hingga adzan shalat Dzuhur berkumandang.


Mereka pun menunaikan shalat dzuhur bersama di sebuah masjid yang tak jauh dari rumah pak Imam.


Di beberapa kesempatan, pak Imam memperkenalkan Reyfan sebagai menantunya kepada sahabat dan jamaah masjid.

__ADS_1


Pandangan pak Imam tertuju pada seorang pria yang baru saja masuk masjid.


"Nak Adam!" Panggil pak Imam Husein.


Seorang pria tampan dengan tubuh yang tegap dan tampak sholeh menghampiri Mereka.


"Assalamualaikum pak Imam."


"Waalaikumsalam," ucap pak Imam.


"Apa kabarnya nih Pak?"


"Baik Alhamdulillah Nak Adam."


Adam menoleh ke arah Reyfan kemudian berjabat tangan.


"Dia menantu saya, namanya Reyfan."  Pak Imam memperkenalkan Reyfan.


"Adam."


"Reyfan."


'Apa dia Adam, yang dimaksud oleh Nisa dan Najwa?' batin Reyfan.


"Ayo Nak Adam karena kamu jarang di berada di kampung kita ini, bagaimana jika kamu yang jadi imam sholat Dzuhur?"


"Baik Pak."


Sholat Dzuhur mereka kali itu diimami oleh Adam. Suara Adam begitu lembut dan merdu dalam melafalkan ayat-ayat suci.


Sholat pun selesai dilakukan.


Para jamaah masjid bersalaman. Dan Reyfan kembali menjabat tangan Adam.

__ADS_1


Meski tak banyak bicara. Namun, Reyfan melihat keramahan tamahan dari seorang Adam.


Tutur katanya halus lembut, meski berpendidikan tinggi Adam  tak menggurui para seniornya.


"Nak Adam bekerja dimana sekarang?" tanya salah satu bapak-bapak.


"Saya jadi dosen di sebuah universitas di kota Pak."


"Oh pantesan saya jarang melihat kamu Nak Adam."


"Sudah punya calon istri Nak Adam?" tanya Jamaah yang lainnya.


Adam tersenyum.


"Belum Pak."


"Wah, wah saya punya keponakan yang juga baru lulus dari pesantren, kalau nak Adam bersedia, kita lakukan proses ta'aruf saja."


"Iya Pak terima kasih. Nanti saya bicarakan pada ayah saya dulu. Katanya beliau sudah punya calon untuk saya."


Pak Imam tersenyum sambil menepuk jamaah masjid.


"Kami dan dan pak Abdullah sudah berencana untuk menjodohkan Adam dan Najwa pak, keponakan saya," sahut Pak Imam yang sepertinya tak rela jika Adam jadi calon yang lain.


"Oalah tak jadi dengan Annisa, kini pak Imam mau jodohin Nak Adam dengan Najwa ya."


"Haha iya Pak. Siapa sih yang tak mau menjadikan Nak Adam sebagai menantu," sahut Pak Imam.


Lagi-lagi Reyfan jadi insecure. Mendengar penuturan pak Imam.


Setelah berbincang masing-masing jamaah masjid itu pulang ke rumah masing-masing.


 

__ADS_1


__ADS_2