Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Bukan Jodoh


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat Dzuhur Adam kembali pulang ke rumahnya. Mobil Adam terparkir di halaman rumah kedua orang tuanya.


Rumah tersebut begitu sepi. Seperti tidak ada orang di rumah. Namun Adam memiliki kunci rumahnya.


Kreak …pintu dibuka.


"Assalamualaikum,"ucap Adam. Tak ada yang menyahut salamnya dan memang benar tak ada seorangpun di dalam rumahnya.


Adam masuk ke kamarnya kemudian berbaring sejenak. Setelah merebahkan diri, Adam kembali beberes memasukkan barang-barang yang akan dibawanya kembali ke kota.


Setengah jam kemudian terdengar suara mobil tiba di depan rumah.


"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari arah pintu.


"Waalaikumsalam."


Adam langsung menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Sudah lama kamu sampai Adam?" tanya pak Abdurahman.


"Sekitar 2 jam yang lalu Yah."


"Kenapa tidak bilang ayah sama ibu Jadi kami bisa menyambut kedatangan kamu."


"Ah Adam tidak lama kok Yah. Ada beberapa barang yang harus ada ambil dan bawa ke kota."


"Memangnya kapan kamu pulang ke kota lagi Adam?"tanya Bu Siti ibunda Adam.


"Besok subuh setelah shalat subuh."


Bu Siti dan Pak Abdurrahman saling melempar senyum.

__ADS_1


"Dam, kamu tahu sendiri kan umur kamu sudah cukup untuk menikah. Ayah dan ibu juga sudah ingin melihat kamu menikah dan memiliki anak tentunya."


Adam hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan ibunya.


"Dam Apa kamu punya calon istri sendiri? Mungkin sesama dosen atau dari kalangan mahasiswi kamu?"


"Belum ada Bu."


"Belum ada, atau kamu belum berniat Adam. Ibu tahu kamu kecewa karena tiga kali kamu melamar Nisa ditolak. Kamu ikhlasin saja lah Adam. Mungkin Nisa bukan jodoh untuk kamu."


"Iya kok Bu, Adam udah coba ikhlas. Tadi saat salat di masjid Adam bertemu dengan Pak Imam dan suaminya Anisa. Dan kelihatannya suami Anisa orang yang baik."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Oh Yah Nak. Kemarin waktu pengajian ayah ngobrol sama Pak Usman dan Pak Imam. Kami bermaksud untuk menjodohkan kamu dengan Najwa, anak pak Usman."


"Najwa? Pantes tadi Pak Imam bilang jika ada mau dijodohkan dengan keponakannya."


"Iya Najwa. Kamu tidak keberatan kan Adam?"Tanya Pak Abdurrahman.


"Kecil bagaimana Dam? Najwa baru lulus sekolah. Usia 18 tahun cukuplah untuk menikah."


Adam terlihat ragu.


"Ayolah Adam, Kamu tahu kan sendiri kan menikah adalah sunnah rasul yang paling dianjurkan apalagi kamu sudah mampu untuk melaksanakan ibadah itu," kata Bu Siti.


Bu Siti dan Pak Abdurrahman menatap Adam seakan menanti jawaban dari Adam dengan segera.


Melihat kedua orang tuanya yang penuh harap. Adam menganggukan kepalanya.


"Iya Yah, bismillah," jawab Adam.

__ADS_1


"Oke kalau begitu Nak. Ba'da ashar nanti kita ke rumahnya pak Usman."


"Untuk apa Yah?" tanya Adam sedikit kaget.


Yah untuk melamar Najwa."


"Apa tidak terlalu cepat Yah. Biasanya kan taaruf dulu."


"Adam, Adam kamu sudah pernah lihat wajah Najwa kan. Kita juga sudah mengenal Najwa dari dia kecil hingga dia beranjak remaja. Kita juga kenal keluarga besar dari pak Usman. Dan anak gadis mereka paling cepat mendapat lamaran dari para pemuda. Ayah tidak mau kali ini Najwa kembali dilamar seseorang dan kita pun terlambat."


Adam terdiam.


"Ayolah Adam, niatkan pernikahan ini sebagai penyempurna ibadah bagi kamu. Ayah tahu Mungkin kamu tidak mencintai Najwa. Tapi jika kamu membuka hati untuk menerimanya. Insya Allah cinta hadir setelah kalian menika," nasehat pak Abdurahman.


"Iya Yah. Insyaallah," jawab Adam.


"Ya sudah Nak. Kalau begitu kamu istirahat dulu. Setelah shalat ashar kita akan langsung ke rumah pak Usman."


"Baik Yah."


Adam beranjak dari hadapan kedua orang tuanya.


Dia memasuki kamarnya. Kemudian menuju rak tempat dia menyimpan buku-buku.


Adam menarik sebuah album foto. Foto-foto ketika ia beranjak remaja. Di foto itu juga terdapat Anisa, Najwa, bahkan Zahra kakaknya Najwa. 


Adam mengusap wajah Nisa kecil ketika berusia 7 tahun. Dan hanya foto itu yang dia miliki.


Ada menatap lekat foto itu dengan tatapan berembun.


"Ternyata, sebesar apapun cinta yang kita miliki, jika bukan kehendak Allah kita takkan berjodoh. Aku mencoba ikhlas untuk merelakan mu Setelah sekian lama coba untuk menunggu mu. Semoga saja kau bahagia hidup dengan pria yang benar-benar mencintaimu. Aku yakin takdir Allah adalah yang terbaik. Mungkin saja pria itu lebih mencintaimu daripada aku. Karena itulah dia ditakdirkan untukmu, untuk menjagamu" ucap Adam dengan suara parau karena sedih.

__ADS_1


Mengucapkan kata Ikhlas mungkin mudah, tapi tidak mudah untuk dipraktekkan. Jauh di lubuk hati kecilnya, Adam masih berharap suatu saat akan berjodoh dengan Annisa.


Adam kembali menutup album foto itu dan menyimpannya di rak kembali, kemudian dia berbaring terlentang. Berharap dia benar-benar bisa mengikhlaskan Nisa dan menerima Najwa sebagai jodoh pilihan orang tuanya.


__ADS_2