
Beberapa bulan sudah berlalu.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Anisa dan Reyfan menyempatkan diri untuk jalan jalan di pagi hari minggu ini.
Saat ini kandungan Anisa sudah memasuki usia sembilan bulan dan tinggal menunggu hari persalinannya.
Anisa dan Reyfan berjalan santai di jogging track area. Sambil berjalan sesekali mereka berhenti untuk beristirahat.
"Sayang duduk dulu," ajak Reyfan sambil menarik tangan Anisa untuk duduk di sebuah bangku taman.
Anisa duduk sambil membuka botol mineralnya. Anisa minum sedikit air di balik cadarnya.
Reyfan mengusapkan handuk untuk menyapu bagian wajah Anisa yang berkeringat.
"Sayang kamu masih kuat jalan gak?"
"Masih Mas."
"Ehm, aku mau bawa kamu ke suatu tempat."
"Tempat apa Mas?" tanya Anisa.
'Ada deh. Ada kejutan di sana."
Mereka duduk sebentar setelah itu melanjutkan perjalanannya kembali.
Reyfan menuntun sang istri untuk memasuki mobilnya.
Setelah itu mereka pun berangkat menuju ke suatu tempat.
Ketika dalam perjalanan Annisa mendapatkan telepon dari seseorang.
"Dari siapa sayang?" tanya Reyfan.
"Najwa."
"Halo Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Najwa."
"Mbak apa kabar? Sudah ada tanda-tanda mau melahirkan?"
'Belum, ini lagi olahraga pagi sama Mas Rey biar persalinan mbak lancar."
"Ih iya. Semoga persalinan Mbak Nisa dilancarkan ya."
"Aamin. Kamu sendiri, bagaimana dengan kandungan kamu?"
"Alhamdulillah Mbak, kemarin aku USG kata dokternya anakku perempuan."
"Alhamdulillah."
"Semoga jadi anak yang sholehah."
"Mbak juga ya semoga anak mbak jadi anak yang sholeh."
"Aamin. Ngomong-ngomong Kamu di mana nih?"
"Aku baru aja nyampai di kota. Najwa pikir Mbak Nisa sudah melahirkan makanya Najwa telepon pagi-pagi sekali."
"Iya kalau nanti Mbak sudah ada tanda-tandanya mbak akan telepon kamu kok."
"Oke kalau begitu aku tutup teleponnya dulu ya Mbak Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Najwa bicara apa?" tanya Reyfan.
"Nggak ditanya apa Nisa sudah ada tanda-tanda mau melahirkan."
"Ehm, aku pikir aku saja yang udah nggak sabar lihat anak kita. Ternyata tantenya juga begitu," ucap Reyfan sambil mengusap perut Nisa.
"Iya ayah sama ibu juga pasti udah nggak sabar lihat kelahiran anak kita. Mereka sudah berada di perjalanan."
"Iya Mas. Mungkin sudah sampai rumah kita saat ini."
"Mas, sebenarnya Mas mau ajak aku ke mana sih?"
"Ada deh, yang jelas ke suatu tempat."
"Ehm mulai deh main teka-teki."
Reyfan berhenti di sebuah pemukiman di daerah pinggir kota.
"Ini tempat siapa Mas?" tanya Nisa karena heran.
Reyfan turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Annisa.
"Kamu lihat itu!" Reyfan menunjuk ke sebuah bangunan masjid.
"Masjid Nur Annisa?"
"Iya Sayang. Ayo kamu turun."
Reyfan menuntun istrinya agar berjalan hati-hati di kawasan pembangunan masjid yang hampir selesai itu.
"Mas kamu Kenapa bawa aku kemari?"
__ADS_1
"Ya ini surprise dari aku, dari tanahnya sampai bangunan masjid ini aku waqaf kan atas nama kamu Nisa.
"Hah! serius Mas?!"Nisa begitu terkejut.
"Mas, mungkin bukan raja Mughal Shah Jahan yang membangun taj mahal sebagai bukti cintanya.Namun, semoga dengan ketakwaan dan bukti cinta ini, bisa menghantarkan menuju ke ridho Allah SWT."
"Masya Allah terima kasih Mas. Ya Allah, Nisa beruntung sekali mendapatkan suami seperti mas Reyfan. Semoga waqaf ini jadi jalan untuk kita, agar bisa kembali bersama di kehidupan akhirat yang kekal abadi."
"Aamiin Sayang. Memang seperti itulah niat Mas. Semoga Allah mempersatukan kita kembali di kehidupan akhirat," ucap Reyfan sambil mencium punggung tangan Anisa.
"Iya Mas, terima kasih sekali lagi." Anisa membalas mencium tangan Reyfan.
Keduanya saling melempar senyum bahagia penuh cinta.
Reyfan menggandeng tangan Anisa dan menuntunnya menuju masjid tersebut.
Mereka pun berkeliling melihat pemandangan sekitar Masjid, dengan ukuran 20×20 meter persegi itu.
'Alhamdulillah punya tabungan di akhirat,' batin Nisa. Nisa semakin erat menggandeng tangan suaminya
Setelah melihat-lihat keadaan sekitar masjid Reyfan menuntun Anisa turun melewati anak tangga. Namun tiba-tiba saja Anisa merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Aduh mas tunggu! Akh perut Nisa sakit mas." Nisa meraba bagian perut bawahnya.
"Apa itu tandanya kamu mau melahirkan Sayang?"
" Ngak tau mas sepertinya begitu." kening Nisa semakin deras mengeluarkan keringat.
"Ayo Sayang, kita ke rumah sakit sekarang!"
Dengan hati-hati Reyfan menuntun Anisa ke dalam mobil.
Anisa merasa perutnya kembali normal. Namun beberapa saat kemudian dia merasakan perutnya kembali terasa sakit.
"Aduh mas sakit sekali!" Keluh Anisa sambil mengusap perutnya.
"Iya sayang, tahan ya."
"Aduh mana kita berada di luar kota lagi rumah sakit jauh." Reyfan berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi seperti itu.
Reyfan menambah kecepatan mobilnya. Dalam waktu setengah jam, Mereka pun sampai di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Annisa langsung mendapatkan penanganan. Karena menurut hasil pemeriksaan sebelum anak mereka letaknya yang sungsang, keduanya pun mengambil jalan operasi.
Setelah menandatangani surat pernyataan operasi, Reyfan kembali menghampiri istrinya.
Sesekali Nisa mengerang kesakitan sambil menyibukkan diri dengan berzikir.
Reyfan menggenggam tangan Anisa yang mulai basah oleh keringat.
"Sayang sebentar lagi kamu akan menjalani prosedur operasi. Sudah siapkan?"
Reyfan menatap Anisa dengan tatapan berembun.
"Jangan bicara seperti itu Sayang. Insyaallah kamu baik-baik saja."
"Aamiin."
Reyfan mengusap perut Anisa kemudian menciumnya.
Setelah persiapan operasi selesai, Nisa dibawa ke ruang operasi. Sambil menunggu, Reyfan terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.
Sekitar 1 jam Nisa keluar dari ruang operasi.
Nisa langsung di bawah ke ruang perawatan karena keadaannya yang stabil, begitupun dengan bayinya.
Reyfan mengikuti kemana suster membawa istri dan anaknya. Mereka pun tiba di ruang VIP
Suster meletakkan tempat tidur Anisa di tempat seharusnya. Begitupun dengan box bayinya.
"Bagaimana dengan keadaan istrinya saya suster?" tanya Reyfan.
"Tekanan darahnya normal. Kondisinya juga mulai stabil. Saat ini beliau tengah menjalani pemulihan."
"Alhamdulillah, kalau begitu terima kasih Suster."
"Iya Pak. Bayinya juga sudah dibersihkan dan dipakaikan pakaian lengkap jika butuh sesuatu tinggal panggil kami saja."
Terima kasih suster.
Karena Nisa masih tidur, Reyan menghampiri box bayi mereka. Dilihatnya bayi yang memiliki berat 3,8 kilogram dengan panjang 50cm itu.
Reyfan menggendong bayi lelaki miliknya yang belum sempat dia azankan.
'"Assalamu'alaikum," ucap bu Halimah dan pak Imam.
'Waalaikumsalam. Eh ada nenek dan kakek." Kata Reyfan sambil menoleh ke arah bu Halimah.
"Alhamdulillah sudah lahir Rey?"tanya bu Halimah.
"Iya Bu."
"Kebetulan ada Ayah. Biar kakek yang Adzan."
Pak Imam menggendong cucunya kemudian dibawa berdiri menghadap kiblat.
Kemudian Pak Imam mengadzankan bayi itu.
__ADS_1
Setelah itu pak Imam memberikan bayi itu kepada bu Halimah.
Kedua orang tua itu begitu bahagia melihat cucu mereka yang memang sudah lama mereka idamkan.
***
Setelah sholat Ashar Nisa kembali kedatangan tamu. Yakni Najwa dan Adam.
"Assalamualaikum," ucap Najwa sambil menenteng tote bage.
"Waalaikumsalam." Mereka semua menyahut. Ada juga pak Wisman yang baru saja tiba di rumah sakit.
Nisa tersenyum melihat kedatangan Najwa.
"Najwa kamu sendiri?" tanya Reyfan.
"Gak sama mas Adam yang nunggu di luar."
"Oh iya kalau begitu saya menghampiri Adam dulu ya," kata Reyfan.
Reyfan pun menghampiri Adam yang sengaja tidak masuk ke dalam ruangan.
"Assalamu'alaikum," sapa Reyfan pada Adam.
"Waalaikumsalam."
Keduanya pun berjabat tangan kemudian terlibat obrolan ringan dan santai, keduanya pun tampak lebih akrab, hingga Najwa keluar dari ruang perawatan Nisa mereka masih asik ngobrol.
'Sudah Umi?" tanya Adam pada sang istri yang baru keluar dari ruangan perawatan Nisa
"Sudah, ayo Abi kita pulang."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya mas Rey," ucap Adam.
'Iya sama-sama mas Adam."
"Oh iya mas. Mumpung ketemu insyaallah tujuh hari lagi aqiqahan anak saya. Saya bermaksud mengundang mas Adam dan istri."
''
Iya insyaallah mas. Kalau begitu saya pamit dulu ya."
"Iya hati-hati di jalan mas Adam."
"Terima kasih mas Rey," balas Adam.
Setelah pamitan Najwa menggandeng mesra tangan suaminya sambil berjalan melewati koridor.
Reyfan kembali menemui istrinya.
Sementara anak mereka di gendong oleh ketiga nenek dan kakeknya.
"Bagaimana keadaan kamu Sayang?" tanya Reyfan.
"Alhamdulillah baik dan bahagia," jawab Nisa sambil tersenyum.
"Syukurlah sayang. Cepat sembuh ya, gak kuat kalau harus lama-lama puasa," Reyfan mengedip matanya.
Nisa mencubit hidung Reyfan." Baru juga satu hari, sudah gak kuat. Jadi ayah itu harus sabar."
"Sabar kok Sayang," ucap Reyfan sambil menggigit pelan tangan Anisa.
Bu Halimah memberikan bayi itu pada Anisa.
"Coba diberikan asi Nak."
"Iya Bu."
Dengan segera Reyfan membuka piyama Anisa.
"Ih mas nantilah masih ada ayah," tahan Nisa.
"Oh iya."
"Olah Rey, kok kayaknya kamu yang gak sabaran ya," cetus bu Halimah sambil mengulum senyumnya.
Baru tahu jika menantunya itu mesumnya gak ketulungan.
Mereka semua tersenyum melihat wajah Reyfan yang merona karena malu.
Waktu terus berlalu, Reyfan dan Anisa hidup berbahagia dengan anak-anaknya. Begitupun dengan najwa dan Adam.
🌹🌹🌹🌹🌹Tamat🌹🌹🌹🌹🌹
Nantikan kisah anak-anak mereka yang akan author kolaborasi dengan anak-anak dari pasangan karya author yang berjudul Menanti Jatuhnya Talak 3. Masih ingat dong ya kisah manis mbak Zhezha dan mas Yoga. Atau mas Wisnu dan mbak Alia. Mungkin sebagian Reader di sini sudah pernah baca karya author yang berjudul Menanti Jatuhnya Talak 3, yang belum silahkan mampir siapa tahu suka. Insyaallah terbit awal bulan Juli nanti dengan Judul Tak Ingin Ada Perjodohan 🙏
Maaf reader apabila ada yang tidak puas dan tidak senang dengan cerita author dan ada kekurangan. Berhubung author gak suka banyak komplik dan ingin cerita happy ending karena itulah author tamatkan. Dan memulai kisah manis lainnya tentang anak-anak mereka.
Terima kasih karena sudah mampir di kisah author. Semoga terdapat manfaat yang bisa di petik dari kisah ini. Mohon maaf atas segala kekurangan author. Terima kasih atas doa dan support para reader.
Salam sayang selalu Author Meylani Putri Putti.
🤗🤗🤗🤗
__ADS_1