Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Meminta Maaf


__ADS_3

Reyfan berada di mobil sambil memikirkan cara, bagaimana agar dia bisa membujuk Nisa.


"Apa gue ajak dia jalan-jalan ke mall belanja barang-barang branded, atau gue belikan dia perhiasan saja ya, cincin berlian mungkin?" sambil menyetir Reyfan bermonolog.


"Tapi Anisa seperti tak seperti wanita kebanyakan, dia lebih suka menyendiri. Jadi bingung."


Tiba-tiba Reyfan melewati toko bunga. Dia akhirnya punya inisiatif untuk memesan bunga.


Kebetulan Reyfan memiliki nomor telepon toko bunga langganannya.


Sambil menyetir Reyfan menelpon.


"Halo Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita di seberang telepon.


"Oh saya mau pesan buket bunga."


"Buket bunga apa ya Mas?"


"Buket bunga apa yang bagus untuk merayu seseorang dan menyatakan permintaan maaf kita?" tanya Reyfan.


"Oh bunga mawar putih bisa Mas, karena mawar putih biasanya melambangkan ketulusan dan kesucian."


"Oke kalau begitu saya pesan sepuluh, bikin buket bunga yang paling bagus ya nanti langsung saya transfer uangnya."


"Baik siap Tuan."


***


Sore hari ini Reyfan sengaja singgah ke toko bunga untuk mengambil pesanan bunganya.


Dengan sekotak coklat import, dia berharap dapat maaf dari Nisa.


Reyfan masuk kedalam toko bunga.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?" ucap seorang gadis penjaga toko.


"Saya mau ambil buket bunga pesanan saya."


"Oh yang sepuluh kuntum bunga mawar putih itu ya?" tanya sang penjaga toko untuk memastikan.


"Iya benar?"


"Sebentar ya Mas, bunganya sedang di rangkai. Karena pesanan anda mendadak, kami terpaksa pesan mawarnya dulu .


"Oh tidak masalah saya akan menunggu."


"Sambil menunggu apa anda ingin membuat kartu ucapan khusus?"


"Kartu khusus?"


"Iya, seperti kartu ucapan perasaan atau permintaan maaf atau apa saja yang anda ingin sampaikan."


"Oh iya, beri saya kartunya biar saya tulis tangan sendiri."


Reyfan menulis sendiri kartu tersebut dengan tinta emas yang dipersiapkan oleh pelayan toko


Maaf ku telah menyakitimu, lidah ku terlalu tajam untuk perasaan lembut yang kau miliki. Tapi semua sudah ku sesali dan aku berjanji ini adalah yang terakhir kalinya aku menyakitimu, ku berharap setelah membaca kartu ini, kau akan tersenyum manis sama seperti coklat yang ku kirimkan ini, ya walaupun ku tahu senyummu sendiri lebih manis dari sekotak coklat ini.


Sambil menulis Reyfan tersenyum,sambil membayangkan wajah Anisa yang tersenyum. Ya walaupun dia tak pernah melihat seperti apa wajah Anisa.

__ADS_1


Namun Reyfan punya bayangan sendiri tentang Anisa.


Tak lupa Reyfan juga menandatangani kartu tersebut.


"Sudah selesai."


Pelayan toko menyerahkan buket yang cukup besar dengan pita emas yang menjuntai dengan kertas cellophane berbingkai emas pula menambah kesan mewah dan elegan.


"Semoga saja Anisa suka."


Reyfan membawa buket bunga itu dengan hati-hati di dalam mobil.


Dia juga membawa mobilnya dengan hati-hati agar bunga tak bergerak.


Terlambat sepuluh menit dari biasanya, karena kecepatan mobil Reyfan yang rendah, setibanya di rumah Reyfan langsung menghampiri kamar Anisa.


Tok tok..


 ada rasa nervous ketika dia membawakan bunga untuk Anisa, satu sisi dia takut Anisa salah sangka, membujuknya bukan berarti Reyfan menerima Anisa sebagai istrinya. Dia lakukan ini hanya karena ingin meminta maaf dengan tulus, bagaimanapun Anisa sudah bersedia mengajarkan banyak hal, sedang dia sendiri merasa tak ada satupun kebaikan yang pernah dia lakukan untuk Anisa.


Ya Reyfan berusaha meyakinkan dirinya sekali lagi, jika dia hanya ingin meminta maaf, bukan untuk memperbaiki hubungan suami istri mereka.


Entahlah, tapi seolah ada keraguan di hatinya tentang niatnya meminta maaf.


Jika Anisa sama sekali tak berarti di hidupnya, kenapa dia harus memikirkan perasaan Anisa.


Lagi-lagi Reyfan harus meyakinkan dirinya jika ini hanya upaya permintaan maaf saja.


Huh Reyfan menarik napas panjang selama beberapa kali ketika berada di depan pintu kamar Anisa.


Setelah mengatur nafasnya, Reyfan mengetuk pintu beberapa kali kemudian berhenti sejenak untuk melihat reaksi insan yang ada di dalam kamar.


Tok tok tok.


Kreak.. pintu pun terbuka.


Tampak lah Anisa yang tengah memakai daster panjang dengan kerudung yang tak lebar seperti biasanya hingga menampakan dahinya yang licin dan mengkilap. 


Putih mulus tanpa ada guratan sedikit pun. Dengan alis tebal yang terukir dengan sempurna dan sepasang bola mata seperti mutiara hitam yang bersinar, meski masih memakai cadar.


Baru kali ini Reyfan melihat sepertiga wajah istrinya.


"Ada apa?" tanya Anisa ketika Reyfan menatapnya bergeming.


"Ehm, aku punya ini untuk mu," ucap Reyfan sambil menyodorkan buket bunga yang di pegangnya.


Anisa meraih bunga tersebut, karena lengan daster Anisa hanya sebatas pergelangan tangan Reyfan bisa melihat betapa putih dan bersihnya telapak tangan Anisa dengan jari-jari yang jenjang dan indah.


Glek.. Reyfan menelan salivanya melihat sedikit saja bagian tubuh Anisa membuat  Reyfan kini penasaran dengan wajah Anisa.


"Untuk apa ini?" tanya Anisa.


"Aku ingin minta maaf, karena kemarin aku sudah menyakiti hati mu."


"Bukannya aku sudah memaafkan mu, tak perlu memberikan ku hadiah seperti ini."


Ehm, Belum pun Reyfan mengucapkan sepatah kata.


"Ya sudah terima kasih.Saya tutup pintunya dulu," pungkas Anisa.

__ADS_1


Anisa hendak menutup pintu, tapi di tahan oleh Reyfan.


"Eh tunggu dulu."


"Ada apa lagi?" tanya Anisa.


"Anisa bisa kita bicara sebentar?"


"Baiklah tunggu sebentar, saya ganti pakaian dulu."


"Tidak perlu ganti pakaian. Kita hanya bicara sebentar saja. Biarkan aku masuk."


Reyfan sedikit memaksa mendorong daun pintu, hingga membuat Anisa tak sempat menahan pintu.


Reyfan langsung menoleh ke arah Anisa. Pantas saja sejak tadi Anisa menyembunyikan tubuhnya di balik daun pintu, ternyata dengan memakai daster panjang itu, lekut tubuh Anisa terlihat, pinggangnya telihat ramping dengan perut rata dan bokong yang padat berisi. Pantas saja Anisa sering mengenakan pakaian berlapis lapis untuk menutupi lekut tubuhnya yang mirip seperti gitar spanyol itu.


Reyfan langsung memalingkan pandangan ke arah lain, ketika melihat Anisa yang tak nyaman di tatapi seperti itu.


"Maaf berpaling lah, saya kenalkan gamis saya dulu," ucap Anisa.


'Apa, kenapa pakai gamis segala,dia pikir aku berhasrat apa padanya,' batin Reyfan.


Reyfan pun menoleh ke arah belakang.


Anisa segera memakai gamisnya dengan langsung memasukkan pakaian longgar itu tanpa melepaskan dasternya sebelumnya.


"Sudah."


Reyfan pun menoleh kearah Anisa.


Dengan pakaian seperti itu, lekuk tubuh Anisa tak terlihat lagi.


Mereka duduk di atas tempat tidur dengan jarak beberapa kilan saja.


"Mau bicara apa?" tanya Anisa.


"Anisa kau masih marah ya pada ku? Sepertinya kau ingin menghindari ku?"


"Aku gak marah, hanya jaga jarak saja. Sebentar lagi kita akan berpisah dan aku gak mau…"


Kata-kata Anisa berhenti.


"Ngak mau kenapa?"


Nisa diam bergeming beberapa saat, sementara Reyfan masih menanti jawaban darinya.


"Sesungguhnya Allah sangat membenci perceraian. Namun jika kau tak pernah menerima ku, ku rasa memang sebaiknya kita berpisah. Karena menurutku, jika di pertahankan hanya akan menambah kemudaratan saja."


"Saya  butuh waktu untuk mempersiapkan diri untuk menjadi janda lagi. Saya  harus menguatkan hati melihat kedua orang tua saya kecewa. Mendengar hujatan dari orang yang mungkin nantinya akan saya  terima dan saya harus mempersiapkan diri dari sekarang," ucap Anisa dengan lirih.


"Apa perpisahan kita akan menyakiti mu?" tanya Reyfan.


"Iya, berpisah sakit, tapi bertahan lebih sulit."


"Tapi kau tenang saja, saya  pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya, bahkan keadaan lebih buruk dari ini.Saya hanya butuh waktu untuk beradaptasi, dan ketiga saat itu tiba, saya  sudah bisa menerima kembali status janda dengan lapang dada."


Reyfan menatap wajah Anisa yang tertunduk.


" Jika tak ada yang di bicarakan, silahkan anda keluar dari kamar ini, saya rasa saya sudah menjawab rasa penasaran anda," pungkas Anisa.

__ADS_1


__ADS_2