
Reyfan terbangun di jam tiga pagi. Dia sendiri memanaskan makanan di dalam oven microwave.
Setelah siap, Reyfan berniat puasa untuk membayar kifarat sumpahnya.
Ini adalah hari kedua dia melaksanakan puasanya.
Setelah sahur Reyfan mendirikan shalat malam dan mengaji dia bertekad menghafal surat Ar Rahman dalam tiga hari untuk bisa meyakinkan sang istri jika dirinya sudah berubah.
Setelah itu dia sholat subuh di masjid terdekat. Setelah sholat Reyfan tak langsung pulang. Namun dia menyempat diri mendengar kuliah subuh.
Saat itu ustadz berceramah tentang kewajiban dan tanggung jawab suami.
Saat itulah dia tahu dan menyadari jika tak satupun dari kewajiban sebagai seorang suami dia berikan pada Annisa kecuali memberikan uang bulanan melalui rekening Annisa. Dan sepertinya Annisa belum pernah menggunakan uang tersebut karena selama di rumahnya Nisa tak pernah keluar.
'Ya Allah begitu zalimnya aku pada Annisa,' batin Reyfan.
Setelah sholat subuh, Reyfan memasukkan sejumlah uang di kotak amal masjid.
"Ya Allah semoga Engkau menerima amal ibadah ku, dan mengampuni semua kesalahan ku."
Reyfan pulang berjalan kaki di depan ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia dan juga jamaah masjid.
Kedua lansua itu berjalan sambil bergandeng tangan. Sang istri terlihat berjalan bertingkat-tingkat Karena itulah dia memegang tangan suaminya.
Kedua lansia itu sepertinya berusia 70 sampai 80 tahun.
Sang suami dengan sabar menuntut istrinya yang berjalan. Keduanya juga terlihat ngobrol asik.
Sesekali terdengar tawa dari keduanya, entah apa yang mereka bicarakan.
Reyfan memperhatikan pasangan tersebut yang terlihat mesra meski usia mereka tak lagi muda.
Mereka tetap setia meski pasangan memiliki kekurangan.
Reyfan jadi menyadari indahnya jika memiliki seorang istri yang setia, yang akan menemaninya sampai hari tua.
Jarak antara masjid dan rumahnya memang cukup jauh. Namun di pagi ini Reyfan sengaja menikmati udara segar sambil berjalan kaki.
Tiba-tiba Reyfan berhenti di sebuah pembangunan proyek masjid. Jika seandainya masjid itu dibangun maka jarak rumah dan masjid tidak akan jauh. Namun sayangnya sepertinya pembangunan masjid terkendala oleh biaya. Padahal masjid itu berada tak jauh dari lingkungan perkomplekan elit.
Karena minimnya keterbatasan dana Reycan pun memutuskan untuk mencatat nomor rekening yang tertera di papan pengumuman.
Di sana disertakan juga jumlah dana yang kurang.
Selama ini ia tidak pernah melihat proyek tersebut Mungkin karena ia selalu menggunakan mobil.
Setiap berada di jalan mereka memang tidak pernah memperhatikan kanan kiri pandangan hanya lurus ke depan sehingga tak terlihat sana sekali, atau pernah terlihat namun dia abaikan.
Sekitar 30 menit berjalan kaki Reyfan pun tiba di rumah.
Dia langsung masuk kedalam kamarnya.
Reyfan mengutak atik handphonenya mencoba melakukan panggilan telepon.
"Assalamualaikum ukhti," sapa Reyfan ketika tersambung.
"Waalaikumsalam." Suara lembut dari seberang telepon membalas.
"Ada apa Mas?" tanya Nisa sambungan teleponnya
"Gak cuma mau nelpon saja, mssa hak boleh sih?"
"Ehm biasanya orang nelpon kan ada tujuan tertentu."
"Gak ada apa-apa sih, cuma kangen saja dengan kamu," ucap Reyfan.
Nisa tak merespon apapun. Karena dia juga tak tahu apa yang mau dibicarakan dia dan Reyfan tak pernah berbincang terkecuali membicarakan hal-hal penting saja.
"Apa kabar kamu Nisa?"
"Alhamdulillah baik Mas. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Nisa.
'Alhamdulilah Baik juga."
Keduanya pun kembali hening.
Reyfan juga tak tahu harus bertanya apa lagi.
__ADS_1
"Ada yang ingin dibicarakan lagi Mas?" tanya Nisa.
"Ehm tidak Nisa, aku sudah tenang mendengar jika engkau sehat-sehat saja di sana."
Beberapa saat suasana kembali hening.
"Nisa, minggu depan aku akan menjemputmu."
Nisa terdiam.
"Aku tahu jika kau masih marah, tapi bukanya seorang suami atau istrinya tak boleh marah-marah lebih dari tiga hari."
" Nisa besok aku selesai membayar kifarat sumpah ku, sebenarnya aku sudah ingin menjemputmu pulang, tapi ku pikir mungkin kau masih butuh waktu untuk sendiri. Jadi aku putuskan untuk menjemputmu minggu depan."
Nisa kembali bergeming. Jika saja menuruti hawa nafsunya tentu dia tak akan mau menerima Reyfan. Namun agama tak mengajarkan begitu, seorang istri harus menurut kepada suaminya. Apalagi saat ini Reyfan sudah menyesal dan berusaha memperbaiki dirinya.
"Iya," jawab Nisa singkat.
Terima kasih sayang. Aku janji akan ada kejutan saat aku menjemputmu nanti."
Setelah berbincang sejenak dengan istrinya Reyfan memutuskan untuk pergi ke kantor.
****
Di kantor Reyfan mencoba untuk menghafalkan Alquran dengan cara memutar murottalnya.
Tok tok terdengar gedoran pintu.
Reyfan mengecilkan volume suaranya.
Seorang pria masuk ke dalam ruangannya.
Dia adalah Reino.
Reyfan memutar bola mata malasnya.
Seperti biasa, kedatangan Reino ke kantornya karena ingin melibatkannya dalam satu persoalan.
"Mau apa lagi kau Reino?" tanya Reyfan.
"Bantuan apa lagi bro?" tanya Reyfan.
"Iya bantuan loh. Bro lu tolong bawa Safina ke bini gue dan lo bilang kalau si Safina itu cewek lo."
"Lah bukannya kemarin gue sudah bantu loh!" Protes Reyfan.
"Iya Bro tapi sepertinya bini gue nggak percaya. Tolong dong lu pergi berduaan dengan Safina makan malam kek. Ntar gue bawa istri gue terus lo kenalin tuh si pacar Safina pada istri gue, bilang saja lo pacarnya."
Reyfan menatap ke arah Reino.
"Sorry bro gue nggak mau ambil resiko. Saat ini saja gue masih berusaha untuk membujuk istri gue."
"Tolong dong Bro sekali Ini saja please! " Pinta Reino dengan memohon.
"Tidak mau! Sorry!" ucap Reyfan dengan tegas.
Reino menatap sinis ke arah Reyfan.
'Lo hak mau bantuin gue, lihat saja lo,' batin Reino.
Begitupun Reyfan yang menatap sinis ke arah Reino.
Reino keluar dari ruangan Reyfan saat ini dia begitu bingung menghadapi masalahnya saat ini.
'Awas saja kau Reyfan.'
***
Anisa dan Najwa sedang mengobrol di ruang tamu.
Tok tok,secara tiba-tiba pintu rumah Annisa di gedor .
Kreak …Annisa membuka pintu rumahnya.
"Apa betul ini rumahnya Mbak Anisa Purnama?" tanya seorang pria pada Anisa.
"Iya benar ada apa ya pak?"tanya Anisa.
__ADS_1
"Oh kalau begitu sebentar ya mbak."
Pria itu pun kembali ke mobil, dia membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan sebuah buket bunga mawar putih berhias pita berwarna merah jambu yang sangat indah dan elegan.
"Ini mbak mohon diterima buket bunganya."
"Buket bunga dari siapa ya pak?" tanya Anisa sambil menyambut buket bunga itu.
"Pengirimnya Reyfan Sanjaya Mbak. Silahkan tanda tangan ini."
Nisa pun menandatangani tanda terima dari kurir itu.
"Ada satu lagi mbak."
Pria itu pun menyerahkan sebuah amplop coklat.
"Ini mbak."
"Oh iya terima kasih."
Setelah menerima amplop coklat dan penutup pintu, Anisa masuk ke dalam rumahnya.
"Cie cie ada yang lagi bucin nih," ucap Najwa yang baru keluar dari kamar Anisa.
Anisa mengulas senyum di balik cadarnya.
"Pasti dari mas Rey kan mbak? So sweet ya," tambah Najwa lagi.
"Iya ini dari Mas Reyfan. Kemarin dia kirim baju gamis, perhiasan dan sejumlah uang. Hari ini nggak tahu kirim apa lagi."
Nissa membuka amplop tersebut.
Dan ternyata ada dua buah tiket travel perjalanan umroh.
Kring.. dering telepon Anisa terdengar di dalam kamarnya.
Anisa buru-buru menghampiri telepon tersebut.
"Halo assalamualaikum," ucap Anisa.
"Waalaikumsalam Sayang," ucap Reyfan dari seberang telepon.
Nisa kamu sudah terima amplopnya."
"Iya Mas, amplopnya berisi dua tiket perjalanan umroh."
"Iya sayang, 2 minggu ke depan kita akan pergi umroh setelah itu per bulan madu di Turki dan Dubai. Kamu mau kan, menemani aku dalam perjalanan umroh ini,"ucap Reyfan.
Nisa tersenyum dibalik cadarnya.
"Iya Mas, aku mau."
"Kalau begitu tunggulah aku beberapa hari lagi aku akan menjemput kamu. Kita akan melaksanakan ibadah umroh bersama."
"Iya Mas."
"Alhamdulillah, Terima kasih Nisa," ucap Reyfan.
"Sama-sama."
Najwa tersenyum ke arah Nisa.
Pak imam dan bu Halimah mendengar hal itu, mereka keluar menghampiri Nisa.
"Siapa yang mau pergi umroh Nisa?"tanya Pak Imam.
"Mas Reyfan Yah, dia mau mengajak Anisa Umroh," jawab Anissa sambil tersenyum di balik cadarnya.
"Alhamdulillah, semoga niat baik segera diijabah Allah ya Nisa."
'Iya Bi, bukan hanya Umroh, mbak Nisa dan mas Reyfan juga mau berbulan madu di Turki dan dubbai," sahut Najwa yang memang mendengar pembicaraan mereka.
"Alhamdulillah, semoga saja kalian cepat dikaruniai keturunan Nisa. Ibu senang mendengarnya. Semoga Reyfan benar-benar telah berubah," ucap Bu Halimah dengan bola mata yang berbinar.
"Iya Bu semoga saja."
Bersambung.
__ADS_1