
Suasana rumah pak Usman kini berbeda dari biasanya. Mereka tengah menunggu kedatangan tamu.
Tak hanya pak Usman ,tapi Pak Imam dan istrinya juga ikut berbahagia. Dengan sukacita mereka menyambut kedatangan tamu yang sangat istimewa.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah pak Usman.
Pak Usman dan Pak Imam bergegas menanti kedatangan tamu mereka di depan pintu.
"Assalamualaikum," ucap pak Abdurrahman istri dan juga anaknya Adam.
"Waalaikumsalam," sahut Pak Imam dan Pak Usman.
Mereka saling melempar senyum bahagia. Berjabat tangan dan saling memeluk.
"Silakan masuk Pak Abdurrahman Nak Adam," ucap pak Usman dan Pak Imam.
Para pria itu duduk di sofa.
Sebelum mengutarakan niatnya, Pak Abdurrahman berbasa-basi berbincang mengenang masa kecil putra dan putri mereka.
"Tak terasa ya Pak Usman, Pak Imam kini sekarang Anak kita sudah besar dan siap menikah."
"Haha, iya pak tidak nyangka jika anak-anak kita nantinya berjodoh," cetus pak Usman.
Sementara Adam hanya mengulum senyum mendengar para sesepuh itu membicarakan kenangan masa kecil mereka dulu.
Iya Pak Usman, seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya, karena itu kedatangan Saya kemari,saya bermaksud untuk melamar Najwa secara resmi untuk putra saya.
'Mengingat Adam yang sudah sangat cukup umurnya dan juga sudah mapan saya bermaksud agar pernikahan mereka dipercepat saja, Bagaimana menurut anda pak Usman dan Pak Imam."
"Haha, sepertinya bukan anak-anak yang sudah tidak sabar ya pak. Tapi kita sebagai orang tua yang sudah tidak sabar," tutur Pak Usman menanggapi sang sahabat.
"Hahaha iya pak Usman. Ibunya Adam sudah kepingin sekali menimang cucu. Maklumlah Adam dan anak kami satu-satunya."
"Hahaha iya saya juga pak, anak gadis saya ada dua, tapi keduanya belum menikah dan rencana Zahra menikah dalam waktu 6 bulan lagi."
"Lah kalau gitu saya merencanakan agar pernikahan Najwa dan Adam dilangsungkan tiga bulan lagi? Bagaimana menurut anda pak Usman?" Tanya Pak Abdullah.
"Saya setuju setuju saja Pak. Siapa dulu yang menikah tidak masalah. Justru niat baik harus segera dilaksanakan," ucap Usman.
"Baiklah kalau begitu kita sepakat jika putra-putri kita akan menikah dalam waktu 3 bulan kedepan kedepan."
"Baiklah Pak silahkan ajukan tanggal terbaiknya, jika semua setuju, kita akan tetapkan hari ini juga,"kata Pak Imam.
__ADS_1
Setelah mengajukan tanggal yang tepat Mereka pun sepakat dengan hari dan tanggal yang sudah ditentukan. Setelah niat baiknya diucapkan. Baik Pak Abdulrahman Pak Imam dan Pak Usman kembali ngobrol.
"Oh ya Pak Imam, Bagaimana dengan anda? Apa sudah ada tanda-tanda akan memiliki cucu?"tanya Pak Abdurrahman..
'Belum, kemarin menantu saya mendapat musibah kecelakaan di Jalan Raya sewaktu mau menjemput Anisa."
"Innalillahi, Bagaimana keadaan menantu anda pak Imam?"tanya Pak Abdurrahman.
"Alhamdulillah, bersyukur dia selamat dari musibah yang menimpanya dan sekarang masih dalam perawatan."
"Alhamdulillah kalau begitu.'
Setelah beberapa saat mengobro,l Pak Abdurrahman pun memutuskan untuk pulang.
***
Nisa sedang menyuapi Reyfan. Meski sebenarnya Reyfan bisa makan sendiri. Namun sejak di rumah sakit dia selalu meminta Anisa menyuapinya makan.
Mereka pun makan sepiring berdua.
Kring dering handphone Alesha bergetar dia pun meletakkan piringnya karena kebetulan mereka sudah selesai makan.
Anisa duduk di atas tempat tidur Reyfan. Reyfan segera meletakkan kepalanya di pangkuan Nisa, dia memang selalu bermanja-manja dengan Anisa, seperti anak kecil yg haus akan kasih sayang.
"Waalaikumsalam mbak Nisa."
"Najwa ada apa, Kok tumben telepon Mbak Nisa sore-sore begini?"
Terdengar suara tawa kecil terdengar di sambungan teleponnya.
"Kok Sepertinya kamu senang begitu sih?"
"Iya mbak, karena aku baru saja dilamar sama Mas Adam," ucap Najwa dengan tawa riangnya.
"Alhamdulillah, mbak Nisa ikut bahagia Najwa."
"Iya Mbak tapi pernikahannya dipercepat. Katanya dalam waktu 3 bulan lagi."
'Alhamdulillah seneng banget dengernya."
"Oh ya Mbak Bagaimana keadaan Mas Reyfan."
"Mas Reyfan Sudah mendingan. Kemarin sudah keluar dari rumah sakit, tapi terpaksa dirawat lagi karena cedera."
__ADS_1
"Hah, cedera kenapa?"
"Mas Reyfan gak hati-hati."
"Oh ya Mbak kalau gitu semoga mas Rey, pengen cepat sembuh ya. Dan aku mau Mbak Nisa dan Mas Revan datang di pernikahanku nanti.
"Insya Allah Najwa. Jika tidak ada halangan Mbak akan hadir."
"Aamiin semoga tak ada halangan ya."
Nisa dan Najwa menutup sambungan teleponnya.
"Siapa Sayang?" tanya Reyfan.
"Najwa Mas. Katanya baru saja dia dilamar oleh Mas Adam."
"Alhamdulillah, aku senang kalau Adam dan Najwa menikah."
"Kok kamu yang senang Mas?" tanya Anisa sambil mengusap kepala suaminya.
"Seneng dong. Karena Rifal sejati ku, sudah tak ada lagi," ucap Reyfan sambil memeluk pinggang Anisa semakin erat.
"Aneh, mas Adam kok di jadikan rifal sih?"
Reyfan mengulum senyumnya. Sejujurnya dia masih belum tenang jika Adam belum menikah. Rasa takut kehilangan istrinya membuat Reyfan menjadi seseorang yang pencemburu.
Pak Wisman menghampiri kamar Reyfan.
"Assalamualaikum," ucapnya
"Waalaikumsalam Yah."
"Bagaimana ya dengan penyelidikan polisi tentang kecelakaan mobil ku?"
"Belum ada yang dijadikan tersangka karena barang bukti juga minim dan saksi mata juga tak ada," Ucap pak Wisman.
"Tidak apa-apa Yah. Sebenarnya aku sudah tahu siapa yang melakukannya. Hanya saja aku akan mencari sendiri kebenarannya. Aku ingin tahu apa maksud pelaku,dibalik peristiwa ini. Apa sekedar ingin mencelakaiku atau berniat ingin membunuhku," ucap Reyfan.
"Kalau kau sudah tahu kenapa kau tidak memberitahu polisi Rey?"
"Seperti yang ayah katakan aku masih belum punya bukti. Tapi suatu saat akan ku buktikan."
"Iya mas jangan takut dengan ketidakadilan di dunia ini karena ada Tuhan yang maha adil," timpal Annisa.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gengs.