
Nisa dan Reyfan berada di dalam perjalanan menuju rumah orang tua Nisa. Sebenarnya kondisi Nisa belum terlalu Fit karena dia masih sering muntah-muntah. Namun untuk menghormati undangan sang adik Nisa sedikit memaksaku diri untuk datang dan menghadiri resepsi pernikahan Najwa dan Adam.
Anisa merebahkan kepalanya pada sandaran mobil.
"Masih pusing kepalanya Sayang?" tanya Reyfan sambil memijit kepala Nisa.
"Sudah mendingan Mas."
"Cadarnya dibuka saja Sayang. Biar pernafasan kamu lancar. Kaca mobil kita kan gelap jadi gak bakalan kelihatan."
"Iya Mas."
Sambil menyetir sesekali Reyfan memijat kepala Anisa. Perjalanan mereka memakan waktu lebih lama karena Reyfan harus lebih hati-hati dalam mengendarai mobilnya agar Nisa tak mabuk di perjalanan.
Tiba di rumah pak Iman sebuah tenda megah berdiri kokoh dengan lengkap dengan pelaminan yang indah.
Anisa tersenyum melihat tenda tersebut.
"Wah resepsi pasti meriah sekali, tendanya saja sebesar ini," gumam Nisa.
"Iya, Sayang kamu gak ingin merayakan resepsi pernikahan kita lagi,?" tanya Reyfan.
"Gak usahlah Mas. Kemarin waktu kita menikah sudah ada resepsinya kan ya walaupun yang hadir cuma warga sekitar pesantren."
"Ehm terserah kamu deh."
Reyfan turun dari mobil kemudian membuka pintu mobil untuk Anisa.
Melihat kedatangan anak dan menantu yang sudah di tunggu-tunggu pak imam dan bu Halimah segera menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum." Reyfan dan Anisa memberikan salam.
"Waalaikumsalam."
Dengan haru bu Halimah langsung memeluk putrinya itu.
"Anisa, Alhamdulillah akhirnya kamu sampai di sini nak."
"Iya Bu tadinya dua hari yang lalu Nisa mau pergi, tapi berhubung Nisa jatuh sakit, jadi harus ditunda. Beruntung malam ini kondisi Nisa sudah membaik."
"Iya Nisa Yang penting kamu sehat-sehat saja."
"Sudah makan kalian berdua?"tanya Pak Imam.
"Sudah Yah."
"Besok jam berapa ya acara ijab kabulnya?" tanya Reyfan.
"Jam 09.00 pagi."
"Ayah kamu nggak datang Rey."
"Insya Allah besok ayah dari Aceh langsung ke sini Yah."
"Kalau nggak sempat gak usah dipaksakan. Kami mengerti kok."
"Hahaha iya yah. Justru Ayah ingin cepat pulang, katanya ia sudah tidak sabar berkumpul dengan keluarga besar kyai Abdullah. Ayah mau memberikan kabar gembira kepada para sahabat,karena sebentar lagi beliau akan punya cucu."
"Haha, Ayah kamu pasti senang sekali ya Rey. Sama halnya dengan kami di rumah ini."
"Iya Yah."
"Ya sudah Rei Kamu duduk dulu Yah. Ayah mau ke sebelah sebentar ada urusan."
"Oh iya Yah. Saya mau temani Nisa saja ya di kamar."
***
Nisa diantar oleh bu Halimah ke kamarnya. Karena kepala Nisa masih terasa pusing dia pun lebih memilih berbaring.
"Nisa ingin lihat Najwa Bu. Pasti Najwa cantik banget saat mengenakan pakaian pengantin."
"Iya Tapi kalau kesehatan kamu nggak memungkinkan nggak usah dipaksakan Nisa."
"Nggak kok Bu Nisa cuman pusing biasa. Mungkin karena Nisa nggak selera makan jadinya masuk angin."
'Ya sudah mau Ibu pijitin Nak."
"Gak usah Bu. Ibu juga pasti capek."
"Assalamu'alaikum," ucap Reyfan ketika tiba di kamar Nisa.
"Waalaikumsalam Rey."
Reyfan menghampiri Bu Halimah kemudian mencium tangannya.
"Nah karena sudah ada Reyfan, ibu pergi dulu ya."
Nisa kembali duduk membuka kerudungnya rambutnya tergerai dengan indah.
__ADS_1
"Mas tolong buka resleting di belakang baju Nisa, Nisa mau ganti baju.
Reyfan menarik resleting Nisa,sambil mencium ceruk leher Anisa.
"Mas geli ah," ucap Nisa sambil meliuk-liuk tubuhnya.
Setelah pakaiannya terbuka, Nisa melepaskan penutup tubuhnya itu dan menggantinya dengan gaun tidur yang indah.
Reyfan menelan salivanya ketika melihat rambut Nisa yang tergerai indah menutupi sebagian punggungnya. Ditambah dengan lingerie yang seksi membuat hati Reyfan jadi ketar ketir.
Kalau sudah seperti itu Reyfan sudah tak bisa menahan hasratnya. Namun, karena Nisa sedang sakit dia harus bisa mengontrol syahwatnya.
Reyfan bangkit kemudian mengganti pakaiannya. Setelah itu dia berbaring di samping Anisa.
Reyfan mengusap rambut Anisa sesekali matanya melirik ke arah bukit kembar sang istri sambil menelan salivanya berkali-kali.
Tangan Reyfan perlahan merayap menyusuri lekukan tubuh istrinya.
Nisa menyadari hal itu hanya tersenyum ke arah Reyfan.
"Kenapa Mas, kenapa cuma di usap saja?" tanya Nisa menantang.
"Hah memang boleh Sayang, kan kamu lagi sakit?"
Nisa mengusap rahang Reyfan.
"Boleh dong Mas, makanya aku pakai pakaian seperti ini karena aku sudah siap untuk melayani kamu,dan aku yakin suami ku ini tidak akan tahan jika menganggur terlalu lama."
Nisa tersenyum ke arah Reyfan yang menatapnya berbinar.
'Sayang kamu pengertian sekali. Terima kasih ya." Reyfan mengecup kening Anisa kemudian secara perlahan ciuman itu turun hingga ke bibir. Reyfan benar-benar sudah tak bisa menganggur lebih lama lagi.
Dan ranjang mereka kembali bergoyang tak peduli di luar masih banyak tamu dan para tetangga yang masih membantu beberes.
Pak Imam menghampiri bu Halimah.
"Bu Reyfan mana?"
"Oh dikamar Yah.Kenapa Yah ?"
"Ehm gak, ayah mau pinjam mobilnya sebentar, mobil kita kan sudah diparkir di rumah pak Rozak."
"Ya sudah ketuk saja pintunya Yah. Mungkin Rey lagi menemani Nisa di kamar."
"Ah gak enak lah. Ya sudah pinjam mobil pak Fauzi ajalah Bu."
"Ehm terserah."
"Pak Imam menantu pak Imam mana sih? Katanya tadi ada datang ya."
"Iya lagi menemani Nisa, kan nisa lagi ngidam."
"Alhamdulillah, sebentar pak Imam bakal punya cucu dong ya."
"Iya Alhamdulilah."
Karena besok adalah hari H. Pak Imam dan para warga yang membantu semakin sibuk hingga larut malam.
Sementara di kamarnya, Reyfan masih bergelut bersama sang istri di ronde keduanya.
***
Keesokan harinya Anisa dan Reyfan bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan Adam dan juga Najwa.
Lantunan sholawat terdengar di memeriahkan suasana sekitar rumah mereka.
Reyfan dan Nisa sengaja menggunakan baju couple di acara tersebut, membuat keduanya tampak serasi.
Mereka keluar dari kamar, menuju rumah pak Usman yang ada di sebelah rumahnya.
Nisa dan Reyfan melewati tenda beralas karpet untuk para tamu duduk.
"Mas kamu tunggu di sini saja ya. Aku mau ke kamar Najwa. Sebentar lagi mempelai prianya datang kok."
"Kamu lama gak, balik sini lagi kan?"
"Kamu tunggu di sini saja mas, karena tamu laki-laki dan perempuannya di pisahkan. Tuh kamu duduk saja di sana bersama ayah dan pak RT."
"Yah aku ikut kamu saja deh."
" Gak boleh mas. Emang aturan begitu. Saat akad nikah tamunya terpisah. Nanti kalau resepsi boleh sama-sama."
"Iya deh."
Reyfan pun duduk bersama dengan pak Imam. Sementara Nisa menghampiri Najwa yang ada di kamar.
"Assalamu'alaikum," ucap Nisa sambil mengetuk pintu kamar Najwa.
Seseorang pun membuka pintu. "Waalaikumsalam,"sahut mereka.
__ADS_1
"Mbak Nisa, akhirnya datang juga!" Seru Najwa.
"Masya Allah cantik banget kamu Najwa!"
Nisa menghampiri Najwa kemudian mencium pipinya.
"Hm, mbak Nisa bisa saja." Najwa tersipu malu.
"Aku dengar mbak Nisa sudah hamil ya?"
"Iya, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah aku ikut senang, semoga aku cepat menyusul nanti ya."
"Aamiin ya Allah."
Anisa senang karena tampaknya Najwa terlihat bahagia dengan pernikahan tak seperti sebelumnya.
Setelah riasan Najwa siap. Nisa memakai Najwa cadarnya. Mereka pun di tinggal berdua
Beberapa saat kemudian iringan pengantin pria tiba di rumah pak Usman.
"Tuh calon suami kamu sudah datang."
Najwa tertunduk malu. "Iya mbak. Najwa jadi gak sabar ingin melihat mas Adam."
Nisa tersenyum di balik cadarnya.
"Kalau emang jodoh gak akan kemana ya Najwa. Mbak seneng kamu bisa menikahi seseorang yang kamu cintai sejak dulu." Nisa merangkul Najwa.
Deg Najwa menoleh ke arah Nisa.
"Mbak kok ngomong seperti itu?"
Nisa kembali mencium pipi Najwa. "Karena dari dulu mbak tau kamu suka sama mas Adam," ucap Nisa kembali mencium pipi Najwa.
Najwa langsung menundukkan wajahnya.
'Mbak kok tahu sih?" Lirih Najwa.
"Mbak itu kenal kamu sejak lahir, kita juga sering main sama sejak kecil. Maaf ya Najwa dulu mbak gak sengaja baca surat cinta yang kamu tulis untuk mas Adam," bisik Nisa.
Najwa langsung menoleh ke arah Nisa.
"Ah mbak kok tahu sih?" Najwa tersipu.
"Ya taulah. Yang wajahnya suka bersemu-semu kalau ketemu mas Adam pas pengajian siapa, ayo?" tanya Nisa menggoda.
Najwa semakin menundukkan wajahnya. Meskipun telah ditutup-tutupi perasaan terhadap Adam, ternyata Nisa sudah tahu.
Meskipun Najwa sadar jika Adam hanya mencintai Nisa saat itu. Namun Najwa tetap tak bisa menolak pesona Adam meskipun sejuta kali bibirnya mengatakan tidak. Dia hanya bisa mengagumi sosok Adam karena menghargai persaudaraan terhadap Anisa. Begitupun sebaliknya, Anisa juga tak pernah memberi kesempatan bagi Adam untuk singgah mengisi hatinya karena dia tahu Najwa menyukainya.
Nisa memeluk Najwa, dan mencium pipi Najwa berkali-kali saking sayangnya dia kepada Najwa.
Najwa meneteskan air matanya, kemudian Nisa menghapus air mata Najwa.
"Jangan menangis, hari ini tuh hari bahagia kamu," ucap Nisa.
"Najwa gak nangis mbak, ini tuh air mata bahagia. Akhir Najwa bisa menikahi laki-laki idaman Najwa, dan semoga saja Najwa bisa membuat mas Adam mencintai Najwa," tangis Najwa.
Nisa memeluk Najwa.
"Insyaallah. Mbak yakin kamu pasti bahagia bersama mas Adam. Masalah cinta, mbak yakin setelah menikah dan menjalani kehidupan suami istri mas Adam akan semakin jatuh cinta pada kamu. Kamu baik, cantik dan sholeha. Mas Adam beruntung bisa menikahi wanita seperti kamu Najwa," ucap Nisa sambil meneteskan air matanya.
"Aamiin makasih doanya, Mbak."
Waktu berlalu dengan cepat acara akad nikah pun segera dilangsungkan.
Nisa menggenggam tangan Najwa yang terasa dingin karena sebentar lagi ijab qabul segera di mulai.
'Deg-degan ya?" tanya Nisa.
"Iya mbak."
"Muhammad Adam Ghifari saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Najwa Nur Ghania binti Usman Hasan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Nur Ghania binti Usman Hasan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
Najwa dan Anisa saling berpelukan, mereka berdua terlihat tegang mendengar ijab qabul itu.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
Seketika Najwa menangis memeluk Nisa.
"Alhamdulillah akhirnya Sah," ucap Nisa sambil mencium pucuk kepala Najwa.
Hm bagaimana reader's menurut anda, malam pertama Adam dan Najwa mau ditulis atau di skip saja. Kalau author sih Yes 🙈😎🤣
__ADS_1