
Karena Adzan berkumandang, Pak Imam memutuskan untuk segera menunaikan sholat ashar di masjid dan menunda penyelesaian perkara Reyfan dan Anisa.
Nisa dan bu Halimah masuk ke dalam kamar mereka kemudian menunaikan sholat ashar.
Begitupun dengan Reyfan yang ikut menyusul pak Imam.
Ketika tiba di masjid pak Imam kembali bertemu dengan Adam dan juga pak Abdurahman.
Karena suasana hati pak Imam yang sedang tidak baik, pak Imam pun tak banyak bicara hanya melempar senyum ke arah pak Abdurahman dan Adam. Begitupun dengan Reyfan.
Setelah selesai shalat ashar dan berdoa, pak Imam pulang ke rumahnya sementara Reyfan berada di dalam masjid untuk berdoa.
Pak Imam menghampiri Anisa di dalam kamarnya.
tok tok tok pintu di gedor.
"Nisa, ayah ingin bicara sebentar, bisa bukakan pintu?"
"Iya Yah," sahit Nisa dari dalam ruangan.
Pak Imam menatap wajah Anisa yang sembab karena menangis.
keduanya pun duduk di atas kursi.
"Bicara apa Yah?" tanya Nisa dengan suara parau seperti habis menangis.
keadaan Anisa saat itu cukup tenang hingga memudahkan untuk Pak Imam menasehati putrinya.
"Nisa, ayah tahu perasaan kamu pasti terluka karena Reyfan. Tapi ayah juga tak bisa membenarkan jika kamu meminta cerai dari suami mu, apalagi saat ini dia tidak ingin menjatuhkan talak pada kamu Nisa," ucapan Imam dengan hati-hati.
Nisa diam beberapa saat, kemudian barulah dia mengeluarkan suaranya.
" Tapi Nisa masih merasa sakit hati Yah, hati Nisa begitu sakit jika harus kembali bersama mas Reyfan."
Pak Imam mengusap kepala Anisa yang masih tertutup kerudung.
"Nisa, ujian untuk wanita Sholeha itu memamg berat Anisa, karena ganjarannya adalah surga.Belajarlah dari kisah Aisya, yang tetap setia bersama suaminya meskipun suaminya adalah Fir'aun. Reyfan memang pernah berbuat zalim, tapi dia bukan Fir'aun, masih ada iman dan sisi positif di hati Reyfan dan kita sepertinya kita harus beri kesempatan untuk Reyfan memperbaiki diri."
"Hiks, tapi hati Anisa sakit Yah. Anisa tidak akan bisa melupakan kata-kata mas Reyfan."
"Iya ayah tau Nak. Bersabarlah, mungkin ini ujian bagi kamu untuk mengangkat derajat kamu. Ingatlah kata-kata imam Al Gazali.' Allah tidak pernah salah mempertemukan kamu dengan seseorang, kehadiran akan membawa dua hadiah yakni kebahagiaan dan pengalaman.'"
"Semoga saja ketika kamu memaafkannya dan kembali kepadanya, dia bisa berubah menjadi insan yang lebih baik lagi."
"Hiks, lalu apa yang harus Nisa lakukan Yah?"
"Kau boleh marah terhadap suami mu, kau juga boleh mendiaminya sebagai pengajaran untuknya agar dia menyadari dan tak mengulangi kesalahannya, tapi itu tidak boleh lebih dari tiga hari Annisa."
Belum selesai pembicaraan mereka . Seseorang terdengar mengucapkan salam di ikuti oleh salam seseorang lagi.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Pak Imam dari dalam kamar Anisa.
"Nisa, ayah keluar dulu sepertinya ada tamu."
__ADS_1
"Iya yah."
Pak Imam keluar dari kamar Anisa, kemudian ia berjalan menghampiri pintu.
"Assalamualaikum Pak Imam," ucap Abdurrahman sambil menyodorkan tangannya pada Pak Imam.
"Waalaikumsalam pak Abdurrahman."
Pak Imam melihat ke arah Adam yang ikut serta bersama Pak Abdurrahman.
"Keduanya kemudian berjabat tangan."
"Di mana menantu anda Pak Imam?" tanya Pak Abdurrahman.
Pak Abdurrahman dan Pak Imam adalah sahabat, Karena itulah mereka selalu bersilaturahmi dan memperkenalkan keluarga mereka masing.
"Oh, Reyfan mungkin masih di masjid kali pak."
"Oh begitu."
Setelah berbasa-basi sebentar. Pak Abdurrahman langsung mengutarakan niatnya.
"Begini Pak Imam, saya dan Adam baru saja dari rumah pak Usman. Namun kata Putri beliau Zahra, pak Usman sedang mengantar calon besan ke bandara."
"Oh iya, beliau memang pergi sudah sejak sebelum dzuhur tadi."
"Kalau begitu saya sampaikan saja, karena anda adalah paman dari Najwa. Kedatangan saya kemari adalah untuk memberitahu keinginan kami meminang Najwa keponakan anda untuk anak saya Adam."
Pak Imam tersenyum.
"Iya Pak sebenarnya kami ingin bertemu dengan Pak Usman langsung. Namun karena Adam hanya sebentar tinggal di sini. Kami takut tidak sempat bertemu dengan beliau."
"Oh iya Pak. Tidak apa-apa. Niat baik anda akan saya sampaikan pada Pak Usman."
"Oh kalau begitu terima kasih Pak."
Karena mereka jarang sekali bertemu, setelah mengatakan niat dan maksudnya, Adam pak Usman dan Pak Imam kembali ngobrol santai.
***
Reyfan masih di dalam masjid. Dia berdoa dan berzikir meminta petunjuk.
Reyfan memang baru menyadari jika dia membutuhkan Nisa. Karena itulah dia merasa berat untuk mengantar Nisa pulang. Namun waktu yang ditentukan oleh Nisa terlalu cepat baginya, untuk mencerna perasaannya yang baru tumbuh di hatinya itu.
Reyfan memang tak pernah jatuh cinta pada wanita sebelumnya. Dia juga tak pernah dekat dengan wanita selain ibunya. Dan wanita-wanita yang ia pacari selama ini hanya pelampiasan bagi Reyfan yang kesepian setelah ditinggal oleh ibu dan saudaranya.
Dia juga tak pernah merasa kehilangan seseorang yang berharga, selain kehilangan sang ibunda yang telah tiada. Karena itulah Reyfan baru menyadari jika ada rasa yang perlahan tumbuh di hatinya terhadap Annisa, meski kadang ego mengalahkan segalanya.
Setelah berzikir dan berdoa, hatinya merasa lebih tenang. Reyfan pun memutuskan untuk pulang.
Namun ketika dia pulang dia kaget karena rumah pak Imam kedatangan dua orang tamu.
Jantung Reyfan berdetak lebih kencang saat mengetahui siapa yang datang. Reyfan mencuri dengar karena ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh pak Abdurrahman, Adam dan pak Imam.
"Jadi insyaallah, lamaran resminya nanti Minggu depan saja ya, jika kedua keluarga sepakat kita akan tentukan hari baiknya saat itu juga, sebenarnya sih saya ingin secepatnya, tapi Adam harus pulang besok subuh karena ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan," ucap pak Abdulrahman.
__ADS_1
Bola mata Reyfan terbelalak kaget mendengar pembicaraan itu sekilas.
"Apa lamaran? Bagaimana bisa ayah menerima lamaran Adam sedangkan Nisa masih istri ku," dengus Reyfan dengan emosi.
Tanpa menunggunya lagi Reyfan langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Reyfan dengan wajah yang merah padam.
"Waalaikumsalam," sahut mereka semua sambil menoleh ke arah Reyfan.
"Ada apa ini Yah? Kenapa ayah terima lamaran mereka, sementara Nisa masih jadi istri sah aku Yah?" tanya Reyfan dengan wajah emosi tertahan.
Pak Abdurrahman dan Adam tercengang mendengar pertanyaan dari Reyfan.
"Reyfan! Kamu kenapa tidak sopan begitu Rey!" tegur pak Imam.
"Ayah mau menjodohkan nisa dan Adam kan Yah?" tanya Reyfan sambil menahan dadanya yang terasa sesak.
Haha, terdengar tawa dari pak Abdurahman tiba-tiba
Reyfan pun menoleh asal suara.
"Nak Reyfan! Sini duduk dulu Nak."pak Abdurahman menepuk sofa di sampingnya.
Bahkan Adam pun mengulum senyumnya melihat kecemburuan Reyfan dan sikap posesifnya.
Adam pun yakin jika semua itu karena Reyfan terlalu mencintai istrinya.
Reyfan duduk dengan diafragma yang turun naik.
"Minum dulu Nak, Reyfan," ucap Pak Abdurrahman. Pak Abdurrahman berbuat demikian karena dia tahu jika Reyfan adalah putranya pak Wisman sahabat mereka juga.
Reyfan meneguk sedikit kopi hangat di cangkir.
Setelah keadaan Reyfan tenang barulah Pak Abdurrahman menjelaskan.
"Begini Nak, Saya datang kemari memang untuk melamar. Tapi bukan melamar Annisa, melainkan melamar Najwa keponakan pak Imam untuk putra saya Adam," ucap pak Abdurahman.
"Hah!" Reyfan terkejut sambil melotot kan bola matanya.
Pak Imam, Adam dan Pak Abdurrahman mengulum senyumnya melihat reaksi kaget dari Reyfan.
Seketika wajah Reyfan memerah.
"Oh,melamar Najwa, saya pikir melamar Istri saja," ucap Reyfan dengan wajahnya yang tertunduk karena malu.
"Haha, kami juga sudah tahu kalau Annisa itu istri kamu, bagaimana mungkin, kami melamar wanita yang masih memiliki suami," sahut Pak Abdurahman diiringi tawa kecilnya.
Tak terbayang betapa malunya Reyfan saat itu.
Pak Imam dan Adam masih mengulum senyumnya.
"Makanya Reyfan, kalau mendengar itu jangan setengah-setengah.Di tanya dulu, jangan asal labrak saja," ucap Pak Imam dengan senyum terkulum.
"Iya Yah maaf." Reyfan sudah kehabisan kata-kata. Untung dia berada diantara orang-orang saleh, yang tidak mengejeknya karena kesalahpahaman saja.
__ADS_1