
Selesai masak, Anisa menyantap sendiri hidangannya dan membawanya di kamar.
Bu Halimah masuk ke dalam kamar Anisa dan beliau kaget melihat sang putri yang makan di dalam kamar.
"Anisa! Kamu kenapa makan di dalam kamar sih? Kenapa gak tunggu ayah dan suami kamu dulu."
"Ehm maaf Bu Anisa sudah lapar, tadi gak sempet sarapan."
Anisa buru-buru memakai cadarnya karena mendengar suara orang yang memberi salam.
Bu Halimah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Assalamualaikum." Suara salam dari arah luar
Anisa keluar dari ruangan tersebut kemudian menghampiri pak Imam dan Reyfan.
Anisa bersalaman dan mencium tangan kedua pria itu.
"Ayo Yah, Nisa sudah masak makan siang. Mas Reyfan juga."
Reyfan tersenyum ini pertama kalinya dia makan masakan Anisa.
Dengan telaten Anisa menyajikan makanan dan mengautkan nasi di piring Reyfan.
"Silahkan Mas."
Setelah menyajikan makanan Nisa bermaksud untuk kembali ke dapur.
"Nisa kamu gak makan?" tanya pak Imam.
Reyfan kembali tersenyum. Dia berharap mertuanya itu bisa memaksa Anisa untuk makan bersama dengan demikian Reyfan bisa melihat wajah Anisa.
"Maaf Yah, Nisa sudah makan sebelum ayah pulang."
Ehm
Gagal lagi Reyfan ingin melihat wajah Anisa.
'Hari ini aku harus bisa melihat wajah Anisa,' batin Reyfan.
Selesai makan siang, Pak Imam dan Bu Halimah kembali mengobrol bersama menantunya, sementara Anisa mengurung diri di dalam kamar
Pak Imam melihat wajah lelah pada menantunya itu.
"Nisa!" Panggil pak Imam.
Beberapa saat Nisa keluar dengan masih mengenakan cadar, padahal biasanya jika siang hari begini Nisa melepaskan cadarnya, terkecuali ada tamu di rumahnya.
"Reyfan, kamu pasti lelah silahkan beristirahat. Biar Nisa yang akan mengantar kamu ke kamar."
"Oh terima kasih Yah."
__ADS_1
Nisa mengantar Reyfan ke kamarnya.
"Silahkan beristirahat Mas," ucap Nisa sambil membuka handle pintu.
"Kamu gak istirahat?"
"Aku istirahat di kamar sebelah saja."
"Oh iya Mas, kamu sudah bilang sama ayah tentang maksud kedatangan kita kemari."
"Belum."
"Kenapa? apa kamu takut mengecewakan ayah ku?"
Ehm, Reyfan tertunduk.
"Kalau kamu gak enak, biar aku yang akan mengatakannya."
Anisa beranjak meninggalkan Reyfan. Namun, tangannya di cekal oleh Reyfan.
"Tunggu Nisa, ada yang ingin aku bicarakan pada mu."
"Bicara saja."
Masuklah kedalam, aku tak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita.
Anisa mengangguk sambil melangkah kali masuk ke dalam kamar itu diikuti oleh Reyfan.
Keduanya mendaratkan bokong secara bersamaan.
"Anisa, sebelum aku menjatuhkan talak kepada kamu, apa boleh aku melihat wajah mu?"
Anisa sedikit kaget mendengar ucapan Reyfan tersebut.
'Memangnya apa hubungannya dengan wajahku Mas, bukannya sejak dulu kamu tak pernah peduli dengan wajah ku? Yang terpenting bagi mu adalah kriteria dan aku tak sesuai dengan kriteriamu! Kau ingatkan? bagaimana kau menatapku dengan jijik saat pertama bertemu. Kau juga takut aku merayu dan menggoda mu! Dan itu tak ku lakukan sampai saat ini."
"Anisa bukan begitu, aku hanya ingin melihat wajahmu untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sebelum aku menjatuhkan talak kepadamu."
"Baiklah, aku akan perlihatkan wajah ku untuk pertama dan terakhir kalinya saat kita kumpul keluarga nanti. Saat itu sebelum menjatuhkan talak kepada ku, kau akan melihat wajah ku. Tapi jika kau berubah pikiran aku tak akan membuka cadar ku."
"Memangnya kenapa, aku ini suami mu."
"Iya Mas, kau adalah suami ku, tapi kau tak pernah menginginkan ku. Aku khawatir kau ragu untuk berpisah dengan ku ketika melihat wajah ku, jadi lebih baik kau tak usah melihatnya saja."
"Kenapa, Memangnya kenapa, apa wajahmu begitu cantik hingga bisa merubah keputusan ku?"
Anisa bangkit tapi tangannya di tarik oleh Reyfan, hingga Anisa jatuh di pangkuan Reyfan.
"Lepaskan Mas." Nisa menarik tangannya.
"Aku ingin melihat wajahmu Anisa! "Reyfan mencoba menarik cadar Anisa.
"Tidak Mas jangan memaksa!"
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh, kau istri ku! Aku berhak melihat wajahmu!"
"Tidak ku ijinkan, karena aku pernah ingin membuka wajah ku, ingin menyerahkan diri dengan segenap jiwa ragaku, tapi kau menolaknya. Kau justru meminta ku untuk tak membuka cadar ku."
"Iya Anisa, tapi itu dulu. Aku ingin melihat wajah mu, agar aku semakin yakin."
"Aku tidak mau!"
"Bagaimana jika wajah ku cantik seperti apa yang ada dalam khayalan mu? Apa kau akan menerima ku?! Ingat Mas, aku sudah menjanda dua kali. Dan aku tak termasuk kriteria mu. Karena itulah sebaiknya jangan melihat wajah ku."
Anisa semakin mengencang cadarnya. Dia pun bermaksud keluar dari ruangan tersebut.
Lagi-lagi tangan Anisa di tahan oleh Reyfan.
"Tunggu Nisa, aku bilang ini yang terakhir kalinya aku ingin melihat wajahmu!" Nada suara Reyfan sedikit tinggi hingga suaranya terdengar hingga ke luar dari ruangan kamar tersebut.
Tok tok tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
Reyfan dan Anisa kaget mereka pun saling memandang ke arah pintu.
"Reyfan! Nisa! Kalian Kenapa? Kenapa teriak-teriak?!" tanya Bu Halimah.
Nisa berjalan menghampiri pintu.
"Tunggu Nisa." Reyfan kembali menahan tangan Nisa.
"Lepaskan!"
"Nisa, tolong jangan beritahu masalah rumah tangga kita."
Nisa menepiskan tangan Reyfan.
"Sudah saatnya mereka tahu Mas."
"Nisa please!" Reyfan menatap Anisa dengan tatapan mengiba.
Nisa kembali menepis tangan Reyfan.
Dia terus berjalan membuka pintu.
Tok.. tok pintu kembali di gedor, karena Bu Halimah masih mendengar suara mereka berbisik-bisik.
Bukannya Bu Halimah suudzon. Bu Halimah memperhatikan ada yang tak biasa dari Anisa.
Mata Anisa terlihat sembab, belum lagi Anisa sedari tadi masih memakai cadarnya di dalam rumah. Nisa juga makan di dalam kamar dan langsung memasang cadarnya tanpa sempat memperlihatkan wajahny pada Bu Halimah.
Dan baru saja Bu Halimah mendengar suara ribut-ribut dan suara keras dari Reyfan, beliau takut jika terjadi KDRT yang dilakukan Reyfan terhadap Putri satu-satunya.
Nisa membuka pintu kamarnya.
Kreak…
"Nisa kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bu Halimah khawatir.
__ADS_1
Ternyata tak hanya Bu Halimah, pak Imam pun ada di depan pintu kamar mereka.