Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Di Ruang ICU


__ADS_3

Mobil yang dibawa pak Iman melaju menembus pekatnya malam.


Annisa duduk sendiri di bagian jok belakang mobil sambil berzikir dan berdoa. Tak terasa dua jam perjalanan mereka pun tiba di rumah sakit. 


Setibanya di rumah sakit  pak Imam mendapat kabar jika  Reyfan sudah berada di ruang ICU setelah operasi.


Mereka pun buru-buru menghampiri ruang ICU. Tiba di sana, Pak Imam langsung menghubungi pak Wisman yang sedang menjaga Reyfan.


Pak Wisman keluar dengan bola mata yang memerah dan kelopak mata yang sembab mungkin karena habis menangis.


Nisa langsung menghampiri mertuanya itu.


"Ayah, Bagaimana keadaan mas Rey?"


Mendengar  pertanyaan Anisa Pak Wisman tak  langsung menjawab justru kembali menangis tergugu.


"Ayah, sabar Yah," ucap Annisa sambil mengusap punggung mertuanya.


Mereka semua ikut haru dan juga meneteskan air matan melihat kesedihan Pak Wisman.


Beberapa saat setelah keadaan tenang, barulah pak Wisman bisa menjelaskan.


"Reyfan mengalami patah tulang di bagian kaki serta cedera pada bagian kepala dan leher. Saat ini kondisi Reyfan berada dalam keadaan kritis, dan tim dokter masih berusaha memberikan yang terbaik, hiks."


Pak Imam menghampiri pak Wisman. "Sabarlah saudaraku, segala yang terjadi sudah jadi ketetapan Allah. Kita hanya bisa ikhtiar dan berdoa untuk keselamatan Reyfan."


Pak Wisman duduk sambil menghela nafas panjang.


 "Hanya Reyfan yang saya punya di dunia ini. Setelah ibu dan saudaranya meninggal 2 tahun yang lalu diakibatkan kecelakaan juga. Saya begitu sedih memikirkan nasib Reyfan. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya hiks."


Pal Imam membiarkan pak Wisman menangis. Dia tahu bagaimana perasaan besannya itu.


Sesekali dia menasehati pak Wisman untuk tetap tabah dan tegar menerima ujian.


"Yah, boleh Nisa masuk?"tanya Anisa setelah keadaan Pak Wisman sudah sedikit tenang.


'Iya silahkan Nisa, mungkin dengan kehadiran kamu, Reyfan bisa segera sadar. Dia mempercepat kepergiannya  karena ingin bertemu dengan kamu Anisa."


"Iya Yah."


Nisa pun masuk ke ruang ICU.


Ketika tiba di ruang di mana Revan dirawat, Nisa masih melihat beberapa orang tenaga medis sedang memasang beberapa alat pada tubuh Reyfan.


"Hiks, mas Reyfan," lirih Anisa.


Setelah tenaga medis itu selesai memasang beberapa alat di tubuh Reyfan, barulah Nisa menghampirinya.


Tubuh Reyfan terbaring dengan bagian kepala dan  leher diperban begitupun dengan salah satu kakinya


Keadaannya begitu miris membuat Anisa menjadi sedih.


Nisa menggenggam tangan suaminya. Kemudian ia mencium tangan suaminya itu dengan lekat sambil meneteskan air matanya.


"Nisa disini Mas. Sadarlah Mas,"bisik Anisa di telinga Reyfan.


Nisa kemudian mencium pipi Reyfan sambil meneteskan air matanya." Mas Nusa yakin kamu pasti kuat melewati ini. Nisa masih menunggu janji Mas Reyfan untuk pergi umroh bersama dan berbulan madu  Cepat sembuh ya Mas,"  ucap Nisa sambil mendaratkan kepalanya di samping Reyfan.


Nisa memperhatikan denyut jantung Reyfan pada EKG. Denyut jantung Reyfan ternyata lebih rendah dari denyut jantung orang normal.

__ADS_1


Ditatapnya lagi wajah suaminya yang pucat, wajah pria yang pernah menorehkan luka terdalam di hatinya. Namun perasaan sakit hati Anisa terhadap Reyfan seketika hilang. Dia justru merasa iba pada suaminya. Dan tak ingin Reyfan meninggalkannya.


Sepanjang malam Anisa berzikir untuk kesembuhan sang suami .


***


Sudah dua hari Reyfan tak sadarkan diri. Namun keadaan mulai stabil.


Pak Wisman datang menghampiri Annisa yang saat itu selalu setia berada di sisi Reyfan.


"Nisa, makan dulu Nak," ucap Pak Wisman sambil menyodorkan sebuah kantong berisi bungkusan makanan.


"Maaf Yah, Nisa nggak makan karena Nisa berpuasa."


"Oh Yah sudah. Kalau begitu kamu istirahat saja di rumah. Kita bergantian yang menjaga Reyfan. Ayah kasihan melihat kamu sudah dua hari ini kamu berada di ruang ICU ini pasti tidak enak. Tidur juga nggak enak karena kamu harus tidur dalam posisi duduk. Istirahat dulu lah Nak. Kalau kamu sakit, Reyfan pasti akan sedih."


"Nggak usah Yah, ayah saja yang istirahat. Apalagi selama Mas Reyfan sakit Ayah harus menggantikan mas Reyfan. Justru Nisa nggak tenang kalau harus jauh dari mas Reyfan. Ya sudah kalau kamu memang maunya seperti itu. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu ya jangan sampai kamu sakit, Siapa yang akan merawat Reyfan."


"Iya Yah."


***


3 hari sudah Reyfan dirawat di rumah sakit. Siang dan malam Anisa berdoa untuk kesembuhan suaminya. Meski kondisi  Reyfan tidak mengalami banyak perubahan.


Sambil menjaga Reyfan, Nisa mengkhatamkan bacaan Alquran selama 3 hari. Dia pun berpuasa karena baginya orang yang berpuasa doanya akan lebih cepat diijabah.


Dan Nisa selalu meminta kesembuhan Reyfan di setiap doanya.


***"


Ini adalah hari keempat  Reyfan terbaring Koma.


Nisa juga  memberikan bedak tabur agar kulit Reyfan tidak merasa lembab dan nyaman.


Seorang suster datang menghampiri ruangan Reyfan. Suster itu tersenyum melihat Anisa yang rajin membersihkan tubuh suaminya.


"Baru kali ini saya lihat orang koma tapi tetap harum dan bersih," ucap Suster itu.


"Iya Suster. Biar suami saya merasa nyaman saja," ucap Nisa sambil mengelap celah-celah jari Reyfan.


"Iya Mbak. Sebenarnya dalam keadaan koma pun orang itu bisa merasakan ya salah satu rangsangan untuk mereka adalah dengan sentuhan, mengajaknya bicara dan membacakan ayat suci untuk ketenangan hatinya.


 Karena pada dasarnya orang koma itu ada juga yang bisa mendengar hanya saja karena suatu hal dia tidak mampu merespon."


Suster itu pun memeriksa keadaan Reyfan.


"Alhamdulillah detak jantungnya sudah stabil dan tekanan darahnya juga sudah normal. Semoga saja dengan kemajuan ini Pasien cepat sadar."


"Alhamdulilah mbak. Aamin semoga saja ya mbak."


***


Waktu menunjuk pukul sepuluh malam. Setelah shalat isya Nisa dilanjutkan dengan membaca Alquran hingga matanya mengantuk.


Nisa merebahkan kepalanya di samping kepala Reyfan.


Tubuhnya terasa begitu lelah, karena posisi tidurnya yang tidak baik. Sambil memejamkan mata nisa bersholawat di tepi telinga Reyfan hingga matanya terpejam sendiri.


Beberapa saat tertidur Nisa merasakan tangannya seperti ada yang menggenggam. Nisa yang kaget seketika membuka matanya.

__ADS_1


Nisa pun menoleh ke arah Reyfan yang ternyata sudah sadar.


"Nisa kau kah itu?" lirih Reyfan dengan bola mata yang sayu.


"Iya mas, ini Nisa. Mas Reyfan sudah sadar?" tanya Nisa dengan bola mata yang berbinar.


Reyfan menatap Annisa dengan tatapan berembun. 


'Nisa akhirnya kita bisa bertemu lagi, ini bukan mimpi kan?" tanya Reyfan. Suaranya begitu lirih. Namun, Nisa masih bisa mendengarkannya.


Nisa menggenggam tangan Reyfan kemudian dia membuka cadarnya.


Bola mata Reyfan terbelalak, ketika melihat wajah cantik Istrinya yang begitu cantik.


Seketika bola mata Reyfan berembun kemudian meneteskan air matanya. 


"Nisa, wajah mu…." Saking kaget dan bahagianya Reyfan tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Iya Mas, kenapa dengan wajah Nisa, mas Reyfan gak suka?" tanya Nisa.


"Gak, Nisa. Kamu justru terlalu cantik untuk aku," ucap Reyfan dengan suara parau karena ingin menangis.


Nisa kemudian mencium tangan Reyfan setelah itu mencium pipi Reyfan, untuk pertama kalinya mereka bersentuhan langsung. Reyfan begitu haru hampir saja dia menangis.


"Gak ada istilah gak pantas Mas, jika Allah sudah mentakdirkan. Nisa akan terima apapun keadaan mas Reyfan nantinya," ucap Nisa sambil tersenyum.


Kali ini Reyfan bener-bener haru.


"Masya Allah. Begitu baiknya Allah padaku Nisa, dia tak hanya memberikan istri yang sholehah tapi juga seorang bidadari surga berhati lembut," tutur Reyfan sambil meneteskan airmata.


Nisa kembali tersenyum.


"Mas, Reyfan harus segera sembuh. Bukannya mas Reyfan sudah berjanji ingin membawa Nisa umroh, bulan madu, iya kan?" 


"Iya Sayang. Mas jadi semakin semangat untuk sembuh," ucap Reyfan sambil menggenggam tangan Anisa.


"Iya Mas harus itu."


Nisa kembali menutup wajahnya dengan cadar.


"Nisa tunggu!" Reyfan menghentikan Anisa.


"Kenapa Mas?"Tanya Nisa.


"Jangan ditutup dulu aku belum puas melihat wajahmu Nisa."


Nisa tersenyum . Nanti saja kalau ingin puas, setelah kita pulang ke rumah, Nisa gak mau, di lihat orang-orang."


"Iya Nisa, kamu benar, hanya aku yang boleh menikmati wajah cantik mu itu. Tapi sebelum kau menutup cadar mu, bolehkah aku memintamu untuk menciumku?"


Nisa tersenyum kemudian mencium pipi Reyfan dengan lekat. Seketika aliran darah Reyfan berdesir.  Di cium seperti itu saja membuat Reyfan terangsang. Apalagi lagi jika Nisa memperlihatkan semua keindahan yang dia miliki.


"Alhamdulillah, terima kasih Sayang, aku sih maunya lebih dari ini,"ucap Reyfan sambil tersenyum.


"Haha, nanti saja setelah mas Reyfan sembuh." Nisa pun kembali menutup wajahnya dengan cadar.


Reyfan benar-benar merasa bahagia bahkan saking bahagianya rasa sakit dari luka dan tulang yang patah tak terasa. Namun ada sebuah sesal di hatinya.


Jika saja dari dulu dia tidak menolak Anisa dulu. Mungkin sudah lama dia berbahagia. Dan sekarang dia kembali harus bersabar untuk menikmati surga dunia bersama bidadarinya itu. Entah berapa lama Reyfan akan sembuh hingga mereka berdua bisa berhubungan layaknya suami istri.

__ADS_1


 


__ADS_2