Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Janda Perawan


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu dan waktu yang ditunggu Annisa akhir tiba juga.


Mentari terbit menyapa ramah seisi dunia.


Anisa berada di dalam kamarnya membereskan barang-barang. Dia menaruh semua pakaiannya di dalam koper dan memastikan tak ada satu pakaian pun yang tertinggal.


Sret.. Nisa sudah bertekad untuk pergi dari rumah itu, meskipun Reyfan tak mengantarnya.


Setelah memastikan  semua barang-barang siap. Nisa menghampiri kamar Reyfan.


Tok tok tok 


Kreak… pintu kamar Reyfan terbuka. Reyfan sedikit kaget melihat Anisa yang sudah berpakaian rapi.


"Mas, aku mau pulang."


"Pulang?"


"Iya, bukankah kamu pernah berjanji padaku, untuk mengantarku ke rumah orang tua ku."


'Oh iya aku lupa."


Sebenarnya Reyfan tak lupa, dia hanya mengulur waktu saja, ada rasa berat untuk melepaskan Anisa.


"Tunggu lah sebentar."


Reyfan masuk ke dalam kamar beberapa saat untuk kembali dengan outfitnya dan beberapa pakaian di tas ransel.


Reyfan menoleh ke arah dua koper yang berdiri di samping Anisa.


"Kamu bawa semua pakaian kamu?" tanya Reyfan.


"Tentu saja, untuk apa aku kembali ke rumah ini jika sudah tak lagi menjadi istri kamu lagi."


Reyfan tak banyak bicara, hanya saja dia membantu Anisa mendorong salah satu kopernya.


Setelah itu mereka berangkat.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka.


Anisa sepertinya menyibukan diri dengan berzikir, sementara Reyfan tetap fokus menyetir.


Dua jam berlalu dan akhirnya mereka tiba di rumah Anisa.


Di halaman rumah tersebut sudah berjejer beberapa mobil yang terparkir rapi.


"Sepertinya ada tamu," gumam Reyfan.


"Iya, hari ini ada yang melamar kak Zahra, kakaknya Najwa."


"Apa karena itu, ibumu memintamu untuk datang?"


"Sebenarnya tidak ada hubungannya."


"Ayo masuk," ajak Nisa.

__ADS_1


Nisa mendorong berusaha menarik koper-kopernya.


"Ehm, nanti saja kau ambil koper mu satu lagi."


"Kenapa?"


"Aku tidak enak, jika kau bawa kedua koper mu itu, mereka pasti akan curiga."


"Tidak apa-apa, toh kecurigaan mereka memang benar, aku akan kembali ke rumah ini dan tak akan kembali ke rumahmu lagi. Jadi biarkan saja, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya."


Anisa tetap menarik kopernya untuk mengeluarkannya.


"Anisa, aku belum membuat keputusan."


Anisa menoleh ke arah Reyfan.


"Saya tahu, tapi apa yang membuat anda ragu. Jika memang anda tidak bisa menerima saya, jangan ragu untuk melepaskan saya. Anda punya segalanya, anda bisa miliki istri yang seperti anda impikan selama ini."


Nisa menyentak  kopernya dengan kuat dan akhirnya berhasil mengeluarkan koper besarnya itu dari mobil.


Nisa menarik dua kopernya menuju rumah. Dia tahu orang tuanya mungkin saat ini tengah berada di rumah paman Usman yang ada di sebelah.


Kedatangan Nisa disambut oleh sepupunya Najwa 


"Eh, mbak Nisa lama banget gak ketemu."


Najwa menghampiri Nisa dan memeluknya.


"Kamu kapan datang?"


Reyfan memandang ke arah Najwa.


Najwa melirik ke arah Reyfan kemudian menangkup kedua tangannya.


Reyfan pun membalas.


"Ayo Mas, silahkan duduk, aku bikin minum dulu."


"Biar Najwa saja mbak. Mbak pasti lelah."


"Gak  apa kok, saya mau bikin sarapan untuk suami mbak, tadi kami gak sempat sarapan."


"Yah sudah kalau gitu, aku bantuin ya mbak."


"Iya."


Karena ayah dan ibu Anisa ada urusan di rumah pamannya yang ada di sebelah. Anisa membuatkan sarapan untuk Reyfan meskipun sudah terlambat.


Bu Halimah sengaja meminta Najwa untuk menyambut kehadiran Nisa dan suaminya, karena beliau sendiri ada urusan.


Nisa dan Najwa berada di dapur.


Mereka pun mengobrol.


Sementara itu Reyfan yang merasa bosan berencana hendak berkeliling di rumah itu.

__ADS_1


Tiba-tiba dia mendengar pembicaraan antara Anisa dan Najwa di dapur..


"Mbak mau berpisah dari suami mbak," ucap Anisa mengawali pembicaraan mereka.


Hah! Najwa begitu kaget.


Sebenarnya Nisa tak sengaja mengatakan hal itu, sudah lama memendam perasaannya dan tak tahu harus berbicara pada siapa lagi.


Nisa berusaha menahan air matanya.


"Kenapa mbak? Bukannya kalian baru menikah?"


"Suami mbak sebenarnya ingin memiliki istri yang sholehah, cantik dan masih suci."


"Loh bukannya mbak Anisa juga masih perawan," cetus Najwa.


Reyfan tersentak kaget mendengar penuturan dari Najwa.


"Apa? Anisa masih perawan?" gumamnya.


"Iya, tapi ada cacat pada diri mbak, yang sepertinya tak bisa ditolerir olehnya."


"Apa itu Mbak?"


"Status mbak yang sudah dua kali menjanda. Mas Reyfan tidak bisa menerimanya." Anisa berkata semakin lirih.


"Astaghfirullahaladzim. Memangnya saat kalian menikah, suami mbak ngak tahu apa, status mbak yang sudah dua kali janda."


"Dia tahu, tapi karena dipaksa menikah oleh ayahnya, karena itulah dia tak mau menyentuh mba."


"Astaghfirullahaladzim, padahal dia tak tahu jika mba' Nisa janda perawan."


"Selain itu dia meminta mbak Nisa mencarikan jodoh untuknya dari kalangan keluarga kita Najwa, mbak pikir kamu cocok untuknya."


"Hah, kenapa harus Najwa, mbak?"


"Karena cuma kamu yang single dan sesuai impian mas Reyfan."


"Sebenarnya Mas Reyfan pria yang baik, asal ada yang membimbingnya. Saat bersama mbak, dia sudah rajin sholat dan mengaji, ya walaupun awalnya di iming-imingin akan mendapatkan istri Sholehah."


"Tinggal kamu tuntun lagi, insya Allah dia akan jadi suami yang Sholeh karena dia masih mau belajar."


"Tapi mba, sepertinya keluarga kita tak akan setuju. Pria itu pernah menjadi suami mbak, dan tidak bisa menjaga mbak, pasti Keluarga kita tak akan mau menjodohkan pria itu dengan Najwa. Paling-paling hanya mengundang murka bagi sesepuh keluarga kita saja."


Anisa terdiam, membuat Najwa sedih melihat nasib sepupunya. Dua kali menikah dan ditinggal meninggal, sekarang Anisa kembali mengalami masalah rumah tangga yang membuatnya harus bercerai.


Entah bagaimana hancurnya perasaan kedua orang Anisa, pikir Najwa.


"Mba, jangan sedih ya, mungkin pria itu memang bukan yang terbaik untuk mba," ucap Najwa sambil memeluk Anisa.


Anisa membalas pelukan Najwa. 


"Iya, tenang saja, mba sudah siap dengan konsekuensinya. Mba menyesal karena sempat berpikiran menjodohkan kamu. Kamu harus dapat pria yang lebih baik dari mbak. Yang mencinta dan menerima kamu apa adanya,"Anisa sambil mengurai pelukannya.


Reyfan mendengar sendiri kata-kata pembicaraan mereka.

__ADS_1


Sejujurnya dia juga masih ragu untuk memulangkan Anisa dan menjatuhkan talak kepada istrinya itu.


__ADS_2