
Setelah sholat isya di masjid, Reyfan kembali berjalan kaki menuju rumahnya. Dia kembali melewati proyek masjid yang terbengkalai.
Dilihatnya ada setumpuk kayu, semen dan alat dan bahan bangunan yang lainnya.
Ada juga sebuah kubah yang sepertinya baru dibeli, terletak di halaman masjid yang belum selesai pengerjaannya. Selain itu ada juga beberapa alat berat yang stand by di sana.
"Alhamdulillah, semoga amanah," ucap Reyfan. Reyfan lah yang menyumbang dan menutupi semua kekurangan dari biaya pembangunan masjid tersebut.
Tiba di rumah ternyata Reyfan sudah ditunggu oleh beberapa teman-temannya. Ada Arya dan teman-teman yang lain.
Ada juga Reino yang membawa selingkuhannya.
"Hey, Bro! Kenapa kalian datang tidak bilang-bilang padaku," ucap Reyfan ketika melihat teman-temannya yang berada di ruang tamu.
Melihat Reyfan yang menggunakan baju koko dan peci mereka semua tertawa.
"Haha, kami sengaja membuat kejutan untuk kamu Rey. Sekalian mengajak mu kumpul-kumpul."
"Oh Sorry ya Bro. Gue nggak bisa," sahut Reyfan.
"Nah kan, apa gue bilang, Reyfan itu sekarang sudah jadi ustadz, makanya kita nggak bisa ngajakin Dia kumpul-kumpul lagi," sahut salah seorang dari teman Reyfan.
Reyfan hanya tersenyum menanggapi candaan mereka.
"Eh lu semua mau minum apa, gue pesan sama asisten rumah tangga gue."
"Ah nggak usah lah Bro. Kita semua nggak lama kok. Si Reino yang ngajak kita kemari. Katanya siapa tahu lo mau ikut ke acara kita kalau kita jemput."
Reyfan boleh ke arah Reino.
"Iya Bro, kali aja lu mau ikut kan," ucap Reino sambil menaik turunkan alisnya.
"Oh sorry ya Bro, gue nggak bisa. Besok gue mau keluar kota jemput istri gue."
"Iya lah Bro. Kalau gitu kita cabut ya."
"Oke Bro."
Setelah berbasa-basi sebentar Mereka pun pulang.
Setelah mengantar teman-temannya. Reyfan bermaksud untuk kembali ke kamarnya.
"Reyfan!" Panggil Pak Wisman.
"Ayah kapan datang?" tanya Reyfan heran.
"Lepas magrib tadi. Nisa kemana Rey?"
Reyfan terdiam dia pun duduk dan menjelaskan masalah yang dihadapi bersama Anisa.
"Aduh Reyfan. Kamu salah besar tentang Annisa. Kalau kamu lihat wajahnya, ayah jamin kamu tak akan pernah menyia-nyiakan Annisa Rey. "
"Iya Yah besok aku akan menjemput Annisa."
__ADS_1
"Iya Nak, beruntung kamu memiliki mertua seperti Pak Imam. Dia masih mau nerima kamu, jika tidak kamu pasti kehilangan anugerah yang terindah. Annisa itu Bidadari Rey, banyak pemuda yang menginginkan nya. Dan kamu adalah pria yang beruntung mendapatkannya, jadi jangan pernah kamu sia-siakan Anisa."
"Iya Yah, aku sudah tak sabar untuk menjemput Anisa. Malam ini juga aku akan pergi menjemputnya,"ucap Reyfan.
"Iya nak pergilah." Pak Wisman tersenyum sambil menepuk Reyfan.
"Kalau begitu aku bersiap untuk berangkat Yah."
"Iya Reyfan."
Reyfan langsung menuju kamarnya dan beberes.
Sambil membereskan barang-barangnya, Reyfan tersenyum membayangkan bisa memeluk dan melihat wajah sang istri yang sebentar lagi akan ditemui.
Jantung Reyfan berdetak cepat, rasanya sudah ingin sekali bertemu sang istri.
Setelah siap, Reyfan menggunakan pakaian terbaik yang membuat kadar ketampanan semakin meningkat berkali-kali.
Dengan busana casual membuatnya semakin terlihat awet muda.
Reyfan mendorong koper nya melewati anak tangga.
Pak Wisman tersenyum melihat wajah Reyfan yang bersinar.
'Aku pergi dulu Yah."
"Iya Nak hati-hati di jalan."
Mobil Reyfan melaju menembus jalan luar kota.
Sambil menyetir Reyfan tersenyum membayangkan malam pertama yang akan dia lalui bersama istrinya.
Mobil pun melaju semakin kencang. Hingga Reyfan merasa mobilnya lepas kendali karena remnya yang blong.
"Astaghfirullah! Kenapa Rem nya tidak berfungsi dengan baik! Padahal tadi sore setelah pulang dari kantor aku sudah mengeceknya." Reyfan semakin panik manakala dia melewati turunan. Ada sebuah mobil box berada di depannya.
Tet..tet…
Reyfan membunyikan klakson agar mobil box itu mempercepat lajunya. Reyfan pun mencoba menyalakan lampu tembak beberapa kali untuk memberi kode pada mobil bix yang ada di depannya.
Tinggal seratus meter lagi dan mobil box di hadapan Reyfan sepertinya tak melihat ke arah spion belakang.
Brum! Bruak!
Kecelakaan pun tak bisa terhindarkan. Mobil Reyfan menghantam mobil box yang ada di depannya.
Mobilnya Reyfan ringsek bagian dan menjepit bagian kakinya. Kepala bagian Reyfan menghantam Stir mobil hingga berdarah.
Saking parahnya kecelakaan tersebut, pintu mobil terlepas dengan kaca depan pecah.
***
Annisa terbangun karena merasa sesak bagian dadanya.
__ADS_1
"
Ya Allah kenapa aku ini?" Gumam Annisa. Dia pun langsung bangkit kemudian bersandar pada headboard tempat tidurnya.
Annisa mengatur nafasnya karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang.
Annisa pernah merasakan hal yang sama seperti ini. Ketika suami keduanya mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan.
Bulir keringat Nisa menetes hingga sebesar jagung.
"Ya Allah, mas Reyfan." Anisa menuang air ke untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.
Kemudian dia bangkit untuk menunaikan sholat malamnya.
Di dalam doanya, Annisa menangis. Memohon perlindungan untuk sang suami.
"Ya Allah, hanya engkau yang maha tahu tentang apa yang membuat hati hamba gelisah. Ya Allah lindungilah orang-orang yang hamba sayangi, jauhkan dari segala macam marabahaya."
Setelah berdoa Anisa pun lanjut dengan berzikir. Entah kenapa hatinya terasa gelisah terlebih lagi wajah Reyfan selalu terlintas di pelupuk matanya.
Tok tok..pintu kamar Annisa di gedor.
Annisa melirik penunjuk waktu yang menempel di dindingnya. pukul sebelas malam saat itu.
Hati Anisa semakin gelisah karena tak lazim pintu kamarnya di ketok jam seperti ini.
Nisa bergegas bangkit kemudian membuka pintu kamarnya.
Wajah Anisa seketika jadi pucat ketika melihat kepanikan di wajah bu Halimah.
"Ada apa Bu?" tanya Anisa dengan bibir yang gemetar.
"Anisa, Reyfan kecelakaan Nak," ucap Bu Halimah sambil meneteskan air matanya.
"Innalillahi, hiks. Kecelakaan dimana Bu, hiks?"
Bu Halimah mengusap punggung Annisa." Kecelakaan di kilometer delapan puluh Nak. Kata pak Wisman Reyfan. sedang menuju kesini saat kejadian hiks."
"Ya Allah mas Reyfan," tangis Annisa sambil bersandar pada pintu kamarnya. Tubuh Anisa langsung terasa lemas.
Pak Imam menghampiri Nisa dan bu Halimah.
"Nisa siap-siap Nak, kita harus kerumah sakit, keadaan Reyfan kritis."
"Hiks hiks Astaghfirullah. Mas Reyfan, "tangis Annisa. Tubuh Annisa seketika lemas.
Nisa mengganti pakaiannya kemudian mereka berangkat menuju rumah sakit di mana Reyfan di rawat.
__ADS_1