Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Kecewa


__ADS_3

"Ada apa ini Reyfan?" tanya Pak Imam.


"Ah tidak Yah kami hanya bercanda sudah biasa, Iya kan sayang," ucap Reyfan sambil merangkul pundak Anisa.


"Oh begitu, Ayah pikir ada apa."


"Iya yah, kami memang selalu bercanda seperti itu, seperti orang yang bertengkar." Reyfan tersenyum nyengir untuk menyakinkan kedua mertuanya itu.


"Ya sudah kalau begitu silahkan lanjutkan istirahatnya. "


"Iya Yah,"


"Ayo sayang," ajak Reyfan sambil menarik tangan Anisa agar masuk ke dalam kamar.


"Ih lepaskan!"


"Kita belum selesai!"


Reyfan menutup pintunya dan menarik tangan Nisa.


"Lepaskan Mas!"


"Kamu kenapa sih Mas, bukannya kamu sendiri yang ingin menjatuhkan talak pada ku, kenapa harus menunda sih pakai bohong segala kepada kedua orang tua ku," protes Nisa.


Reyfan tersenyum sinis.


"Aku yang bertanya pada kamu Anisa, apa karena Adam kamu meminta aku secepatnya untuk menjatuhkan talak pada mu? Setelah aku menjatuhkan talak pada mu, Adam akan menikahi kamu kan?" tanya Reyfan.


"Hah?" Nisa kaget "kenapa bawa-bawa orang lain Mas, kedatangan ku kemari gak ada hubungan dengan Adam. Aku juga baru tahu kalau Adam sudah pulang dari Kairo. Justru kamu tuh kenapa sih? Mas kita sudah sepakat untuk menyelesaikan masalah dalam rumah tangga kita saat ini juga. Jika kamu gak berani mengatakannya maka biar aku yang akan mengatakannya."


Nisa beranjak hendak pergi dari Reyfan. Tapi tangannya kembali di tarik oleh Reyfan.


"Tunggu Nisa!" Reyfan mencengkram pergelangan tangan Anisa agar tak terlepas.


"Lepaskan Mas!"


 


Pak Imam dan Bu Halimah kembali menghampiri keduanya dan mengetuk pintu kamar, karena masih mendengar keributan di antara keduanya.


Tok tok tok


"Reyfan ! Nisa!"


Keduanya kembali menoleh.


"Please Nisa, jangan beritahu apa-apa dulu sebelum kita bicara empat mata."


Nisa terdiam sambil mengusap tangannya yang di cengkraman oleh Reyfan.


Kreak … pintu kembali terbuka.


"Reyfan! Nisa ayah dan ibu ingin bicara sama kalian berdua," ucap Bu Halimah.


Reyfan kaget mendengar permintaan dari bu Halimah.


"Sekarang Bu?" tanya Reyfan.


"Iya sekarang," jawab bu Halimah tegas.

__ADS_1


Anisa keluar sambil menundukkan wajahnya begitu pun Reyfan.


Keduanya pun duduk di ruang tengah keluarga mereka.


Pak Imam dan bu Halimah duduk berhadapan dengan keduanya. Nisa masih menundukkan wajahnya, begitupun dengan Reyfan.


"Ada apa ini Anisa, ibu lihat di kamar sebelah kamu bawa baju-baju kamu banyak sekali?"tanya Bu Halimah dengan nada curiga.


Nisa menundukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.


"Nisa mau pulang Bu," jawab Nisa lirih.


Sesak terasa di hati bu Hamilah, begitupun juga dengan pak Imam. Sudah dia duga, pasti ada masalah antara Reyfan dan Anisa.


"Pulang? Kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu untuk mengunjungi kami? Atau pulang karena ingin lari dari masalah rumah tangga kalian?" tanya bu Halimah 


Nisa menarik nafas panjang. Sebenarnya berat baginya untuk mengatakan hal ini, karena tak ingin orangnya kecewa dan sedih.


"Nisa ingin pulang, karena kehadiran Nisa tak begitu berarti untuk mas Reyfan Bu," jawab nisa dengan suara yang bergetar.


Reyfan semakin tertunduk karena bu Halimah dan pak Imam kini menatap Reyfan dengan ekspresi terkejut.


Keadaan semakin hening.


Bu Halimah menarik nafas panjang.


"Maksudnya apa Anisa?" tanya bu Halimah, meski dadanya terasa sesak.


"Mas Reyfan….!"


''Tunggu Nisa!" Reyfan memotong pembicaraannya. Reyfan menatap Anisa dan memintanya untuk tak mengatakannya.


Pak Imam dan bu Halimah semakin penasaran.


"Maksudnya apa ini Anisa? Ada apa dengan rumah tangga kalian?" Kali ini pak Imam Husein yang angkat bicara.


"Nisa dan Mas Rey memutuskan untuk pisah Yah," sahut Anisa dengan segera.


Hah! Bu Halimah dan Pak Imam kaget.


"Nauzubillah Nisa, kalian baru berumah tangga, tapi kenapa sekarang sudah berbicara tentang perceraian! Kalian pikir pernikahan itu permainan?!" tanya Pak Imam.


Reyfan semakin menundukkan wajahnya.


"Anisa! Reyfan! apa kalian tahu Allah paling membenci perceraian. Apa masalah kalian tidak bisa diatasi sehingga mengambil keputusan dengan begitu cepat!" marah pak Imam.


"Hiks, bukan begitu Yah, hiks. Nisa juga tahu tentang hal itu, tapi Nisa juga sadar jika pernikahan  ini terus dilanjutkan, maka tak ada yang bahagia di antara kami hiks." Nisa menangis tersedu-sedu.


"Astaghfirullah hal adzim. Masalah apa Nisa yang tak bisa diselesaikan. Ingat Nisa, kamu sudah dua kali menjanda dan sekarang kamu sudah berniat untuk berpisah lagi?!"


Hiks hiks Nisa semakin sedih.


"Iya Yah, tapi masalah Mas Reyfan tidak pernah menerima kehadiran Anisa sebagai istrinya, dia menolak Anisa sejak awal pernikahan kami!"


Pak Imam dan Bu Halimah saling memandang.


"Memang benar, semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan Yah. terkecuali jika suami tak pernah menginginkan istrinya hiks hiks."


Keadaan kembali hening.

__ADS_1


"Nisa dan Mas Reyfan sudah pisah kamar sejak awal menikah," lanjut Annisa.


Pak Imam dan bu Halimah langsung menoleh ke arah Anisa.


"Kami tak pernah saling menyentuh secara langsung meski hanya seujung kuku ataupun seujung rambut," lanjut Nisa.


Nisa membersihkan cairan yang keluar di hidung dengan tisu. Keadaannya pun sedikit tentang. Sementara ketegangan terjadi di wajah pak Imam dan juga bu Halimah.


"Bahkan mas Reyfan sudah pernah menjatuhkan I'la pada Nisa, tapi Nisa gak kuat jika harus menunggu hingga dua bulan lagi Bu. Jujur Nisa gak sanggup, karena itulah Nisa meminta mas Reyfan untuk mengantar Anisa pulang," tangis Annisa.


Bu Halimah meneteskan air matanya. Didekatinya sang putri kemudian di rangkulnya dalam pelukannya.


Tangis Annisa pun pecah, sudah lama dia pendam perasaan sakit di hatinya dan saat ini baru bisa dia ungkapkan.


"Hiks, Nisa malang benar nasib kamu Nak, pasti selama ini kamu sudah banyak terluka," ucap Bu Halimah sambil mengusap punggung Nisa.


Keduanya wanita itu sudah tak mampu membendung perasaannya.


Bu Halimah ikut menangis seakan ikut merasakan penderitaan sang Putri.


Reyfan semakin menundukkan wajahnya.


Meski sedih dan sangat  kecewa pak Imam Husein mencoba untuk tak terbawa suasana, dia ingin menanyakan langsung kepada Reyfan, meski dia tahu, Anisa tak mungkin berbohong.


"Benarkah apa yang dikatakan oleh Annisa Rey?" tanya Pak imam sambil menahan sesak di dadanya.


Reyfan semakin menundukkan wajahnya.


"Benarkah apa yang dikatakan oleh Nisa Rey?" tanya Pak Imam dengan nada lebih tinggi satu oktaf.


Reyfan terdiam kemudian mengangguk lirih.


Bulir bening menetes di pipi pak Imam.


"Saya kecewa kamu Rey, kecewa!" Suara Pak Imam serak dan bergetar karena menahan amarah dan kekecewaannya.


Rey semakin tertunduk.


Pak Imam menatap nyalang ke arah Reyfan dengan tubuh yang gemetar.


"Kamu tahu berapa banyak pemuda yang ingin melamar Anisa Rey? Berapa banyak pemuda yang saya tolak karena menghargai ayah mu. Anisa saya titipkan saya sembunyikan di pesantren kakak saya, karena apa?!" tanya Pak Imam tanda mengharapkan jawaban dari Reyfan.


"Karena terlalu banyak lamaran datang untuk mempersunting Anisa sejak dia janda. Dan kamu tahu kenapa saya menikahkan Anisa di usia muda?"


" Karena saya tak mau anak saya celaka, karena begitu banyak pemuda yang datang melamarnya. Bahkan setelah nissa selesai masa Iddah dari meninggalnya suami pertamanya saya nikahkan Anisa kembali dengan pria yang menurut saya pantas untuk Anisa. Tapi takdir berkata lain Rey! Nisa ditinggalkan oleh suaminya kembali.  Begitu banyak lagi lamaran yang menginginkan Annisa, tapi saya tahan. Saya pun enggan membawa Anisa pulang, karena saya belum mendapatkan jodoh yang menurut saya tepat untuk Annisa. Annisa hanya akan jadi fitnah dan celaka karena terlalu banyak pemuda yang ingin memperistrinya."


Reyfan semakin tertunduk.


"Lalu datanglah pak Wisman. Sahabat kyai Abdullah. Sahabat saya sendiri. Dia menginginkan Annisa untuk kamu Rey, Karena kami mengenal baik beliau, kami percayakan Putri kami satu-satunya, permata kami yang paling berharga kepada kamu Rey, tapi kau sia-siakan dia! Hiks!"


Puncak dari kekecewaan pak Imam beliau pun menangis.


"Kalau kamu tidak menginginkan Anisa, kamu pulang kan Anisa pada kami Rey, karena dengan tangan terbuka seluas-luasnya kami akan terima Anisa apapun keadaannya. Dan Anisa akan kami jaga kembali sebagai permata kami yang paling berharga dan akan kami berikan kepada orang yang benar-benar akan menjaganya, sehingga kilauannya tidak akan dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab" tutur Pak Imam.


Beliau pun menghapus air matanya.


Keadaan hening sejenak. Nisa dan bu Halimah berhenti menangis. Begitupun Reyfan yang masih menunjukkan wajahnya.


"Baiklah Rey, kalau begitu silahkan jatuhkan talak pada Anisa," ucap Pak Imam.

__ADS_1


Reyfan mengangkat kepala karena kaget kemudian menatap pak Imam dengan tatapan berembun.


__ADS_2